Ida Dalem Ketut Ngulesir atau Ida Dalem Sri Smara Giri Kepakisan atau Sri Aji Smara Kepakisan adalah Raja Bali ke-III dari Wangsa Kepakisan yang memerintah Bali pada tahun 1384 - 1458 M. Beliau adalah anak keempat dari pasangan Raja Sri Aji Kresna Kepakisan dan Permaisuri Ni Gusti Ayu Tirta Gajah Para, beliau dinobatkan menjadi Raja Bali setelah para mentri kerajaan yang diketuai Kyai Klapodyana melengserkan kakaknya dari tahta kerajaan. Beliau juga adalah Raja Bali pertama yang berkedudukan di Gelgel dan memulai periode Kerajaan Gelgel prestise Gelgel naik dari sebuah desa tua menjadi pusat pemerintahan bali selama 4 abad.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Ida Dalem Ketut Ngulesir atau Ida Dalem Sri Smara Giri Kepakisan atau Sri Aji Smara Kepakisan adalah Raja Bali ke-III dari Wangsa Kepakisan yang memerintah Bali pada tahun 1384 - 1458 M (1306 - 1380 Saka). Beliau adalah anak keempat dari pasangan Raja Sri Aji Kresna Kepakisan dan Permaisuri Ni Gusti Ayu Tirta Gajah Para, beliau dinobatkan menjadi Raja Bali setelah para mentri kerajaan yang diketuai Kyai Klapodyana melengserkan kakaknya dari tahta kerajaan. Beliau juga adalah Raja Bali pertama yang berkedudukan di Gelgel dan memulai periode Kerajaan Gelgel (1384 - 1651 Masehi) prestise Gelgel naik dari sebuah desa tua menjadi pusat pemerintahan bali selama 4 abad.
| Sri Aji Smara Giri Kepakisan ᬰ᭄ᬭᬶᬳᬚᬶᬲᭂᬫᬭᬕᬶᬭᬶᬓᭂᬧᬓᬶᬲᬦ᭄code: ban is deprecated | |
|---|---|
| Ida Dalem Sri Aji Smara Kepakisan Ida Dalem Smara Kepakisan Ida Dalem Ketut Ngulesir | |
| Berkuasa | Tahun 1306 - 1380 Çaka (1384 - 1458 Masehi) |
| Pendahulu | Sri Aji Agra Samprangan Kepakisan |
| Penerus | Sri Aji Waturenggong Arsa Wijaya Kepakisan |
| Pemakaman | Di Dharmakan pada bangunan Meru bertingkat 9 dalam Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan |
| Pasangan | Permaisuri :
Istri lain :
|
| Keturunan | Dari Permaisuri :
Dari istri lain :
|
| Dinasti | Kepakisan |
| Ayah | Sri Aji Kresna Kepakisan |
| Ibu | Ni Gusti Ayu Tirta Gajah Para |
| Agama | Hindu - Buddha |
Dewa Ketut Ngulesir merupakan putra ketiga dari pasangan Raja Sri Aji Kresna Kepakisan dan Permaisuri Ni Gusti Ayu Tirta Gajah Para. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan istana Puri Agung Lingarsapura, yang menjadi pusat pemerintahan ayahandanya pasca pengangkatan sebagai penguasa Bali oleh Majapahit. Masa kecil Dewa Ketut dihabiskan dalam lingkungan kerajaan yang penuh dengan tatanan adat, ajaran keagamaan, serta pendidikan kebangsawanan yang ketat. Namun, posisinya sebagai anak bungsu menjadikannya bukan sebagai pewaris utama tahta kerajaan.[1]
Memasuki usia remaja, Dewa Ketut memilih untuk meninggalkan lingkungan istana. Dalam naskah-naskah tradisional Bali, pengembaraan Dewa Ketut digambarkan mencerminkan watak kerendahan hati. Ia berkelana dan berbaur (Ngulesir) dengan masyarakat biasa, meninggalkan kemewahan istana demi menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan membumi. Salah satu tempat yang disinggahinya dalam masa pengembaraan ini adalah Desa Pandak di wilayah Tabanan, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan seorang adipati bernama Anglurah Sira Arya Kenceng, salah satu tokoh utama keturunan Arya Majapahit di Bali.
Dalam catatan beberapa babad bali, Dewa Ketut sempat dikenal sebagai seorang penjudi yang suka mengikuti kegiatan tajen (sabung ayam), yang merupakan hiburan umum di kalangan masyarakat Bali kala itu. Dalam sebuah insiden di arena tajen, terjadi kerusuhan yang membuat keselamatannya terancam. Ia kemudian diselamatkan oleh seorang kepala desa setempat. Catatan lokal menyebut bahwa Dewa Ketut memiliki rupa yang tampan dan postur yang gagah, sesuai dengan standar ketampanan laki-laki pada zaman itu. Penampilan fisik dan perilakunya membuatnya dikagumi, terutama oleh kalangan perempuan.
Relasi antara Dewa Ketut dan kakaknya, Dalem Samprangan, digambarkan sebagai hubungan yang renggang. Salah satu versi menyebutkan bahwa Dalem Samprangan, yang saat itu menjadi raja di Samprangan, mengutus seorang utusan untuk menjemput Dewa Ketut dan mengajaknya kembali ke istana. Namun ajakan tersebut ditolak oleh Dewa Ketut dengan alasan bahwa dirinya telah menjalani kehidupan yang dianggap "kotor" dan tidak layak untuk kembali ke lingkungan istana. Penolakan ini memperlihatkan adanya konflik emosional dalam internal keluarga saat itu.
Kisah awal kehidupan Dewa Ketut ini merupakan cerminan dari nilai-nilai spiritual dan moral yang dijunjung tinggi dalam tradisi Bali. Selain itu, pengembaraan dan pengalaman hidup di luar istana menjadi bekal penting dalam pembentukan wataknya sebagai pemimpin yang kemudian akan memainkan peran besar dalam peralihan pusat kekuasaan Bali dari Samprangan ke Gelgel.[2]
Kakaknya, Dalem Samprangan, dengan cepat terbukti tidak berkompeten dalam memerintah dan banyak membuat pejabat kerajaan kecewa dan lama menunggu di balai sidang. Salah seorang dari mereka, Gusti Klapodyana keturunan Sri Arya Kutawaringin, Anglurah (Adipati) Gelgel kemudian mengadakan sidang dengan para menteri lainnya di Pura Dalem Tugu di Gelgel untuk merumuskan penggantian kekuasaan secepatnya. Dalem Samprangan sebagaimana banyak catatan menulis hanya gemar bersolek dan bercengkrama dengan istrinya yang sebelumnya ditemuinya di Besakih.[3]
Dalam salah satu versi cerita dikatakan bahwa Dalem Samprangan mulai enggan memerintah ketika tahu putrinya dibawa lari oleh putra angkat dari adiknya, yakni Dewa Tarukan hal ini juga menjadi penyebab serangkaian pengejaran dan peperangan di desa-desa kecil di Bali yang mencoba melindungi Dewa Tarukan dan keluarganya dari kejaran militer kerajaan.[4]
Karena hal itu, Gusti Klapodyana yang memprakarsai pelengseran Dalem Samprangan kemudian meminta adik-adik dari Dalem Samprangan untuk memerintah. Dewa Tarukan ditemukan dalam sebuah desa terpencil di Bali pegunungan dan menyampaikan bahwa ia tak ingin menjadi raja dan ingin mendalami ilmu para bujangga (pendeta). Maka pilihan kedua adalah Dewa Ketut yang kemudian ditemukan di Desa Pandak, Tabanan.
Kehadiran Anglurah Gelgel (Adipati Gelgel) ke desa kecil itu sempat membuat geger dan heran masyarakat. Gusti Klapodyana kemudian mengaturkan sembah ke hadapan Dewa Ketut yang akhirnya membuka identitasnya sebagai seorang pangeran kerajaan. Dewa Ketut diminta meneruskan takhta kakaknya. Ia sempat menolak karena merasa dirinya tidak bisa memerintah kerajaan, lalu menyuruh rombongan itu untuk meminta kepada kakaknya, Dewa Tarukan.
Setelah mendengar bahwa sebelumnya Dewa Tarukan juga menolak, maka Dewa Ketut akhirnya sepakat untuk menerima takhta. Gusti Klapodyana juga menghibahkan karang kepatihannya (istana) untuk diperbesar dan dijadikan keraton di desa tua Gelgel.[5]
Akhirnya, pada tahun 1385 beliau dinobatkan sebagai raja, menjadi raja pertama yang bersinggasana di Gelgel dan bergelar Ida Dalem Sri Aji Smara Kepakisan dan keratonnya dinamakan Puri Agung Swecalinggarsapura.[6]
Menanggapi situasi transisi pemerintahan yang belum stabil dan berpindah-pindah di Bali, Kerajaan Majapahit mengutus seorang bangsawan tinggi bernama Sri Wijaya Rajasa, paman dari Hayam Wuruk yang dikenal sebagai Bhre Wengker atau oleh masyarakat Bali disebut Dalem Keling, untuk mendampingi pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Dalem Ketut Smara Kepakisan.[7]
Menurut salah satu naskah babad, Dalem Samprangan menginstruksikan pengejaran terhadap keluarga Dewa Tarukan, yang terus berpindah tempat di kawasan perdesaan Bali Aga. Ia mengerahkan sejumlah anglurah (penguasa lokal sekelas adipati) dan senapati (panglima perang) untuk menindak mereka. Tindakan ini menimbulkan ketegangan dan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat Bali Aga, sehingga memunculkan potensi terjadinya pemberontakan Bali Aga yang ketiga.[8]
Kehadiran Bhre Wengker di Bali bukan semata-mata untuk memperkuat pemerintahan pusat Bali yang baru di Gelgel, tetapi juga bertujuan untuk menyerap aspirasi masyarakat Bali Aga. Hal ini dibuktikan dengan penerbitan dua prasasti penting oleh Bhre Wengker, yaitu Prasasti Herbabang II (tahun 1384 Masehi) dan Tamblingan III (tahun 1389 Masehi), yang menunjukkan komitmen terhadap penataan sosial dan politik masyarakat lokal.[9]
Selama menetap di Bali, Bhre Wengker memperoleh sebutan Dalem Keling, mengacu pada asal kekuasaannya di daerah Jawa, Keling. Ia kemudian menurunkan kelompok kesatria yang menetap dan berpengaruh di wilayah Bangli dan sekitarnya.[10]
Pemerintahan Dalem Smara Kepakisan mendapatkan dukungan yang luas dari berbagai lapisan masyarakat dan bangsawan lokal. Masyarakat menyamakan beliau dengan Sang Hyang Smara dan Iswara yang mampu menundukan musuh dan juga memerintah dengan baik setidaknya tidak seperti kakaknya Dalem Samprangan. Hal ini membuat prestise pusat pemerintahan di Gelgel mengalami peningkatan signifikan, sementara kedudukan Samprangan perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan dilupakan.[7]
Selama masa pemerintahannya, Dalem Smara Kepakisan mengeluarkan berbagai kebijakan administratif dan sosial dengan dukungan tokoh-tokoh penting kerajaan seperti para bahudanda (pejabat administrasi pemerintahan), bagawanta (penasihat spiritual), dan iwaraja (wakil raja). Ia juga didampingi oleh Sri Wijaya Rajasa (Bhre Wengker), yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas politik dan memperkuat struktur pemerintahan.[11]
Berkat koordinasi yang solid antara raja dan para pejabat tinggi tersebut, Bali mengalami masa stabil dalam bidang ekonomi, politik, dan keamanan. Perdagangan serta hubungan diplomatik dengan wilayah lain di Nusantara tetap terjaga, dan pusat pemerintahan Gelgel mulai berkembang menjadi kekuatan politik utama di Bali.[12]
Pada masa pemerintahannya, beliau juga mendapatkan kedatangan dari seorang Pendeta dari Jawa, Keling yang kemudian melaksanakan upacara Attiwa Arjuna pada sang raja, Dalem juga sempat menengahi konflik di antara para mentrinya serta mengirim Kyai Klapodyana dan Kyai Nyuhaya untuk menghentikan teror macan hitam di Blambangan.
Dalam salah satu sumber naskah babad Bali, yaitu Babad Dalem, dikisahkan bahwa Dalem Smara Kepakisan pada suatu waktu menerima undangan resmi untuk menghadap Raja Hayam Wuruk di pusat pemerintahan Majapahit pada bulan karttika, hari ke kesepuluh, bulan purnama beliau berlabuh di Bubat dan segera disambut oleh seorang pejabat Majapahit bernama Ki Patih Madu.[7] Meskipun lokasi pasti istana tidak dijelaskan secara eksplisit, naskah tersebut menggambarkan suasana istana Majapahit dengan sangat megah dan penuh kemewahan: bangunan bata merah yang tinggi menjulang, danau buatan yang luas, taman yang tertata rapi dengan pepohonan berbunga, kursi terbuat dari kayu cendana yang dilapisi permadani, setiap sudut istana diberikan wewangian serta berbagai perabotan dan hiasan dari emas.
Dalam kesempatan audiensi tersebut, digambarkan pula bahwa penguasa dari berbagai daerah seperti Melayu, Palembang, Madura, Pasuruan, dan Blambangan turut hadir untuk memberikan laporan mengenai keadaan wilayah kekuasaan masing-masing kepada Raja Hayam Wuruk. Naskah ini menegaskan posisi Bali masih sebagai bagian dari sistem politik mandala Majapahit, dengan Gelgel sebagai wakil kekuasaan Majapahit di Bali.[13]
Sepulangnya dari Majapahit, Dalem Smara Kepakisan dikabarkan menerima sejumlah pusaka dan cendera mata kerajaan sebagai tanda penghargaan dan legitimasi kekuasaan. Benda-benda tersebut hingga kini disimpan secara turun-temurun di wilayah Jro Sidemen, Karangasem, dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Bali.[14]
Pada penghujung masa pemerintahan Majapahit, Dalem Smara Kepakisan dikisahkan kembali melakukan perjalanan diplomatik ke wilayah Madura untuk menyaksikan upacara Yadnya penguasa Madura. Sebelum ke madura beliau menyempatkan diri ke Majapahit tetapi kondisi istana saat itu digambarkan sangat kontras dengan apa yang ia lihat sebelumnya: suasana yang lengang, dinding-dinding istana mulai ditumbuhi rerumputan liar, dan pagar-pagar kerajaan menunjukkan tanda-tanda kelalaian serta kemunduran tata kelola kerajaan.[7]
Dalam kunjungan tersebut, beliau dikisahkan bertemu dengan seorang pendeta tua bernama Mpu Çiwa Waringin yang menggambarkan situasi Jawa yang semakin memburuk akibat konflik internal dan perang saudara yang menggerogoti sendi-sendi kekuasaan Majapahit. Keadaan ini menandai awal dari kemunduran struktur politik kerajaan besar yang selama ini menjadi pusat kekuasaan di Nusantara.[15]
Dalam catatan tradisional Bali, selama kunjungannya di Madura, Dalem Smara Kepakisan juga bertemu dengan sejumlah tokoh penting dari luar Jawa, seperti penguasa wilayah Sulawesi, Blambangan, dan Pasuruan. Kunjungan ke Madura juga menandakan kunjungan terakhir Raja ini keluar Bali.[16]
Ida Dalem Ketut Smara Kepakisan diperkirakan wafat pada tahun Saka 1380 (1458 M). Tidak terdapat catatan tertulis maupun dokumentasi resmi mengenai sebab kematian beliau, tetapi berbagai sumber tradisional menyebutkan bahwa beliau wafat dalam usia lanjut.[7]
Sepeninggal beliau, tampuk pemerintahan untuk sementara waktu dipegang oleh adik kandungnya, yakni I Dewa Agung Tegal Besung. Dalam naskah Ki Mantri Tutuwan, I Dewa Agung Tegal Besung bertindak sebagai wakil raja untuk mengisi kekosongan pemerintahan dan menyandang gelar Sri Aji Tegal Besung Kepakisan karena putra mahkota masih dalam usia remaja belia.[17] Meskipun demikian, tidak pernah terjadi penobatan resmi atas dirinya, sehingga secara de jure ia tidak pernah diakui sebagai Raja Bali secara penuh.
Beberapa kebijakan penting yang dikeluarkan semasa pemerintahan Dalem Smara Kepakisan masih tercatat dalam sumber-sumber lokal seperti Lontar Pemancangah Sri Nararya Kresna Kepakisan dan Lontar Babad Nararya Kutawaringin.[18]
Sebagai bentuk penghormatan, beliau di-dharmakan pada sebuah meru bertingkat sembilan yang terdapat di Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan, yang terletak di dalam kompleks Pura Agung Besakih, Karangasem.[19]
Sebelum dinobatkan sebagai raja, I Dewa Agung Ketut Ngulesir memiliki seorang putra bernama I Dewa Damia Kandel dari pernikahannya dengan Ni Gusti Ayu Subanita, putri dari Arya Delancang.[20] Dari Ni Luh Pasek Desa Buit, beliau memperoleh putra bernama I Dewa Langlang Lawe.[21]
Setelah bertakhta di Gelgel, sebagai permaisuri utama beliau menikah dengan Ni Gusti Ayu Klapodyana putri dari Ki Gusti Klapodyana, dan dari pernikahan ini lahir I Dewa Agung Baturenggong, yang kemudian diangkat sebagai putra mahkota.[22] Dari Ni Gusti Ayu Rai Kapal, beliau memiliki seorang putra bernama Arya Anglurah Agung Putra Teges, yang kemudian diadopsi oleh bangsawan Arya Belog.[23] Sementara dari Ni Luh Gayatri Samanjaya, putri seorang nakhoda kapal, beliau memperoleh seorang putra bernama Ki Samanjaya.[24]
Dalam sejumlah catatan dari lingkungan Kesultanan Mataram Islam di Jawa, disebutkan sosok bernama Dalem Ketut, yang bergelar Jaka Maya atau Haryo Ketut, dan diklaim sebagai putra dari Bhre Kertabhumi (Brawijaya V), raja Majapahit terakhir yang berkuasa antara tahun 1468–1478 Masehi. Disebutkan bahwa tokoh ini kemudian dikirim ke Bali dan menjadi raja di Klungkung dan kerap dicocokkan dengan tokoh Raja Dalem Ketut Smara Kepakisan.[25]
Namun klaim ini dipandang anakronistik dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara kronologis maupun historis karena tidak sesuai dengan seluruh sumber lokal Bali, Dalem Ketut telah diangkat sebagai raja pada tahun 1384 M, dan wafat pada tahun 1458 M, jauh sebelum masa pemerintahan Bhre Kertabhumi. Artinya, secara waktu, tidak mungkin Dalem Ketut adalah putra dari Bhre Kertabhumi karena mereka berasal dari dua generasi yang berbeda.[26] Menjadi raja di Klungkung juga tidak sesuai dengan fakta sejarah Bali. Klungkung sebagai pusat kerajaan baru muncul setelah runtuhnya Gelgel, yakni pada abad ke-17, diprakarsai oleh keturunan Dalem Di Made, bukan oleh Dalem Ketut. Pada masa Dalem Ketut, pusat pemerintahan kerajaan Bali berada di Gelgel, bukan di Klungkung.[27]
Keseluruhan narasi dari sumber Jawa tersebut kemungkinan merupakan upaya politis atau mitologis untuk merekayasa genealogis mengaitkan elite Bali dengan trah Majapahit secara langsung, tetapi bertentangan dengan rekam jejak historis dan kronologis lokal Bali. Kemungkinan besar, klaim tersebut muncul sebagai bagian dari usaha Mataram untuk menghubungkan kedaulatan Bali dengan trah Majapahit pada era Islam, guna memperkuat klaim legitimasi dan pengaruh politik mereka di wilayah Nusantara Timur.
| Didahului oleh: Dalem Samprangan |
Raja Bali 1384 - 1458 |
Diteruskan oleh: Dalem Baturenggong |