Emisi non-gas buang merupakan partikel yang terlepas ke udara dari komponen kendaraan selain mesin, seperti keausan rem, ban, gesekan permukaan jalan, dan debu jalan yang terangkat kembali. Partikel-partikel tersebut sering kali mencemari udara dan menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia seperti asma, penyakit kardiovaskular, dan kematian dini. Meskipun emisi non-gas buang sama berbahayanya dengan emisi gas buang, tetapi keberadaannya jarang diperhatikan oleh berbagai ilmuwan dan pemerintah. Terdapat sebuah studi yang menyatakan bahwa partikel-partikel yang berasal dari emisi non-gas buang memiliki ukuran yang lebih besar daripada partikel yang berasal dari emisi gas buang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Emisi non-gas buang merupakan partikel yang terlepas ke udara dari komponen kendaraan selain mesin, seperti keausan rem, ban, gesekan permukaan jalan, dan debu jalan yang terangkat kembali. Partikel-partikel tersebut sering kali mencemari udara dan menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia seperti asma, penyakit kardiovaskular, dan kematian dini.[1] Meskipun emisi non-gas buang sama berbahayanya dengan emisi gas buang, tetapi keberadaannya jarang diperhatikan oleh berbagai ilmuwan dan pemerintah.[2] Terdapat sebuah studi yang menyatakan bahwa partikel-partikel yang berasal dari emisi non-gas buang memiliki ukuran yang lebih besar daripada partikel yang berasal dari emisi gas buang.[3]
Rem dan ban yang terbuat dari karet akan melepaskan partikel ketika keduanya aus atau bersentuhan dengan jalan. Dalam masalah rem, proses gesekan antara bantalan rem dan cakram atau tromol menyebabkan keausan pada kedua permukaan tersebut, sehingga menghasilkan partikel yang sebagian besar terlepas ke udara. Sedangkan ban, di saat benda tersebut bersentuhan dengan permukaan jalan, gesekan menyebabkan keausan pada ban, menghasilkan pelepasan partikel karet kecil dalam berbagai ukuran.[4]
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa efek nanopartikel, yang salah satu penyebabnya berasal dari emisi non-gas buang, memiliki dampak buruk terhadap otak dan proses kognitif melalui mekanisme pembuluh darah dan peradangan.[5] Bila partikel-partikel tersebut memasuki pembuluh darah, maka tubuh akan mendapatkan masalah kesehatan jangka panjang.[6] Dalam penelitian terbaru, keberadaan partikel polutan udara juga dapat memperburuk epidemi virus corona seperti sindrom pernapasan akut berat dan Covid-19.[7]
Sejumlah ilmuwan mengusulkan peraturan ban yang lebih ketat untuk mengurangi emisi non-gas buang. Menggunakan kendaraan yang lebih ringan dan mengurangi jarak tempuh kendaraan juga dapat menekan polusi ini.[8] Untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, berbagai langkah dapat diterapkan, seperti membuat transportasi umum dan moda non-bermotor (misalnya berjalan kaki dan bersepeda) lebih menarik. Langkah ini mencakup disinsentif seperti menambah biaya atau ketidaknyamanan penggunaan kendaraan pribadi, serta memberikan insentif untuk alternatif seperti transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda.[9]