Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti adalah peneliti ahli madya di Pusat Riset Kimia Maju, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia telah berkecimpung di dunia penelitian sejak tahun 2006. Fokus penelitiannya saat ini terkait dengan sintesis nanostructured functionals materials, surface modification dan aplikasinya dalam bidang kesehatan dan lingkungan, seperti pengembangan material fungsional untuk sensing platform pada luka, deteksi bakteri, dan juga degradasi polutan di sampel lingkungan. Nanomaterial fungsional yang dikembangkan berbasis metal oksida, yang disintesis dari bahan alam maupun dari limbah yang tidak terpakai, sehingga sustainable, memiliki added value dan lebih ramah lingkungan. Atas kontribusinya di bidang ini, ia meraih penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science 2021.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti | |
|---|---|
| Kebangsaan | Indonesia |
| Almamater | S-1 Universitas Gadjah Mada S-2 Universitas Flinders S-3 Universitas Australia Selatan |
| Pekerjaan | Ilmuwan, peneliti, BRIN |
Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti adalah peneliti ahli madya di Pusat Riset Kimia Maju, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia telah berkecimpung di dunia penelitian sejak tahun 2006. Fokus penelitiannya saat ini terkait dengan sintesis nanostructured functionals materials, surface modification dan aplikasinya dalam bidang kesehatan dan lingkungan, seperti pengembangan material fungsional untuk sensing platform pada luka, deteksi bakteri, dan juga degradasi polutan di sampel lingkungan. Nanomaterial fungsional yang dikembangkan berbasis metal oksida, yang disintesis dari bahan alam maupun dari limbah yang tidak terpakai, sehingga sustainable, memiliki added value dan lebih ramah lingkungan.[1] Atas kontribusinya di bidang ini, ia meraih penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science 2021.[2]
Fransiska meraih gelar Sarjana Sains dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 2005. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya dan memperoleh gelar magister dalam bidang Nanoteknologi pada tahun 2011 di Universitas Flinders, Australia. Pada tahun 2015, Fransiska menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang Ilmu material dan mineral di Universitas Australia Selatan, Australia Selatan. Saat ini Fransiska menjadi peneliti ahli di Pusat Riset Kimia Maju, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia berfokus pada penelitian terkait sintesis material fungsional berstruktur nano, modifikasi permukaan, serta aplikasinya di bidang kesehatan dan lingkungan.[3]
Fransiska merupakan salah satu dari empat penerima L’Oreal-UNESCO For Women In Science National Fellowship 2021.[4] Fransiska menerima penghargaan di bidang Non-Life Sciences dengan topik riset yang berjudul 'Zinc oxide Nnostructures from Galvanization Waste as Cronic Wound Prognostics'. Ia mengembangkan riset mengenai sistem deteksi optik untuk mengatasi luka kronis akibat diabetes militus dengan memanfaatkan limbah galvanisasi (proses pelapisan seng) yang berlimpah di Indonesia.[5][6]
Fransiska menemukan bahwa limbah galvanisasi memiliki potensi manfaat bagi penderita luka kronis akibat diabetes.[7] Ia berupaya memanfaatkan ZnO dari limbah industri galvanisasi (pelapisan baja) serta pewarna alami ANT dari kol ungu sebagai alat prognostik luka kronis.[4] Ia berharap dengan inovasi ini dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri pada luka serta memantau proses penyembuhan secara mandiri, sehingga pasien dapat lebih mudah mengontrol kondisi lukanya.[8]
Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti adalah seorang peneliti yang aktif dalam bidang nanomaterial, biosensor optik, dan pengujian laboratorium. Ia telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah serta paten yang mencerminkan kontribusinya dalam inovasi teknologi dan metodologi penelitian di berbagai disiplin ilmu. Salah satu hasil karyanya adalah paten berjudul "Metode Pembuatan Nanomaterial Seng Oksida dari Limbah Galvanis dan Produk yang Dihasilkannya", yang didaftarkan pada tahun 2022 bersama tim penelitinya. Paten ini menunjukkan perhatiannya terhadap pengolahan limbah dan pengembangan material berkelanjutan. Selain itu, ia juga terlibat dalam paten internasional "Optical Biosensor", kolaborasi dengan Nicolas H. Voelcker dan Beatriz Prieto-Simon.[9]
Dalam bidang publikasi ilmiah, Fransiska aktif menulis di jurnal Accreditation and Quality Assurance, membahas berbagai aspek standar laboratorium dan pengukuran. Salah satu penelitiannya yang berjudul "Indonesian Proficiency Testing for Electrolytic Conductivity Measurement of Synthetic Wastewater" (2023) membahas evaluasi kinerja pengukuran konduktivitas elektrolit pada air limbah sintetis.[10] Penelitian lainnya, "Complying with the Resource Requirements of ISO/IEC 17025:2017 in Indonesian Calibration and Testing Laboratories" (2022), mengupas tantangan dan arah masa depan laboratorium kalibrasi dan pengujian di Indonesia dalam memenuhi standar internasional.[11]
Selain itu, Fransiska juga meneliti bidang nanomaterial, termasuk dalam publikasi "Fabrication of Zinc Oxide Nanostructure as Antibacterial Agent" (2019),[12] yang menyoroti pembuatan struktur nano seng oksida sebagai agen antibakteri. Penelitiannya yang lain, "Designing a Formulation of Synthetic Wastewater as Proficiency Testing Sample" (2019), menunjukkan pendekatan inovatif dalam pengujian air limbah sintetis di laboratorium.[13]