Gusti Kanjeng Ratu Bendara adalah anggota keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan anak bungsu yang kelima dari penguasa Yogyakarta saat ini, Hamengkubuwana X dengan istrinya Hemas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bendara ꦧꦼꦤ꧀ꦢꦫ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Gusti Kanjeng Ratu | |||||
Bendara pada 2025. | |||||
| Miss Indonesia DI Yogyakarta | |||||
| Pendahulu | Lidya Kharismawati | ||||
| Penerus | Clarashinta Arumdani | ||||
| Kelahiran | Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni 18 September 1986 Yogyakarta, Indonesia | ||||
| Pasangan | |||||
| Keturunan |
| ||||
| |||||
| Wangsa | Hamengkubuwono | ||||
| Ayah | Hamengkubuwono X | ||||
| Ibu | Ratu Hemas | ||||
| Almamater | Universitas Edinburgh Napier (BA) IMI International Management Institute (MSc) | ||||
| Keluarga Sultan Yogyakarta |
|---|
Sri Sultan Hamengkubawana X GKR Hemas |
|
Keluarga Inti
Keluarga Besar
|
Gusti Kanjeng Ratu Bendara (bahasa Jawa: ꦧꦼꦤ꧀ꦢꦫcode: jv is deprecated , translit. Bendara; lahir 18 September 1986 dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni) adalah anggota keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan anak bungsu yang kelima dari penguasa Yogyakarta saat ini, Hamengkubuwana X dengan istrinya Hemas.
Nurastuti Wijareni lahir pada 18 September 1986 di Yogyakarta. Ia menghabiskan masa awal pertumbuhannya di kawasan perumahan Pabrik Gula Madukismo di Kasihan, Bantul.[1][2] Pada periode tersebut, ayahnya mulai disibukkan dengan tugas-tugas kerajaan sementara ibunya memulai kiprah di bidang politik dan filantropi. Kondisi tersebut menyebabkan Nurastuti beserta keempat saudara perempuannya kerap ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka untuk sementara waktu, sehingga mereka sering dititipkan kepada kerabat kerajaan lain yang juga tinggal di kompleks perumahan yang sama.[3]
Ayah Nurastuti, yang telah bergelar KGPH. Mangkubumi, merupakan putra tertua dari Hamengkubuwana IX yang diposisikan sebagai pewaris utama suksesi Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1989, menyusul mangkatnya sang kakek, ayahnya dinobatkan sebagai Hamengkubuwana X, sementara ibunya, BRAy. Mangkubumi, dinobatkan menjadi permaisuri dengan perubahan nama menjadi Hemas.[4][5] Setelah penobatan tersebut, Nurastuti bersama seluruh saudari kandungnya menetap secara penuh di dalam Keraton Yogyakarta terhitung sejak Februari 1989.[6]
Pendidikan dasar hingga menengah pertama ditempuh Nurastuti di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan di salah satu SMP Negeri, ia menempuh pendidikan di Singapura dan lulus dari International School of Singapore (ISS).[7][8] Selepas dari ISS, Nurastuti lulus dengan gelar Bachelor of Arts (BA) di program International Hospitality and Tourism Management dari International Hospitality Management Institute (IMI), Swiss.[9][10] Pasca pernikahan, ia melanjutkan studi jenjang Magister pada program International Tourism Destination Management di Universitas Edinburgh Napier, Skotlandia.[9][10] Pada 2013, ia berhasil lulus dengan gelar Master of Science (MSc) setelah menyusun tesis yang mengangkat topik tentang Yogyakarta.[11]
Nurastuti Wijareni menikah dengan Achmad Ubaidillah pada 18 Oktober 2011 melalui rangkaian upacara Dhaup Ageng di Keraton Yogyakarta.[12] Ia merupakan satu-satunya putri Hamengkubuwana X dan Ratu Hemas yang menikah dengan pria yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan Jawa.[13]
Sebelum pernikahan, Nurastuti bersama calon suaminya dianugerahi gelar oleh melalui upacara wisudan pada 3 Juli 2011 di Bangsal Kasatriyan, masing-masing kemudian berganti nama menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara.[14][15][16] Karena mendahului kakaknya, Nurabra Juwita, dalam menikah, Bendara terlebih dahulu menjalani upacara langkahan. Rangkaian prosesi pernikahan dilakukan sesuai adat keraton, meliputi nyantri, siraman, dan upacara tantingan.[17][18][19]
Akad nikah dilaksanakan di Masjid Panepen dengan bahasa Jawa.[20][21] Setelah ijab kabul, dilakukan upacara panggih di Bangsal Kencana yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, serta pejabat tinggi negara dan duta besar.[22][23][24] Dalam upacara ini dilakukan tradisi pondongan, yakni mempelai pria mengangkat mempelai wanita sebagai simbol penghormatan terhadap putri raja. Prosesi diakhiri dengan kirab menuju Kepatihan sebagai lokasi resepsi.[25] Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua orang anak bernama Nisaka Irdina Yudonegoro dan Radityo Mandhala Yudo.[26]
Sebelum menjabat dalam struktur organisasi keraton, Nurastuti merintis karier sebagai wirausaha mandiri. Setelah menyelesaikan studi sarjananya di Swiss pada 2008, ia sempat mengelola bisnis produk dan jasa di Jakarta. Ia sempat berbisnis memasarkan tiket travel, kemudian produk perawatan kulit, dan akhirnya aktif berjualan garmen batik dengan melakukan pengadaan kain secara langsung dari Yogyakarta dan Pasar Klewer, Surakarta, dibantu oleh kekasihnya Achmad Ubaidillah saat itu.[27][28] Mereka lebih sering menjual produk batiknya di Blok M Square, Jakarta Selatan.[29][27]
Pada 2009, Nurastuti berpartisipasi dalam kontes kecantikan Miss Indonesia ke-5 dengan mewakili provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kontes digelar di Jakarta Convention Center pada 5 Juni 2009. Di akhir acara, Nurastuti berhasil masuk dalam babak 10 Besar dan menjadi salah satu dari tiga kontestan Pulau Jawa yang masuk dalam penempatan kontes.[30][31] Ini juga menandai untuk ketiga kalinya provinsi DIY berhasil masuk di penempatan kontes setelah Deasy Harri Rachmawati di edisi pertama dan Dewi Noor Kumalasari di edisi kedua.
Di luar lingkungan keraton, Bendara pernah menjabat sebagai Direktur Operasional Nurkadhatyan Spa.[32][33] Sejak tahun 2021, ia menjabat sebagai Wakil Ketua III Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY untuk masa bakti 2017–2022.[34] Dalam sektor pemberdayaan ekonomi, ia terlibat dalam pengelolaan usaha kecil menengah di bawah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta menangani urusan usaha menengah-besar melalui International Council for Small Business (ICSB) wilayah DIY pada 2019–2024.[9][34] Selain itu, ia memegang jabatan sebagai Ketua Perhimpunan Pengusaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DIY dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY.[9][34] Ia juga duduk dalam Dewan Pertimbangan Tourism Board dan pernah menjabat sebagai Ketua Pelaksana ASEAN Tourism Forum (ATF) pada tahun 2023.[35][36] Melalui media sosial, ia membagikan konten terkait ekosistem budaya dan destinasi wisata Yogyakarta sebagai bagian dari aktivitas promosi pariwisata daerah.[34][37]
Sejak tahun 2021, Bendara menggantikan pamannya Prabukusuma, menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya, struktur organisasi di Keraton Yogyakarta yang mengelola museum, kearsipan, dan perpustakaan.[9][38] Dalam posisi ini, ia mengoordinasikan pemeliharaan museum, pelaksanaan digitalisasi manuskrip, serta penyelenggaraan pameran temporer dan simposium di dalam keraton.[39] Tugas operasionalnya mencakup pendampingan tamu kenegaraan dan delegasi asing untuk memberikan penjelasan mengenai koleksi serta sejarah objek berdasarkan data kearsipan kesultanan.[40][41]
Selain manajemen museum, Bendara mengatur regulasi internal terkait penggunaan motif batik awisan (batik larangan) di lingkungan keraton.[42] Ia menyusun standarisasi materi informasi bagi pemandu wisata (abdi dalem) dan mengawasi klasifikasi benda koleksi untuk keperluan publikasi. Dalam menjalankan tugasnya, ia berkolaborasi dengan kakaknya Hayu selaku Penghageng Tepas Tandha Yekti dan iparnya Notonegoro selaku Penghageng KHP Kridha Mardawa untuk penyelenggaraan pementasan seni, dokumentasi, dan kegiatan edukasi publik, seperti kelas seni tari dan aksara Jawa di lingkungan keraton.
| Tahun | Judul | Peran | Genre | Ref. |
|---|---|---|---|---|
| 2013 | Dhaup Ageng | Diri sendiri | Dokumenter | [43] |
Nurastuti lahir dengan gelar kebangsawanan Jawa Gusti Raden Ajeng (GRAj), yang merupakan gelar bagi putri penguasa sebelum menikah. Berdasarkan tradisi, gelar tersebut biasanya berubah menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) setelah menikah. Namun, sebelum pernikahannya pada tahun 2011, ia bersama calon suaminya menjalani prosesi wisuda gelar di mana ia langsung ditetapkan sebagai Gusti Kanjeng Ratu (GKR) oleh ayahnya dengan nama pilihan sebagai Bendara.[14][15][16]
Berbeda dengan ketiga kakak perempuannya yang secara tradisional sempat menyandang gelar Gusti Raden Ayu dan menyandang nama suami sebelum akhirnya bergelar Gusti Kanjeng Ratu, Bendara langsung menggunakan nama pemberian sendiri tanpa menyandang nama suaminya. Dalam lingkungan keraton dan masyarakat, penyandang gelar Gusti Kanjeng Ratu secara formal disapa dengan sebutan "Gusti" atau "Gusti Ratu" sebagai bentuk penghormatan, yang secara umum setara dengan sapaan "Paduka".
| Penghargaan dan prestasi | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Lidya Kharismawati |
Miss Indonesia DI Yogyakarta 2009 |
Diteruskan oleh: Clarashinta Arumdani |