Dalail al-Khairat atau Dalaail al-Khairat wa Sawaariqul Anwar fi Zikri Shalat ala al-Nabi al-Mukhtaar merupakan kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad karya Muhammad al-Jazuli, tokoh sufi Tarekat Syadziliyyah dari Maroko. Dalail secara historis merupakan selawat yang populer di kalangan umat Islam, terutama yang mendalami, mengkaji maupun mengamalkan ritus dan amalan tasawwuf.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Dalail al-Khairat (Arab: دلائل الخیرات; Indonesia: Petunjuk-petunjuk Kebaikan) atau Dalaail al-Khairat wa Sawaariqul Anwar fi Zikri Shalat ala al-Nabi al-Mukhtaar (Arab: دلائل الخيرات وسوارق الانوار في ذكر الصلاة علی النبي المختار; Indonesia: Petunju-petunjuk Kebaikan dan Cahaya Cemerlang dalam Mengingat Sholawat pada Sang Nabi Pilihan) merupakan kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad karya Muhammad al-Jazuli, tokoh sufi Tarekat Syadziliyyah dari Maroko. Dalail secara historis merupakan selawat yang populer di kalangan umat Islam, terutama yang mendalami, mengkaji maupun mengamalkan ritus dan amalan tasawwuf.
Dala'il al-Khayrat ditulis oleh Muhammad bin Sulayman al-Jazuli al-Syadzily di kota Fez sekitar tahun 869.[1] Ia merupakan tokoh dari Tarekat Syadziliyyah yang menulis ragam buku dalam kajian Islam seperti aqidah, fiqih maupun tasawwuf.[2] Penulisan Dala'il merupakan titik tumpu munculnya masyarakat sufi di Maroko, yang kala itu menghadapi ragam tantangan masalah ekonomi dan politik.[2] Dalam menulis Dala'il, Imam Al-Jazuli bermaksud untuk mengejawantahkan "kesadaran Muhammadiyah" yang akan menunjuk jalan ke pada "kesadaran Rabbaniyyah".[3]
Terdapat kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Muwaqqit dan Ḥasanayn ibn Muṣṭafā Ghānim al-Manfalūṭī mengenai penulisan Dala'il al-Khairat. Kisah tersebut berawal dari pengalaman spiritual Imam Al-Jazuli ketika ia terlambat salat karena kesulitan menimba air dari sumur untuk berwudu. Seorang gadis muda yang melihat keadaannya menegurnya, lalu secara ajaib memunculkan air yang melimpah dari sumur setelah menyebut Nama Tuhan. Peristiwa tersebut membuat Imam Al-Jazūlī takjub dan menanyakan sumber kedudukan spiritual gadis itu, yang dijawab berasal dari kebiasaan memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad.[2]
Setelah Imam Al-Jazuli meninggal, kitab Dala'il dibawa oleh murid-muridnya dari Tarekat Syadziliyyah menyebar ke seantero dunia Muslim. Terdapat ratusan manuskrip iluminasi berisi naskah Dala'il yang kini tersimpan di museum-museum, di antaranya terdapat di Afrika Utara[1], Asia Tengah[4], hingga Asia Tenggara.[5] Dala'il dibaca dan diamalkan sepanjang sejarah umat Islam, dan kitab tersebut menjadi salah satu kitab selawat yang populer dibaca, [6] di samping kitab lain seperti Burdah karya Imam Al-Busiri. Tradisi pembacaan Dala'il Khairat juga menyebar di Indonesia, salah satunya melalui bentuk kontes atau festival, seperti yang dilaksanakan di Aceh.[7] Budaya pembacaan dan tirakat berbasis Dala'il[8] juga dilaksanakan oleh masyarakat dan ulama yang mengikuti gerakan Nahdlatul Ulama.[9][10]
Ragam ulama menulis penjelasan (syarah) dari Dala'il Khayrat, seperti oleh Yusuf an-Nabhani dalam karyanya Afdal al-Salawat, atau oleh 'Abd al-Majid al-Sharnubi al-Azhari dalam karyanya Sharh Dala'il Khayrat.[11] Pada era Turki Usmani terdapat kitab penjelasan Dala'il yang ditulis oleh Kara Davud yang populer di antara masyarakat Turki Usmani, berjudul Muwafik-ul Khayrat Linayl-el Barakat Fi Khidmat-as Saadat, selain itu, qadhi Turki Usmani Ebusuud Effendi juga mengkaji kitab Dala'il dan menulis kitab doa-doa berjudul Duanname berdasarkan kitab ini.[12]
Dalāʾil al-Khairāt berisi kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad dalam berbagai redaksi, disertai doa, dzikir, serta penyebutan nama, sifat, dan kemuliaan Nabi. Susunan teksnya dibagi ke dalam beberapa bagian yang disebut dengan hizb yang umumnya diatur sebagai bacaan yang disebut wirid yang dibaca harian selama satu pekan hingga selesai (khatam).[13][14] Selain shalawat utama, terdapat doa pembuka, penutup, serta bacaan pelengkap yang memperkuat dimensi devosi dan kontemplasi dalam tradisi pembacaannya.[13]
Pengamalan kitab ini lazim dilakukan dengan mengikuti pembagian hizb mingguan, meskipun terdapat pula praktik membaca seluruh bagian secara rutin sesuai kemampuan pembaca.[15] Sejumlah tradisi keilmuan menekankan pentingnya memperoleh ijazah dari guru yang memiliki sanad sebagai bentuk transmisi otoritas bacaan dan adab pengamalan.[13] Pembacaan dianjurkan dilakukan dalam keadaan suci, dengan menjaga kekhusyukan, konsistensi wirid, serta menghadirkan niat penghormatan dan kecintaan kepada Nabi.[14]
Sejumlah sumber juga mencatat adanya praktik pendukung dalam pengamalan, seperti memperbanyak tilawah Al-Qur’an, puasa sunnah, serta menjaga adab lahir dan batin guna menunjang kedisiplinan spiritual. Penekanan utama pengamalan bukan pada aspek karamah, melainkan pembiasaan shalawat sebagai sarana pembinaan spiritual, penguatan kecintaan kepada Nabi, serta upaya memperoleh keberkahan melalui tradisi yang diwariskan oleh penyusunnya, Imam Al-Jazuli.[16]