Cisantana adalah desa di kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia. Desa Cisantana terletak di sebelah utara Kecamatan Cigugur serta berada pada ketinggian ±757 m di atas permukaan laut. Desa ini memiliki topologi wilayah berupa lereng dengan luas wilayah 7,54 km². Desa Cisantana merupakan salah satu desa yang terletak di lereng Gunung Ciremai sehingga memiliki pemandangan alam yang indah dan mudah diakses. Desa ini berjarak 8 km dari pusat kota kuningan dan dapat ditempuh melalui jalur darat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Cisantana | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Barat | ||||
| Kabupaten | Kuningan | ||||
| Kecamatan | Cigugur | ||||
| Kode pos | 45552 | ||||
| Kode Kemendagri | 32.08.18.2009 | ||||
| Luas | 7,54 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 6964 orang | ||||
| |||||
Cisantana adalah desa di kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia. Desa Cisantana terletak di sebelah utara Kecamatan Cigugur serta berada pada ketinggian ±757 m di atas permukaan laut.[1] Desa ini memiliki topologi wilayah berupa lereng dengan luas wilayah 7,54 km².[1] Desa Cisantana merupakan salah satu desa yang terletak di lereng Gunung Ciremai sehingga memiliki pemandangan alam yang indah dan mudah diakses. Desa ini berjarak 8 km[1] dari pusat kota kuningan dan dapat ditempuh melalui jalur darat.
Nama Cisantana diambil dari bahasa pewayangan, yakni dari kata "cis" dan "Santana". Cis yang artinya keris, sedangkan Santana artinya menak/elit. Jadi digabungkan menjadi Cisantana adalah keris milik orang elit. Keris melambangkan pemberani, dan elit menunjukkan orang-orang Cisantana ini berwibawa dan berpendidikan.
Sejarah Desa Cisantana dimulai dari masa sebelum penjajahan yang diprakarsai oleh tiga orang tokoh sepuh yang diutus oleh Syekh Syarif Hidayatullah. Ketiga tokoh tersebut yaitu Mbah Semut, Mbah Sanggem, Mbah Taluk yang ketiganya dipimpin oleh Raden Arya kemuning. Pada mulanya mereka mendirikan padepokan yang berada di kawasan lereng Gunung Ciremai yang sekarang dinamakan Cigowong. Bukti keberadaan tiga tokoh tersebut adalah adanya makam. Dua makam berada di Depok dan yang satunya berada di dekat kantor Desa Cisantana.
Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Cisantana adalah peternak dan petani, sementara sisanya adalah pedagang, tukang kayu, perajin, guru, karyawan swasta, dan pensiunan. Hal ini disebabkan oleh wilayah Cisantana yang sebagian besarnya adalah areal persawahan, terdiri dari sawah dan ladang sekitar 519,98 Ha untuk pertanian, baik itu pertanian padi maupun sayuran.
Desa Cisantana mempunyai potensi yang sangat baik dari segi sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, dan pembangunan fisik/lingkungan. Desa Cisantana mempunyai letak yang sangat strategis berada di lokasi pegunungan didukung dengan struktur tanah yang subur sehingga sangat cocok untuk pertanian dan peternakan. Untuk meningkatkan perekonomian, adanya pusat perekonomian di lokasi ibu kota kecamatan sebagai pusat pemerintahan sehingga sangat mempunyai harapan besar menuju peningkatan ekonomi. Adanya pusat pendidikan yang telah tersedia hingga tingkat Perguruan Tinggi membuat masyarakat mempunyai keinginan besar meningkatkan sumber daya manusia dan pusat sarana informasi di Kecamatan Cigugur akan berpengaruh besar terhadap peningkatan tingkat kehidupan masyarakat. Potensi-potensi tersebut belum terwujud secara maksimal, oleh karena itu melalui PJM3 Pronangkis yang memuat sebagian besar kebutuhan masyarakat Desa Cisantana diharapkan potensi di atas dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga tercapai masyarakat yang sejahtera.
Batas-batas wilayah Desa Cisantana adalah sebagai berikut:
Desa Cisantana memiliki 6 dusun, yaitu:
Pada tahun 2021, penduduk Desa Cisantana berjumlah 6964 orang,[1] terdiri dari:

Kondisi geografis Desa Cisantana yang terletak di lereng Gunung Ciremai memiliki banyak potensi untuk wisata alam sehingga menjadikan desa tersebut sebagai desa wisata. Terdapat beberapa objek wisata yang terkenal di Desa Cisantana, yaitu: