Dinofelis adalah genus kucing gigi-pedang yang punah milik tribus Metailurini. Mereka tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara setidaknya 5 juta sampai sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Fosil yang sangat mirip dengan Dinofelis ditemukan di Lothagam, Kenya yang berasal dari akhir kala Miosen atau sekitar 8 juta tahun yang lalu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Dinofelis Rentang waktu: | |
|---|---|
| Restorasi seniman dari D. barlowi | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Carnivora |
| Subordo: | Feliformia |
| Famili: | Felidae |
| Tribus: | †Metailurini |
| Genus: | †Dinofelis Zdansky, 1924 |
| Spesies tipe | |
| Dinofelis cristata (Falconer & Cautley, 1836) | |
| Spesies lainnya | |
| |
| Sinonim | |
|
Dinofelis
D. cristata
D. diastemata
| |
Dinofelis adalah genus kucing gigi-pedang yang punah milik tribus Metailurini. Mereka tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara setidaknya 5 juta sampai sekitar 1,2 juta tahun yang lalu (awal Pliosen hingga awal Pleistosen).[1] Fosil yang sangat mirip dengan Dinofelis ditemukan di Lothagam, Kenya yang berasal dari akhir kala Miosen atau sekitar 8 juta tahun yang lalu.
Ukuran tubuh mereka antara ukuran macan tutul dengan singa,[2] tapi yang paling banyak berukuran sebesar jaguar (tingginya 70 cm dan beratnya 120 kg), kucing ini berukuran sedang tapi kuat yang memiliki dua gigi taring yang menonjol. Tungkai depannya sangat kuat dibandingkan dengan kucing modern (bahkan jaguar).
Dua spesimen diperiksa oleh Serge Legendre dan Claudia Roth untuk mencari massa tubuhnya. Spesimen pertama diperkirakan memiliki berat 314 kg (690 pon). Dan spesimen kedua diperkirakan memiliki berat 878 kg (1.900 pon).[3]
Berdasarkan preferensi Dinofelis' untuk tinggal di hutan, etolog William Allen et al. percaya bahwa Dinofelis memiliki kulit tutul atau bergaris.[4]
Analisis rasio isotop karbon pada spesimen-spesimen dari Swartkrans menunjukkan bahwa Dinofelis memilih memakan hewan yang berkawanan. Pemangsa hominid pertama dalam lingkungan ini pada saat itu kemungkinan besar merupakan macan tutul dan anggota Machairodontinae lain bernama Megantereon, yang rasio isotop karbonnya lebih mengindikasikan showed more bahwa mereka memakan hominid.[2]
Fosil dan tulang belulangnya ditemukan di Afrika Selatan bersama dengan babun yang mungkin dibunuh. Tulang dari beberapa spesimen dari Dinofelis dan babun ditemukan dalam perangkap alami.[5] Dinofelis mungkin telah memasuki tempat itu untuk memakan hewan yang terperangkap atau mungkin hanya berjalan ke lokasi dan tidak dapat keluar lagi. Beberapa situs fosil dari Afrika Selatan tampaknya menunjukkan bahwa Dinofelis mungkin telah diburu dan dibunuh Australopithecus africanus karena mereka menemukan sisa-sisa fosil Dinofelis, hominid, dan hewan besar lainnya pada periode itu. Juga karena sisa-sisa Dinofelis telah ditemukan di dekat fosil Paranthropus, beberapa tengkorak Paranthropus di antaranya memiliki lubang kembar yang aneh mirip jejak taring Dinofelis, memungkinkan kalau Dinofelis telah memangsa Hominid juga. Namun, hal ini mungkin jarang terjadi, karena rasio isotop karbon bertentangan dengan hal ini.[2]
Diperkirakan bahwa kehilangnya secara bertahap hutan di mana Dinofelis diburu mungkin telah berkontribusi untuk kepunahan pada awal zaman es.
Terdapat beberapa indikasi mengenai keberadaan spesies lain yang berkerabat.[6]
Kucing besar nan menyeramkan ini memiliki beberapa spesies yaitu: