Anglurah Agung atau dikenal juga dengan nama Gusti Agung Di Made atau Kyayi Agung Dhimade atau I Gusti Agung Maruti adalah bekas patih (agung) raja dari Kerajaan Gelgel yang berkuasa atas Bali. Ia memberontak pada tahun 1661 atas kekuasaan dari Dalem Di Made yang membuat kesatuan politik Bali mulai rusak. I Gusti Agung Maruti selanjutnya menjadi raja hingga tahun 1686 dengan patihnya yakni Gede Pasek Subratha, sebelum kemudian berhasil dikalahkan oleh keturunan Dalem Di Made yang memindahkan pusat kerajaan ke Klungkung dan bergelar I Dewa Agung Jambe. Proses ini menyebabkan pembagian permanen Bali menjadi beberapa kerajaan kecil pada abad ke-17.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Gusti Agung Maruti | |
|---|---|
| Perdana Mentri Kerajaan Gelgel | |
| Masa jabatan 1633–1651 | |
| Penguasa monarki | Dalem Di Made |
Pendahulu Kyai Agung Kedung Pengganti - | |
| Senapati Panglima Kerajaan Gelgel di Lombok | |
| Masa jabatan Kemungkinan awal 1645 – Mei 1645 | |
| Raja (Tidak Sah) Kerajaan Gelgel | |
| Masa jabatan 1651 / 1661 – 31 Oktober 1686 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Bali |
| Meninggal | 31 Oktober 1686 Watu Klotok |
| Anak |
|
| Orang tua |
|
Anglurah Agung atau dikenal juga dengan nama Gusti Agung Di Made atau Kyayi Agung Dhimade atau I Gusti Agung Maruti (meninggal 31 Oktober 1686) adalah bekas patih (agung) raja dari Kerajaan Gelgel yang berkuasa atas Bali. Ia memberontak pada tahun 1661 atas kekuasaan dari Dalem Di Made yang membuat kesatuan politik Bali mulai rusak. I Gusti Agung Maruti selanjutnya menjadi raja hingga tahun 1686 dengan patihnya yakni Gede Pasek Subratha (Ki Dukut Kertha), sebelum kemudian berhasil dikalahkan oleh keturunan Dalem Di Made yang memindahkan pusat kerajaan ke Klungkung dan bergelar I Dewa Agung Jambe. Proses ini menyebabkan pembagian permanen Bali menjadi beberapa kerajaan kecil pada abad ke-17.
Anglurah Agung termasuk dalam garis keturunan para menteri utama di Kerajaan Gelgel, keluarga Agung, yang mengklaim keturunan dari raja-raja kuno Kediri di Jawa. Dia adalah putra Gusti Agung Kalanganyar, dan diadopsi sebagai bayi oleh pamannya Gusti Agung Kedung, yang kemudian, setelah dewasa, digantikannya sebagai menteri. Ia juga dikenal dengan nama Gusti Agung Di Made atau Gusti Agung Maruti. Ia memerintah pada zaman raja Gelgel, Dalem Di Made.
Teks-teks Bali tertentu menunjukkan bahwa ia terlibat dalam perang di Lombok pada 1645; pulau ini menjadi rebutan antara Bali dan Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan.[1] Setelah kematian raja Bali pada tahun 1651, perang internal berkobar di Bali. Akhirnya Anglurah Agung merebut kekuasaan di Gelgel, dan didokumentasikan sebagai penguasa sejak 1665. Menurut sumber-sumber Bali, ia mengambil komando di suatu titik ketika raja tua itu kehilangan cengkeramannya dalam urusan negara dan ditinggalkan oleh para kakeknya; "Kyayi (Anglurah) statemanship Agung telah merebut hati banyak orang dengan suaranya yang manis dan kata-kata yang bagus".[2] Dia secara singkat menjalin kontak dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1665-1667. Historiografi Bali memiliki pandangan negatif tentang Anglurah Agung dan menggambarkannya sebagai perampas yang haus kekuasaan.
Tampaknya, dia tidak dapat mempertahankan otoritas atas seluruh Bali, karena kerajaan kecil lainnya muncul pada saat itu, terutama yang terbesar di antaranya, Kerajaan Buleleng. Pada tahun 1680-an sejumlah bangsawan yang setia pada Kerajaan Gelgel, termasuk Rakriyan Gusti Kubontubuh, Gusti Panji Sakti, Buleleng dan Gusti Jambe Pule dari Badung, menyerang Anglurah Agung. Menurut sumber-sumber Bali dan juga Belanda, ajalnya berakhir pada tahun 1686, ketika ia diserang oleh pasukan I Gusti Hyang Taluh, I Gusti Sukahet, Ki Dukuh Pemedilan dan De Rakriyan Gusti Kubontubuh. Pasukan gabungan ini menyerang Gelgel yang menyebabkan I Gusti Agung Maruti melarikan diri ke arah baratdaya dengan bertemu dengan Kyayi Nyoman Pemedilan perang tanding di Watuklotok. Dalam panasnya pertempuran, kedua kombatan jatuh.[3] Setelah kematiannya, keturunan dari garis Gelgel tua, Dewa Agung Jambe I (memerintah 1686-c. 1722), didirikan sebagai raja terpenting Bali di Klungkung, sebelah utara Gelgel. Namun, kerajaan Klungkung yang baru terbukti tidak mampu menguasai Bali dengan cara yang telah dilakukan pendahulunya di Gelgel.[4] Karena itu Bali tetap terbagi dalam beberapa kerajaan kecil (Karangasem, Kerajaan Buleleng, Kerajaan Badung, dll.). Salah satu dinasti dari Anglurah Agung, yaitu Puri Keramas dan Puri Agung Mengwi, diklaim berasal dari anak Anglurah Agung yang melarikan diri saat kekuasaan Ayahnya diserang koalisi loyalis Dalem dan mereka akan selalu dikenal lewat nama atau wangsa yang menempel pada nama depan mereka yaitu "I Gusti Agung" pada setiap generasinya.[5]
| Didahului oleh: Dewa Cawu |
Raja Bali c. 1665-1686 |
Diteruskan oleh: I Dewa Agung Jambe |