Dario Amodei adalah peneliti kecerdasan buatan dan pengusaha berkewarganegaraan Amerika Serikat. Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus menjabat sebagai CEO Anthropic, perusahaan yang mengembangkan seri model bahasa besar terdepan Claude. Sebelum mendirikan Anthropic, Amodei pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Bidang Riset di OpenAI.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Dario Amodei (lahir 1983) adalah peneliti kecerdasan buatan dan pengusaha berkewarganegaraan Amerika Serikat. Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus menjabat sebagai CEO Anthropic, perusahaan yang mengembangkan seri model bahasa besar terdepan Claude.[1] Sebelum mendirikan Anthropic, Amodei pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Bidang Riset di OpenAI.[2][3]
Dalam kapasitasnya sebagai CEO Anthropic, ia sering menulis tentang potensi manfaat dan risiko sistem kecerdasan buatan (Artifficial Intellingence). Ia juga mendukung strategi entente, sebuah pendekatan yang mendorong kerja sama antara negara-negara demokratis dalam penggunaan sistem AI canggih untuk tujuan militer guna memperoleh keunggulan strategis, sambil berbagi manfaat teknologi ini dengan negara-negara sekutu.[4][5][6]
Amodei lahir di San Francisco, California tahun 1983. Ia dibesarkan kota tersebut bersama adiknya bernama Daniella yang empat tahun lebih muda dari Amodei. Ayahnya bernama Riccardo Amodei merupakan pengrajin berkewarganegaraan Italia-Amerika, sedangkan ibunya bernama Elena Engel merupakan seorang warga Amerika Serikat keturunan Yahudi yang lahir di Chicago dan bekerja sebagai manajer proyek perpustakaan.[7]
Amodei pernah menempuh sekolah menengah di Lowell High School[8] San Francisco. Ia terpilih sebagai anggota Tim Olimpiade Fisika Amerika Serikat pada tahun 2000.[9] Ia memulai studi sarjana-nya di California Institute of Technology (Caltech), di mana ia bekerja sama dengan Tom Tombrello sebagai salah satu mahasiswa Fisika 11 Tombrello. Kemudian, ia pindah ke Stanford University dan memperoleh gelar sarjana di bidang fisika. Amodei melanjutkan studi untuk meraih gelar doktor (PhD) di Princeton University[10] dalam bidang Biofisika dengan penelitiannya yang berfokus pada Elektrofisiologi Sirkuit Saraf.[11] Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, ia menjalani penelitian pascadoktoral di Fakultas Kedokteran Stanford University.[12]
Amodei bekerja di Baidu[13] dari November 2014 hingga Oktober 2015, sebelum melanjutkan karirnya di Google.[14] Pada tahun 2016, ia bergabung dengan OpenAI.[15] Pada tahun 2021, Amodei bersama saudarinya, Daniela Amodei mendirikan Anthropic bersama sejumlah mantan anggota senior OpenAI lainnya,[16][17]setelah meninggalkan OpenAI karena perbedaan pandangan terkait arah organisasi.[18]
Pada November 2023, dewan direksi OpenAI menghubungi Amodei untuk membahas kemungkinan penggantian Sam Altman sebagai CEO serta potensi penggabungan kedua perusahaan, namun kedua tawaran tersebut ditolaknya.[19] Pada tahun 2025, majalah Time memasukkan Amodei dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia[20] dan menobatkannya sebagai salah satu “AI Architects” dalam penghargaan Person of the Year.
Amodei menyampaikan kesaksian di hadapan Komite Kehakiman Senat Amerika Serikat atau United States Senate Judiciary Panel pada Juli 2023 mengenai potensi risiko kecerdasan buatan (AI), khususnya terkait implikasinya terhadap pengembangan dan pengendalian persenjataan.[21] Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan perlunya penerapan AI secara hati-hati, terutama dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas internasional dan keamanan nasional.[22]
Pada Oktober 2024, Amodei menerbitkan esai berjudul “Machines of Loving Grace” [4]yang membahas potensi kecerdasan buatan dalam meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam tulisannya, ia menilai bahwa baik potensi manfaat maupun risiko AI kerap diremehkan. Ia juga mengemukakan gagasan strategi “entente”, yakni kerja sama antarnegara demokratis dalam memanfaatkan AI untuk memperoleh keunggulan strategis dan militer, sambil memberikan manfaat teknologi tersebut kepada mitra kerja sama. Pandangan ini kemudian diperluas dalam wawancaranya dengan Financial Times, di mana ia menegaskan pentingnya pendekatan yang seimbang dan bertanggung jawab dalam penggunaan AI di bidang pertahanan dan intelijen. Pada Juli 2025, Departemen Pertahanan Amerika Serikat memberikan kontrak pertahanan senilai 200 juta dolar AS kepada Anthropic bersama sejumlah perusahaan teknologi lainnya.[23]
Perusahaan tersebut sedang menyelidiki pendanaan dari Uni Emirat Arab dan Qatar, menurut memo internal Anthropic yang disusun oleh Amodei dan kemudian bocor ke publik pada Juli 2025. Dalam memo tersebut, Amodei menyoroti tantangan etis yang dihadapi perusahaan teknologi global, termasuk potensi bahwa kemitraan semacam itu dapat menguntungkan pemerintahan yang bersifat otoriter.[24] Secara lebih luas, Amodei dikenal karena secara terbuka mengemukakan pendapatnya tentang bahaya kecerdasan buatan dan potensi dampak negatif yang signifikan jika teknologi tersebut tidak ditangani dengan bertanggung jawab, termasuk potensi penggeseran tenaga kerja manusia oleh sistem kecerdasan buatan.[25][26][27]