Crawford Howell Toy, seorang sarjana Ibrani Amerika, lahir di Norfolk, Virginia. Ia lulus dari University of Virginia pada tahun 1856, dan belajar di University of Berlin dari 1866 hingga 1868. Dari 1869 hingga 1879 ia menjadi profesor bahasa Ibrani di Southern Baptist Theological Seminary, dan pada tahun 1880 ia menjadi Hancock Professor of Hebrew and Oriental Languages di Harvard University, di mana hingga 1903 ia juga menjadi pengajar Dexter dalam bidang literatur biblis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Crawford Howell Toy (23 Maret 1836 – 12 Mei 1919),[1] seorang sarjana Ibrani Amerika, lahir di Norfolk, Virginia. Ia lulus dari University of Virginia pada tahun 1856, dan belajar di University of Berlin dari 1866 hingga 1868. Dari 1869 hingga 1879 ia menjadi profesor bahasa Ibrani di Southern Baptist Theological Seminary (pertama di Greenville, Carolina Selatan, dan setelah 1877 di Louisville, Kentucky), dan pada tahun 1880 ia menjadi Hancock Professor of Hebrew and Oriental Languages di Harvard University, di mana hingga 1903 ia juga menjadi pengajar Dexter dalam bidang literatur biblis.[2]
Selama masa jabatannya sebagai profesor di Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky, Crawford Howell Toy menjadi tokoh sentral dalam salah satu kontroversi teologis paling awal dalam sejarah Southern Baptist Convention, yang berdiri pada tahun 1845. Terpengaruh oleh berkembangnya kritik tinggi (higher criticism) di Eropa serta kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-19, Toy mulai menempuh jalur intelektual yang pada akhirnya membuatnya kehilangan posisinya di institusi tersebut.
Toy memandang teori-teori Charles Darwin bukan sebagai ancaman terhadap iman, tetapi sebagai kebenaran yang dinyatakan Allah “dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya.”[3] Pendekatan hermeneutisnya semakin dibentuk oleh metode kritik historis yang dipopulerkan oleh sarjana seperti Julius Wellhausen. Menggunakan kerangka itu, Toy berkesimpulan bahwa beberapa penafsiran Kristologis dalam Perjanjian Baru terhadap teks-teks Perjanjian Lama—misalnya Mazmur 16:10 atau Yesaya 53—merupakan hasil dari metode rabinik yang lazim pada masa para penulis Perjanjian Baru, bukan makna asli dari teks-teks tersebut.
Pandangan-pandangan Toy menimbulkan kekhawatiran serius bagi pimpinan seminari. Presiden pendiri, James P. Boyce, meminta Toy untuk tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Abstract of Principles, dokumen dasar teologis sekolah tersebut, terutama dalam hal doktrin inspirasi Alkitab[4]. Namun, Toy tetap merasa berkewajiban menjawab pertanyaan para mahasiswa secara jujur menurut pemahamannya yang modernis. Ketegangan itu memuncak ketika, pada April 1879, The Sunday School Times menerbitkan artikel yang menguraikan pandangan Toy tentang Yesaya 53:1–12.[5] Publikasi ini memicu kontroversi luas dan akhirnya mendorong Toy untuk mengundurkan diri pada Mei 1879.[6][7]
Tidak lama kemudian, Toy menerima posisi sebagai profesor bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Semitik di Harvard University. Setelah kepindahannya, ia memutuskan hubungan dengan Southern Baptists dan kemudian menjadi penganut Unitarianisme. Dampak pemecatannya terasa jauh melampaui masa itu: dua misionaris muda yang baru ditunjuk oleh Foreign Mission Board of the Southern Baptist Convention juga diberhentikan karena menganut pandangan teologis yang mirip dengan Toy. Kontroversi Toy menjadi salah satu peristiwa yang paling berpengaruh dalam membentuk batas-batas teologi konservatif Southern Baptists pada akhir abad ke-19.