Dioscorea japonica, dikenal sebagai ubi rambat gunung Asia Timur, yamaimo, atau ubi rambat gunung Jepang, adalah jenis ubi rambat asli Jepang , Korea, Cina, Taiwan, dan Assam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Dioscorea japonica | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monokotil |
| Ordo: | Dioscoreales |
| Famili: | Dioscoreaceae |
| Genus: | Dioscorea |
| Spesies: | D. japonica |
| Nama binomial | |
| Dioscorea japonica Thunb. 1784 | |
Dioscorea japonica, dikenal sebagai ubi rambat gunung Asia Timur,[1] yamaimo, atau ubi rambat gunung Jepang, adalah jenis ubi rambat asli Jepang (termasuk Kepulauan Ryukyu dan kepulauan Bonin), Korea, Cina, Taiwan, dan Assam.[2][3]
Dioscorea japonica digunakan sebagai makanan. Jinenjo, yang juga disebut ubi rambat liar, adalah varietas ubi rambat Jepang yang terkait dan digunakan sebagai bahan dalam mi soba.

Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai yamaimo (yamaimo (山芋code: ja is deprecated , "ubi rambat gunung").[4]). Jinenjo (Jinenjo (自然薯code: ja is deprecated , "ubi rambat liar")) adalah jenis Dioscorea japonica lainnya, yang berasal dari ladang dan pegunungan di Jepang.
Nama lainnya adalah Rìběn shǔyù (日本薯蕷code: zh is deprecated ; secara harfiah artinua "ubi rambat Jepang").[3]
Dioscorea japonica mengandung senyawa antimutagenik eudesmol dan paeonol.[5]
Beberapa varietas botani formal telah diusulkan. Empat varietas yang diterima:[2][3]
Dalam masakan Jepang, baik ubi rambat Jepang maupun ubi rambat Cina yang diperkenalkan digunakan secara bergantian dalam hidangan dan resep.[6]
Tuberkel ubi rambat atau recup yang disebut mukago juga dimakan. Mereka sering dimasak dan disajikan dengan nasi putih.[7]