Budaya dapat memengaruhi keselamatan penerbangan melalui pengaruhnya terhadap bagaimana awak penerbangan menangani situasi sulit; budaya dengan jarak kekuasaan yang lebih rendah dan tingkat individualisme yang lebih tinggi dapat menghasilkan hasil keselamatan penerbangan yang lebih baik. Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, bawahan cenderung tidak mempertanyakan atasan mereka. Kecelakaan Korean Air Penerbangan 801 pada tahun 1997 dikaitkan dengan keputusan pilot untuk mendarat meskipun ada ketidaksetujuan dari perwira junior, sementara kecelakaan Avianca Penerbangan 052 disebabkan oleh kegagalan mengomunikasikan data kritis mengenai rendahnya bahan bakar antara pilot dan pengendali, serta kegagalan pengendali untuk menanyakan kepada pilot apakah mereka menyatakan keadaan darurat dan membantu pilot dalam mendaratkan pesawat. Kecelakaan tersebut telah disalahkan pada aspek budaya nasional dari awak pesawat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Budaya dapat memengaruhi keselamatan penerbangan melalui pengaruhnya terhadap bagaimana awak penerbangan menangani situasi sulit; budaya dengan jarak kekuasaan (power distance) yang lebih rendah dan tingkat individualisme yang lebih tinggi dapat menghasilkan hasil keselamatan penerbangan yang lebih baik. Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, bawahan cenderung tidak mempertanyakan atasan mereka. Kecelakaan Korean Air Penerbangan 801 pada tahun 1997 dikaitkan dengan keputusan pilot untuk mendarat meskipun ada ketidaksetujuan dari perwira junior, sementara kecelakaan Avianca Penerbangan 052 disebabkan oleh kegagalan mengomunikasikan data kritis mengenai rendahnya bahan bakar antara pilot dan pengendali, serta kegagalan pengendali untuk menanyakan kepada pilot apakah mereka menyatakan keadaan darurat dan membantu pilot dalam mendaratkan pesawat. Kecelakaan tersebut telah disalahkan pada aspek budaya nasional dari awak pesawat.[butuh rujukan]
Geert Hofstede mengklasifikasikan budaya nasional ke dalam enam dimensi, dua di antaranya dapat diterapkan di kokpit: jarak kekuasaan, yang mendefinisikan “sifat hubungan antara bawahan dan atasan”, atau “seberapa sering bawahan takut untuk menyatakan ketidaksetujuan”;[1] dan apakah budaya tersebut bersifat kolektivis atau individualis. Budaya Barat bersifat individualis dan memiliki jarak kekuasaan yang rendah, sedangkan sebagian besar budaya Asia dan Amerika Latin berada di sisi lain dari spektrum.[2] Jarak kekuasaan yang rendah dan tingkat individualisme yang tinggi dalam budaya Barat mungkin telah berkontribusi pada catatan keselamatan yang lebih baik dibandingkan dengan di Taiwan dan India.[butuh rujukan] Dalam masyarakat yang lebih kolektivis seperti Taiwan, kemungkinan penjelasan untuk hal ini adalah bahwa keterampilan pengambilan keputusan pribadi tidak berkembang dengan baik.[3] Di masyarakat Barat, jarak kekuasaan secara umum lebih rendah; “membuat keputusan, melaksanakannya, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya” adalah bagian dari kehidupan mereka, sehingga membuat keputusan pribadi menjadi lebih mudah.[4][5][butuh klarifikasi]

Pada 27 Maret 1977, dua pesawat penumpang Boeing 747, KLM Penerbangan 4805 dan Pan Am Penerbangan 1736, bertabrakan di landasan pacu yang berkabut di Bandara Los Rodeos (sekarang Bandara Tenerife Utara), di pulau Tenerife, Kepulauan Kanaria, Spanyol, menewaskan sedikitnya 583 orang, menjadikannya kecelakaan paling mematikan dalam sejarah penerbangan. Sebelum lepas landas, insinyur penerbangan KLM mengungkapkan kekhawatirannya tentang Pan Am yang belum sepenuhnya keluar dari landasan dengan bertanya kepada para pilot di kokpitnya, "Apakah dia belum keluar, Pan American itu?" Kapten KLM dengan tegas menjawab, "Oh, sudah" dan tetap melanjutkan lepas landas, mengabaikan kekhawatiran awak juniornya. Peristiwa ini memicu penerapan luas manajemen sumber daya awak pesawat (crew resource management) sebagai bagian mendasar dari pelatihan pilot maskapai.[6]
Saat mendekati Guam pada tahun 1997, Korean Air Penerbangan 801 jatuh, terutama karena kelelahan pilot dan komunikasi yang buruk antar awak penerbangan. Kapten memutuskan untuk mendarat meskipun perwira junior tidak setuju, yang akhirnya membuat pesawat jatuh sebelum landasan, menyoroti bagaimana seorang pilot dapat berkontribusi pada sebuah bencana.[7] Dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi, jarang bagi bawahan untuk mempertanyakan atasannya. "Pemimpin bisa bersifat otoriter".[8][pentingkah?] Jarak kekuasaan yang tinggi dapat dilihat sebagai kesediaan untuk berada dalam posisi yang tidak setara, sehingga menjadi tantangan bagi seorang perwira yang lebih rendah dalam hierarki untuk mempertanyakan keputusan orang yang berkuasa. Pada saat yang sama, bahkan dalam budaya dengan penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) yang tinggi, di mana awak lebih cenderung mengikuti prosedur operasi standar (SOP), mereka mungkin bereaksi kurang efisien terhadap situasi baru.[9]

Avianca Penerbangan 052 dari Bogotá ke New York jatuh setelah kehabisan bahan bakar, sebuah masalah yang disebabkan oleh hambatan bahasa dan budaya. Kedua awak berbicara bahasa Spanyol sebagai bahasa utama mereka, tetapi kopilot memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. "Kolombia adalah negara yang sangat maskulin, dengan jarak kekuasaan tinggi, dan bersifat kolektivis", yang mungkin menyebabkan keraguan awak untuk meminta bantuan dari pengendali lalu lintas udara New York ketika mereka tahu mereka sedang dalam masalah.[10]

Pada tahun 1977, sebuah pesawat kargo Japan Air Lines Cargo Penerbangan 1045 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Anchorage dalam perjalanan menuju Tokyo, menewaskan seluruh 3 awaknya. Kaptennya adalah warga negara AS, sementara dua lainnya adalah orang Jepang. Kedua pilot Jepang tersebut tidak pernah menyebutkan soal mabuknya kapten atau mencegahnya dari menerbangkan pesawat. Mereka enggan melakukannya, dan mengingat indeks jarak kekuasaan Jepang yang cukup tinggi, kepatuhan mereka terhadap otoritas bisa menjadi faktor penyumbang utama. Seandainya mereka melakukannya, itu akan mempermalukan kapten yang jelas merupakan atasan mereka, dan sejak saat itu menjadi mustahil "untuk mencegah kapten mengambil alih kendali pesawat, bahkan dengan risiko terjadinya kecelakaan."[11]

Pada tahun 2015, Germanwings Penerbangan 9525 sengaja dijatuhkan ke Pegunungan Alpen Prancis oleh kopilot Andreas Lubitz setelah kapten meninggalkan kokpit untuk ke kamar mandi; kemudian Lubitz mengunci kapten di luar. Para komentator mencatat adanya faktor budaya yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kecelakaan ini, termasuk perlindungan privasi yang sangat kuat di Jerman dan anggapan bahwa regulasi Jerman tidak mungkin salah.[12] Undang-undang privasi di Jerman umumnya menghalangi seorang dokter untuk mengungkapkan riwayat medis pasien kepada pihak ketiga, sebagaimana kasus Lubitz yang tidak pernah mengungkapkan masalah kesehatan mentalnya kepada pihak maskapai Lufthansa (pemilik Germanwings).[13]
Meskipun manajemen sumber daya awak pesawat (crew resource management, CRM) dapat meningkatkan keselamatan dalam industri penerbangan, pendekatan ini tidak diterima secara luas di semua budaya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan dalam penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance), atau “kebutuhan akan perilaku yang diatur oleh aturan dan prosedur yang jelas.” Prosedur operasi standar lebih mudah diterima di budaya dengan uncertainty avoidance tinggi, seperti Yunani, Swiss, Korea, dan beberapa budaya Amerika Latin. Namun, di Amerika Serikat, di mana fleksibilitas lebih ditekankan, para pilot mungkin tidak terlalu menerima budaya CRM.[14]
Perbaikan terhadap CRM dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan baik dari budaya individualistik maupun kolektivistik. Ketegasan ala Barat dapat membantu menciptakan kokpit dengan jarak kekuasaan (power distance) rendah, sementara interdependensi ala Timur membawa kerja sama, saling ketergantungan, dan komunikasi untuk menciptakan lingkungan terbang yang lebih aman.[15]
Idealnya, “CRM merepresentasikan power distance rendah (pertukaran informasi yang bebas di antara kru) dan kolektivisme (pengakuan dan penerimaan akan saling ketergantungan kru), sebuah kombinasi budaya yang langka.”[16]