Daejeon Hana Citizen FC adalah klub sepak bola profesional Korea Selatan yang berbasis di Daejeon. Tim ini berkompetisi di K League 1, kasta tertinggi sepak bola Korea Selatan. Ketika didirikan pada tahun 1997, Daejeon menjadi klub pertama di Korea Selatan yang dimiliki komunitas, bukan perusahaan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Nama lengkap | Daejeon Hana Citizen Football Club 대전 하나 시티즌 축구단 | ||
|---|---|---|---|
| Nama singkat | DHFC | ||
| Berdiri | 12 Maret 1997 (1997-03-12) | ||
| Stadion | Stadion Piala Dunia Daejeon (Kapasitas: 40,535) | ||
| Pemilik | Hana Financial Group Football Club Foundation | ||
| Presiden | |||
| Pelatih kepala | |||
| Liga | K League 1 | ||
| 2025 | K League 1, ke-2 dari 12 | ||
| Situs web | Situs web resmi klub | ||
| |||
Daejeon Hana Citizen FC adalah klub sepak bola profesional Korea Selatan yang berbasis di Daejeon. Tim ini berkompetisi di K League 1, kasta tertinggi sepak bola Korea Selatan. Ketika didirikan pada tahun 1997, Daejeon menjadi klub pertama di Korea Selatan yang dimiliki komunitas, bukan perusahaan.
Pada 24 Desember 2019, Hana Financial Group membeli hak operasional klub dan mengubah nama klub menjadi nama yang digunakan saat ini.
Setelah berdirinya liga sepak bola profesional (Korean Super League, yang direorganisasi menjadi K League pada 1998) di Korea, hanya sedikit pertandingan liga yang digelar di Daejeon, dan pertandingan yang ada pun dimainkan oleh tim tamu. Tidak adanya tim lokal dalam liga membuat warga Daejeon kesulitan merasa terikat dengan klub mana pun. Namun, pada 1996 rencana untuk mendirikan “Daejeon Citizen” – klub komunitas lokal mereka sendiri – diumumkan, yang berarti warga Daejeon akhirnya memiliki tim sendiri untuk didukung di liga. Daejeon menjadi klub pertama yang tidak dimiliki perusahaan besar, dan memainkan laga kandangnya di Stadion Daejeon Hanbat.
Kim Ki-bok ditunjuk sebagai pelatih pertama Daejeon Citizen. Dengan harapan besar, Daejeon melangkah untuk pertama kalinya di K League pada 1997, membuka musim dengan pertandingan melawan Ulsan Hyundai Horang-i. Namun hasil pada musim pertama jauh dari harapan. Meski finis ketujuh, di atas Cheonan Ilhwa Chunma, Anyang LG Cheetahs, dan Bucheon SK, mereka hanya memenangkan tiga dari 18 pertandingan.[1]
Pada 1998, krisis ekonomi besar melanda Korea Selatan.[2] Daejeon Citizen tidak luput dari dampaknya. Dewan utama klub terdiri dari empat kelompok—Kyeryong Construction Industrial, Dong-A Construction, DongYang Department Store, dan Chungcheong Bank. Namun sebagai akibat dari krisis IMF, tiga di antaranya bangkrut, menyisakan Kyeryong sebagai satu-satunya yang bertahan. Hal ini berdampak pada dukungan finansial dan manajemen klub. Musim 1998 menjadi sangat sulit untuk Daejeon dengan hanya meraih tiga kemenangan dan finis di peringkat kesembilan.
Pada musim berikutnya, 1999, Daejeon meningkatkan rekor kemenangan mereka menjadi enam. Namun, perubahan format K League sejak musim sebelumnya membuat total pertandingan bertambah menjadi 27. Tim menelan 18 kekalahan, yang terbanyak di liga, meski tetap meningkat ke posisi kedelapan.[3] Pada musim 2000, Daejeon mempertahankan posisi kedelapan.[4]
Untuk musim 2001, Lee Tae-ho ditunjuk sebagai pelatih, dan langsung membawa trofi pertama Daejeon Citizen dengan menjuarai Piala FA musim itu. Gol penentu di final dicetak oleh Kim Eun-jung, memberikan kemenangan 1–0 atas Pohang Steelers. Berkat kemenangan ini, Daejeon lolos ke Liga Champions AFC untuk pertama kalinya. Keberhasilan ini sedikit menutupi performa buruk klub di K League, di mana mereka finis di posisi terakhir.
Korea Selatan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia FIFA 2002, dan Daejeon menjadi salah satu kota penyelenggara. Kota ini membangun stadion baru untuk turnamen tersebut, dan setelah Piala Dunia berakhir, Daejeon Citizen pindah stadion. Pergantian dari Stadion Daejeon Hanbat ke Stadion Piala Dunia Daejeon membuat klub mendapatkan fasilitas baru dan kapasitas stadion yang jauh lebih besar. Namun performa buruk musim sebelumnya terbawa ke musim 2002, dan klub kembali finis terakhir dengan hanya satu kemenangan. Lee Tae-ho akhirnya mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab. Meski begitu, hasil mereka di Liga Champions AFC lebih baik: mereka finis kedua di grup setelah mengalahkan Shanghai Shenhua dan Kashima Antlers, sementara satu-satunya kekalahan datang dari juara grup sekaligus runner-up turnamen, BEC Tero Sasana.
Perubahan lain di tahun 2002 adalah keputusan Kyeryong—penopang finansial utama yang membantu klub bertahan dari krisis IMF—untuk mundur dari dewan klub. Balai Kota Daejeon kemudian memutuskan untuk memberikan dukungan finansial agar klub tetap bertahan dan dapat berpartisipasi pada musim 2003.
Musim 2003 terbukti menjadi salah satu musim yang paling berkesan bagi para penggemar Daejeon. Choi Yun-kyum, yang sebelumnya melatih Bucheon SK, ditunjuk sebagai pelatih menggantikan Lee Tae-ho yang mengundurkan diri setelah musim 2002 yang buruk. Choi langsung memberi inspirasi dan mengubah dinamika permainan tim dengan menerapkan formasi 4–3–3. Hasilnya adalah kebangkitan yang nyaris ajaib dari musim 2002, dan ia bersama Daejeon Citizen menciptakan slogan “Miracle 2003”. Daejeon Citizen mengakhiri musim di peringkat keenam, pencapaian terbaik mereka di liga, dengan catatan 18 kemenangan dari 44 pertandingan.[5] Peringkat keenam ini juga semakin istimewa karena K League telah diperluas menjadi dua belas tim, dengan Daegu FC dan Gwangju Sangmu Phoenix baru bergabung dalam kompetisi.
Popularitas klub meningkat pesat pada masa ini, hingga kota Daejeon dijuluki “Kota Sepak Bola Spesial” (축구특별시). Jumlah penonton kandang mencapai 19.000, dan rekor hampir 44.000 penonton tercatat sebagai jumlah tertinggi dalam sejarah klub.[6]
Namun, performa tersebut sulit dipertahankan pada tahun 2004. Minimnya daya gedor di lini serang membuat klub mencatatkan rekor ofensif terburuk di K League dengan hanya 18 gol dari 24 pertandingan. Daejeon merosot ke peringkat kesebelas dari tiga belas tim.[7] Meski begitu, mereka berhasil mencapai semifinal Piala FA, sebelum akhirnya dikalahkan oleh Bucheon SK yang menjadi runner-up. Daejeon juga menjadi runner-up di Piala Liga, hanya kalah dari Seongnam Ilhwa Chunma.[7]
Masalah serupa berlanjut pada musim 2005, dengan Daejeon kembali menjadi tim dengan serangan paling lemah di liga, hanya mencetak 19 gol dari 24 pertandingan.[8] Namun pertahanan mereka tampil luar biasa, hanya kebobolan 20 gol—catatan terbaik di liga—sehingga mereka menutup musim reguler di peringkat ketujuh, dengan hanya enam kekalahan.[8] Pada kompetisi Piala FA dan Piala Liga 2005, Daejeon gagal lolos ke perempat final. Meski sempat menunjukkan perkembangan, musim 2006 kembali menjadi musim yang mengecewakan.
Pada musim 2007, Daejeon mencapai pencapaian tak terduga dengan lolos ke babak playoff K League setelah menang 1–0 atas Suwon Samsung Bluewings. Kemenangan tersebut memastikan selisih gol yang lebih baik dibanding FC Seoul, yang memiliki jumlah poin sama.[9] Kemenangan atas Suwon itu sekaligus menjadi kemenangan kelima secara beruntun dan mengantarkan mereka ke playoff kejuaraan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub. Ketika Kim Ho menggantikan Choi Yun-kyum di pertengahan musim, Daejeon berada di peringkat kesebelas. Namun di bawah arahannya, ditambah performa impresif Denilson yang mencetak 14 gol serta gelandang teknis Ko Jong-soo, mereka akhirnya lolos ke playoff. Mereka kemudian dikalahkan Ulsan Hyundai pada fase pertama playoff.[9]
Klub menutup musim 2008 di posisi kedua dari bawah, menandai berakhirnya masa keemasan mereka.
Daejeon melanjutkan tren buruk dengan hasil liga yang biasa-biasa saja hingga buruk pada musim 2009 dan 2010, masing-masing finis di posisi ke-9 dan ke-13. Klub sempat memuncaki klasemen pada 2011 berkat performa apik penyerang Wagner Querino. Namun skandal pengaturan skor K League memberikan dampak besar: beberapa pemain mengundurkan diri atau dilarang bermain, dan pelatih Wang Sun-jae juga mundur. Mantan gelandang tim nasional Korea Selatan, Yoo Sang-chul, kemudian mengambil alih untuk menstabilkan klub dan menghindari posisi juru kunci.[10] Tim tetap kesulitan pada musim-musim berikutnya, finis di peringkat ke-13 pada 2012 dan peringkat terakhir pada 2013, yang berujung pada degradasi.
Daejeon meraih promosi kembali ke kasta tertinggi setelah menjuarai K League Challenge 2014. Namun mereka langsung terdegradasi lagi setelah menutup K League Classic 2015 di posisi terakhir. Klub kemudian menghabiskan beberapa musim berikutnya di K League Challenge/K League 2 sambil gagal melampaui babak 16 besar Piala FA.
Pada akhir 2019, Hana Financial Group resmi mengakuisisi klub, menjadikan Daejeon Citizen bertransformasi dari klub publik menjadi klub korporat dan berganti nama menjadi Daejeon Hana Citizen.[11] Investasi Hana membawa peningkatan performa signifikan: DHFC meraih promosi ke K League 1 setelah finis sebagai runner-up di K League 2 musim 2022. Jumlah penonton melonjak pada musim pertama mereka di kasta tertinggi, mencatatkan rata-rata hampir 13.000[12] penonton pada musim 2023, berkat efek promosi, pencabutan pembatasan COVID-19, dan performa cerah bintang baru seperti Bae Jun-ho, yang kemudian pindah ke Stoke City di Kejuaraan EFL.
Pada K League 1 musim 2024, mantan striker tim nasional Korea Selatan Hwang Sun-hong ditunjuk sebagai pelatih kepala, dan klub berhasil menghindari playoff degradasi. Setelah jendela transfer musim dingin yang sibuk, mereka memulai musim 2025 dengan sangat kuat, memuncaki klasemen dengan 23 poin dari 11 pertandingan, didukung performa impresif penyerang baru Joo Min-kyu.[13] Penyerang muda klub, Yoon Do-young, menandatangani kesepakatan transfer untuk bergabung dengan klub Liga Utama Inggris, Brighton & Hove Albion, pada musim panas dengan biaya rekor klub sebesar 3,8 miliar won.[14]
Sejak K League musim 2002, yang dimulai beberapa minggu setelah berakhirnya Piala Dunia FIFA 2002, Daejeon Hana Citizen memainkan pertandingan kandangnya di Stadion Piala Dunia Daejeon, yang diselesaikan pada 2001 dan dijuluki “Purple Arena”. Stadion ini menjadi tuan rumah dua pertandingan fase grup Piala Dunia serta babak 16 besar antara Korea Selatan dan Italia. Stadion tersebut memiliki kapasitas 40.535 tempat duduk, menjadikannya salah satu stadion terbesar di negara itu.
Empat pertandingan kandang terakhir musim 2014 dimainkan di stadion sebelumnya, Stadion Daejeon Hanbat, sementara Stadion Piala Dunia menjalani perawatan. Klub kembali ke Stadion Piala Dunia pada musim 2015.
Markas latihan tim (pusat pelatihan) adalah Deogam Football Center yang berlokasi di Distrik Daedeok, Kota Daejeon.[15]
Daejeon Lovers (대전 러버스) adalah kelompok suporter terbesar DHFC. Lagu kebangsaan klub berjudul “Putra Daejeon” (대전의 아들). Pendukung Daejeon sangat bangga dengan para pemain berbakat yang berkembang di klub dan kemudian berkarier di luar negeri, seperti putra daerah Daejeon, Hwang In-beom, yang kini bermain untuk Feyenoord dan Bae Jun-ho yang bermain untuk Stoke City.[16]
Dalam pertandingan pembuka K League 1 musim 2025, suporter Daejeon dan Pohang Steelers memberikan penghormatan di Pohang Steel Yard kepada Kim Ha-neul, seorang anggota muda Daejeon Lovers yang baru-baru ini menjadi korban pembunuhan.[17]
DHFC memiliki rivalitas kuat dengan Suwon Samsung Bluewings[18] dan Incheon United.[19]
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan kelayakan FIFA. Pemain bisa saja memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.
|
|
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan kelayakan FIFA. Pemain bisa saja memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.
|
|