Gereja Tua Immanuel Hila merupakan salah satu bangunan bersejarah tertua di Provinsi Maluku yang terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Bangunan ini menjadi bukti penting dalam sejarah perkembangan agama Kristen di Indonesia bagian timur serta menjadi saksi perjalanan panjang interaksi budaya dan agama di Kepulauan Maluku.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gereja Tua Immanuel Hila | |
|---|---|
![]() Gereja Tua Immanuel Hila | |
| Agama | |
| Afiliasi | Gereja Protestan Maluku (GPM) |
| Status keagamaan atau organisasi | Cagar Budaya |
| Lokasi | |
| Lokasi | Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia |
| Arsitektur | |
| Tipe | Gereja |
| Gaya | Belanda dengan pengaruh lokal |
| Peletakan batu pertama | 1514 |
| Rampung | 1780 |
| Spesifikasi | |
| Kapasitas | ± 100 - 150 jemaat |
| Bahan bangunan | Kayu, batu karang, dan atap rumbia (asli) |
Gereja Tua Immanuel Hila merupakan salah satu bangunan bersejarah tertua di Provinsi Maluku yang terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Bangunan ini menjadi bukti penting dalam sejarah perkembangan agama Kristen di Indonesia bagian timur serta menjadi saksi perjalanan panjang interaksi budaya dan agama di Kepulauan Maluku.[1]
Dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis pada tahun 1514 dengan nama Santo Jacobus sebagai gereja Katolik. Ketika Belanda mengambil alih kekuasaan dari Portugis pada tahun 1605, bangunan gereja yang awalnya terbuat dari kayu kemudian diperbesar. Perubahan signifikan terjadi saat Bernardus Van Plueren menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda untuk Maluku pada tahun 1780, ketika gereja ini berganti nama menjadi Immanuel dan beralih fungsi menjadi gereja Protestan.[2]
Bangunan Gereja Tua Immanuel memiliki karakteristik arsitektur yang sederhana namun khas. Strukturnya terbuat dari dinding kayu dengan tiga jendela tipis di setiap sisinya. Di bagian interior terdapat mimbar kecil yang digunakan pendeta untuk menyampaikan khotbah serta dua baris kursi kayu yang kini tidak lagi digunakan untuk kegiatan peribadatan.[3]
Sejak konflik sosial yang terjadi di Maluku pada tahun 1999, Gereja Tua Immanuel tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah reguler. Jemaat yang dulunya beribadah di gereja ini telah berpindah ke kawasan Tanah Putih, Negeri Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Meskipun tidak lagi digunakan untuk kegiatan peribadatan rutin, gereja ini masih dibuka bagi siapapun yang ingin berdoa di dalamnya.
Menurut M. Titaputty, penjaga Gereja Tua Immanuel, bangunan ini tetap terawat dengan baik meski berada di tengah pemukiman yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Saat terjadi kerusakan pada bangunan, seperti atap yang bocor, warga setempat bersama-sama melakukan perbaikan sebagai wujud toleransi antarumat beragama.
Gereja Tua Immanuel Hila berdiri berdekatan dengan Benteng Amsterdam dan Masjid Tua Wapaue, membentuk kompleks bangunan bersejarah yang menjadi destinasi wisata religi dan sejarah di Maluku. Letaknya yang strategis menjadikan gereja ini sering dikunjungi wisatawan yang datang ke Benteng Amsterdam.
Keberadaan bangunan bersejarah ini di tengah pemukiman Muslim merupakan bukti konkret toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang telah berlangsung lama di Maluku, khususnya di Negeri Hila dan Kaitetu. Status Gereja Tua Immanuel sebagai warisan sejarah memberikan nilai penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya di Provinsi Maluku.[4]