Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Deklarasi Perang Aceh (1873)

Deklarasi Perang Aceh 1873 adalah maklumat perang yang diumumkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Maklumat ini dikeluarkan oleh Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen, Komisaris Pemerintah Hindia Belanda untuk Aceh, dari kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di perairan Aceh Besar.

Wikipedia article
Diperbarui 17 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Deklarasi Perang Aceh (1873)
Pengeboman oleh kapal Belanda terhadap sisi utara Aceh, oleh Wilm Steffens, 1873
Untuk Perang Aceh melawan Belanda, lihat Konflik Aceh–Belanda.

Deklarasi Perang Aceh 1873 (bahasa Belanda: Oorlogsmanifest tegen Atjeh) adalah maklumat perang yang diumumkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Maklumat ini dikeluarkan oleh Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen, Komisaris Pemerintah Hindia Belanda untuk Aceh, dari kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di perairan Aceh Besar.

Deklarasi ini menandai dimulainya Perang Aceh, konflik panjang antara pemerintah kolonial Belanda dan Kesultanan Aceh yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah II.

Latar belakang

Pada pertengahan abad ke-19, Kesultanan Aceh masih merupakan kerajaan merdeka yang memiliki hubungan perdagangan dan diplomatik dengan berbagai negara. Posisi Aceh di pintu masuk Selat Malaka menjadikannya wilayah strategis bagi perdagangan internasional.

Situasi politik di kawasan berubah setelah penandatanganan Traktat Sumatra 1871 antara Belanda dan Inggris, yang memberi Belanda keleluasaan memperluas pengaruhnya di Sumatra. Sejak saat itu pemerintah kolonial mulai meningkatkan tekanan terhadap Aceh.

Ketegangan memuncak pada awal 1873 ketika Belanda menuduh Aceh tidak mampu menjaga stabilitas politik di wilayah yang berada di bawah pengaruhnya serta dianggap melakukan tindakan yang merugikan kepentingan perdagangan Belanda.

Surat Kedutaan Belanda kepada Amerika Serikat

Surat No. 318.[1]

Teks Inggris

No. 318.

Mr. Westenberg to Mr. Fish.

[Translation.]

Legation of the Netherlands,

Washington, May 31, 1873. (Received June 3.)

Mr. Secretary of State: The relations between the government of the Netherlands and the empire of Atcheen, situated in the northern part of the island of Sumatra, in the Indian Archipelago, have for a longtime been growing more and more complicated.

The conventions which had been concluded were not observed by the government of Atcheen, which, in spite of all representations, gave constant evidence of bad faith.

The necessity of maintaining order and security in those regions, of caring for its own safety, of repressing the slave-trade, of protecting commerce and navigation against the depredations and acts of piracy which the Atchinese were incessantly committing, and of putting an end to a state of anarchy and disorder which, fomented by fanatical parties, threatened to become still more widely extended, and to jeopardize the internal peace of the possessions of the Netherlands and of the [Page 731]states in alliance with the same—all this, several times induced the government of the Netherlands to remonstrate with that of Atcheen, which not only paid no attention to this, but even continued to make or tolerate frequent incursions into those states which were in alliance with or tributary to the Netherlands.

As these acts of violence and piracy became constantly more frequent, the government of the Netherlands, after having exhausted all means of persuasion, found itself obliged, in the interest of its own security, as well as in the great interests of commerce and civilization, to have recourse to force. Before proceeding thereto, however, the government of the Netherlands once more asked explanations of the Sultan of Atcheen, and requested him to enter into a formal agreement to take care that acts calculated to disturb the peace and to endanger navigation and commerce, should no longer be committed. The government of Atcheen having refused to give any explanations, or to enter into any agreement, the government of the Netherlands was forced to a rupture of relations.

A Dutch squadron was sent to Atcheen, and the Dutch commissioner, Mr. Nieuwenhuygen, sent the manifesto of which I have the honor to inclose a translation, to the Sultan of Atcheen. Although I have already had the honor to inform your excellency of this verbally, I take the liberty to repeat it in writing now that I am able to transmit to you the text of the Dutch manifesto, above referred to, which I have just received, in the belief that it may seem interesting to the American Government.

The government of the Netherlands, highly appreciating the neutrality which has been so faithfully observed by the Government of the United States in this matter, on which, however, it relied in view of the friendly relations existing between it and the United States, has instructed me to offer its thanks therefor to your excellency, and to add the assurance which has already been given, that all American interests shall, in case of necessity, be the object of its particular solicitude, and receive its most efficient protection.

Be pleased, &c., &c.,

WESTENBERG.

Terjemahan Bahasa Indonesia

No. 318

Tuan Westenberg kepada Tuan Fish

(Terjemahan)

Kedutaan Besar Belanda,

Washington, 31 Mei 1873. (Diterima 3 Juni.)

Tuan Menteri Luar Negeri:

Hubungan antara Pemerintah Belanda dan Kekaisaran Aceh, yang terletak di bagian utara Pulau Sumatra di Kepulauan Hindia, telah sejak lama menjadi semakin rumit.

Perjanjian-perjanjian yang telah disepakati tidak dipatuhi oleh pemerintah Aceh, yang, meskipun telah diberikan berbagai peringatan dan pernyataan keberatan, terus-menerus memperlihatkan itikad buruk.

Kebutuhan untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan di wilayah tersebut, untuk menjaga keselamatannya sendiri, untuk menekan perdagangan budak, untuk melindungi perdagangan dan pelayaran dari penjarahan dan tindakan pembajakan yang tanpa henti dilakukan oleh orang-orang Aceh, serta untuk mengakhiri keadaan anarki dan kekacauan yang dipicu oleh kelompok-kelompok fanatik—yang mengancam untuk meluas lebih jauh lagi dan membahayakan perdamaian internal wilayah milik Belanda dan negara-negara yang bersekutu dengannya—semua itu telah beberapa kali mendorong Pemerintah Belanda untuk menyampaikan protes kepada pemerintah Aceh. Namun pemerintah Aceh tidak hanya mengabaikan hal tersebut, bahkan terus melakukan atau membiarkan terjadinya penyerangan berulang kali ke wilayah negara-negara yang bersekutu dengan atau berada di bawah perlindungan Belanda.

Karena tindakan kekerasan dan pembajakan tersebut semakin sering terjadi, Pemerintah Belanda, setelah menghabiskan semua cara persuasi, akhirnya merasa terpaksa, demi kepentingan keamanannya sendiri serta demi kepentingan besar perdagangan dan peradaban, untuk menggunakan kekuatan. Namun sebelum melakukannya, Pemerintah Belanda sekali lagi meminta penjelasan dari Sultan Aceh, dan memintanya untuk membuat suatu perjanjian resmi guna memastikan bahwa tindakan-tindakan yang dapat mengganggu perdamaian serta membahayakan pelayaran dan perdagangan tidak akan lagi dilakukan. Karena pemerintah Aceh menolak memberikan penjelasan apa pun atau membuat perjanjian semacam itu, Pemerintah Belanda akhirnya terpaksa memutuskan hubungan.

Sebuah skuadron Belanda kemudian dikirim ke Aceh, dan komisaris Belanda, Tuan Nieuwenhuygen, mengirimkan manifesto yang terjemahannya dengan hormat saya lampirkan kepada Sultan Aceh. Meskipun saya telah berkesempatan menyampaikan hal ini secara lisan kepada Yang Mulia sebelumnya, saya mengambil kebebasan untuk mengulanginya secara tertulis sekarang, setelah saya dapat menyampaikan kepada Anda teks manifesto Belanda yang disebutkan di atas yang baru saja saya terima, karena saya percaya bahwa hal tersebut mungkin akan menarik perhatian Pemerintah Amerika Serikat.

Pemerintah Belanda, yang sangat menghargai sikap netralitas yang dengan setia telah dipertahankan oleh Pemerintah Amerika Serikat dalam perkara ini—yang memang telah diharapkannya mengingat hubungan persahabatan yang ada antara Belanda dan Amerika Serikat—telah memerintahkan saya untuk menyampaikan terima kasihnya kepada Yang Mulia, serta menambahkan jaminan yang telah diberikan sebelumnya bahwa semua kepentingan Amerika akan, apabila diperlukan, menjadi objek perhatian khusus pemerintah Belanda dan akan menerima perlindungan yang paling efektif.

Hormat saya, &c., &c.,

WESTENBERG.

Surat Perintah Harian

Berikut bunyi Perintah Harian 19 Maret 1873.[2]

Teks asli (Belanda)

DAGORDER.

Aan de vereenigde Land-en Zeemacht, bestemd om deel te nemen aan de expeditie tegen Atjeh.

Toen ik in de afgeloopen maand, op den heugelijken geboortedag van Zijne Majesteit onzen beminden en geëerbiedigden Koning de getuigenis aflegde, dat leger en vloot immer gereed waren, hunne verplichtingen jegens Koning en Vaderland, op de meest schitterende wijze te vervullen, dacht ik niet, dat ik reeds zóó spoedig het “…te wapen” zou moeten doen hooren.

Gij thans geroepen om genoegdoening te eischen voor trouweloosheid en verraad.

Gij zult te Atjeh uw plicht doen, gelijk gij dien steeds, blijkens iedere pagina uwer glorierijke geschiedenis hebt volbracht en die geschiedenis zal met een nieuwe schitterende bladzijde worden verrijkt.

„Moed, beleid en trouw” zij ook nu weer uwe leus.

Ik reken op U, met blind vertrouwen, met rechtmatigen trots.

Leve de Koning !

De Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië –

Opperbevelhebber van ’s Konings Land- en Zeemacht beoosten de Kaap de Goede Hoop.

(w.g.) LOUDON.

Batavia, 19 Maart 1873

Voor eensluidend afschrift,

De Gouvernements-Secretaris.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Perintah Harian

Kepada pasukan darat dan laut yang digabungkan, yang ditugaskan untuk mengambil bagian dalam ekspedisi melawan Aceh.

Ketika pada bulan yang lalu, pada hari kelahiran yang menggembirakan dari Yang Mulia Raja kita yang tercinta dan dihormati, saya menyatakan bahwa angkatan darat dan angkatan laut senantiasa siap untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap Raja dan Tanah Air dengan cara yang paling gemilang, saya tidak menyangka bahwa begitu segera saya harus menyerukan perintah “angkat senjata.”

Kini kalian dipanggil untuk menuntut balasan atas pengkhianatan dan perbuatan tidak setia.

Kalian akan melaksanakan tugas kalian di Aceh, sebagaimana kalian senantiasa melaksanakannya, sebagaimana dibuktikan oleh setiap halaman dari sejarah kalian yang gemilang; dan sejarah itu akan diperkaya dengan satu halaman baru yang cemerlang.

“Keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan” hendaklah sekali lagi menjadi semboyan kalian.

Saya menaruh harapan kepada kalian dengan kepercayaan penuh, dan dengan kebanggaan yang sah.

Hidup Sang Raja!

Gubernur Jenderal Hindia Belanda –

Panglima Tertinggi Angkatan Darat dan Laut Raja di sebelah timur Tanjung Harapan.

(t.t.d.) LOUDON

Batavia, 19 Maret 1873

Salinan yang sesuai dengan aslinya,

Sekretaris Pemerintah.

Maklumat Perang Aceh

Het schroefstoomschip 2e klasse Zr.Ms. Citadel van Antwerpen

Pada 26 Maret 1873, pemerintah kolonial mengeluarkan maklumat perang resmi terhadap Sultan Aceh.

Teks asli (Belanda)

Oorlogsmanifest

De Commissaris van het Gouvernement van Nederlandsch-Indie voor Atjeh;

Overwegende:

dat op het Gouvernement van Nederlandsch Indie de verpligting rust, om de algemeene belangen van handel en scheepvaart in den Oost-Indischen Archipel tegen belemmeringen te beveiligen;

dat die belangen door de onderlinge geschillen en vijandelijkheden der aan het Rijk van Atjeh onderhoorige staatjes, waarvan enkelen bij herhaling de bescherming van het Nederlandsch-Indisch Gouvernement hebben ingeroepen, bij voortduring zijn geschaad;

dat de herhaalde vertoogen van de zijde van dat Gouvernement, om aan zoodanigen toestand een einde te maken en eene goed bevestigde verstandhouding van Atjeh tot hetzelve in het leven te roepen, steeds zijn afgestuit op den onwil en de volslagen onverschilligheid van de bestuurders van gemeld Rijk, en op hunne magteloosheid om in de onderhoorigheden van Atjeh de rust en orde naar eisch te handhaven;

dat die pogingen onlangs zelfs zijn beantwoord met verregaande trouweloosheid, op een tijdstip dat het Nederlandsch-Indisch Gouvernement met de meest welwillende bedoelingen zich in nadere verbinding met Atjeh heeft gesteld;

dat de Sultan van Atjeh, deswege nadrukkelijk om opheldering gevraagd, eerst bij het schrijven van den Commissaris van den 22sten dezer, en daarna bij dat van den 24sten daaraanvolgende, niet alleen geheel in gebreke is gebleven die te verschaffen, maar zelfs de tegen hem ingebragte grieven niet heeft weêrsproken, en daarenboven er toe is overgegaan zich zoo in het oog loopend mogelijk ten strijde toe te rusten, dat daaraan geen andere beteekenis kan worden toegekend dan dat Atjeh het Gouvernement van Nederlandsch Indie moedwillig heeft gehoond en zich op het daardoor ingenomen vijandig standpunt wenscht te handhaven;

dat de bestuurders van dat Rijk zich daardoor hebben schuldig gemaakt aan schennis van het tusschen hetzelve en het Nederlandsch-Indisch Gouvernement op den 30sten Maart 1857 gesloten tractaat van handel, vrede en vriendschap, en het mitsdien overtuigend is gebleken dat geen staat kan worden gemaakt op de goede trouw van die bestuurders;

dat het der Regering van Nederlandsch Indie onder deze omstandigheden niet langer mogelijk is, zonder krachtdadige middelen, een zoowel door het algemeen handelsbelang als de eischen van hare eigene veiligheid in noordelijk Sumatra gevorderden staat van zaken te waarborgen;

Verklaart uit kracht van de magt en bevoegdheid, aan hem door de Regering van Nederlandsch Indie verleend, in naam van die Regering, den oorlog aan den Sultan van Atjeh, waarvan hij overigens bij dit manifest mededeeling doet aan elk wien zulks mogt aangaan, en een iegelijk aandachtig maakt aan alle mogelijke daaruit voortvloeijende gevolgen en aan de verpligtingen, welke in oorlogstijd op iederen burger van den Staat rusten.

Gedaan aan boord van Zijner Majesteits stoomschip Citadel van Antwerpen,

liggende voor Groot-Atjeh,

op heden, Woensdag den 26sten Maart 1873.

Terjemahan bahasa Indonesia

Manifesto Perang

Komisaris Pemerintah Hindia Belanda untuk Aceh;

Menimbang:

bahwa Pemerintah Hindia Belanda memikul kewajiban untuk melindungi kepentingan umum perdagangan dan pelayaran di Kepulauan Hindia Timur dari berbagai hambatan;

bahwa kepentingan tersebut terus-menerus dirugikan oleh perselisihan dan permusuhan di antara negeri-negeri bawahan Kerajaan Aceh, yang beberapa di antaranya berulang kali meminta perlindungan kepada Pemerintah Hindia Belanda;

bahwa berbagai pernyataan dan tuntutan yang berulang kali diajukan oleh pihak pemerintah tersebut untuk mengakhiri keadaan demikian serta untuk mewujudkan hubungan yang mantap antara Aceh dan pemerintah itu, senantiasa terbentur pada ketidakmauan dan sikap acuh tak acuh sepenuhnya dari para penguasa kerajaan yang dimaksud, serta pada ketidakmampuan mereka untuk memelihara ketertiban dan keamanan sebagaimana mestinya di daerah-daerah bawahan Aceh;

bahwa upaya-upaya tersebut bahkan baru-baru ini telah dibalas dengan pengkhianatan yang sangat besar, pada saat Pemerintah Hindia Belanda dengan maksud yang paling baik telah berusaha menjalin hubungan yang lebih erat dengan Aceh;

bahwa Sultan Aceh, ketika secara tegas diminta memberikan penjelasan mengenai hal tersebut, baik melalui surat Komisaris tertanggal 22 bulan ini, maupun melalui surat berikutnya tertanggal 24 bulan yang sama, tidak saja sama sekali gagal memberikan penjelasan tersebut, tetapi bahkan tidak pula membantah tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadapnya, dan selain itu telah bertindak mempersiapkan diri untuk perang dengan cara yang sangat mencolok, sehingga tidak dapat diberi makna lain selain bahwa Aceh dengan sengaja telah menghina Pemerintah Hindia Belanda dan bermaksud tetap mempertahankan sikap permusuhan yang telah diambilnya;

bahwa para penguasa kerajaan tersebut dengan demikian telah melakukan pelanggaran terhadap perjanjian perdagangan, perdamaian, dan persahabatan yang ditandatangani antara kerajaan itu dan Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 30 Maret 1857, sehingga dengan demikian terbukti secara meyakinkan bahwa tidak dapat lagi dipercayai itikad baik para penguasa tersebut;

bahwa dalam keadaan demikian Pemerintah Hindia Belanda tidak lagi mungkin menjamin keadaan yang diperlukan, baik demi kepentingan umum perdagangan maupun demi tuntutan keamanan pemerintah itu sendiri di wilayah Sumatra bagian utara, tanpa menggunakan tindakan yang tegas;

Menyatakan, berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, atas nama pemerintah tersebut, perang terhadap Sultan Aceh, yang melalui manifesto ini diberitahukan pula kepada siapa pun yang berkepentingan, serta diperingatkan kepada setiap orang mengenai segala akibat yang mungkin timbul darinya dan mengenai kewajiban-kewajiban yang dalam masa perang menjadi tanggung jawab setiap warga negara.

Ditetapkan di atas kapal uap

Yang Mulia

Citadel van Antwerpen,

yang berlabuh di perairan Aceh Besar,

pada hari Rabu, 26 Maret 1873.

Ultimatum kepada Sultan Aceh

Setelah maklumat perang diumumkan, pemerintah kolonial masih memberikan kesempatan terakhir kepada Sultan Aceh untuk menghindari perang dengan menerima kedaulatan Belanda.

Teks asli (Belanda)

Aan den Sultan van Atjeh.

Voorts deel ik Uwe Hoogheid mede, dat ik haar op heden morgen ontvangen schrijven van den 26sten dezer overwogen heb.

Evenmin als Uwe Hoogheid verlang ik den oorlog; doch de wijze waarop Atjeh het Gouvernement van Nederlandsch-Indië tot dusver en vooral nu laatstelijk weêr bejegende, heeft den oorlog onvermijdelijk gemaakt, ten ware Uwe Hoogheid van hare opregte gezindheid doe blijken, om tot het Gouvernement van Nederlandsch-Indië in eene verhouding te komen, welke een afdoenden waarborg tegen verdere verwikkelingen oplevert.

Het eenige middel daartoe is, dat Uwe Hoogheid de opperheerschappij van Zijne Majesteit den Koning der Nederlanden over Atjeh erkenne.

Hiertoe geef ik haar tot Zaturdagmiddag, den 29sten dezer maand Maart, den tijd.

Is de erkenning der souvereiniteit van Zijne Majesteit den Koning der Nederlanden over Atjeh alsdan niet door Uwe Hoogheid gedaan, dan zal onherroepelijk tot het openen der vijandelijkheden worden overgegaan, waartoe ik, behalve de hier reeds aanwezige oorlogschepen, binnen enkele dagen over eene hoogst aanzienlijke strijdmacht, welke van Batavia in aantogt is, zal kunnen beschikken.

Ik moet Uwe Hoogheid evenwel doen opmerken, dat ik de vijandelijkheden, waarmede ik juist op het oogenblik dat haar voormeld schrijven mij gewerd een aanvang wilde maken, alleen dan zal staken, wanneer Uwe Hoogheid zorg draagt dat het strand door het zich thans daarop bevindend gewapende volk worde ontruimd, elke arbeid aan de daar aanwezige bentings ophoude en geen andere bentings worden opgerigt.

Morgen ochtend, bij het aanbreken van den dag, behoort aan deze voorwaarde ten duidelijkste te zijn voldaan.

Geschreven aan boord van Zr. Ms. oorlogschip Citadel van Antwerpen,

op Donderdag den 27sten Maart 1873.

Terjemahan bahasa Indonesia

Kepada Sultan Aceh.

Selanjutnya saya memberitahukan kepada Yang Mulia bahwa saya telah mempertimbangkan surat Yang Mulia yang saya terima pagi hari ini, tertanggal 26 bulan ini.

Sebagaimana halnya Yang Mulia, saya pun tidak menghendaki perang; namun cara Aceh memperlakukan Pemerintah Hindia Belanda hingga saat ini, dan khususnya dalam waktu terakhir ini, telah membuat perang menjadi tidak terelakkan, kecuali apabila Yang Mulia menunjukkan itikad yang sungguh-sungguh untuk menjalin suatu hubungan dengan Pemerintah Hindia Belanda yang dapat memberikan jaminan yang memadai terhadap timbulnya perselisihan lebih lanjut.

Satu-satunya cara untuk mencapai hal tersebut adalah bahwa Yang Mulia mengakui kedaulatan tertinggi Yang Mulia Raja Belanda atas Aceh.

Untuk itu saya memberikan waktu kepada Yang Mulia hingga Sabtu siang, tanggal 29 bulan Maret ini.

Apabila pengakuan atas kedaulatan Yang Mulia Raja Belanda atas Aceh tersebut tidak dinyatakan oleh Yang Mulia pada waktu itu, maka pembukaan permusuhan akan dilaksanakan tanpa dapat ditarik kembali. Untuk keperluan itu, selain kapal-kapal perang yang telah berada di sini, dalam beberapa hari lagi saya juga akan dapat mengerahkan suatu kekuatan militer yang sangat besar yang sedang dalam perjalanan dari Batavia.

Namun demikian saya harus menyampaikan kepada Yang Mulia bahwa permusuhan, yang sebenarnya hendak saya mulai tepat pada saat surat Yang Mulia tersebut sampai kepada saya, hanya akan saya tangguhkan apabila Yang Mulia memastikan bahwa pantai dikosongkan dari orang-orang bersenjata yang saat ini berada di sana, bahwa segala pekerjaan pada benteng-benteng yang ada dihentikan, dan bahwa tidak didirikan benteng-benteng baru.

Besok pagi, pada saat fajar menyingsing, syarat ini harus telah dipenuhi dengan jelas.

Ditulis di atas kapal perang

Yang Mulia

Citadel van Antwerpen,

pada hari Kamis, 27 Maret 1873.

Dampak

Di kiri bawah terdapat potret Mayor Jenderal H.M. Köhler, dan di kanan bawah potret Letnan Jenderal J. van Swieten, disertai nama-nama kapal perang Belanda yang terlibat dalam operasi militer. Gambar oleh Van Egmond & Heuvelink, Arnhem.

Ultimatum tersebut tidak diterima oleh Kesultanan Aceh. Akibatnya Belanda segera memulai operasi militer terhadap Aceh.

Pada April 1873 Belanda melancarkan Ekspedisi Aceh Pertama yang dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Köhler. Pasukan Belanda mendarat di wilayah Aceh Besar dan mencoba merebut pusat pemerintahan kesultanan.

Ekspedisi tersebut gagal setelah pasukan Belanda mengalami perlawanan sengit dari pasukan Aceh. Köhler tewas dalam pertempuran di depan Masjid Raya Aceh.

Referensi

  1. ↑ "Historical Documents - Office of the Historian". history.state.gov. Diakses tanggal 2026-03-07.
  2. ↑ Madjid, M. D. (2014). Catatan pinggir sejarah Aceh: Perdagangan, diplomasi, dan perjuangan rakyat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 189-191.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Surat Kedutaan Belanda kepada Amerika Serikat
  3. Teks Inggris
  4. Terjemahan Bahasa Indonesia
  5. Surat Perintah Harian
  6. Teks asli (Belanda)
  7. Terjemahan Bahasa Indonesia
  8. Maklumat Perang Aceh
  9. Teks asli (Belanda)
  10. Terjemahan bahasa Indonesia
  11. Ultimatum kepada Sultan Aceh
  12. Teks asli (Belanda)
  13. Terjemahan bahasa Indonesia
  14. Dampak
  15. Referensi

Artikel Terkait

Perang Aceh

artikel daftar Wikimedia

Konflik Aceh–Belanda

konflik ini terjadi pada tahun 1873 hingga 1914, yang dikenal sebagai Perang Aceh. Perang ini menjadi salah satu perang kolonial terberat dalam sejarah

Kesultanan Aceh

kesultanan di Asia Tenggara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026