Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dalam tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Penggunaan huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca tidak boleh diabaikan karena akan mengakibatkan perbedaan makna. Oleh karena itu dalam penulisan kata ataupun kalimat perlu memperhatikan kaidah-kaidah dan aturan baku yang berlaku, seperti PUEBI. Ejaan biasanya memiliki tiga aspek yaitu:aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat, dan lain sebagainya) dalam tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.[1] Penggunaan huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca tidak boleh diabaikan karena akan mengakibatkan perbedaan makna. Oleh karena itu dalam penulisan kata ataupun kalimat perlu memperhatikan kaidah-kaidah dan aturan baku yang berlaku, seperti PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan). Ejaan biasanya memiliki tiga aspek yaitu:
Ejaan yang disempurnakan atau EYD terdiri dari 26 grafem tunggal dan fonem sebagai berikut:[2]
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.[3] Contoh pemakaian dalam kata vokal di awal di tengah di akhir pada huruf a seperti api, padi, lusa.[3] Dalam vokal e seperti enak, petak, sore, sedangkan dalam vokal i contohnya itu, simpan, murni.[3] Serta dalam vokal o seperti oleh, kota, radio, dan terakhir pada vokal u contohnya ulang, bumi, ibu.[3] Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.[4]
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.[4][5] Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah khusus untuk nama dan keperluan ilmu.[4]
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.[6] Contoh penggunaan diftong ai pada awal, tengah dan akhir adalah sebagai berikut ain, kaisar, pandai.[7] Sedangkan pada diftong au seperti aula, saudara, harimau.[7] Serta pada diftong oi di awal kata tidak ditemui, sedangkan untuk di tengah dan akhir seperti boikot dan amboi.[7]
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.[6] Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.[6] Sama seperti kata yang lain, gabungan huruf konsonan bisa terdapat pada awal, tengah, dan akhir kata.[7]
Prinsip morfologis merupakan dua kaidah yang mengkhususkan penulisan sebuah fonem yang memiliki posisi tertentu dalam morfem atau kata jadian.[8]Dua kaidah tersebut adalah:
Prinsip historis/tradisional berlaku bagi beberapa kata serapan, antara lain:[8]