George Lutfallah adalah seorang pengusaha dan tokoh politik keturunan Lebanon–Mesir yang aktif pada masa Mandat Prancis di Timur Tengah. Ia dikenal karena upayanya menggabungkan kekayaan keluarga besarnya dengan ambisi politik, termasuk pencalonannya sebagai Presiden Lebanon dengan dukungan Prancis pada akhir 1920-an. Lutfallah juga sempat dikaitkan dengan gagasan pendirian monarki di Lebanon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
| Georges Lutfallah | |
|---|---|
George Lutfallah pada 1928 | |
| Nama asal | جورج لطف الله |
| Meninggal | 20 June 1941 London, Inggris |
| Kewarganegaraan | Mesir dan Lebanon |
| Pekerjaan | Sosialita dan Politikus |
| Dikenal atas | Upaya untuk mendirikan monarki di Lebanon selama Mandat Prancis |
| Gelar | Prince, Emir, Pasha |
George Lutfallah (Arab: جورج لطف اللهcode: ar is deprecated ) adalah seorang pengusaha dan tokoh politik keturunan Lebanon–Mesir yang aktif pada masa Mandat Prancis di Timur Tengah. Ia dikenal karena upayanya menggabungkan kekayaan keluarga besarnya dengan ambisi politik, termasuk pencalonannya sebagai Presiden Lebanon dengan dukungan Prancis pada akhir 1920-an. Lutfallah juga sempat dikaitkan dengan gagasan pendirian monarki di Lebanon.
Ia merupakan anggota keluarga Lutfallah, salah satu keluarga terkaya di Mesir pada awal abad ke-20, yang memperoleh gelar kehormatan turun-temurun Emir dari Raja Hussein bin Ali dari Hijaz.

George Lutfallah lahir dari pasangan Habib Pasha Lutfallah, seorang bangsawan dan pengusaha kaya asal Lebanon yang bermukim di Kairo.[1][2][3] Habib berasal dari keluarga Kristen Ortodoks Yunani dan meninggalkan Lebanon menuju Mesir pada tahun 1845.[1][4] Di sana ia memperoleh kekayaan besar melalui kegiatan pemberian pinjaman selama kampanye Anglo–Mesir di Sudan dan kemudian berinvestasi dalam sektor pertanian kapas.[5][1]
Kekayaan yang diperoleh menjadikan Habib salah satu tuan tanah terkaya di Mesir pada akhir abad ke-19. Ia menjalin hubungan erat dengan Hussein bin Ali, Raja Hijaz, serta dengan Khedive Ismail dari Mesir. Sebagai pengakuan atas dukungan finansial dan politiknya, Habib dianugerahi gelar kehormatan turun-temurun Emir.[1][6][4]
Pada tahun 1919, Habib Lutfallah membeli Istana Gezirah (Gezirah Palace) di Kairo — bangunan yang sebelumnya dibangun oleh Khedive Ismail untuk menyambut Permaisuri Prancis Eugénie de Montijo saat pembukaan Terusan Suez tahun 1869. Istana tersebut dijadikan kediaman pribadi keluarga Lutfallah dan sering digunakan sebagai tempat perjamuan serta pertemuan sastra dan politik.
Kakak tertua George, Michel Lutfallah, menikah dengan keluarga pedagang kaya asal Aleksandria dan dikenal sebagai pendukung utama gagasan Persatuan Suriah. Selama Perang Dunia I, Michel terlibat dalam kampanye dukungan terhadap Pemberontakan Arab serta menjadi salah satu pendiri Partai Persatuan Suriah di Kairo. Ia juga berperan dalam pembentukan Kongres Suriah–Palestina, di mana ia menjabat sebagai ketua komite eksekutif dan bersama George menjadi salah satu penyandang dana utama.
George Lutfallah mulai aktif dalam politik Lebanon sejak tahun 1927. Bersama ayah mertuanya, Najib Sursock, ia berupaya memperoleh dukungan dari Komisaris Tinggi Prancis untuk Levant, Henri Ponsot, guna mencalonkan diri sebagai Presiden Lebanon.
Meskipun pihak Prancis berhati-hati karena hubungan keluarga Lutfallah yang sebelumnya kurang baik selama Pemberontakan Suriah Raya (1925–1927), mereka tetap membuka komunikasi dengan Lutfallah. Proyek pembangunan jalur kereta Tripoli–Beirut–Palestina menjadi salah satu alasan formal pertemuan antara keduanya.
Pada tahun 1927–1928, aktivitas politik Lutfallah menimbulkan kekhawatiran bagi Presiden Lebanon saat itu, Charles Debbas, yang melihat adanya potensi campur tangan Prancis dan pengaruh finansial Lutfallah yang besar. Lawatan Lutfallah ke Beirut dan pertemuannya dengan pejabat Prancis di Paris semakin memperkuat rumor mengenai ambisi politiknya.
Selain ambisi presidensial, Lutfallah juga dikaitkan dengan ide pembentukan monarki di Lebanon. Gagasan ini semula dikemukakan oleh intelektual Maronit, Habib Bustani, yang menyerukan pendirian kerajaan dengan seorang penguasa Kristen. Setelah kematian Bustani, ide tersebut sempat mencuat kembali ketika sejumlah tokoh Lebanon, termasuk jurnalis Antoine Gemayel, membicarakan kemungkinan menjadikan Lutfallah sebagai penguasa monarki baru di Lebanon dalam sebuah jamuan makan di Istana Gezirah.
Menurut laporan sezaman, Lutfallah menanggapi gagasan itu dengan antusias dan menyatakan kesiapannya untuk mengikuti jejak Napoleon III, menggunakan jabatan presiden sebagai langkah awal menuju kerajaan.
Untuk memperkuat posisinya, Lutfallah melakukan berbagai upaya, termasuk pertemuan politik, kampanye publik, dan pemberian hadiah kepada jurnalis serta pejabat Prancis. Media di Paris sempat melaporkan bahwa ia telah mendapatkan dukungan dari Kementerian Luar Negeri Prancis. Namun, kemudian terungkap bahwa surat dukungan tersebut adalah palsu.
Lutfallah diketahui telah membayar sejumlah besar uang, termasuk £30.000 kepada seorang pejabat Prancis, untuk memperoleh surat dukungan yang ternyata hasil pemalsuan. Skandal ini menghancurkan reputasinya dan menyebabkan kegagalannya dalam pemilihan presiden Lebanon tahun 1929, yang akhirnya dimenangkan kembali oleh Charles Debbas.
Upaya hukum yang diajukan Lutfallah terhadap pihak-pihak yang diduga menipunya tidak membuahkan hasil. Kegagalannya dianggap memperkuat sistem republik di Lebanon dan menandai berakhirnya aspirasi monarkis di masa Mandat Prancis.
George Lutfallah meninggal dunia di London pada 20 Juni 1941. Ia sempat menjadi subjek penghormatan dalam bentuk elegi berisi 29 bait yang ditulis oleh penyair terkenal Khalil Gibran, bahkan sebelum kematiannya.
Dalam historiografi politik Lebanon, Lutfallah dipandang sebagai salah satu contoh awal pengusaha diaspora kaya yang berupaya menerjemahkan kekuatan finansialnya menjadi pengaruh politik. Fenomena serupa kemudian berulang dalam politik Lebanon modern melalui tokoh-tokoh seperti Rafiq Hariri dan Issam Fares.