El Alamein: The Line of Fire adalah sebuah film drama perang Italia tahun 2022 yang disutradarai oleh Enzo Monteleone. Film ini mengisahkan tentang seorang prajurit muda bernama Serra, seorang mahasiswa yang menjadi sukarelawan Pertempuran El Alamien Kedua di Afrika Utara pada tahun 1942. Film ini menggunakan bahasa Italia sebagai pengantarnya, serta dibintangi oleh berbagai pemeran terkenal asal Italia, seperti Pierfrancesco Favino dan Emilio Solfrizzi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| El Alamein - The Line of Fire | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Enzo Monteleone |
| Produser | Marco Chimenz Giovanni Stabilini Riccardo Tozzi |
| Ditulis oleh | Enzo Monteleone |
| Pemeran | Paolo Briguglia Emilio Solfrizzi Pierfrancesco Favino |
| Penata musik | Pivio dan Aldo De Scalzi |
| Sinematografer | Daniele Nannuzzi |
| Penyunting | Cecilia Zanuso |
Perusahaan produksi | |
| Distributor | Medusa Distribuzione |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 117 menit |
| Negara | Italia |
| Bahasa | Italia |
El Alamein: The Line of Fire (Italia: El Alamein - La linea del fuoco, juga ditayangkan dengan judul El Alamein: Bond of Honour) adalah sebuah film drama perang Italia tahun 2022 yang disutradarai oleh Enzo Monteleone. Film ini mengisahkan tentang seorang prajurit muda bernama Serra, seorang mahasiswa yang menjadi sukarelawan Pertempuran El Alamien Kedua di Afrika Utara pada tahun 1942. Film ini menggunakan bahasa Italia sebagai pengantarnya, serta dibintangi oleh berbagai pemeran terkenal asal Italia, seperti Pierfrancesco Favino dan Emilio Solfrizzi.
El Alamein: The Line of Fire serta melakukan pengambilan gambar di Maroko,[1] dan dirilis pada 8 November 2002. Film ini meraih tiga penghargaan David di Donatello (untuk Sinematografi Terbaik, Penyuntingan Terbaik, dan Tata Suara Terbaik), penghargaan Nastro d’Argento untuk Tata Suara Terbaik, serta Globo d’oro untuk Aktor Pendatang Baru Terbaik yang diberikan kepada Paolo Briguglia.
Pada Oktober 1942, ketika prajurit muda bernama Serra, seorang mahasiswa dari Palermo yang secara sukarela bergabung dengan Angkatan Darat, dikirim untuk bertugas di Resimen Infanteri ke-28 Divisi Infanteri ke-17 Pavia yang ditempatkan di dekat Naqb Rala (El Alamein). Letnan Fiore, komandan peleton menyuruhnya untuk bergabung dengan Sersan Rizzo. Begitu Serra tiba di kesatuannya, kopral yang menemaninya tewas akibat tembakan artileri. Serra kemudian berteman dengan beberapa anggota peletonnya: Prajurit Spagna, Kopral De Vita, penembak mortir Tarozzi dan Sersan Rizzo, seorang veteran asal Venesia yang telah bertugas di Afrika selama dua tahun. Mereka mengatakan kepadanya bahwa setiap prajurit memiliki tiga "keajaiban" sebelum ajal menjemput. Keajaiban pertama Serra adalah lolos tanpa cedera dari serangan artileri yang menewaskan kopral yang menemaninya. Hari-hari di garis depan berlalu dengan penuh penderitaan: panas yang tak tertahankan, wabah disentri, makanan yang sangat terbatas, dan air yang sangat minim. Artileri Inggris terus membombardir posisi Italia pada siang hari.
Suatu hari, seorang penembak jitu Inggris yang bersembunyi di balik bangkai kendaraan menembak dua prajurit Italia. Ketika dua petugas tandu berusaha menolong mereka, keduanya juga ditembak, sebelum akhirnya Tarozzi berhasil menewaskan sang penembak jitu dengan mortirnya. Malam berikutnya, sebuah truk Inggris meledakkan ranjau di wilayah tak bertuan, dan Serra, Rizzo, De Vita, serta Spagna memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil makanan dari jasad tentara yang tewas. Serra sempat menginjak ranjau, namun ternyata itu adalah ranjau antitank yang hanya aktif pada beban jauh lebih berat; peristiwa ini dianggap sebagai "keajaiban" keduanya. Dua truk yang tersesat kemudian tiba di peleton. Letnan Fiore memeriksa muatan mereka dan mendapati kotak-kotak semir sepatu serta seekor kuda milik Mussolini, yang dipersiapkan untuk "parade di Alexandria". Fiore dengan marah menegur pengemudi bahwa jika ingin menaklukkan Alexandria, yang dibutuhkan adalah senjata, air, amunisi, makanan, obat-obatan, dan pasukan yang masih segar bugar. Tarozzi menyarankan agar kuda itu dibunuh dan dimakan, Fiore setuju, tetapi tidak ada yang tega melakukannya sehingga truk dibiarkan pergi bersama kuda tersebut.
Serra, Rizzo, Spagna, dan De Vita kemudian ditugaskan mengambil satu truk penuh air sejauh 60 km di belakang garis mereka. Dalam perjalanan kembali, mereka menyimpang ke pantai, mandi di laut, dan beristirahat di tepi pantai, sebelum akhirnya ditemukan oleh penjaga yang memberitahu bahwa mereka berada dalam ladang ranjau. Serra kemudian menemukan seekor unta di dekat parit. Ia membunuhnya, dan dagingnya dimasak sehingga para prajurit dapat menikmati makanan yang sebenarnya untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Fiore mengetahui bahwa unta tersebut sebenarnya dikirim oleh Inggris untuk memeriksa jalur ranjau Italia. Para insinyur juga menyampaikan bahwa menurut informasi komando, serangan besar Sekutu akan segera dimulai, karena mereka menemukan banyak jalur ranjau yang telah dibersihkan di sepanjang garis depan.
Serra dan Sersan Rizzo kemudian dikirim ke Cekungan Qattara untuk menyelidiki mengapa sebuah pos Bersaglieri berhenti berkomunikasi. Mereka menemukan seluruh regu di pos tersebut telah tewas, lalu menguburkan jenazah sebelum kembali. Tak lama kemudian, serangan artileri Inggris menewaskan atau melukai lebih dari dua puluh anggota peleton. De Vita selamat dari sebuah peluru artileri yang jatuh di dekatnya, tetapi setelah itu perilakunya berubah dan perlahan kehilangan kewarasannya. Ketika pertempuran dimulai, peleton Fiore diperintahkan menempati garis pertahanan di “Height 105” sebagai bagian dari Divisi Infanteri ke-185 “Folgore”. Mereka bertahan di lubang-lubang galian dengan mortir dan senapan mesin. Pada malam hari, posisi mereka dihujani artileri berat, lalu diserang tank dan infanteri Sekutu. Italia membalas dengan mortir, senapan, dan senapan mesin, sehingga kedua pihak menderita banyak korban. Tarozzi terluka di mata, sementara De Vita yang satu lubang dengan Serra tiba-tiba kehilangan kendali, keluar dari perlindungan, dan berjalan tanpa arah hingga lenyap di balik debu pasir meski Serra berusaha memanggilnya kembali.
Serangan Inggris berhasil menembus garis pertama, tetapi akhirnya terhenti oleh artileri dan ladang ranjau, lalu dipukul mundur. Serra kemudian merenung bahwa mungkin itu adalah "keajaiban" ketiganya. Keesokan paginya, ia berjalan di medan perang yang dipenuhi jasad Italia dan Inggris. Ia teringat pelajaran di sekolah bahwa "beruntunglah mereka yang mati sebagai pahlawan", namun melihat kenyataan, ia tidak sependapat dengan kalimat tersebut. Serra kemudian menemukan Spagna yang terluka parah di perut dan sedang dibawa dengan tandu. Ia, Fiore, dan Rizzo mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia akan segera pulang karena telah terluka.
Awalnya, perintah yang diberikan adalah bertahan “menang atau mati”. Namun beberapa hari kemudian, peleton Fiore diperintahkan mundur ke Qaret el Khadim dan memulai perjalanan panjang melintasi gurun. Dalam perjalanan, konvoi kendaraan Jerman yang mundur melewati mereka tanpa berhenti, bahkan seorang prajurit Jerman memperingatkan bahwa mereka "akan mati di sini". Sebuah truk Italia yang kelebihan muatan juga lewat tanpa mau mengangkut siapa pun. Mereka kemudian bertemu seorang jenderal yang sedang menguburkan ajudannya yang tewas akibat serangan udara. Jenderal itu menolak bantuan dan akhirnya bunuh diri setelah selesai menguburkan ajudannya. Peleton mencapai Qaret el Khadim, tetapi hanya menemukan rumah sakit lapangan. Seorang perwira medis memberi tahu bahwa mereka diperintahkan untuk mundur ke Fuka. Peleton sempat menumpang truk, tetapi di perjalanan mereka diserang pesawat Supermarine Spitfire. Mereka berlindung di sebuah bangunan dan bertemu seorang kolonel yang menyebut mundurnya pasukan sebagai manuver strategis dan menyuruh mereka untuk segera kembali garis depan setelah menjalani pengobatan di Fuka dengan menjanjikan bala bantuan akan segera datang. Setelah serangan berakhir, mereka mendapati truk mereka telah hancur.
Peleton Fiore kembali melanjutkan perjalanan di tengah gurun. Hujan deras sesaat memberi sedikit kelegaan bagi para prajurit yang kehausan. Mereka bertemu seorang bersagliere bermotor yang memberi tahu bahwa Fuka telah jatuh ke tangan Inggris, dan perintah baru adalah mundur ke Mersa Matruh, sejauh 100 km berjalan kaki. Peleton bermalam di dekat pemakaman tua, tetapi malam itu kendaraan lapis baja Bren menemukan mereka dan menawan semua prajurit kecuali Fiore, Rizzo, dan Serra yang berada agak jauh.
Keesokan paginya, ketiganya melanjutkan perjalanan, namun Fiore yang terluka parah hampir tidak mampu berjalan. Mereka menemukan kendaraan terbengkalai; sebuah truk tidak bisa digunakan, tetapi Serra berhasil menyalakan sepeda motor. Fiore terlalu lemah untuk ikut, sehingga ia meminta Rizzo dan Serra meninggalkannya. Rizzo menolak meninggalkan Fiore, sementara Serra bersikeras tidak akan pergi tanpa mereka. Akhirnya Rizzo memaksa Serra untuk pergi. Serra berjanji akan mencari kendaraan dan kembali menjemput mereka, lalu berangkat dengan sepeda motor. Film ditutup dengan adegan Serra mengendarai motor menjauh, sementara Rizzo melambaikan tangan dan menyaksikan kepergiannya.
Adegan penutup menampilkan informasi tentang Pertempuran El Alamein, diikuti gambar Monumen Perang Italia di El Alamein, tempat Serra yang telah menua melihat makam Rizzo, Fiore, Spagna, dan De Vita.
Enzo Monteleone membuat film ini berdasarkan surat dan kesaksian para veteran, terutama dari buku Alamein karya Paolo Caccia Dominioni,[2] yang merupakan seorang insinyur militer sekaligus veteran pertempuran tersebut.[3] Pengambilan gambar film ini dilakukan di Maroko, tepatnya di wilayah Erfoud dan Ourzazate.[4] Lokasi ini dipilih karena tekstur gurunnya yang mirip dengan medan di El Alamein. Dalam pembuatan film ini, Monteleone tidak menggunakan gaya film perang Amerika dan lebih terinspirasi oleh Lawrence of Arabia dan The Thin Red Line, yang menekankan dimensi manusia dan alam.[4]
Dalam film, prajurit Italia menyebut artileri yang menembaki mereka sebagai "English 88s". Hal ini dianggap keliru karena meriam 88 mm terkenal pada Perang Dunia II adalah senjata antipesawat Jerman.[5] Namun, meriam lapangan Inggris 25-pounder juga menembakkan peluru berkaliber 88 mm, sehingga penyebutan tersebut sebenarnya tidak salah. Kendaraan lapis baja yang digunakan dalam film sebagian besar bersifat anakronistik, meski banyak yang disamarkan atau ditampilkan pada malam hari.[4] Salah satu pengecualian adalah kendaraan setengah lintasan AS White M3 yang digambarkan sebagai kendaraan Jerman, sebagaimana lazim dalam banyak film. Kendaraan non-lapis baja dalam film relatif lebih akurat, dan secara keseluruhan detail periode digambarkan dengan baik.