Mohammad Dahlan Djambek adalah seorang tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan menteri dalam Kabinet Pemerintahan RevoIusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat, ia ditunjuk menjadi Ketua Sumatra Chokai.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dahlan Djambek | |
|---|---|
| Bupati Militer Agam | |
| Masa jabatan 1949–1949 | |
| Presiden | Sukarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1917-08-18)18 Agustus 1917 Fort de Kock, Hindia Belanda (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia) |
| Meninggal | 13 September 1961(1961-09-13) (umur 43) Lariang, Nan Tujuah, Palupuah, Agam, Sumatera Barat |
| Anak | 5 |
| Orang tua | Muhammad Jamil Jambek |
| Almamater | Christelijk Algemene Middelbare School, Salemba |
| Pekerjaan | Militer |
| Dikenal karena | Pejuang kemerdekaan Indonesia |
| Karier militer | |
| Pihak |
|
| Dinas/cabang |
|
| Masa dinas | 1944–1961 |
| Pangkat | |
| Satuan | Infanteri |
| Komando | Komandan Divisi IX Banteng |
| Pertempuran/perang | Perang Dunia II |
Mohammad Dahlan Djambek (18 Agustus 1917 – 13 September 1961)[1] adalah seorang tokoh militer, pejuang kemerdekaan, dan menteri dalam Kabinet Pemerintahan RevoIusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat, ia ditunjuk menjadi Ketua Sumatra Chokai.[2]
Dahlan Djambek adalah putra dari ulama Minangkabau, Syekh Muhammad Jamil Jambek. Ia tercatat pendidikan menengah di MULO Bandung, Christelijk Algemene Middelbare School (AMS) di Salemba (sekitar tahun 1937),[3] dan pendidikan kemiliteran oleh Jepang (Giyugun). Ia menjadi murid Mohammad Natsir sewaktu di Bandung. Selanjutnya Dahlan terus melanjutkan dalam kemiliteran hingga memasuki masa kemerdekaan.
Dahlan Djambek menikah dengan Awida Tjutpo kelahiran 22 Juli 1929. Awida merupaka anak dari Ipoh yang asli Aceh dan Wingert, tentara Sekutu dari Jerman. Pasangan ini memiliki lima anak, yakni Abdawieza Djambek (lahir 3 Oktober 1951, ayah Adrian Maulana), Mohammad Risda Djambek (lahir 11 Agustus 1953), Zoilwina Djambek (lahir 8 Juli 1956), Rafidah Djambek (ibu Zaskia Adya Mecca), dan Imaniza Djambek (lahir 1 Desember 1959).
Pada 1944, Dahlan Djambek mengikuti latihan calon perwira Giyugun angkatan pertama di Bukit Ambacang, Bukittinggi. Ia dilantik menjadi perwira bersama Ismael Lengah, Sjarif Usman, Dahlan Ibrahim, A. Thalib, Sjofjan Ibrahim, Munir Latif, Kasim Datuk Malilit Alam, Nurmatias, dan Ahmad Husein. Satuan-satuan Giyugun didistribusikan di pesisir Sumatera Barat dari Tiku hingga Mukomuko.[4][5]
Letnan Kolonel Dahlan Djambek sebagai Komandan Brigade Banteng Teritorium Sumatera Tengah menerima bantuan senjata sedikitnya satu ton dari Anwar Sutan Saidi pimpinan Bank Nasional. Dahlan mencatat total sebanyak 3 juta gulden bantuan keuangan dari Bank Nasional sejak 1945 hingga 1950 untuk perjuangan kemerdekaan.[6]
Pada 1946, Dahlan Djambek sebagai Komandan Divisi IX Banteng ditunjuk menjadi Wakil Ketua Dewan Pertahanan Daerah Sumatera Barat mendampingi ketua yang dijabat Residen Sumatera Barat Mohammad Djamil.[7]
Sejak bulan Desember 1950, Letnan Kolonel Dahlan Djambek, Komandan Divisi IX Banteng pertama dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat (Mabad), kemudian diangkat menjadi Atase Militer/Pertahanan RI di London hingga 1956.[8][9]
Kolonel Dahlan Djambek diangkat sebagai Deputi III Keuangan KSAD[10] Abdul Haris Nasution bersama Deputi I Organisasi dan Personalia Ahmad Yani dan Deputi II Operasi dan Logistik Ibnu Sutowo.[11]
Dahlan meletakkan jabatan Deputi III KSAD karena dituduh melakukan korupsi pembelian sepatu militer.[12] Sumber lain menyebutkan ia dipecat sejak 1 Oktober 1957. Ia pergi dari Jakarta dan kembali ke Padang, diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Gerakan Bersama Anti-Komunis (Gebak) yang didirikan di Sumatera Barat pada 4 September 1957. Dahlan mundur karena diserang koran-koran pro-Partai Komunis Indonesia (PKI) selama berbulan-bulan dan rumahnya dilempari granat orang tak dikenal. Bersama Gebak, Dahlan Djambek memperluas gerakan anti-komunis di Sumbar dan menuding PKI sebagai penyebab keretakan Sukarno-Hatta.[13][14]
Setidaknya 200 orang kiri ditahan Gebak di dalam semacam kamp konsentrasi.[15] Rupanya tak hanya PKI, ada juga orang Murba (didirikan oleh Tan Malaka) dan Partai Sosialis Indonesia (didirikan Sutan Sjahrir) yang tidak sepaham dengan PRRI, meski kedua partai itu pun menentang PKI.[16]

Dahlan Djambek terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), suatu pemerintahan tandingan yang diproklamirkan oleh beberapa tokoh di Sumatera Barat pada tahun 1958, karena ketidak-puasan pada pemerintahan Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno kala itu.[17] Selain Dahlan, tokoh-tokoh PRRI yang terkenal antara lain adalah Syafruddin Prawiranegara, Soemitro Djojohadikoesoemo, Ahmad Husein, Maludin Simbolon, dan lain-lain. Dalam Kabinet PRRI, Dahlan pernah menjabat Menteri Dalam Negeri serta Menteri Pos dan Telekomunikasi. Ketika itu, ia berpangkat Kolonel dan memimpin Divisi Banteng.[18]
Setelah upaya-upaya himbauan tidak membawa hasil, pemerintah pusat yang mengerahkan tentara dari Jawa, yang akhirnya berhasil meredam pergerakan PRRI. Dahlan Djambek dan tokoh-tokoh PRRI lainnya kemudian bergerilya di hutan-hutan Sumatra bagian tengah. Ketika hendak menyerahkan diri pada tahun 1961, Dahlan tewas tertembak di desa/jorong Lariang, Nan Tujuah, Palupuh, Agam oleh pasukan Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR), suatu pasukan semi militer binaan pemerintah pusat.[19]