Feminisme Chicana adalah sebuah gerakan sosiopolitik, teori, dan praksis yang meneliti persinggungan sejarah, budaya, spiritual, pendidikan, dan ekonomi yang berdampak pada perempuan Chicana dan komunitas Chicana/o di Amerika Serikat. Feminisme Chicana memberdayakan perempuan untuk menantang norma-norma sosial yang telah melembaga dan menganggap siapa pun sebagai feminis yang berjuang demi berakhirnya penindasan perempuan di dalam komunitas tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Feminisme Chicana adalah sebuah gerakan sosiopolitik, teori, dan praksis yang meneliti persinggungan sejarah, budaya, spiritual, pendidikan, dan ekonomi yang berdampak pada perempuan Chicana (perempuan Meksiko-Amerika) dan komunitas Chicana/o (warga keturunan Meksiko-Amerika) di Amerika Serikat.[1] Feminisme Chicana memberdayakan perempuan untuk menantang norma-norma sosial yang telah melembaga dan menganggap siapa pun sebagai feminis yang berjuang demi berakhirnya penindasan perempuan di dalam komunitas tersebut.[1][2]
Feminisme Chicana mendorong perempuan untuk merebut kembali eksistensi mereka di antara dan di tengah Gerakan Chicano (El Movimento) dan gelombang kedua gerakan feminis dari tahun 1960-an hingga 1970-an.[1] Para feminis Chicana menyadari bahwa memberdayakan perempuan akan memberdayakan komunitas Chicana/o, namun mereka rutin menghadapi perlawanan.[1][3] Perkembangan kritis dalam bidang ini, termasuk dari para feminis lesbian Chicana, memperluas gagasan terbatas tentang Chicana di luar pemahaman konvensional.[3]
Xicanisma adalah suatu bentuk intervensi signifikan yang dikembangkan oleh Ana Castillo pada tahun 1994, untuk menyegarkan kembali feminisme Chicana dan mengakui pergeseran kesadaran yang telah terjadi sejak Gerakan Chicano,[4][5] sebagai perpanjangan dan perluasan dari Chicanismo (kesadaran budaya gerakan Chicano).[6] Hal ini turut menginspirasi pembentukan identitas Xicanx (identitas gender-netral Meksiko-Amerika).[7] Produksi budaya Chicana, termasuk seni, sastra, puisi, musik, dan film Chicana terus membentuk feminisme Chicana ke arah yang baru.[8] Feminisme Chicana sering kali ditempatkan dalam pembahasan bersamaan dengan feminisme dekolonial.[9][10]

Beberapa perempuan Meksiko-Amerika terlibat dalam gerakan awal memperjuangkan hak memilih bagi perempuan. Pada awal abad kedua puluh, ini termasuk perempuan seperti Adelina Otero-Warren dan Maria de G.E. López.[12][13] Otero-Warren lahir dalam keluarga elit Hispanik.[12] Sebagian besar warga Meksiko-Amerika, terutama yang berpenghasilan rendah dan berkulit tidak putih, yang tidak tumbuh dalam keluarga elit, mengalami kondisi yang jauh berbeda.[11][14]

Sebelum akhir 1940-an, anak-anak Meksiko-Amerika sering kali tumbuh besar di colonia (permukiman) yang tersegregasi di kota-kota perusahaan untuk industri pertanian. Anak-anak Meksiko, terutama yang berkulit lebih gelap, hanya diizinkan oleh pemerintah AS untuk menghadiri "sekolah Meksiko" yang tersegregasi. Sementara sekolah kulit putih mengajarkan persiapan akademik, anak perempuan di "sekolah Meksiko" hanya diizinkan untuk diajarkan keterampilan rumah tangga dan menjahit, sedangkan anak laki-laki diajarkan berkebun dan membuat sepatu bot. Hal ini mempertahankan pembagian kelas dan pendapatan.[11][14] Segregasi rasial secara de jure dibatalkan pada tahun 1947 melalui kasus Mendez vs. Westminster, namun segregasi masih terus berlanjut dalam praktiknya di banyak daerah karena sikap rasis yang terus ada dan sentimen anti-Meksiko.[14]