Pemanasan adalah serangkaian tindakan yang intim secara emosional dan fisik antara satu orang atau lebih yang dimaksudkan untuk menciptakan gairah seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. Meskipun pemanasan biasanya dipahami sebagai aktivitas seksual fisik, aktivitas nonfisik, seperti tindakan mental atau verbal, mungkin dalam beberapa konteks merupakan pemanasan. Hal ini biasanya menjadi alasan mengapa pemanasan cenderung menjadi istilah yang ambigu dan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Ini dapat mencakup berbagai praktik seksual seperti berciuman, sentuhan seksual, melepas pakaian, seks oral, seks manual, permainan seksual, dan permainan peran seksual.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Pemanasan adalah serangkaian tindakan yang intim secara emosional dan fisik antara satu orang atau lebih yang dimaksudkan untuk menciptakan gairah seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual.[1][2] Meskipun pemanasan biasanya dipahami sebagai aktivitas seksual fisik, aktivitas nonfisik, seperti tindakan mental atau verbal, mungkin dalam beberapa konteks merupakan pemanasan.[1] Hal ini biasanya menjadi alasan mengapa pemanasan cenderung menjadi istilah yang ambigu dan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Ini dapat mencakup berbagai praktik seksual seperti berciuman, sentuhan seksual, melepas pakaian, seks oral, seks manual, permainan seksual, dan permainan peran seksual.[1]
Pemanasan berfungsi sebagai fase penting dalam pertemuan seksual yang meningkatkan keintiman emosional dan kenikmatan fisik, membuat pengalaman seksual menjadi lebih utuh dan memuaskan.[3] Pemanasan telah ditemukan berhubungan positif dengan orgasme wanita.[4]
Pemanasan memiliki efek fisik dan psikologis yang penting. Secara fisik, organ seksual kedua pasangan menerima lebih banyak aliran darah dan terangsang. Bagi pasangan pria, hal ini mengarah pada ereksi, dan bagi pasangan wanita, hal ini menghasilkan ereksi klitoris dan lubrikasi vagina. Kurangnya lubrikasi dapat menyebabkan dispareunia. Ketika pasangan mengalami gairah seksual dari tindakan pemanasan, organ mereka yang rentan terhadap kenikmatan menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan eksternal, sekaligus mengeluarkan cairan tubuh yang melumasi organ-organ tersebut untuk mempersiapkan persetubuhan. Peristiwa-peristiwa fisik yang disebutkan sebelumnya lebih mudah dicapai oleh pasangan pria dibandingkan dengan pasangan wanita, yang mungkin disebabkan oleh potensi konsekuensi dari kehamilan dan peran sebagai ibu.[5] Karena alasan ini, pemanasan diketahui memainkan peran penting bagi pasangan wanita, seperti yang dicatat oleh seksolog Dr. William Robinson. Robinson menyarankan bahwa pasangan pria mampu melakukan persetubuhan tanpa perlunya pemanasan, sedangkan pasangan wanita membutuhkan tindakan pemanasan yang lebih lama untuk dapat terangsang dan terpuaskan secukupnya.[6]
Secara psikologis, pemanasan menurunkan hambatan dan meningkatkan keintiman emosional antar pasangan. Kedua pasangan, saat melakukan pemanasan, mampu berbagi pengalaman pemahaman dan emosi bersama. Ini juga dapat membantu pasangan mengomunikasikan preferensi mereka dengan lebih mudah, yang dapat membantu menciptakan interaksi seksual yang lebih nyaman bagi kedua pasangan.
Dari perspektif biologis, pemanasan dapat dilihat sebagai tindakan yang membutuhkan banyak energi sehubungan dengan reproduksi (perspektif hewan jantan). Namun demikian, besarnya energi untuk pemanasan tersebut menjadi tidak berarti ketika penelitian biologis telah mencatat bahwa hal itu merupakan strategi yang bermanfaat untuk meningkatkan tingkat kesuburan baik di kerajaan hewan maupun manusia. Peningkatan tingkat kesuburan tersebut disebabkan oleh efek fisik dan psikologis yang disebutkan di atas, yang juga berperan dalam efek hormon neurohipofisis. Hormon ini mampu meningkatkan tingkat produksi jumlah sperma pada pria selama tindakan pemanasan yang ekstensif, dan karenanya menyebabkan pasangan wanita memiliki peluang lebih tinggi untuk dibuahi.[7][8]
Menurut sebuah survei pada pasangan heteroseksual tentang durasi persetubuhan dan pemanasan, tidak ada satu pun pihak dalam hubungan tersebut yang merasa puas dengan durasi pemanasan dalam hubungan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pasangan mungkin mengalami kesenjangan antara apa yang mereka inginkan dan apa yang biasanya terjadi selama aktivitas seksual. Survei ini mengambil sampel 152 pasangan yang sebagian besar berpendidikan universitas dan puas dengan kehidupan seksual mereka. Dalam penelitian ini, dan bila dibandingkan dengan beberapa studi yang lebih besar, pria lebih baik dalam mempersepsikan durasi persetubuhan dan pemanasan yang diinginkan oleh pasangannya. Waktu rata-rata yang dihabiskan untuk persetubuhan adalah 7 menit dan 12 menit untuk pemanasan bagi para pasangan dalam survei ini. Hasil lain dari survei ini adalah bahwa durasi pemanasan yang diinginkan bagi pria dan wanita kira-kira sama.[9]
Dalam sebuah studi global terhadap sekitar 12.000 individu dari 27 negara di 6 benua, pemanasan fisik dinilai "sangat penting" oleh 63% pria dan 60% wanita.[10]
Menurut sebuah studi terhadap individu-individu dalam hubungan romantis yang berkomitmen, penggunaan pornografi dan media seksual tidak berperan dalam kepuasan terhadap waktu yang dihabiskan untuk pemanasan, meskipun aspek kepuasan seksual lainnya dapat dipengaruhi oleh jenis media seksual ini. Ini berarti bahwa pemanasan adalah bagian penting dari naskah seksual, dan pengaruh sosial pada naskah seksual tersebut seperti pornografi dan media seksual provokatif tidak memengaruhi pemanasan. Waktu yang dihabiskan untuk pemanasan adalah bagian penting untuk menjadi terangsang secara seksual dan unik bagi setiap individu, dan setiap individu masih membutuhkan jumlah pemanasan yang sama agar dapat terangsang secara seksual terlepas dari miskonsepsi seputar apa yang dipelajari orang-orang dari mengonsumsi pornografi.[11]

Bermain peran seksual atau permainan seks dapat menciptakan ketertarikan seksual.[12] Permainan ini dapat dimainkan dalam berbagai situasi, dan telah ditingkatkan oleh teknologi. Jenis pemanasan lanjutan ini dapat melibatkan pesan SMS (pesan birahi), panggilan telepon, obrolan daring, atau bentuk komunikasi jarak jauh lainnya, yang dimaksudkan untuk merangsang fantasi tentang pertemuan yang akan datang. Bentuk pemanasan ini tidak memerlukan kehadiran fisik, karena godaan tersebut membangun ketegangan seksual.
Permainan kartu atau papan dapat dimainkan untuk pemanasan. Tujuan permainan ini adalah agar pasangan dapat memuaskan fantasi mereka. Pihak yang kalah, misalnya, dapat diminta untuk melepaskan pakaian atau memberikan pijatan sensual (pijat kaki) kepada pemenang, atau hal lain yang ingin dicoba oleh pemenang. Suasana sensual juga dapat ditingkatkan dengan lilin, minuman, makanan sensual, atau pakaian yang menggoda. Bahkan saran untuk menggunakan mainan seks atau bermain permainan yang melibatkan fetis, ikatan seksual, atau menutup mata merupakan indikasi ketertarikan seksual.
Sebagian pasangan menciptakan ketertarikan seksual dengan menonton video erotis dan porno. Bermain peran mungkin melibatkan pasangan yang mengenakan kostum, untuk menciptakan dan mempertahankan fantasi seksual. Untuk variasi, pasangan dapat mengarang cerita (seksual) bersama-sama. Salah satu dari mereka memulai dengan sebuah kalimat dan kemudian yang lain melanjutkan hingga cerita tersebut menjadi eksplisit secara seksual, dan ini memberikan kesempatan bagi pasangan untuk mengekspresikan fantasi seksual mereka. "Orang asing sehari" adalah permainan peran yang terdiri dari pasangan yang memainkan peran pertemuan pertama di antara mereka. Di tempat pertemuan umum, pasangan tersebut berpura-pura menjadi orang asing yang baru pertama kali bertemu. Tujuannya adalah agar mereka menggoda dan merayu satu sama lain, tanpa melakukan atau mengatakan sesuatu yang biasanya tidak akan mereka lakukan atau katakan pada pertemuan pertama.
Pemanasan tantra adalah langkah pertama dalam sesi bercinta, menurut prinsip-prinsip tantra. Seks tantra menentang sikap terburu-buru untuk mencapai orgasme, sehingga pemanasan tantra adalah cara untuk mempersiapkan tubuh dan pikiran untuk penyatuan antara dua tubuh. Aturan tantra menyatakan bahwa pemanasan harus difokuskan pada persiapan sebelum persetubuhan. Pemanasan tantra dapat mencakup mandi sensual antara kedua pasangan dalam suasana yang santai. Minyak wangi dan lilin juga dapat digunakan untuk membangun suasana hati.[13]
Pemanasan tantra pada intinya adalah tentang memberikan waktu kepada satu sama lain untuk terhubung secara spiritual dan mengikat diri. Saling menatap sambil duduk bersila dan menyentuh telapak tangan satu sama lain adalah taktik pemanasan yang biasa digunakan oleh para praktisi tantra. Pemanasan tantra juga dapat mencakup pijat tantra. Pijatan yang diterapkan, menurut filosofi tantra, bukan untuk mencapai orgasme tetapi untuk saling memberikan kenikmatan dan terhubung pada tingkat spiritual.[14]
Terdapat banyak rujukan sejarah tentang pemanasan, dengan berbagai penggambaran artistik. Karya India Kuno Kamasutra menyebutkan berbagai jenis pelukan, ciuman, serta pemberian bekas menggunakan kuku dan gigi.[15][16][17] Karya ini juga menyebutkan aktivitas BDSM seperti menampar dan mengerang sebagai "permainan".[18] Terdapat juga contoh penggunaan pemanasan dalam literatur nasihat pernikahan yang berasal dari awal tahun 1900-an.[6]