Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dalem Di Made

Ida Dalem Dimade atau Ida Dalem Sri Aji Dharma Dimadya Kepakisan atau Bhatara Dalem ring Guliang adalah raja Bali ke-VIII dari Wangsa Kepakisan yang memerintah Bali pada tahun 1635 - 1651 Masehi adalah putra dari Raja Dalem Segening. Beliau naik tahta setelah kakaknya Ida Dalem Anom Pemayun mengundurkan diri pada tahun 1634 Masehi setelah tidak mendapatkan dukungan dari para petinggi kerajaan. Dalem Dimade dikenal sebagai raja terakhir Kerajaan Gelgel dari Wangsa Kepakisan sebelum akhirnya dikudeta oleh Perdana Mentri Kerajaan, Gusti Agung Maruti pada tahun 1651 Masehi, beliau bersama keluarga dan petinggi kerajaan yang masih setia seperti Ki Gusti Ngurah Abiantubuh, Ki Gusti Ngurah Kuntang Gurna, Ki Gusti Ngurah Tubuh, Ki Dukuh Pemedilan dan Mekel Ayung, berhasil menyingkir dari istana Puri Agung Swecalingarsapura dan tinggal dalam pengasingannya di desa kecil bernama Guliang.

Raja Bali dari Wangsa Kepakisan
Diperbarui 8 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dalem Di Made
Dalem Dimade didharmakan pada Pelinggih Meru bertingkat tiga

Ida Dalem Dimade atau Ida Dalem Sri Aji Dharma Dimadya Kepakisan atau Bhatara Dalem ring Guliang adalah raja Bali ke-VIII dari Wangsa Kepakisan yang memerintah Bali pada tahun 1635 - 1651 Masehi (1557 - 1573 Saka) adalah putra dari Raja Dalem Segening. Beliau naik tahta setelah kakaknya Ida Dalem Anom Pemayun mengundurkan diri pada tahun 1634 Masehi setelah tidak mendapatkan dukungan dari para petinggi kerajaan. Dalem Dimade dikenal sebagai raja terakhir Kerajaan Gelgel dari Wangsa Kepakisan sebelum akhirnya dikudeta oleh Perdana Mentri Kerajaan, Gusti Agung Maruti pada tahun 1651 Masehi, beliau bersama keluarga dan petinggi kerajaan yang masih setia seperti Ki Gusti Ngurah Abiantubuh, Ki Gusti Ngurah Kuntang Gurna, Ki Gusti Ngurah Tubuh, Ki Dukuh Pemedilan dan Mekel Ayung, berhasil menyingkir dari istana Puri Agung Swecalingarsapura dan tinggal dalam pengasingannya di desa kecil bernama Guliang (daerah Kabupaten Bangli sekarang).[1]

Sri Aji Dharma Dimadya Kepakisan
ᬰ᭄ᬭᬶᬳᬚᬶᬟᬃᬫᬤᬶᬫᬤ᭄ᬬᬓᭂᬧᬓᬶᬲᬦ᭄code: ban is deprecated
Ida Dalem Sri Aji Dharma Dimadya Kepakisan
Ida Dalem Dimade
Bhatara Dalem ring Guliang
BerkuasaTahun Çaka 1557 - 1573
(1635 - 1651 Masehi)
PendahuluSri Aji Anom Seganing Kepakisan
PenerusKerajaan Gelgel runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Klungkung (I Dewa Agung Jambe)
Pemakaman
Di dharmakan pada bangunan Meru bertingkat 3 dalam Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan
PasanganPermaisuri :
  • Dewa Ayu Mayun Bakas
  • Gusti Ayu Jambe
  • Gusti Ayu Selat

Istri lain :

  • Gusti Ayu Pacekan
  • Gusti Ayu Tangkeban
  • Gusti Ayu Peling Raka & Anom
  • Dyah Siti Mekar
  • Dewi Ayu Suladri
KeturunanDari permaisuri :
  • Ida I Dewa Agung Pemayun
  • Ida I Dewa Agung Jambe
  • Ida I Dewa Agung Anom Dimade

dari istri lain :

  • I Dewa Bukian
  • I Dewa Pacekan
  • I Dewa Tampwagan
  • I Dewa Gianyar
  • I Dewa Batan
  • I Dewa Budi
  • Ni Dewa Ayu Mas
  • I Dewa Lelukung
  • I Dewa Ketut Guliang.[2]
DinastiKepakisan
AyahSri Aji Anom Seganing Kepakisan
IbuNi Gusti Ayu Bakas
AgamaHindu - Buddha

Sejarah Awal

I Dewa Agung Dimade, atau dikenal juga dengan nama Dimadya, adalah salah satu dari banyak putra Raja Dalem Seganing. Nama ibu dari Dewa Agung Dimade tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa pendapat menyebutkan bahwa ia dilahirkan dari seorang permaisuri. Oleh karena itu, gelar "Dewa Agung" disematkan padanya, yang umumnya merujuk pada putra yang lahir dari permaisuri.

Dewa Agung Dimade bukanlah pewaris takhta Kerajaan Gelgel setelah wafatnya Raja Dalem Seganing. Takhta kerajaan diwariskan kepada kakaknya, yaitu Putra Mahkota Dewa Agung Anom Pemayun, yang kemudian bergelar Dalem Anom Pemayun.

Kebijakan pemerintahan Dalem Anom Pemayun tercatat dalam naskah Babad Dalem dan Babad Sidemen, yang menunjukkan bahwa ia melakukan reformasi besar-besaran di lingkungan istana. Reformasi ini termasuk pengangkatan sejumlah pejabat baru serta pemberhentian beberapa pejabat lama. Langkah ini memicu ketidaksenangan dan perasaan terancam di kalangan elit istana.

Sebagaimana dalam sejarah terdahulu ketika Gusti Klapodyana memprakarsai pengalihan kekuasaan dari Dalem Samprangan dan Dalem Ketut Smara Kepakisan di Pura Dalem Tugu, maka upaya serupa tampaknya juga direncanakan oleh para petinggi istana terhadap Dalem Anom Pemayun.

Salah satu tokoh yang diduga kuat bertanggung jawab atas penurunan takhta Dalem Anom Pemayun adalah Gusti Agung Maruti, seorang putra angkat dari Kyayi Agung Kedung.[3][4]

Naik Takhta dan Pemerintahan

Sumber-sumber yang menyebutkan era pemerintahan Dalem Di Made cukup banyak sehingga memberikan gambaran yang baik pada era pemerintahannya, sumber tersebut diambil baik dari teks tradisional Bali, catatan Makassar, Mataram, hingga laporan VOC. Namun, yang paling dominan adalah sumber lokal seperti Babad Dalem teks keraton yang menceritakan silsilah raja-raja Bali Wangsa Kepakisan dan legasi mereka.[5]

Ida Dewa Agung Di Made mulai mendapat dukungan luas dari para pembesar kerajaan, sehingga kakaknya, Ida Dalem Anom Pemayun, memilih untuk meninggalkan Gelgel dan menetap di Purasi. Ia kemudian naik takhta dan bergelar Sri Aji Dharma Di Madya Kepakisan atau lebih dikenal sebagai Ida Dalem Di Made.

Banyak catatan yang menyebutkan legasi dan peran Ida Dalem Di Made selama masa pemerintahannya. Berdasarkan catatan-catatan tersebut, ia digambarkan sebagai raja yang cukup aktif dalam percaturan politik di Kepulauan Nusa Tenggara dan Jawa Timur. Beberapa legasinya adalah perannya dalam membendung pasukan luar yang ingin menyerang Bali[6]

Namun menjelang akhir pemerintahannya, Ida Dalem Di Made disebut menjadi sangat tergantung kepada Perdana Mentrinya, Gusti Agung Maruti. Ketergantungan ini menimbulkan kekecewaan di kalangan para pejabat istana lainnya, dan menjadi salah satu sebab melemahnya otoritas pusat kerajaan di Gelgel.[7]

Perannya dalam Perpolitikan dan Militer di Nusantara

Keterlibatan Politik dan Militer di Jawa dan Nusa Tenggara (1633–1647)

Sebagaimana yang dialami oleh ayahandanya, Dalem Segening, masa awal hingga akhir pemerintahan Dalem Di Made turut diwarnai oleh tantangan eksternal yang berkaitan dengan upaya mempertahankan pengaruh Mandala Gelgel di luar wilayah inti Bali. Di bagian barat, kawasan Blambangan di Jawa Timur kerap menjadi sasaran ekspansi Kesultanan Mataram, sehingga memicu permintaan bantuan berulang kali dari penguasa Blambangan kepada istana Gelgel. Sementara itu, di wilayah timur, kekuasaan Makassar dari Sulawesi mulai menekan dominasi Gelgel di Lombok dan Sumbawa. Situasi ini memperlihatkan Dalem Di Made berusaha mempertahankan status Gelgel sebagai kekuatan politik dan budaya Hindu-Buddha yang tersisa pasca keruntuhan Majapahit..

Konflik dengan Mataram di Jawa Timur

Salah satu fokus utama politik luar negeri Gelgel di jawa adalah Blambangan, wilayah ujung timur Jawa yang menjadi benteng pertahanan terakhir kerajaan Hindu-Jawa dan vassal yang penting bagi Gelgel. Blambangan sering menjadi sasaran ekspansi Kesultanan Mataram Islam, terutama di bawah pemerintahan Sultan Agung.[8]

Pada tahun 1639, tercatat bahwa setelah berhasil menaklukkan Blambangan pasukan Mataram sempat melakukan melancarkan invasi dan pendaratan di Bali, tepatnya di kawasan Canggu. Namun serangan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan Bali, Dalem Di Made mengutus Ki Gusti Jelantik Bungaya (Bogol) untuk menumpas para pasukan asing, banyak pasukan mataram yang tewas dan tertangkap oleh pasukan Bali, peristiwa ini menandai salah satu momen pertahanan strategis yang berhasil dari kerajaan Gelgel di Bali sekaligus serangan terakhir kerajaan dari jawa ke Bali.

Ketegangan antara Dalem Di Made dan Sultan Agung terus berlanjut, Blambangan direbut pasukan Kerajaan Gelgel dan Kesultanan Mataram Islam secara bergantian dan seiring dengan wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645, Gelgel melihat peluang besar untuk kembali merebut Blambangan. Ida Dalem Di Made mengirim ekspedisi militer yang dipimpin oleh Senapatih Kyai Gusti Anglurah Tabanan, Gusti Wayan Pamadekan, Gusti Made Pamadekan, dan Kyai Pacung untuk membantu Blambangan menghadapi tekanan Mataram. Walaupun awalnya menunjukkan keberhasilan dan kesuksesan, pada tahun 1647 ekspedisi ini mendapat perlawanan kuat dari Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraguna. Gusti Wayan Pemadekan berhasil ditangkap dan dibawa ke Kota Gede, Armada Laut Mataram bahkan disiapkan untuk melakukan invasi ulang ke Pulau Bali, tetapi berhasil dihadang oleh armada laut Gelgel yang sudah diposisikan di sepanjang pesisir barat Bali.

Kontak diplomatik antara Kerajaan Gelgel dan VOC di Batavia juga terjadi dalam bentuk surat-menyurat mengenai kemungkinan pembentukan aliansi melawan Mataram Islam. Namun, rencana ini tidak pernah terealisasi karena situasi politik keduanya yang terus berubah.[9]

Perebutan Kekuasaan di Sumbawa dan Lombok

Sementara itu, di kawasan timur, hubungan antara Kerajaan Gelgel dan Kesultanan Makassar memburuk setelah sebelumnya sempat terjalin kesepakatan pada tahun 1624 pada era Dalem Seganing. Sekitar tahun 1633, Gelgel sempat mengonsolidasikan pengaruhnya di Kesultanan Bima dan berhasil mengusir kekuatan Makassar dari wilayah tersebut. Namun, dominasi ini tidak berlangsung lama karena Makassar membalas dengan kembali menguasai Bima dan memperluas pengaruhnya hingga Sumbawa barat. [10]

Pada 30 Oktober 1640, catatan harian VOC melaporkan bahwa armada Makassar melancarkan serangan besar-besaran ke Pulau Lombok. Di pulau itu, rakyat Sasak digambarkan melakukan perlawanan sengit dan berhasil memukul mundur pasukan Makassar tetapi sepertinya pasukan Sumbawa-Makasar berhasil membuat basis militernya di Lombok Timur, pada tahun 1640 Dalem Di Made sempat mengutus pasukan Bali untuk merebut kembali wilayah Selaparang di Lombok Timur namun berhasil di pukul mundur oleh pasukan sasak berkat bantuan Sumbawa-Makasar. Sehingga pasukan bali tertahan di Lombok Barat pada 14 Oktober 1641.[11]

Pada tahun 1645, Ki Kebo Mundar atau Datu Parwa berhasil mengusir Makasar sepenuhnya dari Lombok dan juga menyatakan pembebasan Lombok dari kekuasaan Gelgel. Menyikapi hal tersebut, Ida Dalem Di Made mengirim Kyai Gusti Anglurah Tabanan (Cokorda Wilnawan) Kiai Anom Telabah, dan Gusti Agung Maruti pada tahun 1645 dengan kekuatan militer yang besar. Menurut sumber tradisional seperti Babad Tabanan, pasukan Bali mendarat dengan kekuatan sekitar 100.000 orang dan berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Setelah gugurnya Kebo Mundar, Lombok kembali berada di bawah kekuasaan Gelgel.[12]

Kemenangan - kemenangan pasukan Gelgel dibawah Senapatih Kyai Gusti Anglurah Tabanan ini diperingati dalam dua karya sastra tradisional Bali (Jaya Stambha), yaitu syair Susumbung Parwasari dan Tabanan Sari, yang memuji keberanian Kyai Tabanan dan pasukannya dalam mempertahankan kewibawaan kerajaan Gelgel diluar Bali. Dalem Di Made dikatakan memberikan banyak penghargaan baik berupa pusaka dan juga wilayah untuk di pimpin oleh keturunan Arya Tabanan seperti di wilayah Badeng atau Badung.

Pasukan Bali juga sempat melakukan serangkaian perang kecil dengan para datu pemberontak yang mencoba menghalangi pasukan Bali dan kekuasaan Kerajaan Gelgel di Lombok, pada bulan Mei 1645 Gusti Agung Maruti disebutkan mengalahkan seorang bangsawan sasak bernama Raden Sebit Langko dan menundukkan desa-desa yang memberontak kepada Gelgel.

Hal ini di konfirmasi oleh catatan VOC tertanggal 18 Januari 1646. Diawetkan dalam Batavian Letter-book, VOC 773, f. 14. Menurut surat ini, Batuparang (Selaparang) telah dikalahkan oleh para pasukan raja Bali, pada tahun 1645, dan seorang rakyat VOC bernama Mustafa telah ditawan oleh pasukan Bali dengan tuduhan mencoba membantu Selaparang dengan amunisi perang. Gubernur Jendral VOC Antonio Van Diemen telah bertemu dengan utusan Dalem Di Made, yang telah tiba di Batavia dengan tawanan tersebut. VOC menegaskan bahwa semua adalah kesalahan yang disesalkan, dan meminta raja Dalem Di Made untuk memaafkan orang itu dan mengembalikan apa yang tersisa dari barang-barangnya.

Kehilangan Kekuasaan dan Kematian

Kisah mengenai akhir pemerintahan Dalem Di Made tercatat dalam salah satu teks tradisional Bali yang bersumber dari lingkungan istana, yaitu Babad Dalem. Bagian terakhir teks ini memberikan gambaran mengenai dinamika politik yang terjadi menjelang keruntuhan kekuasaan Raja Dalem Di Made di Kerajaan Gelgel.[13]

Pada akhir masa pemerintahannya, Dalem Di Made banyak memercayakan urusan pemerintahan kepada salah satu bangsawan berpengaruh, yaitu Gusti Agung Maruti yang menjabat sebagai Perdana Mentri. Maruti dikenal sebagai tokoh yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan politik, serta dipercaya memiliki jaringan kekuasaan yang kuat di lingkungan istana. Ketergantungan Dalem Di Made terhadap Maruti membuat pengaruh politik Maruti tumbuh semakin besar hingga pada akhirnya menguasai sebagian besar roda pemerintahan.[14]

Situasi ini memuncak ketika Gusti Agung Maruti melancarkan kudeta terhadap Dalem Di Made. Peristiwa ini terjadi saat Dalem beserta rombongan dalam perjalanan pulang dari melaksanakan upacara keagamaan di Pura Agung Besakih. Dalam perjalanan tersebut, Dalem dan rombongannya dicegat oleh pasukan Maruti. Mereka diberitahu bahwa rombongan akan dikawal kembali ke istana, tetapi sesampainya di tempat tertentu, tangan Dalem justru diikat dengan kain sutra—tindakan simbolis yang menunjukkan bahwa ia secara de facto telah dilucuti kekuasaannya.[15]

Peristiwa penahanan Dalem ini segera terdengar oleh para pembesar dan bangsawan Gelgel. Menyadari bahwa tindakan Gusti Agung Maruti merupakan bentuk pemberontakan, mereka bersiap melakukan perlawanan dengan cara militer. Namun, sebelum tindakan lebih lanjut dilakukan, Dalem Di Made secara tiba-tiba dibebaskan oleh Maruti dan diizinkan untuk tetap tinggal di istana. Meskipun tampak bebas, Dalem Di Made dan keluarganya sebenarnya hidup dalam pengawasan ketat, karena seluruh area istana Puri Agung Swecalinggarsapura telah dikepung oleh pasukan Gusti Agung Maruti. Dengan kondisi tersebut, ia secara efektif berada dalam tahanan rumah bersama anggota keluarga dan para pelayannya.

Setelah memastikan bahwa Dalem tidak lagi memiliki kekuatan politik dan militer, Gusti Agung Maruti secara resmi mengambil alih pemerintahan. Ia berdalih bahwa kepemimpinan Dalem Di Made sudah melemah karena usia lanjut dan tidak lagi mampu mengatur kerajaan dengan efektif. Namun, langkah ini ditolak oleh sejumlah bangsawan dan pejabat istana yang masih setia kepada Wangsa Kepakisan seperti Ki Gusti Ngurah Abiantubuh, Ki Gusti Ngurah Kuntang Gurna, Ki Gusti Ngurah Tubuh, Ki Dukuh Pemedilan dan Mekel Ayung, sebagai bentuk penolakan, mereka memilih meninggalkan Gelgel dan menarik dukungan dari pemerintahan yang dipimpin oleh Maruti.[15]

Motivasi sesungguhnya dari kudeta Gusti Agung Maruti masih belum diketahui secara pasti, sebab tidak ada catatan rinci mengenai latar belakang maupun tujuan strategis dari pengambilalihan kekuasaan tersebut, sebuah pendapat mengatakan bahwa Dewa Pacekan kemungkinan besar ikut andil dalam kudeta ini karena ia disebutkan sebagai raja pada teks-teks VOC. Meskipun begitu, Babad Dalem mencatat bahwa Dalem Di Made akhirnya berhasil melarikan diri dari istana pada malam hari. Dalam pelariannya, ia hanya sempat membawa sebagian kecil harta kerajaan dan beberapa pusaka warisan Kerajaan Gelgel. Pelarian ini diikuti oleh sekelompok rakyat yang setia, serta anggota keluarga dan para petinggi Kerajaan.

Pada tahun 1651, Dalem Di Made dikabarkan menetap di Desa Guliang, sebuah daerah yang terletak di kawasan Bali bagian tengah.[16] Di tempat pengasingannya tersebut, ia tidak sendirian. Dalem Di Made didampingi oleh sejumlah tokoh penting kerajaan, termasuk Ki Gusti Ngurah Abiantubuh (Ki Jumbuh) Keturunan Shri Arya Kutawaringin dan Kyai Gusti Ngurah Guntang Gurna, seorang demung (pejabat tinggi) yang sebelumnya bertugas di Desa Pekandelan, Klungkung.

Selain itu, beberapa putranya juga turut bersama, antara lain Ida I Dewa Agung Pemayun selaku putra mahkota, serta Ida I Dewa Agung Jambe dan I Dewa Ketut. Pengasingan mereka digambarkan dalam teks tradisional sebagai menyerupai kisah Panca Pandawa yang mengungsi ke Negeri Wirata dalam wiracarita Mahabharata sebuah analogi yang memberikan nuansa heroik dan suci terhadap penderitaan raja beserta pengikutnya.[17]

Dalem Di Made menghabiskan sisa hidupnya di Desa Guliang dan akhirnya wafat di sana. Ia kemudian didharmakan di Pura Dalem Dimade Guliang dan dikenal sebagai Bhatara Dalem Ring Guliang. Wafatnya Dalem Di Made juga secara simbolik menandai berakhirnya kekuasaan Wangsa Kepakisan atas Kerajaan Gelgel—wangsa yang sebelumnya didirikan oleh Sri Aji Kresna Kepakisan dan Kerajaan yang dibangun oleh oleh Dalem Ketut Smara Kepakisan.[16]

Pasca wafatnya sang raja, para pangeran yang mengikutinya mengambil jalan hidup yang berbeda. Ida I Dewa Agung Pemayun memilih menjauh dari dunia politik dan kekuasaan. Ia menjalani kehidupan sebagai pendeta di pedalaman Bali dan melepaskan klaim atas tahta kerajaan. Sebaliknya, adiknya, Ida I Dewa Agung Jambe, memilih untuk meninggalkan Guliang dan mengembara ke arah barat Bali, hingga menetap di daerah yang dikenal sebagai Singarsa. Di sana, ia mulai menyusun kekuatan dan strategi untuk melakukan perlawanan terhadap Gusti Agung Maruti, yang telah merebut kekuasaan secara sepihak.[18]

Tahun 1651 bersamaan dengan peristiwa ini, VOC mengutus seorang duta bernama Jacob Bacherach untuk menemui raja Bali dan memintanya menjalin aliansi melawan Mataram Islam namun gagal karena diketahui bahwa raja yang sah telah pergi meninggalkan Gelgel.[19]

Catatan eksternal pemerintahan

Sumber-sumber non-Bali menunjukkan bahwa pada dekade 1630-an, Kerajaan Gelgel masih mempertahankan pengaruhnya atas beberapa wilayah di luar Bali, yakni Blambangan di Jawa Timur, serta Lombok dan Sumbawa, termasuk wilayah timurnya, Bima.[20]

Upaya Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) untuk menjalin aliansi politik dengan Gelgel pada tahun 1633, terutama sebagai tandingan terhadap kekuatan Kesultanan Mataram, tidak membuahkan hasil. Namun demikian, dalam kurun waktu 1635 hingga 1647, Kerajaan Gelgel dikabarkan terlibat dalam sejumlah konflik militer secara langsung dengan Mataram terkait perebutan kekuasaan atas Blambangan. Dalam dinamika tersebut, Gelgel berhasil mempertahankan pengaruhnya di wilayah tersebut. Hal ini juga ditemukan dalam teks-teks tradisional Bali

Catatan Belanda menyebutkan bahwa karena perginya seorang penguasa Gelgel pada tahun 1651 memicu instabilitas internal di Bali. Hal ini kerap dikaitkan dengan pemberontakan Maruti dan Dalem Di Made mengasingkan diri di Guliang. [21] Sejak tahun 1665, VOC mulai menjalin komunikasi dengan penguasa baru Gelgel, yakni Anglurah Agung, yang menurut sumber Bali dan Belanda gugur dalam pertempuran pada tahun 1686.[22]

Tanggal pasti berakhirnya era Dalem Di Made masih menjadi perdebatan. Tahun berakhirnya kerap di sandingkan dengan peristiwa tahun 1651, atau menyatakan bahwa pemerintahannya berakhir paling lambat sekitar tahun 1665 setelah Anglurah Agung memperkenalkan diri sebagai penguasa baru di Gelgel.[23] Ia merupakan penguasa Gelgel pertama yang secara eksplisit tercatat dalam sumber-sumber Belanda, salah satunya melalui pengakuan seorang bangsawan Bali bernama Penguasa Sangsit di Batavia pada tahun 1687 yang mengklaim sebagai keponakan dari Dalem Di Made.[24]

Keluarga

Menurut catatan dalam Babad Dalem, Dalem Di Made dikenal memiliki banyak istri, namun hanya sembilan orang istri yang secara eksplisit disebutkan dalam teks tersebut. Di antara sembilan istri tersebut, tiga di antaranya dianggap sebagai permaisuri utama yang berasal dari keluarga bangsawan penting di Bali.[25]

Beberapa nama permaisuri Dalem Di Made yang tercatat antara lain:

  • Dewa Ayu Mayun Bakas, yang berasal dari keturunan Taman Bali.
  • Gusti Ayu Jambe, yang merupakan keturunan dari Kyai Jambe Pole.
  • Gusti Ayu Selat, dari garis keturunan Gusti Ngurah Kamasan.

Istri lain :

  • Gusti Ayu Pacekan.
  • Gusti Ayu Tangkeban.
  • Dua bersaudari, yakni Gusti Ayu Peling Raka dan Gusti Ayu Peling Anom.
  • Dewi Ayu Suladri.[26]

Selain itu, Dalem Di Made juga dikisahkan memiliki seorang selir yang berasal dari komunitas Muslim di Kampung Gelgel, yakni Dyah Siti Mekar putri dari seorang tokoh Muslim bernama Haji Sulaeman. Kisah mengenai pernikahan dengan Dyah Siti Mekar menjadi salah satu bukti adanya kontak antarbudaya antara kerajaan Hindu-Bali dengan komunitas Muslim di Bali pada masa itu.[27]

Dari para istri dan selir tersebut, Dalem Di Made menurunkan sejumlah putra dan putri yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah Bali. Anak-anaknya antara lain:

  • Ida I Dewa Agung Pemayun, putra mahkota yang kemudian menjalani kehidupan sebagai pendeta di pedalaman Bali.
  • Ida I Dewa Agung Jambe, yang kelak mendirikan Kerajaan Klungkung sebagai penerus Kerajaan Gelgel.
  • Dewa Agung Anom Di Made, yang pada tahun 1651 melarikan diri ke Lombok dan menetap di daerah Kahuripan.

dari istri yang lain:

  • Dewa Bukian.
  • Dewa Pacekan.
  • Dewa Tampwagan.
  • Dewa Gianyar.
  • Dewa Batan.
  • Dewa Budi.
  • Seorang putri bernama Dewa Ayu Mas.
  • Dewa Lelukung yang dilahirkan dari selir Muslim Dyah Siti Mekar.
  • Dewa Ketut Guliang.

Keturunan Dalem Di Made ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Bali dan Lombok, serta menjadi leluhur dari beberapa wangsa kerajaan baru yang muncul setelah runtuhnya kekuasaan Kerajaan Gelgel.[15]

Referensi

  1. ↑ Adrian Vickers (1989). Bali, A Paradise Created. Singapore: Periplus. hlm. 41–45. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. ↑ Candrasangkala , pp. 25-6.
  3. ↑ Ardika, I Wayan. Babad Dalem: Teks dan Konteks Sejarah. Denpasar: Yayasan Bali Kuna, 2006.
  4. ↑ Wiener, Margaret J. Visible and Invisible Realms: Power, Magic, and Colonial Conquest in Bali. Chicago: University of Chicago Press, 1995.
  5. ↑ I Wayan Warna et al., Babad Dalem: Teks dan Terjemahan, Parisada Hindu Dharma, 1986, hlm. 124–128.
  6. ↑ H.J. de Graaf & Th.G. Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Grafiti Press, 1985, hlm. 254–256.
  7. ↑ Ida Bagus Sidemen, Sejarah Bali Kuno dan Klasik, CV Kayumas Agung, 2002, hlm. 187.
  8. ↑ H.J. de Graaf & Th.G. Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Grafiti Press, 1985, hlm. 249–251.
  9. ↑ de Graaf & Pigeaud, hlm. 252.
  10. ↑ Adnan Amal, Sulawesi dalam Arus Sejarah, Yayasan Obor Indonesia, 2009, hlm. 161.
  11. ↑ Lapian, Adrian B., Orang Nusantara di Laut, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 90.
  12. ↑ Babad Tabanan, disunting oleh I Wayan Warna, Dinas Kebudayaan Bali.
  13. ↑ Babad Dalem, ed. I Gusti Bagus Sugriwa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bali, 1979.
  14. ↑ Helen Creese, "Sri Surawirya, Dewa Agung of Klungkung (c. 1722-1736): The historical context for dating the Kakawin Parthayana", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 147 1991.
  15. 1 2 3 H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Jakarta: Grafiti Press, 1985.
  16. 1 2 C.C. Berg, De middeljavaansche historische traditië, 's-Gravenhage: M. Nijhoff, 1927.
  17. ↑ Margaret J. Wiener, Visible and invisible realms. Power, magic, and colonial conquest in Bali. Chicago & London: The University of Chicago Press 1995, pp. 128-9.
  18. ↑ Goris, R., Prasasti Bali: Masa Bali Kuna, Bandung: Masa Baru, 1954.
  19. ↑ A. Vickers, Bali, a paradise created. Singapore: Periplus 1989, p. 56–8.
  20. ↑ Hans Hägerdal, "‘From Batuparang to Ayudhya; Bali and the Outside World, 1636–1656", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 154 (1998), hlm. 70–71.
  21. ↑ J.K.J. de Jonge, De opkomst van het Nederlandsch gezag in Oost-Indië, Vol. VI. 's-Gravenhage: Nijhoff, 1872, hlm. 94.
  22. ↑ H.J. de Graaf, "Goesti Pandji Sakti, vorst van Boeleleng", Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 83.
  23. ↑ Helen Creese, "Balinese Babad as Historical Sources: A Reinterpretation of the Fall of Gelgel", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 147 (1991).
  24. ↑ Hans Hägerdal, "Bali in the Sixteenth and Seventeenth Centuries: Suggestions for a Chronology of the Gelgel Period", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 151 (1995), hlm. 118.
  25. ↑ Babad Dalem, ed. I Gusti Bagus Sugriwa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bali, 1979.
  26. ↑ I Wayan Warna et al. (tr.) 1986, pp. 94–5; H. Creese 1991.
  27. ↑ Adnyana, I Wayan. Islam dan Hindu di Bali: Jejak Historis dan Akulturasi Budaya. Denpasar: Udayana University Press, 2008.

Lihat pula

  • Kerajaan Bedahulu
  • Kerajaan Klungkung
  • Daftar Raja Bali

Daftar Pustaka

  • C.C. Berg, De middeljavaansche historische traditië. Santpoort: Mees.
Didahului oleh:
Dalem Seganing
Raja Bali
1633-1651
Diteruskan oleh:
I Dewa Agung Jambe

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah Awal
  2. Naik Takhta dan Pemerintahan
  3. Perannya dalam Perpolitikan dan Militer di Nusantara
  4. Konflik dengan Mataram di Jawa Timur
  5. Perebutan Kekuasaan di Sumbawa dan Lombok
  6. Kehilangan Kekuasaan dan Kematian
  7. Catatan eksternal pemerintahan
  8. Keluarga
  9. Referensi
  10. Lihat pula
  11. Daftar Pustaka

Artikel Terkait

Sri Aji Kresna Kepakisan

Raja Bali dan Pendiri Wangsa Kepakisan

Kerajaan Bali

kerajaan di Asia Tenggara

Suku Bali

kelompok etnik pribumi yang berasal dari kepulauan Bali

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026