Cuci Negeri Soya adalah tradisi membersihkan lingkungan di Negeri Soya, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Tradisi ini telah dimulai sejak masa Kerajaan Soya. Latar belakang pelaksanaannya ialah mitos mengenai naga yang menelan dan memuntahkan para pemuda di Negeri Soya. Pada masa Kerajaan Soya, Cuci Negeri Soya dilaksanakan selama 5 hari berturut-turut oleh para pemuda dan disertai dengan ritual penyambutan arwah leluhur. Setelah penduduk Negeri Soya menganut Kekristenan yang diajarkan oleh orang Portugis dan orang Belanda, tata cara penyelenggaraan Cuci Negeri Soya mulai dikaitkan dengan penyambutan hari raya Kekristenan yaitu Natal, Kunci Tahun, dan Tahun Baru. Waktu pelaksanaannya kemudian dimulai sejak 1 Desember hingga pekan pertama dalam bulan Januari. Pada tanggal 20 Oktober 2015, Pemerintah Indonesia menetapkan tradisi Cuci Negeri Soya sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Cuci Negeri Soya adalah tradisi membersihkan lingkungan di Negeri Soya, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Tradisi ini telah dimulai sejak masa Kerajaan Soya.[1] Latar belakang pelaksanaannya ialah mitos mengenai naga yang menelan dan memuntahkan para pemuda di Negeri Soya.[2][3] Pada masa Kerajaan Soya, Cuci Negeri Soya dilaksanakan selama 5 hari berturut-turut oleh para pemuda dan disertai dengan ritual penyambutan arwah leluhur.[4][4] Setelah penduduk Negeri Soya menganut Kekristenan yang diajarkan oleh orang Portugis dan orang Belanda, tata cara penyelenggaraan Cuci Negeri Soya mulai dikaitkan dengan penyambutan hari raya Kekristenan yaitu Natal, Kunci Tahun, dan Tahun Baru.[5] Waktu pelaksanaannya kemudian dimulai sejak 1 Desember hingga pekan pertama dalam bulan Januari.[6] Pada tanggal 20 Oktober 2015, Pemerintah Indonesia menetapkan tradisi Cuci Negeri Soya sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[1]
Cuci Negeri Soya merupakan tradisi yang telah dimulai sejak masa pemerintahan secara adat oleh Kerajaan Soya di wilayah Kota Ambon. Tradisi ini berlanjut hingga terbentuknya Kota Ambon dan didirikannya Negeri Soya di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.[1] Pelaksanaan Cuci Negeri Soya dilatarbelakangi oleh mitos mengenai naga yang diceritakan oleh orang tua kepada keturunannya secara turun-temurun di Negeri Soya.[2] Dalam mitos tersebut diceritakan tentang para pemuda yang ditelan oleh naga dan setelah lima hari kemudian dikeluarkan secara utuh sebagai muntahan naga.[3]
Pada masa Kerajaan Soya, Cuci Negeri Soya diadakan dalam waktu lima hari berturut-turut. Waktu pelaksanaannya dimulai ketika angin barat berhembus pada bulan Desember. Pelaksanaannya dipimpin oleh Upu Nee bersama dengan sekumpulan pemuda di Upulatu yang ada di Gunung Sirimau. Para pemuda yang ikut serta dalam upacara Cuci Negeri Soya dipilih dari klan-klan yang tergabung dalam Soa Pera.[4] Pada masa tersebut, Cuci Negeri Soya mengadakan penyambutkan arwah leluhur yang merupakan bagian dari keyakinan animisme penduduk Kerajaan Soya ketika itu.[5]
Setelah Kekristenan dianut oleh penduduk di Kerajaan Soya karena adanya penyebaran agama oleh orang Portugis dan orang Belanda, terjadi perubahan atas tata cara penyelenggaraan Cuci Negeri Soya. Pemaknaan terhadap Cuci Negeri Soya mulai dipahami dan dikaitkan dengan kegiatan penyambutan atas hari raya Kekristena yaitu Natal, Kunci Tahun, dan Tahun Baru.[5] Cuci Negeri Soya mulai direncanakan pelaksanaannya melalui rapat yang disebut Saniri Besar yang diadakan setiap tahun pada tanggal 1 Desember. Pembahasan dalam rapat ialah mengenai segala hal yang berkaitan dengan proses upacara Cuci Negeri Soya. Rapat dihadiri oleh Badan Saniri Negeri, para tetua adat dan semua laki-laki yang tela dewasa. Keputusan rapat ditentukan melalui musyawarah. Pada hari Rabu dalam pekan kedua bulan Desember, seluruh rakyat Negeri Sayo diwajibkan untuk membersihkan lingkungan di sekitarnya. Pembersihan dimulai dari rumah, lalu ke gereja dan pada batu-batu berukuran besar. Setelah itu, pembersihan dilanjutkan ke pekuburan dan baileo.[6]
Pada Kamis malam dalam pekan kedua bulan Desember, para pemuda yang berasal dari beberapa rumah tertentu berkumpul di Teung Tunisou (mata rumah Tunisou). Mereka kemudian mendaki ke Gunung Sirimau disertai iringan tifa, gong, dan tiupan tahuri. Pendakian dilakukan dalam kondisi puasa hingga mencapai lokasi yang terdapat tempayang tua yang terletak di puncak gunung.[6]
Pada Jumat sore, para pemuda turun dari Gunung Sirimau untuk memperolah penyambutan di Soa Erang (Teung Rulimena). Mereka dijamu dengan sopi dan sirih pinang. Para pemuda kemudian menuju baileo. Setelah para pemuda tiba di baileo, raja negeri dijemput dari rumahnya dan diantar oleh iringan wanita-wanita yang baru saja kawin. Pengiring ini disebut Mata Ina. Raja negeri memasuki baileo dengan sambutan berupa ucapan selamat datang oleh rombongan pemuda. Masuknya raja negeri ke dalam baileo mengawali bagian terakhir dari upacara Cuci Negeri Soya. Raja dan para rombongannya kemudian membersihkan baileo lalu menuju ke Mata Air Wai Werhalouw dan Mata Air Uniwei. Masyarakat di Negeri Soya yang merupakan pengantin muda kemudian meminum air dari kedua mata air tesebut dengan keyakinan akan memperoleh keturunan secara cepat. Setelah itu, seluruh masyarakat berkumpul di teung Tunisouw untuk menggunakan kain gandong yang telah disediakan sebelumnya. Mereka bersama-sama mengelilingi negeri dari baileo ke rumah raja negeri. Raja dan istrinya diantar dengan cara digendong menggunakan kain gandong.[7] Sehari kemudian, seluruh masyarakat Negeri Soya mulai mengadakan pembersihan diri di kedua mata air tersebut.[8] Pembersihan diri dalam Cuci Negeri Soya berakhir sepenuhnya pada pekan pertama dalam bulan Januari.[6]
Pada tanggal 20 Oktober 2015, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menerbitkan surat keputusan yang menetapkan tradisi Cuci Negeri Soya sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[1]