Diana Rikasari adalah pengusaha, perancang busana, dan penulis Indonesia. Ia merupakan penulis buku #88Lovelife yang ilustrasinya dikerjakan oleh ilustrator Dinda Puspitasari. Buku tersebut dinobatkan sebagai salah satu buku terlaris di Indonesia dan pernah meraih penghargaan buku nonfiksi terbaik di Malaysia pada 2015 dan 2016. Diana adalah pemilik UMKM dengan tiga lini usaha, yaitu baju dengan jenama Schmiley Mo, sepatu UP, dan tas 'Sun of a Fun'.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

(2015) | |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 23 Desember 1984 Colorado |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Universitas Indonesia - teknik industri Universitas Nottingham - administrasi bisnis |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | perancang busana, pengusaha, penulis |
| Situs web | dianarikasari.com |
Diana Rikasari (lahir 23 Desember 1984) adalah pengusaha, perancang busana, dan penulis Indonesia.[1] Ia merupakan penulis buku #88Lovelife yang ilustrasinya dikerjakan oleh ilustrator Dinda Puspitasari.[2] Buku tersebut dinobatkan sebagai salah satu buku terlaris di Indonesia dan pernah meraih penghargaan buku nonfiksi terbaik di Malaysia pada 2015 dan 2016.[2] Diana adalah pemilik UMKM dengan tiga lini usaha, yaitu baju dengan jenama Schmiley Mo, sepatu UP, dan tas 'Sun of a Fun'.[1]
Sebelumnya, Diana dikenal sebagai sebagai blogger fesyen. Ia saat ini lebih dikenal sebagai desainer yang menggeluti dunia perancangan baju daur ulang (upcycling fashion). Upcycling fashion mengacu pada proses mendaur ulang pakaian bekas menjadi produk mode baru yang lebih bernilai, memiliki fungsi berbeda, atau estetika yang lebih menarik.[3] Diana juga telah beberapa kali tampil di pekan mode di sejumlah negara, antara lain Kuala Lumpur Fashion Week 2016, Jakarta Fashion Week 2016, dan London Fashion Week 2017.[2] Tiga sepatu hasil rancangannya digunakan sebagai properti dalam film Stargirl (2020).[4]
Diana lahir di Colorado, Amerika Serikat, pada 23 Desember 1984.[1] Ia merupakan sarjana lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia dan S-2 bidang manajemen bisnis internasional di Universitas Nottingham. Ia juga pernah lama tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia.[2] Minatnya pada bidang fesyen berawal saat ia masih kecil. Dulu, ia kerap menemani ibunya berbelanja bahan baju, lalu menyaksikan bagaimana sang ibunda mengubah kain-kain tersebut menjadi beraneka busana.[5]
Ia dikenal dengan gaya berpakaiannya yang nyentrik, berwarna-warni, dan energik.[6] Sebelum serius menekuni bidang rancang busana dan aksesoris, Diana sempat bekerja sebagai research executive dan assistant brand manager di Unilever Indonesia.[7] Sambil menjadi pegawai kantoran, ia mulai aktif berbagi konten fesyen di blog sejak 2007. Blognya Hot Chocolate and Mint sempat dinobatkan sebagai blog yang paling banyak dikunjungi di IndonesiaMatters.com pada 2011 dan 2012.[7] Saat ia bekerja sebagai peneliti pasar untuk sebuah agen kreatif pada 2010, ia mulai tertarik untuk berbisnis sepatu.[8]
Di negara tempatnya menetap sekarang, Swiss, banyak orang yang telah sadar mengenai pentingnya fesyen yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini mendorong Diana untuk serius mengembangkan usaha busana hasil daur ulang.[9] Keunikan karya-karyanya berhasil menarik kolaborasi sejumlah jenama mode besar dari Amerika, Eropa, dan Australia, antara lain Urban Outfitters, Lazy Oaf, dan Gorman Clothing. Ia juga diundang untuk berbicara di TEDxLausanneWomen dan profilnya pernah diangkat oleh majalah Marie Claire Swiss.[5]
Diana saat ini tinggal di Lausanne, Swiss[8] mengikuti suaminya yang bekerja sebagai peneliti pasar untuk sebuah perusahaan multinasional. Ia telah memiliki dua anak, Shahmeer dan Daria.[1]