Achmad Chozin Chumaidy adalah seorang politikus Indonesia dari Partai Persatuan Pembangunan. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Lebanon pada 2014 sampai 2018, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia selama empat periode dari tahun 1992 hingga 2009 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat pada 1977 hingga 1987.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Chozin Chumaidy | |
|---|---|
![]() | |
| Duta Besar Indonesia untuk Lebanon | |
| Masa jabatan 18 Desember 2014 – 31 Desember 2018 | |
| Presiden | Joko Widodo |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 1 Oktober 1992 – 1 Oktober 2009 | |
| Daerah pemilihan | Jawa Barat (1992–2004) Jawa Barat IX (2004–2009) |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat | |
| Masa jabatan 1977–1987 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Achmad Chozin Chumaidy (1948-10-08)8 Oktober 1948 Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia |
| Meninggal | 23 April 2025(2025-04-23) (umur 76) Bandung, Jawa Barat, Indonesia |
| Partai politik | Partai Persatuan Pembangunan |
| Suami/istri | Fatmah |
| Anak | 4 |
| Pendidikan | Pondok Pesantren Tebuireng |
| Almamater | IAIN Sunan Gunung Djati (Drs.) |
Achmad Chozin Chumaidy (8 Oktober 1948 – 23 April 2025) adalah seorang politikus Indonesia dari Partai Persatuan Pembangunan. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Lebanon pada 2014 sampai 2018, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia selama empat periode dari tahun 1992 hingga 2009 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat pada 1977 hingga 1987.
Chozin lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada 8 Oktober 1948. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDI Wonopringgo Pekalongan pada 1961. Ia lalu melanjutkan studinya ke Jombang, Jawa Timur tepatnya di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia lulus pendidikan jenjang tsanawiyah pada 1964 dan aliyah pada 1968 di sana.[1]
Chozin kemudian berkuliah di Jurusan Muamalah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung dan lulus pada tahun 1975.[2] Selama kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pernah menjadi Sekretaris Umum (1970–1972) serta Ketua Umum (1973–1975) PMII Cabang Bandung.[2][3] Di samping itu, ia juga adalah Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syariah di kampusnya pada 1970–1971.[3]
Ia mengawali kariernya dengan bekerja sebagai dosen di bekas kampusnya terdahulu, ia mengajar di Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati pasca ia lulus pada 1975 hingga 1981.[2]
Selain itu, ia juga seorang aktivis di berbagai organisasi keagamaan dan kepemudaan, di antaranya adalah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Nahdlatul Ulama (NU), GP Ansor, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berbagai macam posisi penting pernah ia pegang di sana seperti Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah KNPI Kotamadya Bandung pada 1974–1976, Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah NU Jawa Barat pada 1975–1984, Ketua Umum GP Ansor Jawa Barat pada 1985–1990 dan anggota Dewan Pimpinan MUI Jawa Barat pada 1989–1994.[1]
Pada pemilu 1977, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat (DPRD Jabar) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).[3] Ia kembali terpilih pada pemilu berikutnya, dan menyelesaikan masa jabatan keduanya hingga 1987.
Setelah tidak menjabat sebagai anggota DPRD, ia kembali aktif mengajar. Ia menjadi pengajar di Akademi Teknologi Pembangunan Bandung (1988–1992) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran (1989–1992).[2]
Pada pemilu 1992, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dari PPP mewakili daerah pemilihan Jawa Barat. Pada periode ini ia ditempatkan di Komisi II dan Badan Musyawarah DPR-RI.[4]
Ia terpilih kembali untuk tiga periode berikutnya (1997–1999, 1999–2004, dan 2004–2009). Pada periode ketiganya, ia tercatat bertugas juga di Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atau Panitia Ad Hoc II dan menjadi Wakil Ketua Fraksi PPP DPR-RI.[5]
Pada periode 2004–2009, terdapat perubahan daerah pemilihan, ia pun mewakili daerah pemilihan Jawa Barat IX setelah memperoleh 30.980 suara dalam pemilu.[6]
Selama di DPRD dan DPR-RI, ia juga menjadi pengurus PPP baik di tingkat daerah dan nasional, di antaranya ia pernah menjabat Wakil Ketua PPP Jawa Barat (1985–1990, 1995–1998), Sekretaris PPP Jawa Barat (1990–1995), Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP (1998–2003), Wakil Sekretaris Umum DPP PPP (2003–2007),[7] dan Wakil Ketua Umum DPP PPP (2007–2011).[8]
Pada 18 Desember 2014, Presiden Joko Widodo melantik Chozin sebagai Duta Besar Indonesia untuk Lebanon.[9] Ia sempat terhambat menjalankan tugasnya tersebut karena masih kosongnya kursi Presiden Lebanon sehingga ia tidak dapat menyerahkan surat kepercayaan. Akan tetapi, setelah bertemu Menteri Luar Negeri Lebanon, Gebran Bassil pada 30 Maret 2015, ia dapat menjalankan tugas diplomatiknya dengan status designate.[10] Ia mengakhiri tugasnya di sana pada 31 Desember 2018.[11]
Setelah tidak lagi menjabat duta besar, ia kembali aktif di NU. Ia masuk ke dalam kepengurusan daerah dan pusat NU sebagai mustasyar di Pengurus Wilayah NU Jawa Barat periode 2021–2026 dan Pengurus Besar NU untuk periode 2022–2027.[12][13]
Chozin menikah dengan Fatmah binti Mohammad, pasangan ini memiliki empat orang anak yang terdiri dari dua orang putra dan dua orang putri. Keempatnya adalah, Iin Churin'in, Ade M. Sholihuddin, Faizah Farah dam Maulana Malik Ibrahim.[2]
Ia meninggal dunia pada 23 April 2025 di Rumah Sakit Mayapada, Bandung pada usia 76 tahun.[14] Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Gumuruh, Bandung.
| Jabatan diplomatik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Dimas Samodra Rum |
Duta Besar Indonesia untuk Lebanon 2014–2018 |
Diteruskan oleh: Hajriyanto Y. Thohari |