Gua Batu Cermin adalah gua yang terdapat di bukit batu yang gelap di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas gua ini 19 hektar, dan tingginya sekitar 75 meter. Sinar matahari masuk ke gua melalui dinding-dinding gua, dan memantulkan cahayanya di dinding batu sehingga merefleksikan cahaya kecil ke areal lain dalam gua sehingga terlihat seperti cermin. Stalaktit dan stalagmit dalam gua terlihat berkilauan saat disinari cahaya senter maupun cahaya matahari. Kilauan ini disebabkan oleh kandungan garam di dalam air yang mengalir di saat turun hujan. Hal inilah yang membuat masyarakat sekitar menyebut gua ini denga gua batu cermin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025) |
gua | |
|---|---|
| Tempat | |
Koordinat: 8°28′45.73556″S 119°53′57.08555″E / 8.4793709889°S 119.8991904306°E / -8.4793709889; 119.8991904306 | |
| Negara berdaulat | Indonesia |
| Provinsi di Indonesia | Nusa Tenggara Timur |
| Kabupaten | Manggarai Barat |
| Kecamatan | Komodo |
| Kelurahan | Labuan Bajo |
| Negara | Indonesia |
Gua Batu Cermin adalah gua yang terdapat di bukit batu yang gelap di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.[1] Luas gua ini 19 hektar, dan tingginya sekitar 75 meter.[2] Sinar matahari masuk ke gua melalui dinding-dinding gua, dan memantulkan cahayanya di dinding batu sehingga merefleksikan cahaya kecil ke areal lain dalam gua sehingga terlihat seperti cermin.[1] Stalaktit dan stalagmit dalam gua terlihat berkilauan saat disinari cahaya senter maupun cahaya matahari.[3] Kilauan ini disebabkan oleh kandungan garam di dalam air yang mengalir di saat turun hujan.[3] Hal inilah yang membuat masyarakat sekitar menyebut gua ini denga gua batu cermin.[1]
Gua Batu Cermin ditemukan oleh Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda sekaligus juga sebagai seorang arkeolog.[2] Gua tersebut ditemukan pada tahun 1951.[2] Verhoven mengemukakan bahwa dahulu Pulau Flores berada di dasar laut.[2] Pernyataan ini berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding gua seperti fosil kura-kura.[2]