Cheng Yen atau Shih Cheng Yen (Hanzi: 證嚴法師, 釋證嚴; Pinyin: Zhèngyán Fǎshī; Wade–Giles: Chêng4 Yen2 Fa3-shih1; Pe̍h-ōe-jī: Chèng-giâm Hoat-su; lahir Chin-Yun Wong; lahir 4 Mei 1937) adalah seorang biarawati Buddha (bhikkhuni), guru, dan filantropis asal Taiwan. Ia adalah pendiri Yayasan Bantuan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, yang umumnya dikenal sebagai Tzu Chi, sebuah organisasi kemanusiaan Buddha yang berbasis di Taiwan. Di Barat, ia kadang-kadang disebut sebagai "Bunda Teresa dari Asia".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Master Cheng Yen | |
|---|---|
證嚴 | |
Cheng Yen pada tahun 2016 | |
| Gelar | Master |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | Chin-Yun Wong 4 Mei 1937 |
| Nama lain | Huizhang |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Buddhisme |
| Posisi senior | |
| Guru | Yin Shun |
| Berbasis di | Tzu Chi |
| Bagian dari seri mengenai |
| Buddhisme Han 汉传佛教 / 漢傳佛教 |
|---|
Cheng Yen atau Shih Cheng Yen (Hanzi: 證嚴法師, 釋證嚴; Pinyin: Zhèngyán Fǎshī; Wade–Giles: Chêng4 Yen2 Fa3-shih1; Pe̍h-ōe-jī: Chèng-giâm Hoat-su;[a] lahir Chin-Yun Wong; lahir 4 Mei 1937)[1][2] adalah seorang biarawati Buddha (bhikkhuni), guru, dan filantropis asal Taiwan. Ia adalah pendiri Yayasan Bantuan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi,[3] yang umumnya dikenal sebagai Tzu Chi, sebuah organisasi kemanusiaan Buddha yang berbasis di Taiwan. Di Barat, ia kadang-kadang disebut sebagai "Bunda Teresa dari Asia".[4][5][6][7][8][9][10]
Cheng Yen terlahir dengan nama Wang Jinyun (王錦雲) tahun 1937 di desa Chingshui, Kabupaten Taichung, Taiwan. Pamannya tidak memiliki anak, sehingga Cheng Yen diberikan untuk dibesarkan oleh paman dan bibinya. Dia mengalami langsung penderitaan selama Perang Dunia II karena dia dibesarkan di Taiwan yang dikuasai oleh Jepang. Dia menyaksikan langsung efek dari perang dan bahkan mengalami peristiwa pengeboman di Taiwan. Pengalaman inilah yang mengajarkan dia mengenai konsep ketidak-kekalan di dunia. Pada awal 1945, ia harus mengalami pengalaman rasa sakit dan ketidakberdayaan di umurnya yang kedelapan ketika ia harus menjaga kakaknya yang sedang sakit di rumah sakit selama delapan bulan. Di umur 23, ayahnya meninggal tiba-tiba karena pendarahan di otak yang disebabkan stroke. Ketika sedang mencari lokasi untuk pemakaman ayahnya, ia pertama kali bertemu dengan Dharma Buddha. Cheng Yen sendiri juga menulis buku berjudul "108 Kata Perenungan".