He Zehui adalah seorang fisikawan nuklir asal Tiongkok yang berkontribusi dalam pengembangan program nuklir di Tiongkok. Selama Perang Dunia II, ia bekerja bersama Walther Bothe di Jerman Nazi serta Irène Joliot-Curie di Paris.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| He Zehui | |
|---|---|
lulus di tahun 1936 | |
| Lahir | 5 Maret 1914 Suzhou, China |
| Meninggal | 20 Juni 2011(2011-06-20) (umur 97) Beijing, China |
| Almamater | Tsinghua University Technische Universität Berlin |
| Dikenal atas | Penemuan fisi tersier dan fisi kuarterner(1946) |
| Suami/istri | Qian Sanqiang |
| Anak | 3 |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | Fisika Nuklir |
| Institusi | Siemens AG (1940–1943) Kaiser Wilhelm Institute (1943–1945) Curie Institute (1946–1948) Institute of Physics, Chinese Academy of Sciences (1950–1973) Institute of High-Energy Physics, Chinese Academy of Sciences (1973–1984) |
| Disertasi | A new precise and simple method of measuring the speed of flying bullets (1940) |
| He Zehui | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi sederhana: | 何泽慧code: zh is deprecated | ||||||
| Hanzi tradisional: | 何澤慧code: zh is deprecated | ||||||
| Pinyin: | Hé Zéhuì | ||||||
| |||||||
He Zehui (juga dikenal sebagai Ho Zah-wei; 5 Maret 1914 – 20 Juni 2011) adalah seorang fisikawan nuklir asal Tiongkok yang berkontribusi dalam pengembangan program nuklir[1] di Tiongkok. Selama Perang Dunia II, ia bekerja bersama Walther Bothe di Jerman Nazi serta Irène Joliot-Curie di Paris.
Pada tahun 1945, He Zehui diakui sebagai ilmuwan yang menemukan fenomena tumbukan elastis antara positron dan elektron. Setahun kemudian, bersama suaminya, Qian Sanqiang, ia mengidentifikasi fisi terner dan kuaterner dalam inti uranium, yang menjadi temuan penting dalam fisika nuklir.

He Zehui memperoleh gelar dalam bidang fisika dari Tsinghua University di Beijing pada tahun 1936 dengan predikat terbaik di angkatannya, yang juga mencakup calon suaminya, Qian Sanqiang.[2] Selama di Tsinghua, ia mendapatkan bimbingan dari Zhou Peiyuan, seorang kenalan dekat sepupunya, Wang Shoujing, yang memperlakukannya seperti saudara sendiri.
Dengan dukungan dari ayahnya, yang memperoleh beasiswa dari gubernur Shanxi, Yan Xishan, He Zehui melanjutkan studi dalam bidang balistik eksperimental di Technische Hochschule zu Berlin.[1][2][3] Pemilihannya untuk studi di Jerman didorong oleh ketertarikan negara tersebut terhadap teknologi persenjataan canggih.[4] Pada tahun 1940, ia meraih gelar PhD dalam bidang teknik dari institusi yang sama, dengan disertasi berjudul A new precise and simple method of measuring the speed of flying bullets. Selama menyelesaikan studinya, ia tinggal bersama Friedrich Paschen, mantan guru pembimbingnya, dan diterima sebagai bagian dari keluarganya di Berlin.[5]
Terperangkap di Jerman setelah pemerintah Nazi melancarkan Perang Dunia II, He Zehui memperoleh pekerjaan di Siemens, di mana ia melakukan penelitian mengenai electroweak interaction. Pada tahun 1943, ketika pemboman Sekutu terhadap Berlin semakin intensif, ia diperkenalkan oleh Friedrich Paschen kepada Walther Bothe, direktur Physics Institute di Kaiser Wilhelm Institute for Medical Research—yang kini dikenal sebagai Max Planck Institute for Medical Research—di Heidelberg. Bothe merupakan salah satu pemimpin German Uranium Project, sehingga He Zehui meninggalkan Berlin untuk bergabung dengan tim fisika nuklir di Heidelberg.
Pada Desember 1943, Bothe menyelesaikan pembangunan cyclotron pertama di Jerman. Setelah itu, He Zehui bekerja sama dengan Heinz Maier-Leibnitz dalam membangun cloud chamber kedua dan menggunakannya untuk mempelajari tumbukan antara positron dan elektron, guna menguji teori Homi J. Bhabha dan Paul Dirac.[2] Penelitiannya mengarah pada penemuan fenomena tumbukan elastis antara elektron dan positron. Temuan ini ia komunikasikan melalui surat kepada Qian Sanqiang yang saat itu berada di Paris.
Sekembalinya ke Tiongkok, He Zehui bergabung dengan Institute of Physics of the National Academy of Peiping (IOPNAP), di mana ia mendirikan Atomic Research Institute sebagai satu-satunya peneliti penuh waktu. Setelah IOPNAP bergabung dengan Institute of Physics, Chinese Academy of Sciences (IOPCAS) pada 1950, ia tetap melanjutkan penelitiannya. Bersama suaminya, ia memilih menetap di Tiongkok setelah Partai Komunis berkuasa, meskipun memiliki koneksi internasional. Suaminya bahkan mendapat izin untuk membeli peralatan ilmiah dalam jumlah besar dari luar negeri. Pada 1955, pemerintah Tiongkok menugaskan suaminya untuk mengembangkan bom atom, dan setahun kemudian He Zehui meraih penghargaan Ilmu Pengetahuan peringkat ketiga dari Chinese Academy of Sciences atas karyanya dalam pembuatan emulsi nuklir.[6]
Sejak 1950, He Zehui menjadi peneliti di Modern Physics Institute (MPI) Chinese Academy of Sciences (CAS) dan memimpin Neutron Physics Research Division. Setelah MPI berganti nama menjadi Atomic Energy Institute pada 1958, ia menjabat sebagai wakil direktur hingga 1973. Selanjutnya, ia berpindah ke Institute of High-Energy Physics (IHEP), CAS, dan tetap menjadi wakil direktur hingga 1984. Ia berperan dalam berbagai riset terkait senjata nuklir dan uji coba nuklir. Pada 1950-an, Tiongkok, dengan bantuan Uni Soviet, membangun reaktor nuklir dan cyclotron pertama, yang kemudian mengarah pada uji coba sukses bom atom dan bom hidrogen pada 1960-an.
Selama Revolusi Kebudayaan (1966–1976), He Zehui menjaga profil rendah dan kemudian beralih ke penelitian sinar kosmik serta astrofisika energi tinggi. Pada 1978, ia mengunjungi Jerman, CERN, Amerika Serikat, dan negara lain untuk memperkuat kolaborasi ilmiah internasional.