Flutikason/salmeterol adalah obat kombinasi dosis tetap yang mengandung flutikason propionat dan salmeterol. Obat ini digunakan dalam penanganan asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Flutikason bekerja dengan mengurangi peradangan, sementara salmeterol bekerja dengan mengaktifkan reseptor adrenergik beta-2. Obat ini digunakan dengan cara menghirup obat ke dalam paru-paru.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Flutikason propionat (atas) dan salmeterol (bawah) | |
| Kombinasi dari | |
|---|---|
| Flutikason propionat | Glukokortikoid |
| Salmeterol | Agonis beta-adrenoseptor kerja panjang |
| Data klinis | |
| Nama dagang | Friventil, Salmeflo, Seretide, dll |
| AHFS/Drugs.com | FDA Professional Drug Information |
| MedlinePlus | a699063 |
| License data | |
| Kategori kehamilan |
|
| Rute pemberian | Inhalasi |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Pengenal | |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| ChemSpider |
|
| KEGG | |
| (verify) | |
Flutikason/salmeterol adalah obat kombinasi dosis tetap yang mengandung flutikason propionat (kortikosteroid inhalasi) dan salmeterol (agonis beta2-adrenergik kerja lama).[2][3][4] Obat ini digunakan dalam penanganan asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).[4] Flutikason bekerja dengan mengurangi peradangan, sementara salmeterol bekerja dengan mengaktifkan reseptor adrenergik beta-2.[5] Obat ini digunakan dengan cara menghirup obat ke dalam paru-paru.[4]
Efek samping yang umum termasuk sariawan, sakit kepala, dan batuk. Efek samping yang serius mungkin termasuk memburuknya asma, anafilaksis, sawan, dan masalah jantung.[5] Keamanan pada kehamilan dan menyusui tidak jelas.[6]
Kombinasi ini disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada tahun 2000.[5] Versi generiknya disetujui di Amerika Serikat pada tahun 2019.[7]
Flutikason/salmeterol diindikasikan untuk pengobatan asma.[2][3]
Flutikason, suatu kortikosteroid, merupakan komponen antiinflamasi dari kombinasi tersebut yang mengurangi peradangan di paru-paru. Hal ini menyebabkan perbaikan pernapasan. Salmeterol, suatu agonis beta-adrenoseptor kerja panjang, mengobati penyempitan saluran napas. Kombinasi keduanya dimaksudkan untuk digunakan sebagai terapi pemeliharaan dan bukan sebagai terapi darurat untuk gejala yang muncul tiba-tiba.
Efek samping umum dari kombinasi ini adalah efek samping dari obat-obatan yand ada di dalamnya. Misalnya, penggunaan kortikosteroid inhalasi dikaitkan dengan kandidiasis oral, yang umumnya dikenal sebagai infeksi jamur atau sariawan. Berkumur-kumur setelah menghirup obat mengurangi risiko berkembangnya kondisi ini.
Meskipun penggunaan steroid inhalasi dan agonis beta2-adrenergik kerja panjang direkomendasikan untuk perbaikan yang dihasilkan dalam pengendalian gejala asma,[8] kekhawatiran telah muncul bahwa salmeterol dapat meningkatkan risiko kematian akibat asma, dan risiko tambahan ini tidak berkurang dengan penambahan steroid inhalasi.[9] Efek samping lain dari kombinasi obat ini dapat mencakup peningkatan tekanan darah, perubahan denyut jantung, detak jantung tidak teratur, peningkatan risiko osteoporosis, katarak, dan glaukoma.[2] Penelitian telah menunjukkan keamanan flutikason propionat inhalasi pada anak-anak. Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada tahun 2013 tidak menemukan efek samping signifikan pada fungsi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal, pertumbuhan, dan kepadatan mineral tulang pada anak-anak penderita asma ketika flutikason inhalasi digunakan hingga tiga bulan.[10]
Flutikason/salmeterol mengandung flutikason propionat (kortikosteroid sintetis) dan salmeterol (agonis reseptor beta-adrenergik selektif kerja panjang). Flutikason bekerja sebagai agen antiinflamasi yang poten, menghambat berbagai jenis sel seperti sel mast, eosinofil, basofil, limfosit, makrofag, dan neutrofil yang semuanya berkontribusi terhadap inflamasi, komponen besar dalam patogenesis asma. Salmeterol bekerja dengan menstimulasi adenilat siklase intraseluler, yang bertindak sebagai katalis dalam produksi AMP siklik. Peningkatan kadar AMP siklik menyebabkan relaksasi otot polos bronkial. Selain itu, AMP siklik menghambat pelepasan mediator hipersensitivitas langsung.[2]
Pada bulan Januari 2021, Komite Produk Obat untuk Penggunaan Manusia (CHMP) dari Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) memberikan opini positif, merekomendasikan pemberian izin edar untuk produk obat Seffalair Spiromax, yang ditujukan untuk pengobatan asma. Pemohon untuk produk obat ini adalah Teva B.V.[11] CHMP juga merekomendasikan pemberian izin edar untuk produk duplikat BroPair Spiromax.[12] Seffalair Spiromax dan BroPair Spiromax keduanya disetujui untuk penggunaan medis di Uni Eropa pada bulan Maret 2021.[13][14][15][16]
Pada bulan Januari 2019, FDA memberikan persetujuan generik pertama kepada Mylan untuk Advair Diskus.[7]
Pada tahun 2012, Advair menjadi bagian dari perjanjian penyelesaian perdata yang lebih besar antara GlaxoSmithKline (GSK plc) dan Amerika Serikat, di mana GSK setuju untuk membayar $1,043 miliar; Amerika Serikat menyatakan bahwa GSK mempromosikan penggunaan Advair di luar label dan memberikan suap kepada tenaga kesehatan profesional untuk menjual obat ini.[17]