Guru Engku atau nama lengkapnya Syekh Tengku H. Muhammad bin Alim adalah seorang ulama kharismatik, pendidik, dan tokoh historis dari wilayah Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi. Beliau dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam moderat di wilayah aliran sungai Tabir dan merupakan penulis manuskrip keagamaan yang menjadi rujukan lokal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Muhammad bin Alim | |
|---|---|
| Gelar | Guru Engku |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | Muhammad 1903 Desa Muara Jernih, Tabir, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1985 (umur 81–82) Muara Jernih, Merangin, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Anak | Hj. Siti Fatimah (salah satu putri) |
| Dikenal karena | Ulama penyebar pendidikan Islam di Tabir Ulu, penulis Manuskrip Qawaid al-Iman |
| Nama lain | Syekh Tengku H. Muhammad bin Alim |
| Pekerjaan | Ulama, Pendidik, Filolog |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Denominasi | Sunni |
Guru Engku atau nama lengkapnya Syekh Tengku H. Muhammad bin Alim (1903 – 1985) adalah seorang ulama kharismatik, pendidik, dan tokoh historis dari wilayah Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi. Beliau dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam moderat di wilayah aliran sungai Tabir dan merupakan penulis manuskrip keagamaan yang menjadi rujukan lokal.[1]
Muhammad lahir pada tahun 1903 di Desa Muara Jernih, Kecamatan Tabir Ulu, Merangin. Beliau merupakan putra sulung dari pasangan Alim dan Cinto Ado.[2]
Perjalanan menuntut ilmu beliau dimulai dari pendidikan dasar Al-Qur'an di kampung halamannya. Pada tahun 1918, dalam usia 15 tahun, beliau merantau ke Kerinci untuk mendalami ilmu agama selama lima tahun. Di Kerinci, beliau berguru kepada seorang ulama asal Aceh yang kemudian memberikannya gelar Tengku sebagai pengakuan atas ketekunannya.[1]
Pada tahun 1931, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke wilayah Patani, Thailand Selatan, yang saat itu merupakan pusat studi Islam terkemuka di Asia Tenggara. Beliau menempuh perjalanan menggunakan rakit melalui jalur sungai menuju Jambi sebelum akhirnya menyeberang ke Thailand. Beliau menetap dan belajar di Patani selama hampir 30 tahun, serta sempat melanjutkan pendidikan ke Makkah, Arab Saudi, di mana beliau mendalami ilmu hadis dan ilmu falak.[1][2]
Sekembalinya ke Merangin, Syekh Tengku Muhammad bin Alim memfokuskan diri pada pengembangan pendidikan Islam di Desa Muara Jernih dan sekitarnya. Beliau menerapkan metode pembelajaran tradisional halaqah (duduk melingkar) dalam mengajarkan Al-Qur'an dan Kitab Kuning.[1]
Beliau dikenal sebagai sosok yang disiplin dan gigih dalam mengubah pola pikir masyarakat setempat melalui dakwah yang persuasif. Perannya sangat sentral dalam pendirian institusi pendidikan agama di Tabir Ulu, yang kemudian melahirkan banyak murid yang menjadi tokoh agama di wilayah tersebut. Karena kedalaman ilmunya, masyarakat memberikan penghormatan tertinggi dengan memanggil beliau Guru Engku.[1]
Sebagai seorang ulama yang produktif, beliau meninggalkan warisan intelektual berupa manuskrip tulisan tangan. Karya utamanya yang paling dikenal adalah:
Syekh Tengku H. Muhammad bin Alim wafat pada tahun 1985 di Desa Muara Jernih. Makam beliau terletak di desa kelahirannya dan hingga kini sering diziarahi oleh masyarakat serta para santri sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam menyebarkan Islam di wilayah Merangin.[1]