Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiDampak budaya terhadap keselamatan penerbangan
Artikel Wikipedia

Dampak budaya terhadap keselamatan penerbangan

Budaya dapat memengaruhi keselamatan penerbangan melalui pengaruhnya terhadap bagaimana awak penerbangan menangani situasi sulit; budaya dengan jarak kekuasaan yang lebih rendah dan tingkat individualisme yang lebih tinggi dapat menghasilkan hasil keselamatan penerbangan yang lebih baik. Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, bawahan cenderung tidak mempertanyakan atasan mereka. Kecelakaan Korean Air Penerbangan 801 pada tahun 1997 dikaitkan dengan keputusan pilot untuk mendarat meskipun ada ketidaksetujuan dari perwira junior, sementara kecelakaan Avianca Penerbangan 052 disebabkan oleh kegagalan mengomunikasikan data kritis mengenai rendahnya bahan bakar antara pilot dan pengendali, serta kegagalan pengendali untuk menanyakan kepada pilot apakah mereka menyatakan keadaan darurat dan membantu pilot dalam mendaratkan pesawat. Kecelakaan tersebut telah disalahkan pada aspek budaya nasional dari awak pesawat.

Wikipedia article
Diperbarui 22 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dampak budaya terhadap keselamatan penerbangan
Kokpit Boeing 787

Budaya dapat memengaruhi keselamatan penerbangan melalui pengaruhnya terhadap bagaimana awak penerbangan menangani situasi sulit; budaya dengan jarak kekuasaan (power distance) yang lebih rendah dan tingkat individualisme yang lebih tinggi dapat menghasilkan hasil keselamatan penerbangan yang lebih baik. Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, bawahan cenderung tidak mempertanyakan atasan mereka. Kecelakaan Korean Air Penerbangan 801 pada tahun 1997 dikaitkan dengan keputusan pilot untuk mendarat meskipun ada ketidaksetujuan dari perwira junior, sementara kecelakaan Avianca Penerbangan 052 disebabkan oleh kegagalan mengomunikasikan data kritis mengenai rendahnya bahan bakar antara pilot dan pengendali, serta kegagalan pengendali untuk menanyakan kepada pilot apakah mereka menyatakan keadaan darurat dan membantu pilot dalam mendaratkan pesawat. Kecelakaan tersebut telah disalahkan pada aspek budaya nasional dari awak pesawat.[butuh rujukan]

Perbedaan budaya dalam penerbangan

Geert Hofstede mengklasifikasikan budaya nasional ke dalam enam dimensi, dua di antaranya dapat diterapkan di kokpit: jarak kekuasaan, yang mendefinisikan “sifat hubungan antara bawahan dan atasan”, atau “seberapa sering bawahan takut untuk menyatakan ketidaksetujuan”;[1] dan apakah budaya tersebut bersifat kolektivis atau individualis. Budaya Barat bersifat individualis dan memiliki jarak kekuasaan yang rendah, sedangkan sebagian besar budaya Asia dan Amerika Latin berada di sisi lain dari spektrum.[2] Jarak kekuasaan yang rendah dan tingkat individualisme yang tinggi dalam budaya Barat mungkin telah berkontribusi pada catatan keselamatan yang lebih baik dibandingkan dengan di Taiwan dan India.[butuh rujukan] Dalam masyarakat yang lebih kolektivis seperti Taiwan, kemungkinan penjelasan untuk hal ini adalah bahwa keterampilan pengambilan keputusan pribadi tidak berkembang dengan baik.[3] Di masyarakat Barat, jarak kekuasaan secara umum lebih rendah; “membuat keputusan, melaksanakannya, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya” adalah bagian dari kehidupan mereka, sehingga membuat keputusan pribadi menjadi lebih mudah.[4][5][butuh klarifikasi]

Insiden di masa lalu

Musibah bandara Tenerife

Bangkai pesawat dari musibah bandara Tenerife
Artikel utama: Musibah bandar udara Tenerife

Pada 27 Maret 1977, dua pesawat penumpang Boeing 747, KLM Penerbangan 4805 dan Pan Am Penerbangan 1736, bertabrakan di landasan pacu yang berkabut di Bandara Los Rodeos (sekarang Bandara Tenerife Utara), di pulau Tenerife, Kepulauan Kanaria, Spanyol, menewaskan sedikitnya 583 orang, menjadikannya kecelakaan paling mematikan dalam sejarah penerbangan. Sebelum lepas landas, insinyur penerbangan KLM mengungkapkan kekhawatirannya tentang Pan Am yang belum sepenuhnya keluar dari landasan dengan bertanya kepada para pilot di kokpitnya, "Apakah dia belum keluar, Pan American itu?" Kapten KLM dengan tegas menjawab, "Oh, sudah" dan tetap melanjutkan lepas landas, mengabaikan kekhawatiran awak juniornya. Peristiwa ini memicu penerapan luas manajemen sumber daya awak pesawat (crew resource management) sebagai bagian mendasar dari pelatihan pilot maskapai.[6]

Korean Air Penerbangan 801

Animasi Korean Air Penerbangan 801 saat akan mendarat
Artikel utama: Korean Air Penerbangan 801

Saat mendekati Guam pada tahun 1997, Korean Air Penerbangan 801 jatuh, terutama karena kelelahan pilot dan komunikasi yang buruk antar awak penerbangan. Kapten memutuskan untuk mendarat meskipun perwira junior tidak setuju, yang akhirnya membuat pesawat jatuh sebelum landasan, menyoroti bagaimana seorang pilot dapat berkontribusi pada sebuah bencana.[7] Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, jarang bagi bawahan untuk mempertanyakan atasannya. "Pemimpin bisa bersifat otoriter".[8][pentingkah?] Jarak kekuasaan yang tinggi dapat dilihat sebagai kesediaan untuk berada dalam posisi yang tidak setara, sehingga menjadi tantangan bagi seorang perwira yang lebih rendah dalam hierarki untuk mempertanyakan keputusan orang yang berkuasa. Pada saat yang sama, bahkan dalam budaya dengan penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) yang tinggi, di mana awak lebih cenderung mengikuti prosedur operasi standar (SOP), mereka mungkin bereaksi kurang efisien terhadap situasi baru.[9]

Avianca Penerbangan 052

HK-2016, Boeing 707 yang terlibat dalam kecelakaan Avianca 052
Artikel utama: Avianca Penerbangan 052

Avianca Penerbangan 052 dari Bogotá ke New York jatuh setelah kehabisan bahan bakar, sebuah masalah yang disebabkan oleh hambatan bahasa dan budaya. Kedua awak berbicara bahasa Spanyol sebagai bahasa utama mereka, tetapi kopilot memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. "Kolombia adalah negara yang sangat maskulin, dengan jarak kekuasaan tinggi, dan bersifat kolektivis", yang mungkin menyebabkan keraguan awak untuk meminta bantuan dari pengendali lalu lintas udara New York ketika mereka tahu mereka sedang dalam masalah.[10]

Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045

Lokasi jatuhnya Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045
Artikel utama: Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045

Pada tahun 1977, sebuah pesawat kargo Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Anchorage dalam perjalanan menuju Tokyo, menewaskan seluruh 3 awaknya. Kaptennya adalah warga negara AS, sementara dua lainnya adalah orang Jepang. Kedua pilot Jepang tersebut tidak pernah menyebutkan soal mabuknya kapten atau mencegahnya dari menerbangkan pesawat. Mereka enggan melakukannya, dan mengingat indeks jarak kekuasaan Jepang yang cukup tinggi, kepatuhan mereka terhadap otoritas bisa menjadi faktor penyumbang utama. Seandainya mereka melakukannya, itu akan mempermalukan kapten yang jelas merupakan atasan mereka, dan sejak saat itu menjadi mustahil "untuk mencegah kapten mengambil alih kendali pesawat, bahkan dengan risiko terjadinya kecelakaan."[11]

Germanwings Penerbangan 9525

D-AIPX, pesawat yang terlibat dalam kecelakaan
Artikel utama: Germanwings Penerbangan 9525

Pada tahun 2015, Germanwings Penerbangan 9525 sengaja dijatuhkan ke Pegunungan Alpen Prancis oleh kopilot Andreas Lubitz setelah kapten meninggalkan kokpit untuk ke kamar mandi; kemudian Lubitz mengunci kapten di luar. Para komentator mencatat adanya faktor budaya yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kecelakaan ini, termasuk perlindungan privasi yang sangat kuat di Jerman dan anggapan bahwa regulasi Jerman tidak mungkin salah.[12] Undang-undang privasi di Jerman umumnya menghalangi seorang dokter untuk mengungkapkan riwayat medis pasien kepada pihak ketiga, sebagaimana kasus Lubitz yang tidak pernah mengungkapkan masalah kesehatan mentalnya kepada pihak maskapai Lufthansa (pemilik Germanwings).[13]

Dampak lain budaya terhadap keselamatan penerbangan

Meskipun manajemen sumber daya awak pesawat (crew resource management, CRM) dapat meningkatkan keselamatan dalam industri penerbangan, pendekatan ini tidak diterima secara luas di semua budaya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan dalam penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance), atau “kebutuhan akan perilaku yang diatur oleh aturan dan prosedur yang jelas.” Prosedur operasi standar lebih mudah diterima di budaya dengan uncertainty avoidance tinggi, seperti Yunani, Swiss, Korea, dan beberapa budaya Amerika Latin. Namun, di Amerika Serikat, di mana fleksibilitas lebih ditekankan, para pilot mungkin tidak terlalu menerima budaya CRM.[14]

Perbaikan terhadap CRM dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan baik dari budaya individualistik maupun kolektivistik. Ketegasan ala Barat dapat membantu menciptakan kokpit dengan jarak kekuasaan (power distance) rendah, sementara interdependensi ala Timur membawa kerja sama, saling ketergantungan, dan komunikasi untuk menciptakan lingkungan terbang yang lebih aman.[15]

Idealnya, “CRM merepresentasikan power distance rendah (pertukaran informasi yang bebas di antara kru) dan kolektivisme (pengakuan dan penerimaan akan saling ketergantungan kru), sebuah kombinasi budaya yang langka.”[16]

Referensi

  1. ↑ Merritt, Ashleigh (May 2000). "Culture in the Cockpit Do Hofstede's Dimensions Replicate?". Journal of Cross-Cultural Psychology. 31 (3): 283–301. doi:10.1177/0022022100031003001. PMID 11543415. S2CID 1232442.
  2. ↑ Hayward, Brent (1997). "Culture, CRM and aviation safety". The Australian Aviation Psychology Association.
  3. ↑ Engle, Michael (2000). "Culture in the cockpit—CRM in a multicultural world". Journal of Air Transportation World Wide. 5 (1).
  4. ↑ Li, Wen-Chin; Harris, Don; Chen, Aurora (April 2007). "Eastern Minds in Western Cockpits: Meta-Analysis of Human Factors in Mishaps from Three Nations". Aviation, Space, and Environmental Medicine. 78 (4): 424.
  5. ↑ Harris, Don; Li, Wen-Chin (May 2008). "Cockpit Design and Cross-Cultural Issues Underlying Failures in Crew Resource Management". Aviation, Space, and Environmental Medicine. 79 (5): 537–538. doi:10.3357/asem.2271.2008. PMID 18500053.
  6. ↑ Baron, Robert. "The Cockpit, the Cabin, and Social Psychology". Global Operators Flight Information Resource. Retrieved May 11, 2011.
  7. ↑ "Controlled Flight Into Terrain Korean Air Flight 801 Boeing 747-300, HL7468 Nimitz Hill, Guam August 6, 1997" (PDF). ntsb.gov. Washington D.C.: National Transportation Safety Board. January 13, 2000. NTSB/AAR-00/01. Diakses tanggal November 1, 2015.
  8. ↑ Helmreich, Robert (June 2004). "Culture, threat, and error: lessons from aviation". Canadian Journal of Anesthesia. 51 (1): R1–R4. doi:10.1007/bf03018331.
  9. ↑ Helreich, Robert (1999). "Building Safety on the Three Cultures of Aviation". Proceedings of the IATA Human Factors Seminar: 39–43.
  10. ↑ Rosekind, Mark (February 1996). "Cross-Cultural Barriers to Effective Communication in Aviation". NTRS.
  11. ↑ Strauch, Barry (Apr 2010). "Can Cultural Differences Lead to Accidents? Team Cultural Differences and Sociotechnical System Operations". Human Factors. 52 (2): 246–263. doi:10.1177/0018720810362238. PMID 20942254. S2CID 2255110.
  12. ↑ Kirchner, Stephanie (1 April 2015). "Crash challenges German identity, notions of privacy". The Washington Post. Diakses tanggal 26 December 2022.
  13. ↑ Shuster, Simon (27 March 2015). "German Privacy Laws Let Pilot 'Hide' His Illness From Employers". Time. Diakses tanggal 26 December 2022.
  14. ↑ Helmreich, Robert; Merritt, Ashleigh; Wilhelm, John (November 13, 2009). "The Evolution of Crew Resource Management Training in Commercial Aviation". The International Journal of Aviation Psychology. 9 (19–32).
  15. ↑ Merriti, Ashleigh (Jan 1996). "Human Factors on the Flight Deck The Influence of National Culture". Journal of Cross-Cultural Psychology. 27 (1): 5–24. doi:10.1177/0022022196271001. S2CID 145616613.
  16. ↑ Hofstede, Geert (1991). Cultures and organizations: Software of the mind. Maidenhead, UK: McGraw-Hill.
  • Portal Penerbangan

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Perbedaan budaya dalam penerbangan
  2. Insiden di masa lalu
  3. Musibah bandara Tenerife
  4. Korean Air Penerbangan 801
  5. Avianca Penerbangan 052
  6. Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045
  7. Germanwings Penerbangan 9525
  8. Dampak lain budaya terhadap keselamatan penerbangan
  9. Referensi

Artikel Terkait

Keselamatan penerbangan

keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dalam fasilitas penerbangan

The Falling Man

foto ikonik serangan 11 September New York City

Bahan berbahaya dan beracun

benda padat, cair, atau gas yang berbahaya bagi manusia, organisme, harta benda, atau lingkungan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026