Margaretta "Etta" Louisa Lemon adalah seorang konservasionis burung Britania Raya dan anggota pendiri organisasi konservasi yang sekarang disebut Royal Society for the Protection of Birds (RSPB). Dia dilahirkan dalam keluarga Kristen evangelis di Kent, setelah kematian ayahnya, dia semakin gencar berkampanye menentang penggunaan bulu dalam pembuatan topi, yang telah menyebabkan miliaran burung dibunuh untuk diambil bulunya. Dia mendirikan Fur, Fin, dan Feather Folk dengan Eliza Phillips di Croydon pada tahun 1889, dua tahun kemudian bergabung dengan Society for the Protection of Birds (SPB) Emily Williamson yang berbasis di Manchester, juga didirikan pada tahun 1889. Organisasi baru tersebut mennggunakan singkatan nama SPB, dan Frank Lemon menjadi penasihat hukumnya. Etta menikah dengan Frank Lemon pada tahun 1892. Sebagai Nyonya Lemon ia menjadi sekretaris kehormatan pertama SPB, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1904, ketika perkumpulan tersebut berganti nama menjadi RSPB.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Etta Lemon | |
|---|---|
Etta Lemon pada tahun 1913 | |
| Lahir | Margaretta Louisa Smith 22 November 1860 Hythe, Kent, Inggris |
| Meninggal | 8 Juli 1953(1953-07-08) (umur 92) Redhill, Surrey, Inggris |
| Nama lain | Etta Lemon |
| Dikenal atas | Anggota Pendiri RSPB |
Margaretta "Etta" Louisa Lemon MBE (nama gadis Smith; 22 November 1860 – 8 July 1953) adalah seorang konservasionis burung Britania Raya dan anggota pendiri organisasi konservasi yang sekarang disebut Royal Society for the Protection of Birds (RSPB). Dia dilahirkan dalam keluarga Kristen evangelis di Kent, setelah kematian ayahnya, dia semakin gencar berkampanye menentang penggunaan bulu dalam pembuatan topi, yang telah menyebabkan miliaran burung dibunuh untuk diambil bulunya. Dia mendirikan Fur, Fin, dan Feather Folk dengan Eliza Phillips di Croydon pada tahun 1889, dua tahun kemudian bergabung dengan Society for the Protection of Birds (SPB) Emily Williamson yang berbasis di Manchester, juga didirikan pada tahun 1889. Organisasi baru tersebut mennggunakan singkatan nama SPB, dan Frank Lemon menjadi penasihat hukumnya. Etta menikah dengan Frank Lemon pada tahun 1892. Sebagai Nyonya Lemon ia menjadi sekretaris kehormatan pertama SPB, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1904, ketika perkumpulan tersebut berganti nama menjadi RSPB.
Lemon memimpin RSPB selama lebih dari tiga dekade, meskipun konservatisme Etta, manajemen otoriter, dan penentangan terhadap ornitologi ilmiah semakin menyebabkan bentrokan dengan komite organisasi. Dia ditekan untuk mengundurkan diri dari peran kepemimpinannya pada tahun 1938, pada usia 79 tahun. Selama masa jabatannya, Undang-Undang Impor Bulu (Larangan) 1921 membatasi perdagangan internasional bulu, tetapi tidak mencegahnya untuk dijual atau dipakai.
Lemon diangkat sebagai Anggota Ordo Kerajaan Britania Raya pada tahun 1920 atas kerjanya untuk manajemen Rumah Sakit Perang Redhill selama Perang Dunia Pertama. Dia bekerja untuk banyak organisasi lain, termasuk Rumah Sakit Royal Earlswood, Liga Anti Hak Pilih Wanita Nasional, dan cabang Palang Merah setempat. Lemon adalah salah satu dari empat anggota kehormatan wanita pertama dari British Ornithologists' Union (BOU) yang diterima pada tahun 1909, meskipun dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai ahli burung. Dia meninggal di Redhill pada usia 92 tahun 1953 dan dimakamkan di samping suaminya di pemakaman Reigate.
Selain keterlibatannya dalam organisasi anti-bulu, Lemon juga berperan dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Pada pergantian abad ke-20, salah satu gerakan massa berbasis perempuan yang berkembang di Britania Raya adalah gerakan hak pilih perempuan, yang dipimpin oleh Women's Social and Political Union di bawah Emmeline Pankhurst.[1][2] Namun, banyak pemimpin konservatif dan religius di Society for the Protection of Birds (SPB) menentang hak pilih perempuan.[3][4] Beberapa aktivis hak pilih, atau suffragettes, mengenakan topi berbulu sebagai simbol identitas.[5] Sebuah pamflet SPB tahun 1896 berjudul A Woman’s Question, yang ditulis oleh Blanche Atkinson dan didistribusikan oleh Lemon, menyatakan bahwa penggunaan bulu oleh perempuan dapat dijadikan alasan untuk menolak hak suara mereka.[6] Lemon kemudian menjadi anggota komite Women's National Anti-Suffrage League, yang didirikan pada tahun 1908.[7]
Di bidang sosial, Lemon bekerja sama dengan Royal Earlswood Hospital di Redhill, Surrey, yang merupakan salah satu institusi pertama di Britania Raya yang menangani orang dengan disabilitas perkembangan.[8] Ia juga terlibat dalam kegiatan di Crescent House Convalescent Home di Brighton.[9]
Pada tahun 1911, suaminya, Frank Lemon, terpilih sebagai wali kota Reigate, dan Lemon, sebagai lady mayoress, turut serta dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk mengorganisir pesta Natal untuk 100 anak. Ia juga menjabat sebagai kuartirmaster untuk cabang lokal Palang Merah, anggota dewan pengawas panti sosial, dan bendahara Children's Care Association.[10][11]
Selama Perang Dunia I, pada tahun 1917, Angkatan Darat Britania Raya mengambil alih rumah sakit panti sosial Redhill untuk dijadikan rumah sakit militer.[12][13] Atas jasanya, ia dianugerahi Member of the Order of the British Empire (MBE) pada tahun 1920. Pada tahun berikutnya, ia diangkat sebagai justice of the peace, menjadikannya salah satu dari dua perempuan pertama yang menjadi hakim di Reigate.[14]
Lemon meninggal di Redhill pada 8 Juli 1953 pada usia 92 tahun dan dimakamkan di samping suaminya di Pemakaman Gereja St Mary, Reigate.[15]
Margaretta L. Lemon merupakan salah satu dari empat perempuan pertama yang menjadi anggota kehormatan British Ornithologists' Union (BOU) pada tahun 1909, bersama dengan Duchess of Bedford, Dorothea Bate, dan Emma Turner.[16] Meskipun terpilih sebagai anggota kehormatan British Ornithologists' Union (BOU), Margaretta L. Lemon tidak menyebut dirinya sebagai seorang ornitolog. Pada masa itu, sebagian besar kegiatan BOU mencakup pengumpulan telur burung serta pengawetan burung untuk keperluan penelitian dan koleksi ilmiah. Kegiatan tersebut berbeda dengan pendekatan konservasi yang Lemon dukung melalui advokasi perlindungan burung dan habitatnya.[17]
Selama Perang Dunia I, ia terlibat dalam upaya konservasi serta mendukung perawatan tentara di rumah sakit militer. Dalam lingkungan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), metode kepemimpinannya yang tegas dan disiplin menyebabkan ia dijuluki "Sang Naga". Setelah kematiannya, pengakuan terhadap kontribusinya mengalami penurunan, tetapi sejak 2018, reputasinya kembali mendapat perhatian. Potretnya kini dipajang di markas besar RSPB, dan namanya tercantum di situs resmi organisasi tersebut.[11] Pada tahun 2021, majalah Nature's Home yang diterbitkan oleh RSPB menerbitkan artikel yang mengulas peran Lemon bersama T. Gilbert Pearson, Winifred Portland, dan Etta Lemon dalam pendirian dan perkembangan organisasi konservasi burung.[18]
Lemon, Margaretta L. (1895). "The Bird of Paradise". Nature. 52 (1339): 197. Bibcode:1895Natur..52..197L. doi:10.1038/052197f0. ISSN 1476-4687.