Hanaoka Seishū adalah seorang ahli bedah asal Jepang pada masa zaman Edo dengan pengetahuannya tentang obat herbal Tiongkok, serta teknik bedah Barat yang telah ia pelajari melalui Rangaku. Hanaoka merupakan orang yang pertama kali melakukan pembedahan menggunakan alat anestesi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2022) |
| Hanaoka Seishū | |
|---|---|
Hanaoka Seishū | |
| Lahir | 23 Oktober 1760[1] Hirayama, Naga District, Kii Province, (now Wakayama Prefecture), Japan |
| Meninggal | 21 November 1835 (umur 75) Jepang |
| Tempat tinggal | Jepang |
| Kebangsaan | Jepang |
| Kewarganegaraan | Jepang |
| Almamater | Kyoto, Jepang |
| Dikenal atas | orang pertama yang melakukan operasi menggunakan anestesi |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | Dokter, ahli bedah |
| Institusi | Jepang |
| Pembimbing akademik | Nangai Yoshimasu (1750-1813)[2] |
| Terinspirasi | Yoshio Kōsaku (1724-1800)[3][4]
Kenryu Yamato (1740-1780) Hanaoka Jikido |
| Menginspirasi | Shutei Nakagawa (1773–1850)[5] Gencho Homma (1804-1872)[1][6] |
Hanaoka Seishū (華岡 青洲code: ja is deprecated , 23 Oktober 1760 – 21 November 1835 ) adalah seorang ahli bedah asal Jepang pada masa zaman Edo dengan pengetahuannya tentang obat herbal Tiongkok, serta teknik bedah Barat yang telah ia pelajari melalui Rangaku (secara harfiah "ilmu asal Belanda", dan secara luas "ilmu asal Barat"). Hanaoka merupakan orang yang pertama kali melakukan pembedahan menggunakan alat anestesi.
Hanaoka menyelesaikan studinya dengan mengambil jurusan ilmu kedokteran di Kyoto, dan menjadi seorang praktisi medis di wilayah prefektur Wakayama, di dekat Osaka, tempat dirinya dilahirkan. Seishū Hanaoka belajar pengobatan tradisional Jepang serta bedah ala Eropa. Karena pemaksaan diri dari bangsa Sakoku pada waktu itu,[7] beberapa istilah medis asing diizinkan masuk ke Jepang pada saat itu. Hal ini membatasi paparan dari Hanaoka dan dokter Jepang lainnya untuk mengembangkan gaya medis ala Barat.

Hanaoka merasa penasaran ketika ia belajar tentang ramuan mafeisan Hua Tuo. Dimulai pada sekitar tahun 1785, Hanaoka mencari tahu kembali untuk membuat senyawa yang akan memiliki sifat farmakologis mirip dengan mafeisan Hua Tuo.[1] Istrinya yang menjadi percobaan sebagai sukarelawan, dan kehilangan penglihatannya karena efek samping yang buruk. Setelah bertahun-tahun penelitian dan eksperimen, ia akhirnya mengembangkan formula yang ia beri nama tsūsensan (juga dikenal sebagai mafutsu-san). Mirip dengan Hua Tuo, senyawa ini terdiri dari beberapa ekstrak tanaman berbeda, seperti:[8][9][10]
Penulis asal Jepang Sawako Ariyoshi menulis sebuah novel berjudul, The Doctor's Wife (berbahasa Jepang 華岡青洲の妻), yang diangkat berdasarkan kehidupan nyata Hanaoka Seishū yang bercampur dengan konflik fiksi antara ibu dan istrinya. Novel ini kemudian difilmkan pada tahun 1967 dan disutradarai oleh Yasuzo Masumura, Hanaoka Seishū no tsuma (alias "Istri dari Seishu Hanaoka").