Dunia Sebelum Air Bah adalah sebuah lukisan cat minyak di atas kanvas karya seniman Inggris William Etty, pertama kali dipamerkan pada tahun 1828 dan kini menjadi koleksi Southampton City Art Gallery. Lukisan ini menggambarkan sebuah adegan dari karya John Milton, Paradise Lost, dimana di antara serangkaian penglihatan masa depan yang diperlihatkan kepada Adam, ia melihat dunia sesaat sebelum Air Bah Besar. Karya ini melukiskan tahap-tahap percintaan sebagaimana dijabarkan Milton: sekelompok pria memilih pasangan dari barisan perempuan yang sedang menari, menyeret wanita pilihannya keluar dari kelompok itu, lalu memulai kehidupan berumah tangga. Di belakang para penari dan pasangan itu, awan badai bergulung, menandakan kehancuran yang sebentar lagi akan mereka undang atas diri mereka sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
| Dunia Sebelum Air Bah | |
|---|---|
Dunia Sebelum Air Bah, 1828, 140 x 2.023 cm (55 x 796 in) | |
| Seniman | William Etty |
| Tahun | 1828 (1828) |
| Medium | Cat minyak di atas kanvas |
| Lokasi | Russell-Cotes Art Gallery & Museum |
Dunia Sebelum Air Bah adalah sebuah lukisan cat minyak di atas kanvas karya seniman Inggris William Etty, pertama kali dipamerkan pada tahun 1828 dan kini menjadi koleksi Southampton City Art Gallery. Lukisan ini menggambarkan sebuah adegan dari karya John Milton, Paradise Lost, dimana di antara serangkaian penglihatan masa depan yang diperlihatkan kepada Adam, ia melihat dunia sesaat sebelum Air Bah Besar. Karya ini melukiskan tahap-tahap percintaan sebagaimana dijabarkan Milton: sekelompok pria memilih pasangan dari barisan perempuan yang sedang menari, menyeret wanita pilihannya keluar dari kelompok itu, lalu memulai kehidupan berumah tangga. Di belakang para penari dan pasangan itu, awan badai bergulung, menandakan kehancuran yang sebentar lagi akan mereka undang atas diri mereka sendiri.
Saat pertama kali dipamerkan dalam Royal Academy Summer Exhibition tahun 1828, lukisan ini menarik perhatian khalayak besar dan memicu perdebatan tajam di kalangan kritikus. Banyak yang memujinya setinggi langit, menempatkannya di antara karya seni terbaik di negeri itu. Namun, tidak sedikit pula yang mencercanya sebagai karya yang kasar, tak beradab, menyinggung rasa kesopanan, serta lemah dalam pengerjaannya.
Lukisan ini dibeli oleh Markis Stafford dalam pameran musim panas tersebut. Pada tahun 1908, jauh setelah nama Etty meredup dari dunia seni, karya itu dijual kembali dengan kerugian besar, dan dijual sekali lagi pada tahun 1937—kali ini kepada Southampton City Art Gallery—dengan harga yang juga jauh di bawah nilainya semula, tempat di mana ia kini disimpan.
Karya lain milik Etty, yang dijual pada tahun 1830 dengan judul A Bacchanalian Scene dan kemudian diganti menjadi Landscape with Figures, diidentifikasi pada tahun 1953 sebagai sketsa minyak pendahulu untuk Dunia Sebelum Air Bah dan dibeli oleh York Art Gallery. Kedua lukisan tersebut kembali dipamerkan berdampingan dalam sebuah pameran retrospektif besar karya Etty pada tahun 2011–2012.

William Etty lahir pada tahun 1787, sebagai putra dari seorang tukang roti dan penggiling gandum di York.[1] Pada 8 Oktober 1798, di usianya yang baru menginjak 11 tahun, ia mulai magang sebagai pencetak pada Robert Peck di Hull, penerbit surat kabar lokal Hull Packet.[2] Setelah menuntaskan tujuh tahun masa magangnya, Etty berangkat ke London pada usia 18 tahun,[3] dengan cita-cita menjadi seorang pelukis sejarah dalam tradisi para maestro klasik.[4] Ia sangat dipengaruhi oleh karya-karya Titian dan Rubens, dan mulai mengirimkan lukisan-lukisannya ke Royal Academy of Arts serta British Institution—namun semuanya ditolak atau hanya mendapat perhatian sekilas ketika dipamerkan.[5]
Tahun 1821 menjadi titik balik: Akademi Kerajaan akhirnya menerima dan memamerkan salah satu karyanya, The Arrival of Cleopatra in Cilicia (yang juga dikenal dengan nama The Triumph of Cleopatra).[5] Lukisan itu disambut dengan pujian hangat, dan banyak seniman sejawat Etty mengaguminya dengan penuh hormat. Ia kemudian terpilih menjadi Anggota Penuh Akademi Kerajaan pada tahun 1828,[6] penghargaan tertinggi yang dapat diraih seorang seniman kala itu.[7][A] Ia dikenal luas karena kemampuannya menangkap rona kulit dengan akurat, serta ketertarikannya pada kontras warna kulit yang hidup dan lembut.[8] Dalam dekade setelah Cleopatra dipamerkan, Etty berupaya mengulang keberhasilan itu dengan melukis figur telanjang dalam latar kisah-kisah Alkitab, sastra, dan mitologi.[9]
Meskipun beberapa karya telanjang dari seniman asing tersimpan dalam koleksi pribadi di Inggris, negara itu tidak memiliki tradisi menggambarkan tubuh tanpa busana, dan penyebaran karya semacam itu kepada publik telah ditekan sejak dikeluarkannya Proklamasi untuk Menentang Maksiat pada tahun 1787.[10] Etty menjadi seniman Inggris pertama yang secara khusus menekuni lukisan bertema ketelanjangan, dan tanggapan khalayak awam terhadap karyanya menimbulkan kegelisahan sepanjang abad ke-19.[11][B] Banyak kritikus mengecam penggambaran berulang atas tubuh perempuan telanjang sebagai hal yang tak senonoh, meskipun potret Etty tentang pria dalam keadaan serupa justru sering dipuji.[12][C]
Mereka di dataran itu
Belum lama berjalan, ketika dari tenda-tenda tampaklah
Sekawanan perempuan jelita, berhiaskan permata,
Berpakaian menggoda; diiringi petikan harpa
Mereka bernyanyi lembut, lagu cinta yang mengalun,
Dan dengan tarian, mereka datang mendekat.
Para pria, meski tampak tenang dan bijak,
Matanya tak tertahan, mengembara tanpa kendali,
Hingga terjerat dalam jaring asmara;
Mereka memilih, masing-masing yang berkenan di hati.
Dan kini mereka bicara tentang cinta, hingga bintang senja—
Sang pembawa pesan kasih—tampak di langit;
Mereka pun menyalakan obor pernikahan,
Memanggil nama Hymen, dewa upacara kudus itu;
Gema musik dan pesta memenuhi tenda-tenda.
Pertemuan bahagia, peristiwa indah cinta dan muda,
Tidaklah sia-sia; lagu, karangan bunga, dan melodi menawan
Mengetuk hati Adam, yang segera condong menerima nikmat,
Dorongan alamiah yang ia ungkapkan demikian.
Paradise Lost, Buku XI, baris 580–597
Dunia Sebelum Air Bah menggambarkan baris 580–597 dari Buku XI karya John Milton, Paradise Lost. Dalam penglihatan tentang masa depan yang diperlihatkan oleh Malaikat Agung Mikhael kepada Adam, ia melihat dunia setelah pengusiran dari Taman Eden, tetapi sebelum datangnya Air Bah Besar. Bagian dari Paradise Lost ini mencerminkan ayat dalam pasal keenam Kitab Kejadian: "Bahwa anak-anak Allah melihat anak-anak perempuan manusia itu cantik, lalu mereka mengambil istri dari siapa pun yang mereka pilih," suatu tindakan yang segera membuat Tuhan menyesali penciptaan manusia dan memutuskan untuk menyucikan bumi melalui Air Bah.[14][D]
Lukisan ini menafsirkan tahap-tahap percintaan sebagaimana digambarkan Milton: ketika para pria tergoda oleh pesona para wanita, meninggalkan persekutuan mereka sesama pria untuk beralih menuju kehidupan rumah tangga.[15] Etty menimbang berbagai susunan tokoh dalam karyanya sebelum akhirnya menetapkan komposisi akhir yang kita kenal kini.[16]
Dunia Sebelum Air Bah tampak sangat dipengaruhi oleh karya A Bacchanalian Revel Before a Term of Pan (1632–1633) karya Nicolas Poussin,[17] seorang pelukis yang sangat dikagumi oleh Etty, dan yang karyanya telah beberapa kali ia salin dengan penuh penghormatan.[18][19] Lukisan Poussin tersebut dibeli oleh National Gallery pada tahun 1826.[20] Dalam karya Etty, Adam dan Mikhael tidak tampak — sang pelukis menempatkan penonton sebagai pengganti Adam, menyaksikan dunia dari pandangan matanya sendiri.[14]

Lukisan Etty menghadirkan suasana Bacchanalia yang bergelora,[21] dengan pusat adegan berupa enam perempuan berpakaian tipis menari, sementara sekelompok pria mengawasi mereka. Pipi para penari memerah—baik karena lelah berputar maupun karena hasrat menggoda yang membara di dalam diri mereka.[14] Para pria, sebagaimana digambarkan Milton, "membiarkan mata mereka mengembara tanpa kendali," masing-masing memilih perempuan yang memikat hatinya.[14]
Di sisi kiri kanvas, lima pria memandangi keenam perempuan penari itu.[15] Tiga di antara mereka saling berdiskusi, menimbang pilihan mereka, sementara dua lainnya hanya terpaku, menyaksikan pesona tarian dengan mata yang tak berpaling.[18] Sosok pria terdekat dengan penonton—seorang pria berkulit hitam yang duduk—pernah muncul sebelumnya sebagai prajurit dalam The Triumph of Cleopatra.[22] Di antara mereka, seorang pria telah mengambil keputusan: ia menerjang ke depan, meraih lengan seorang perempuan penari yang bertelanjang dada.[18]
Di bagian tengah, para perempuan menari dalam harmoni yang nyaris musikal. Lengan dan tangan mereka yang saling terjalin membentuk pola melingkar di pusat kanvas, menjadi poros yang menyatukan keseluruhan komposisi.[18] Ke kanan dari kelompok utama, seorang pemuda menarik seorang perempuan menjauh dari lingkaran penari,[18] menuju pasangan kekasih yang telah berbaring bersama di sudut kanan lukisan.[16]
Membentang di seluruh latar belakang, langit yang menggelap dan awan badai yang menggulung menjadi pertanda murka—bayangan kehancuran yang segera akan menimpa para penari, tanpa mereka sadari.[14]
Dalam studi awal untuk Dunia Sebelum Air Bah yang kini disimpan di York Art Gallery, struktur utamanya sudah serupa dengan versi akhir, meski fokusnya lebih terpusat pada kelompok perempuan di tengah.[16] Dalam sketsa minyak dan rancangan awalnya, penari di sisi paling kanan—yang mengenakan rok hijau—menghadap keluar, tangannya di belakang, membentuk lingkaran tertutup bersama penari lain di tengah.[16] Namun dalam versi akhir, ia mengulurkan tangannya ke luar dari lingkaran, menciptakan alur kisah yang lebih jelas dalam susunan figur: dari para pria tunggal di kiri, ke pria yang memilih pasangan, ke kelompok penari, hingga pasangan kekasih yang meninggalkan lingkaran untuk berbaring bersama di sisi kanan lukisan.[16]
Seperti kebanyakan karyanya, Etty tidak memberi judul pada lukisan ini. Awalnya ia dipamerkan dengan nama A Composition, taken from the Eleventh Book of Milton's Paradise Lost,[23] dan oleh Etty sendiri pernah disebut sebagai The Bevy of Fair Women serta The Origin of Marriage.[24] Baru pada tahun 1862, ketika dipamerkan di Pameran Internasional 1862, lukisan ini memperoleh judul yang kini kita kenal.[25]

Tanggapan terhadap Dunia Sebelum Air Bah terbelah tajam ketika lukisan tersebut—bersama dua karya lain Etty—[26][E] dipamerkan dalam Royal Academy Summer Exhibition tahun 1828.[18][28]
Sebagian kritikus menumpahkan celaan dengan tajam. Seorang penulis di Literary Gazette menyebut lukisan itu sebagai "dosa besar terhadap selera yang baik," menggambarkan latarnya sebagai "keras dan kasar tanpa alasan," penuh "cacat dan keprihatinan," sementara sosok para penari dianggap "keterlaluan." Ia menulis bahwa perempuan-perempuan dalam lukisan itu lebih mengingatkannya pada para penyihir berpakaian minim dari puisi Robert Burns Tam o' Shanter, ketimbang pada kisah suci dalam Paradise Lost.[29]
Dalam Monthly Magazine, seorang kritikus anonim mencemooh "gerak berpilin dan berpintal" para tokoh dalam lukisan, menyebutnya "nyaris melampaui batas yang dapat dimaafkan oleh mata publik."[18] Ia juga mengecam penggunaan warna kulit gelap pada sebagian figur, menulis bahwa "wajah coklat si gipsey hanya memberi bayangan suram dari mawar dan bakung yang sejak dahulu menjadi pesona kecantikan Inggris."[30]
Sementara itu, koresponden The London Magazine berpendapat bahwa meski lukisan ini "dalam banyak hal layak dikagumi, memiliki semangat, keberanian, dan daya kejut," namun secara keseluruhan "diekseskusi dengan lemah." Penggambaran perempuan menuai kritik khusus: "Ekspresi wajahnya hampa; rautnya agak kasar; anggota tubuhnya, meski tidak salah bentuk, kekurangan kelenturan otot yang memberi ringan dan kehidupan. Mereka tampak bergerak dengan susah payah, seolah siap jatuh." Ia menilai Etty "telah berjalan setengah jalan menuju keagungan klasik, tetapi berhenti ketika seharusnya ia melangkah lebih jauh dengan semangat yang diperbarui dan ketelitian yang lebih dalam."[31] Rekan sesama senimannya, John Constable, secara pribadi menyebut karya itu sebagai "pesta pora satir dan pantat wanita seperti biasanya."[32]
\nAndai Milton kini hidup, matanya terang, \nDan melihat keindahan yang menjelma di sini, \nNiscaya ia menatapnya dengan bangga yang dalam, \nDan mengakui: Etty pun seorang penyair sejati.\n\nNamun bila Poussin bangkit dari pusaranya, \nDuri iri akan menusuk hatinya nan kering, \nIa akan menatap dengan mata cemburu menyala, \nDan menggeliat, menyesal Etty pernah dilahirkan.\n\nWahai seniman! Engkau menjangkau ranah pahlawan, \nAtau bermain di taman di mana Cinta bersemayam; \nBentukmu luhur, elok, dan menawan, \nDihangati Jenius, dipandu Alam yang dalam.\n</poem>"},"source":{"wt":"''On a Picture in illustration of some passages in Paradise Lost, painted by William Etty, Esq., R.A. Elect'', John Taylor, September 1828<ref name=\"TaylorPoem\">{{cite journal|last=Taylor|first=John|date=September 1828|title=On a Picture in illustration of some passages in Paradise Lost, painted by William Etty, Esq., R.A. Elect|journal=The Gentleman's Magazine|publisher=J. B. Nichols and Son|location=London|volume=98|page=260}}</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwAVo"/>Andai Milton kini hidup, matanya terang,
Dan melihat keindahan yang menjelma di sini,
Niscaya ia menatapnya dengan bangga yang dalam,
Dan mengakui: Etty pun seorang penyair sejati.
Namun bila Poussin bangkit dari pusaranya,
Duri iri akan menusuk hatinya nan kering,
Ia akan menatap dengan mata cemburu menyala,
Dan menggeliat, menyesal Etty pernah dilahirkan.
Wahai seniman! Engkau menjangkau ranah pahlawan,
Atau bermain di taman di mana Cinta bersemayam;
Bentukmu luhur, elok, dan menawan,
Dihangati Jenius, dipandu Alam yang dalam.
On a Picture in illustration of some passages in Paradise Lost, painted by William Etty, Esq., R.A. Elect, John Taylor, September 1828[33]
Namun, tidak semua suara bernada sumbang. The Examiner memuji Etty karena telah "melampaui dirinya sendiri dan kebanyakan sezamannya."[18] Seorang penulis di The Mirror of Literature, Amusement, and Instruction menulis: "Sedikit sekali lukisan yang menarik dan pantas mendapat perhatian sebesar karya agung ini," menggambarkan para figur di dalamnya sebagai "anggun dan menawan."[23]
The Athenaeum menilai bahwa lukisan ini "tanpa ragu merupakan karya paling memesona dalam seluruh pameran," bahkan menunda ulasan mereka karena "kerumunan yang tiada henti berdiri di depannya membuat kami mustahil mendapat pandangan yang cukup baik untuk menilainya dengan adil."[34] Sementara itu, Colburn's New Monthly Magazine menyebutnya sebagai "bukti lain dari kemajuan pesat seniman muda ini menuju kesempurnaan."[35]
Pujian paling indah datang dalam bentuk puisi dari John Taylor, yang pada September 1828 membayangkan bahwa jika Milton dan Nicolas Poussin sama-sama hidup untuk menyaksikan lukisan itu, Milton akan menatapnya dengan "kebanggaan yang agung," sedangkan Poussin akan tersayat "duri iri" saat menyadari bahwa kemampuan Etty telah melampaui dirinya sendiri.[33]
Dunia Sebelum Air Bah dibeli pada pameran tahun 1828 oleh Markis Stafford seharga 500 guinea (sekitar £42.000 dalam nilai uang 2021 masa kini[36]),[37] untuk menambah koleksinya yang berisi lukisan-lukisan telanjang karya Titian.[38][F] Etty begitu gembira dengan keberhasilan ini — semua dari tiga karya yang ia pamerkan kala itu terjual kepada para kolektor terhormat.[7][E]
Aku tahu engkau akan bersukacita bersama kami semua, ketika kukabarkan bahwa muatan utama kapal "William Etty" (yang kedatangannya telah kau dengar), kini telah bersandar di dermaga Royal Academy, dan telah dikirimkan kepada Yang Terhormat Markis Stafford seharga lima ratus guinea. Sisanya telah menjadi milik Lord Normanton dan Tuan Digby Murray... Setelah bongkar muatan, kami akan berlayar lagi, berharap angin keberuntungan tetap berpihak pada pelayaran berikutnya.
— Surat dari William Etty kepada sepupunya, Thomas Bodley, tentang penjualan Dunia Sebelum Air Bah.[7]
Sejak tahun 1832, karena terus-menerus diserang oleh pers atas tuduhan ketidakpantasan dan selera buruk, Etty mulai berusaha menyisipkan dimensi moral ke dalam karyanya — meski ia tetap dikenal sebagai pelukis figur telanjang yang menonjol.[40] Ia wafat pada tahun 1849,[41] tetap bekerja dan berpameran hingga akhir hayatnya,[42] meskipun banyak yang terus memandangnya sebagai seorang "pornografer." Charles Robert Leslie mencatat sesaat setelah kematian Etty: "...[Etty], yang berpikir dan bermaksud tanpa cela, tak menyadari bagaimana karyanya dilihat oleh pikiran-pikiran yang lebih kasar."[43] Minat terhadap karyanya kemudian memudar seiring munculnya aliran-aliran baru yang mewarnai seni rupa Inggris; menjelang akhir abad ke-19, harga semua lukisannya telah jatuh di bawah nilai aslinya.[41]
Dunia Sebelum Air Bah dijual kepada F. E. Sidney pada tahun 1908 seharga 230 guinea (sekitar £24.000 dalam nilai uang 2021 masa kini[36]), kemudian dibeli oleh Southampton City Art Gallery pada tahun 1937 seharga 195 guinea (sekitar £12.000 dalam nilai uang 2021 masa kini[36]),[28] dan hingga 2016[update] masih menjadi bagian koleksi galeri tersebut hingga kini.[44]
Sejak pameran perdananya pada tahun 1828, lukisan ini telah ditampilkan dalam sejumlah pameran penting sepanjang abad ke-19.[45] Sketsa minyak pendahuluan karya Etty sempat dimiliki oleh mentornya, Sir Thomas Lawrence. Setelah Lawrence wafat pada tahun 1830, karya itu dijual dengan judul A Bacchanalian Scene seharga 27 guinea (sekitar £2.400 dalam nilai uang 2021 masa kini[36]), kemudian berpindah tangan dengan judul Landscape with Figures pada tahun 1908. Pada tahun 1953, lukisan itu diidentifikasi sebagai studi awal untuk Dunia Sebelum Air Bah, dan dibeli oleh York Art Gallery,[24] tempat di mana hingga 2016[update] karya tersebut kini disimpan.[46] Kedua versi lukisan itu kembali dipertemukan dalam pameran retrospektif besar karya Etty di York Art Gallery tahun 2011–2012.[47]