Francisca Christy Rosana atau yang kerap dipanggil Cica adalah wartawan desk politik Tempo. Ia dikenal sebagai salah satu pembawa acara siniar Bocor Alus Politik di kanal YouTube Tempo.co.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 1992 Yogyakarta |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Universitas Gadjah Mada - Sastra Indonesia |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Jurnalisme investigasi |
| Pekerjaan | jurnalis, podcaster |
| Bekerja di | Tempo (2015–) |
Francisca Christy Rosana (lahir 1992)[1] atau yang kerap dipanggil Cica adalah wartawan desk politik Tempo.[2] Ia dikenal sebagai salah satu pembawa acara siniar Bocor Alus Politik di kanal YouTube Tempo.co.
Pada Maret 2025, ia mengalami serangkaian teror, antara lain paket kepala babi yang dikirim ke kantor Tempo, doksing melalui media sosial, panggilan telepon dan penguntitan oleh orang tak dikenal, dan peretasan akun WhatsApp milik ibunya.[3][4]
Pada Agustus 2025, ia memperoleh penghargaan Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen.[5]
Cica merupakan lulusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada tahun 2014.[6] Setahun setelah lulus, ia mulai bekerja di Tempo.[2]
Pada 8 Agustus 2025, ia menerima penghargaan Udin Award 2025 yang diserahkan dalam acara peringatan hari ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-31 di Jakarta. Di tengah beragam teror yang menimpanya, Cica dipandang tetap berdedikasi pada bidang jurnalistik dan tidak menurunkan kualitas reportasenya. Selain Cica, jurnalis Tribun Sorong yang bernama Safwan Ashari Raharusun juga menerima penghargaan yang sama.[5][7] Setahun sebelumnya, ia bersama tim Bocor Alus Politik menerima penghargaan Oktovianus Pogau[8] dan Udin Award.[9][10]
Pada 19 Maret 2025, Cica mendapatkan paket berisi kepala babi tanpa telinga yang dikirim ke kantornya. Ia baru menerima dan membuka paket itu keesokan harinya, di kemasan luarnya tertulis nama Cica sebagai nama yang dituju. Selanjutnya pada 21 Maret 2025, ia menjadi korban doksing. Akun @derrynoah di Instagram mengunggah fotonya disertai dengan nama lengkap dan alamat surel Cica dan dibubuhi tulisan yang bernada hinaan dan ancaman dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.[11] Sebelum dua kejadian teror itu, Cica mengaku kerap dihubungi nomor tak dikenal dan beberapa kali merasa diikuti oleh sosok yang mencurigakan.[2] Keluarganya juga tak luput dari teror, akun WhatsApp ibu Cica sempat diretas.[12] Atas rentetan teror itu, Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk wartawan Tempo korban teror, terutama Cica.[12]