Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dahlan Djambek

Mohammad Dahlan Djambek adalah seorang tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan menteri dalam Kabinet Pemerintahan RevoIusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat, ia ditunjuk menjadi Ketua Sumatra Chokai.

Wikipedia article
Diperbarui 10 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dahlan Djambek
Dahlan Djambek
Bupati Militer Agam
Masa jabatan
1949–1949
PresidenSukarno
Sebelum
Pendahulu
B.A. Murad
Pengganti
Said Rasjad
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1917-08-18)18 Agustus 1917
Fort de Kock, Hindia Belanda (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia)
Meninggal13 September 1961(1961-09-13) (umur 43)
Lariang, Nan Tujuah, Palupuah, Agam, Sumatera Barat
Anak5
Orang tuaMuhammad Jamil Jambek
AlmamaterChristelijk Algemene Middelbare School, Salemba
PekerjaanMiliter
Dikenal karenaPejuang kemerdekaan Indonesia
Karier militer
Pihak
  •  Kekaisaran Jepang (1944–1945)
  •  Indonesia (1945–1961)
Dinas/cabang
  • PETA (1944–1945)
  • TNI Angkatan Darat (1945–1961)
Masa dinas1944–1961
Pangkat Kolonel TNI
SatuanInfanteri
KomandoKomandan Divisi IX Banteng
Pertempuran/perangPerang Dunia II
    • Kampanye Hindia Belanda
Revolusi Nasional Indonesia
    • Agresi Militer Belanda I
    • Agresi Militer Belanda II
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Mohammad Dahlan Djambek (18 Agustus 1917 – 13 September 1961)[1] adalah seorang tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan menteri dalam Kabinet Pemerintahan RevoIusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat, ia ditunjuk menjadi Ketua Sumatra Chokai.[2]

Kehidupan awal dan keluarga

Dahlan Djambek adalah putra dari ulama Minangkabau, Syekh Muhammad Jamil Jambek. Ia tercatat pendidikan menengah di MULO Bandung, Christelijk Algemene Middelbare School (AMS) di Salemba (sekitar tahun 1937),[3] dan pendidikan kemiliteran oleh Jepang (Giyugun). Ia menjadi murid Mohammad Natsir sewaktu di Bandung. Selanjutnya Dahlan terus melanjutkan dalam kemiliteran hingga memasuki masa kemerdekaan.

Dahlan Djambek menikah dengan Awida Tjutpo kelahiran 22 Juli 1929. Awida merupaka anak dari Ipoh yang asli Aceh dan Wingert, tentara Sekutu dari Jerman. Pasangan ini memiliki lima anak, yakni Abdawieza Djambek (lahir 3 Oktober 1951, ayah Adrian Maulana), Mohammad Risda Djambek (lahir 11 Agustus 1953), Zoilwina Djambek (lahir 8 Juli 1956), Rafidah Djambek (ibu Zaskia Adya Mecca), dan Imaniza Djambek (lahir 1 Desember 1959).

Karier militer

Pada 1944, Dahlan Djambek mengikuti latihan calon perwira Giyugun angkatan pertama di Bukit Ambacang, Bukittinggi. Ia dilantik menjadi perwira bersama Ismael Lengah, Sjarif Usman, Dahlan Ibrahim, A. Thalib, Sjofjan Ibrahim, Munir Latif, Kasim Datuk Malilit Alam, Nurmatias, dan Ahmad Husein. Satuan-satuan Giyugun didistribusikan di pesisir Sumatera Barat dari Tiku hingga Mukomuko.[4][5]

Letnan Kolonel Dahlan Djambek sebagai Komandan Brigade Banteng Teritorium Sumatera Tengah menerima bantuan senjata sedikitnya satu ton dari Anwar Sutan Saidi pimpinan Bank Nasional. Dahlan mencatat total sebanyak 3 juta gulden bantuan keuangan dari Bank Nasional sejak 1945 hingga 1950 untuk perjuangan kemerdekaan.[6]

Pada 1946, Dahlan Djambek sebagai Komandan Divisi IX Banteng ditunjuk menjadi Wakil Ketua Dewan Pertahanan Daerah Sumatera Barat mendampingi ketua yang dijabat Residen Sumatera Barat Mohammad Djamil.[7]

Sejak bulan Desember 1950, Letnan Kolonel Dahlan Djambek, Komandan Divisi IX Banteng pertama dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat (Mabad), kemudian diangkat menjadi Atase Militer/Pertahanan RI di London hingga 1956.[8][9]

Kolonel Dahlan Djambek diangkat sebagai Deputi III Keuangan KSAD[10] Abdul Haris Nasution bersama Deputi I Organisasi dan Personalia Ahmad Yani dan Deputi II Operasi dan Logistik Ibnu Sutowo.[11]

Dahlan meletakkan jabatan Deputi III KSAD karena dituduh melakukan korupsi pembelian sepatu militer.[12] Sumber lain menyebutkan ia dipecat sejak 1 Oktober 1957. Ia pergi dari Jakarta dan kembali ke Padang, diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Gerakan Bersama Anti-Komunis (Gebak) yang didirikan di Sumatera Barat pada 4 September 1957. Dahlan mundur karena diserang koran-koran pro-Partai Komunis Indonesia (PKI) selama berbulan-bulan dan rumahnya dilempari granat orang tak dikenal. Bersama Gebak, Dahlan Djambek memperluas gerakan anti-komunis di Sumbar dan menuding PKI sebagai penyebab keretakan Sukarno-Hatta.[13][14]

Setidaknya 200 orang kiri ditahan Gebak di dalam semacam kamp konsentrasi.[15] Rupanya tak hanya PKI, ada juga orang Murba (didirikan oleh Tan Malaka) dan Partai Sosialis Indonesia (didirikan Sutan Sjahrir) yang tidak sepaham dengan PRRI, meski kedua partai itu pun menentang PKI.[16]

Bergabung dengan PRRI

Kolonel Dahlan Djambek, Burhanuddin Harahap, Ahmad Husein, Sjafruddin Prawiranegara, Kolonel Maludin Simbolon, dan Muhammad Sjafei

Dahlan Djambek terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), suatu pemerintahan tandingan yang diproklamirkan oleh beberapa tokoh di Sumatera Barat pada tahun 1958, karena ketidak-puasan pada pemerintahan Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno kala itu.[17] Selain Dahlan, tokoh-tokoh PRRI yang terkenal antara lain adalah Syafruddin Prawiranegara, Soemitro Djojohadikoesoemo, Ahmad Husein, Maludin Simbolon, dan lain-lain. Dalam Kabinet PRRI, Dahlan pernah menjabat Menteri Dalam Negeri serta Menteri Pos dan Telekomunikasi. Ketika itu, ia berpangkat Kolonel dan memimpin Divisi Banteng.[18]

Setelah upaya-upaya himbauan tidak membawa hasil, pemerintah pusat yang mengerahkan tentara dari Jawa, yang akhirnya berhasil meredam pergerakan PRRI. Dahlan Djambek dan tokoh-tokoh PRRI lainnya kemudian bergerilya di hutan-hutan Sumatra bagian tengah. Ketika hendak menyerahkan diri pada tahun 1961, Dahlan tewas tertembak di desa/jorong Lariang, Nan Tujuah, Palupuh, Agam oleh pasukan Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR), suatu pasukan semi militer binaan pemerintah pusat.[19]

Referensi

  1. ↑ Anwar, Rosihan (2006). Sukarno, tentara, PKI: segitiga kekuasaan sebelum prahara politik, 1961-1965, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-461-613-0. Hlm. 67.
  2. ↑ Oktorino, Nino (2013-12-20). Konflik Bersejarah - Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia. Elex Media Komputindo. ISBN 978-602-02-2872-3.
  3. ↑ Simatupang, Tahi Bonar, H. M. Victor Matondang (1989). Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, BPK Gunung Mulia, ISBN 978-979-415-092-4. Hlm. 68.
  4. ↑ Bahar, Dr Brigjen (Purn) Saafroedin. "ETNIK, ELITE DAN INTEGRASI NASIONAL: MINANGKABAU 1945-1984 REPUBLIK INDONESIA 1985-2015". Gre Publishing. Diakses tanggal 27 Mar 2025 – via Google Books.
  5. ↑ Kahin, Audrey R. (27 Mar 2005). "Dari pemberontakan ke integrasi Sumatra Barat dan politik Indonesia, 1926-1998". Yayasan Obor Indonesia. Diakses tanggal 27 Mar 2025 – via Google Books.
  6. ↑ Bahar, Dr Brigjen (Purn) Saafroedin. "ETNIK, ELITE DAN INTEGRASI NASIONAL: MINANGKABAU 1945-1984 REPUBLIK INDONESIA 1985-2015". Gre Publishing. Diakses tanggal 27 Mar 2025 – via Google Books.
  7. ↑ Bahar, Dr Brigjen (Purn) Saafroedin. "ETNIK, ELITE DAN INTEGRASI NASIONAL: MINANGKABAU 1945-1984 REPUBLIK INDONESIA 1985-2015". Gre Publishing. Diakses tanggal 27 Mar 2025 – via Google Books.
  8. ↑ Syamdani (2001). Kontroversi sejarah di Indonesia. Grasindo. ISBN 978-979-695-029-4.
  9. ↑ Zed, Mestika (2001). Ahmad Husein: perlawanan seorang pejuang. Pustaka Sinar Harapan. ISBN 978-979-416-721-2.
  10. ↑ Yani, Amelia (1990). Profil seorang prajurit TNI. Pustaka Sinar Harapan. ISBN 978-979-416-030-5.
  11. ↑ Alfarizi, Salman (2009). Mohammad Hatta: biografi singkat, 1902-1980. Garasi. ISBN 978-979-25-4533-3.
  12. ↑ Bahar, Dr Brigjen (Purn) Saafroedin. ETNIK, ELITE DAN INTEGRASI NASIONAL: MINANGKABAU 1945-1984 REPUBLIK INDONESIA 1985-2015. Gre Publishing.
  13. ↑ "4 September dalam Catatan Sejarah Sumatera Barat". Langgam.id. 2020-09-04. Diakses tanggal 2022-06-25.
  14. ↑ Kahin, Audrey R. (2005). Dari pemberontakan ke integrasi Sumatera Barat dan politik Indonesia, 1926-1998. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-519-5.
  15. ↑ Suroso, S. (2008). Bung Karno, korban Perang Dingin. Hasta Mitra. ISBN 978-979-8659-33-1.
  16. ↑ Salam, Fahri. "Sejarah PRRI: Para Kolonel Pembangkang Menentang Jakarta". tirto.id. Diakses tanggal 2022-06-25.
  17. ↑ Untung Ada Presiden Sjafruddin KOMPAS.com, 10 April 2011. Diakses 13 Mei 2013.
  18. ↑ Akhir Tragis Sang Penyelamat RI[pranala nonaktif permanen] Majalah Suara Hidayatullah, 14 Juli 2010. Diakses 13 Mei 2013.
  19. ↑ Dari pemberontakan ke integrasi: Sumatera Barat dan politik Indonesia, 1926-1998 Audrey R. Kahin. Diakses 13 Mei 2013.

Pranala luar

  • Pemberontakan Orang Minang oetoesan melajoe, 11 Februari 2012. Diakses 13 Mei 2013.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal dan keluarga
  2. Karier militer
  3. Bergabung dengan PRRI
  4. Referensi
  5. Pranala luar

Artikel Terkait

Muhammad Djamil Djambek

Ulama Islam dan tokoh pendidikan dari Indonesia

Adrian Maulana

pemeran laki-laki asal Indonesia

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia

pemerintahan tandingan di Sumatra Tengah (1958–1961)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026