Gua Maria Fatima Sawer Rahmat adalah sebuah gua Maria yang terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gua Maria | |
|---|---|
| Tempat | |
Koordinat: 6°57′8.36838″S 108°26′53.63207″E / 6.9523245500°S 108.4482311306°E / -6.9523245500; 108.4482311306 | |
| Negara berdaulat | Indonesia |
| Provinsi di Indonesia | Jawa Barat |
| Kabupaten | Kuningan |
| Kecamatan | Cigugur |
| Desa | Cisantana |
| Negara | Indonesia |
| Geografi | |
| Bagian dari | Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana |
| Keuskupan | Keuskupan Bandung |
| Sejarah | |
| Pembuatan | 21 Juli 1990 |
Gua Maria Fatima Sawer Rahmat (ditulis juga Gua Maria Sawer Rahmat) adalah sebuah gua Maria yang terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.
Gua Maria ini dibangun sebagai peringatan 25 tahun Gereja Katolik Cigugur. Seiring dengan pemekaran Cisantana sebagai paroki, Gua Maria ini kini merupakan bagian dari Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana.
Nama gua Maria ini merujuk pada penampakan Bunda Maria di Fátima, Portugal, yang menampakkan diri kepada tiga anak gembala pada tahun 1917.[1] Sementara itu, kata "sawer" berasal dari Curug Sawer, sebuah air terjun kecil di sekitar lokasi gua yang airnya jatuh menyebar seperti "disawerkan". Kata "rahmat" menandai harapan umat akan turunnya berkat Tuhan melalui perantaraan Maria.[1]
Gua Maria ini terletak di sebuah wilayah pertanian di lereng timur Gunung Ciremai, dengan tinggi sekitar 700 meter di atas permukaan laut.[2] Umat Katolik yang tinggal di daerah ini umumnya hidup dari bertani dan beternak sapi perah.[2] Lokasi gua berada di Bukit Totombok, sebuah bukit di sebelah barat desa yang dahulu dikenal sebagai lahan tandus dan sering membuat penggarapnya merugi (nombok).[2][3]
Awalnya masyarakat Cisantana pernah membangun gua pertama pada tahun 1967 di Hulu Santana, sebuah mata air di Ciputri, untuk memperingati 25 tahun berdirinya Gereja Katolik Cigugur. Pendirian tersebut juga sebagai tonggak sejarah masuknya ribuan umat yang sebelumnya merupakan pengikut Agama Djawa Sunda (ADS), dan kini bergabung dalam Gereja Katolik. Namun gua pertama ini tidak terawat dan akhirnya rusak, bahkan patung Maria sempat dirusak dan kemudian patung penggantinya dicuri.[3]
Pada tahun 1965, Pastor Mathias Kuppens, OSC mengunjungi sebuah petilasan Pangeran Madrais dan kemudian dibawa warga ke Bukit Totombok yang lebih luas dan strategis untuk rencana pembangunan gua baru.[3] Di bukit itu ia menancapkan tanda di dua titik, masing-masing sebagai lokasi salib besar, dan sebagai lokasi gua yang kelak akan dibangun. Salib besar tersebut dimaksudkan sebagai lambang menancap dan mengakarnya iman di tatar Sunda.[3] Pembangunan gua ini disetujui oleh Uskup Bandung Alexander Djajasiswaja.[4]

Gagasan untuk membangun gua yang baru berkembang kembali pada tahun 1988 ketika kawasan bukit tersebut masih berupa hutan.[4] Pembangunan diawali dengan ibadat pembukaan yang dipimpin Pastor Yohanes Cantius Abukasman, OSC di lokasi yang kini disebut Taman Getsmani.[3] Dalam ibadat ini dipasang tanda untuk setiap pemberhentian Jalan Salib, yang jumlahnya empat belas.[3] Perhentian kedua belas berada di titik tertinggi bukit, tempat salib besar ditancapkan sebagai simbol wafatnya Yesus di kayu salib.[2][3]
Pada 21 Juli 1990, Gua Maria Fatimah Sawer Rahmat diresmikan dan diberkati oleh Kardinal Jozef Tomko, seorang Kardinal asal Slowakia yang menjadi utusan Vatikan yang mewakili Paus Yohanes Paulus II, dengan didampingi Pastor Kuppens.[2][3][4] Upacara peresmian berlangsung meriah, dengan dihadiri ribuan umat, dan diiringi upacara adat Sunda.[3]
Adapun kata-kata yang tertulis dalam prasasti peresmian adalah sebagai berikut.

| Bahasa Latin | Bahasa Indonesia (terjemahan bebas) | |
|---|---|---|
ANNO VICESIMO QUINTO |
Pada tahun kedua puluh lima |
Perjalanan menuju puncak Bukit Totombok membuat pengunjung harus menaiki sekitar 464 anak tangga.[5] Jalan yang menanjak dan berliku dimaknai sebagai refleksi atas perjalanan Yesus memanggul salib menuju Golgota.[5]
Terdapat tiga buah kapel di kompleks Gua Maria ini, yakni Kapel Perutusan (di dekat Taman Getsemani), Kapel Hati Kudus Yesus, dan Kapel Kebangkitan. Di dalam Kapel Perutusan, terdapat salib "tanpa tangan", di mana tertulis "Kamulah tanganku".