Gempa Bumi Lepas Pantai Chūetsu merupakan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,6 yang terjadi pada 16 Juli 2007 pukul 10.13 waktu setempat di wilayah barat laut Prefektur Niigata, Jepang. Episentrum gempa terletak di lepas pantai Laut Jepang, sekitar 17 kilometer dari pesisir barat Pulau Honshū. Gempa ini berasal dari sesar bawah laut yang sebelumnya belum teridentifikasi dan menimbulkan guncangan kuat di Prefektur Niigata serta wilayah sekitarnya. Kota Kashiwazaki serta desa Iizuna dan Kariwa mencatat intensitas seismik tertinggi pada skala shindo Jepang, yaitu “kuat 6”. Getarannya dilaporkan terasa hingga ke wilayah Tokyo.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Gempa Bumi Lepas Pantai Chūetsu (dalam bahasa Jepang: 新潟県中越沖地震, Niigata-ken Chūetsu Oki Jishin)[1][2][3] merupakan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,6 yang terjadi pada 16 Juli 2007 pukul 10.13 waktu setempat (01.13 UTC) di wilayah barat laut Prefektur Niigata, Jepang.[4][5][6] Episentrum gempa terletak di lepas pantai Laut Jepang, sekitar 17 kilometer dari pesisir barat Pulau Honshū. Gempa ini berasal dari sesar bawah laut yang sebelumnya belum teridentifikasi dan menimbulkan guncangan kuat di Prefektur Niigata serta wilayah sekitarnya.[7] Kota Kashiwazaki serta desa Iizuna dan Kariwa mencatat intensitas seismik tertinggi pada skala shindo Jepang, yaitu “kuat 6”. Getarannya dilaporkan terasa hingga ke wilayah Tokyo.[5]
Peristiwa tersebut mengakibatkan 11 korban jiwa, lebih dari 1.000 orang luka-luka, dan kerusakan signifikan terhadap bangunan, termasuk 342 rumah yang hancur total. Sebagian besar bangunan yang rusak merupakan struktur kayu berusia tua.[5][8] Gempa ini juga mengganggu pasokan listrik, gas, dan layanan publik lainnya di sejumlah wilayah terdampak. Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Jepang saat itu, Shinzō Abe, menghentikan kegiatan kampanye pemilihan umum untuk meninjau langsung daerah terdampak di Kashiwazaki dan menyatakan komitmen pemerintah dalam upaya penyelamatan serta pemulihan infrastruktur.[9]
Gempa bumi ini terjadi di zona deformasi kompresi yang berkaitan dengan batas antara Lempeng Amurian dan mikro-lempeng Okhotsk. Pada wilayah ini, Lempeng Okhotsk bergerak ke arah barat laut terhadap Lempeng Amur dengan kecepatan sekitar 9 milimeter per tahun dan tingkat konvergensi maksimum mencapai 24 milimeter per tahun. Kedua lempeng tersebut merupakan bagian dari sistem tektonik yang lebih luas di antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan lebih dari 90 milimeter per tahun dan menunjam ke bawah Lempeng Okhotsk di zona subduksi yang terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur-tenggara episentrum gempa.[10]
Gempa ini tergolong dangkal dan diikuti sekitar 13 jam kemudian oleh gempa berkedalaman besar dengan magnitudo 6,8, berjarak sekitar 330 kilometer ke arah barat dan 350 kilometer di bawah Laut Jepang. Kedua peristiwa tersebut disebabkan oleh mekanisme tektonik yang berbeda. Gempa utama disebabkan oleh deformasi kerak bumi pada Lempeng Okhotsk, sedangkan gempa kedua diduga dihasilkan oleh aktivitas sesar di bagian dalam Lempeng Pasifik yang telah tersubduksi. Karena perbedaan mekanisme dan jarak sumber yang cukup besar, gempa kedua tidak dikategorikan sebagai gempa susulan (aftershock).[11][12]
Gempa bumi dangkal umumnya menimbulkan kerusakan yang lebih parah dibandingkan gempa menengah atau dalam, karena energi dilepaskan lebih dekat ke permukaan bumi. Pada peristiwa ini, percepatan tanah maksimum yang tercatat mencapai 993 gal (sekitar 1,01 g).[13] Dua hari setelah kejadian utama, gempa susulan dengan intensitas shindo 4 tercatat di wilayah Izumozaki, Prefektur Niigata.[14]