Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Ceki

Ceki adalah sejenis kartu permainan dari masyarakat Tionghoa dan Peranakan yang dimainkan di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Ceki merupakan turunan kartu permainan Tionghoa bergambar uang serta tokoh novel Batas Air yang gambar-gambarnya mengalami penyederhanaan dan abstraksi. Kartu ceki dapat digunakan untuk berbagai permainan, dan pada masa kolonial umum dimainkan oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai sarana rekreasi, pergaulan, dan juga perjudian. Memasuki abad ke-21, peminat ceki mengalami penurunan, tetapi kartu ini masih lazim dimainkan di sejumlah daerah seperti ranah Minang dan Bali.

permainan kartu tradisional di Asia
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ceki
Halaman yang dilindungi semi
Penyuntingan Artikel oleh pengguna baru atau anonim untuk saat ini tidak diizinkan.
Lihat kebijakan pelindungan dan log pelindungan untuk informasi selengkapnya. Jika Anda tidak dapat menyunting Artikel ini dan Anda ingin melakukannya, Anda dapat memohon permintaan penyuntingan, diskusikan perubahan yang ingin dilakukan di halaman pembicaraan, memohon untuk melepaskan pelindungan, masuk, atau buatlah sebuah akun.
Ceki
Sesi permainan di Bali, tahun 2023
Genre
  • Olahraga pikiran
  • Game berbasis kartu
  • Game strategi abstrak
Jumlah pemain2 atau lebih
Waktu persiapan1–5 menit
Waktu permainanBergantung pada variasi dan aturan
Kesempatan acakSedang
Keterampilan yang dibutuhkanTaktik, observasi, daya ingat, strategi adaptif

Ceki (pelafalan dalam bahasa Indonesia: [tʃəki]) adalah sejenis kartu permainan dari masyarakat Tionghoa dan Peranakan yang dimainkan di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Ceki merupakan turunan kartu permainan Tionghoa [en] bergambar uang serta tokoh novel Batas Air (水滸傳 Shuǐhǔ zhuàn) yang gambar-gambarnya mengalami penyederhanaan dan abstraksi. Kartu ceki dapat digunakan untuk berbagai permainan, dan pada masa kolonial umum dimainkan oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai sarana rekreasi, pergaulan, dan juga perjudian. Memasuki abad ke-21, peminat ceki mengalami penurunan, tetapi kartu ini masih lazim dimainkan di sejumlah daerah seperti ranah Minang dan Bali.

Nama

Beberapa sumber menduga bahwa kata ceki (Jawi چکي, aksara Jawa ꦕꦼꦏꦶ, aksara Bali ᬘᭂᬓᬶ) berasal dari istilah Bahasa Hokkien seperti 一枝 chít ki “satu kartu” atau 二枝 jī ki "dua kartu". Istilah ini mungkin merujuk pada jenis permainan sebelum bergeser makna menjadi kartunya sendiri.[1][2] Di beberapa tempat, ceki masih dirujuk sebagai jenis permainan sementara kartunya dikenal dengan nama lain seperti daun ceki, ijo[a]/iyu/yu,[3] kartu Cina, kertu cilik,[4] koa/kowa,[5][6][7] dan sikiah.[8] KBBI dan Kamus Bahasa Melayu Malaysia sama-sama menggunakan ejaan ceki untuk Bahasa Indonesia dan Melayu baku,[9][10] tetapi terdapat banyak variasi ejaan dalam rujukan eksiting, termasuk cuki,[11] cekian,[12] chĕki,[13] cherki, chaqui,[2] tjeki/tjĕki,[14] dan tyekén.[15]

Penggunaan populer

Sebuah sesi permainan (mungkin Pèi) di Yogyakarta, sekitar tahun 1880. Foto oleh Kassian Céphas
Iklan kartu ceki cap "Doea Matjan" di koran Sin Po, edisi 20 Maret 1922.

Ceki pada awalnya hanya dimainkan oleh masyarakat Tionghoa dan Peranakan. Berkat jalur dagang dan kegiatan komersial masyarakat Tionghoa-Peranakan, permainan ceki kemudian menyebar ke masyarakat lokal di berbagai pelabuhan Nusantara yang kembali menyebarkannya ke berbagai pelosok. Ceki juga pernah dimainkan di Suriname, dibawa oleh tenaga kerja Jawa yang didatangkan pemerintahan kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.[15] Ceki digunakan sebagai sarana rekreasi dan pergaulan; sesi-sesi tertentu dapat berjalan semalam suntuk karena berbarengan dengan obrolan panjang antar pemain. Permainan ceki juga kerap dibarengi dengan taruhan kecil, yang tidak jarang bergeser menjadi perjudian dengan taruhan besar.[16][17] Asal-usul gambar abstrak pada ceki tidak selalu dipahami oleh khalayak umum dan ini mengantarkan pada sejumlah interpretasi dan penggunaan mistis ceki sebagai kartu peramal nasib (mirip dengan Tarot).[17]

Di Malaysia dan Singapura masa kolonial, ceki sempat menjadi permainan segala kalangan, dari jelata hingga bangsawan. Sebagai contoh, catatan keuangan Sultan Abdul Hamid Halim dari Kedah (1864–1943) menunjukkan bahwa sang sultan senang berjudi menggunakan ceki.[18] Pemain ceki di Malaysia-Singapura cenderung banyak menggunakan istilah Hokkien, dan gambar kartu yang digunakan lebih mendekati kartu Tionghoa asli dibanding kartu-kartu yang digunakan di Indonesia. Seiring waktu hanya wanita yang memainkan ceki, terutama dari kalangan peranakan, tapi dengan peminat yang terus berkurang hingga hampir punah di masa modern. Chia (1980) melaporkan bahwa memasuki 1980-an ceki hanya bisa dibeli di Malaka.[19]

Sama seperti di Malaysia dan Singapura, ceki juga sempat menjadi permainan segala kalangan di Indonesia masa kolonial. Di Minang sebagai contoh, permainan ceki merupakan sarana pergaulan antara pegawai negeri ambtenaar dengan tokoh adat dan rakyat.[20] Foto-foto lama (lihat Raap, 2013) dan tulisan seperti Siem (1941) menunjukkan bahwa pada abad ke-20 M, kartu ceki dapat ditemukan di berbagai kota besar dan daerah-daerah di antaranya, seperti Padang, Lembang, Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, Badung, Klungkung, Singaraja, Lombok, Banjarmasin, Manado, Ambon, dan Timor. Pada awal abad ke-20, perusahaan kartu besar seperti di Turnhout, Belgia mengekspor ceki ke Sumatra, sementara perusahaan lokal seperti Handelsvereeniging Harmsen Verweij & Dunlop N.V. memiliki percetakan ceki yang beroperasi di Padang, Jawa, dan Makassar. Hal ini mengindikasikan mangsa pasar yang cukup besar di masa itu.[21] Memasuki abad ke-21, hanya beberapa daerah yang masih memainkan ceki. Di Jawa misal, ceki sudah jarang ditemukan. Sementara itu di ranah Minang serta Bali, ceki masih cukup banyak diminati dan kartunya relatif mudah didapat di berbagai toko.[22][23] Di Bali bahkan, terdapat pertemuan dan lomba ceki yang diselenggarakan berkala oleh berbagai banjar dengan dukungan pemerintahan daerah Bali. Pertemuan-pertemuan ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi yang berupaya untuk menghapus kesan perjudian ceki dengan menunjukkan aspek positif seperti pengasahan strategi dan pemupuk pergaulan.[24][25]

Susunan dek

Sebuah dek ceki (disebut ꦏꦼꦥꦭ kepala di Jawa) terdiri dari 3 kelompok simbol, masing-masing terdiri dari kartu bernilai 1-9 dengan 3 kartu tambahan, sehingga total terdapat 30 jenis kartu. Tiap kartu memiliki kembar, sehingga total terdapat 60 kartu dalam satu dek.[26][27][b] Ke-30 jenis kartu ceki dapat dilihat pada tabel berikut:

Simbol/Nilai Khusus 1/一 2/二 3/三 4/四 5/五 6/六 7/七 8/八 9/九
Koin
Tali
Muka

Nilai

Pada ceki, hanya kartu bersimbol muka yang nilainya ditulis secara eksplisit menggunakan angka Tionghoa. Indikasi nilai yang konsisten diterapkan pada semua kartu adalah bentuk pigura; kartu dengan nilai yang sama memiliki pigura yang sama. Sebagian besar permainan ceki berkutat pada pencarian pasangan pigura yang dapat dilakukan secara visual, sehingga pemain tidak selalu harus mengetahui nilai angka tiap pigura. Tiga kartu khusus memiliki nilai yang bergantung pada permainan.[28][26][29][30]

Simbol

Ketiga simbol ceki berasal satuan koin kepeng Tionghoa yang berkerabat dekat dengan simbol mahyong, namun ketiga simbol ceki tidak memiliki sebutan konsisten dan kerap dijuluki dengan berbagai nama di seantero Nusantara.[14][31] Hal ini berkaitan dengan gambar abstrak ceki yang rentan diinterpretasi ulang oleh pengamat tanpa pengetahuan konvensi desain kartu Tionghoa. Untuk konsistensi, artikel ini menggunakan istilah koin, tali, dan muka.

Simbol Contoh pada kartu 8 Benda rujukan Keterangan Nama lain
Koin
Satuan koin kepeng tong (Hokkien 筒 'tong'), piah (Hokkien 餅 ‘bulatan’), hitam, batik
Tali
Seratusan koin kepeng yang diikat dengan seutas tali sok (Hokkien 索 ‘tali’), tiau (Hokkien 條 satuan untuk benda tipis/memanjang), lintrik (Jawa ꦭꦶꦤ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ ‘barisan’), manik
Muka
Pada sistem dasarnya di Tiongkok, kartu ini merujuk pada 10,000 an koin kepeng yang diwakili oleh karakter Hanzi 萬code: zh is deprecated /万code: zh is deprecated .[c] Namun bagi pemain ceki yang tidak mengenal Hanzi, kartu ini jadi lebih dikenal lewat figur muka manusia yang merupakan abstraksi tokoh novel Batas Air.[d] ban (Hokkien 万 '10,000an'), wong (Jawa ꦮꦺꦴꦁ 'orang'), cina

Permainan

Kartu ceki dapat digunakan untuk berbagai jenis permainan.[33] Namun permainan paling mendasar, dikenal juga dengan nama ceki atau koa, tampaknya adalah permainan ambil-buang yang sedikit mirip dengan mahyong tetapi dengan aturan lebih sederhana. Bentuk dasar dari permainan tersebut dapat dipahami sebagai berikut:[34][28][26]

Skema umum permainan ceki mendasar.
  • Permainan membutuhkan 2-3 dek ceki (120-180 kartu) dan dapat dimainkan 2-6 pemain. Tiap pemain dibagikan 8 atau 11 kartu di awal dan sisa kartu diletakkan menghadap bawah di tengah. Pemain tidak boleh melihat kartu milik pemain lain.
  • Dari kartu yang sudah dibagikan, pemain perlu mengumpulkan kartu-kartunya ke dalam kelompok triplet. Triplet sah terdiri dari 3 kartu yang jenis pigura dan gambar dalamnya sama persis. Pada beberapa variasi permainan, hanya piguranya yang diharuskan sama sementara salah satu atau ketiga gambar dalam triplet boleh berbeda. Poin dapat dihitung berdasarkan nilai jenis pigura, atau cara lain yang telah disetujui para pemain.
  • Apabila kartu milik pemain sama sekali tidak memiliki triplet sah, pemain pertama mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu baru dan membuang 1 kartu miliknya ke tumpukan buangan sebelum melanjutkan ke pemain kedua. Pemain perlu berstrategi dalam memilih kartu yang sebaiknya disimpan dan kartu yang sebaiknya dibuang.
  • Pemain kedua mempunyai pilihan untuk mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu baru atau 1 kartu paling atas dari tumpukan buangan. Pemain kedua kemudian membuang 1 kartu miliknya.
  • Proses ambil-buang dilanjutkan oleh pemain-pemain berikutnya hingga para pemain berhasil menyusun triplet sah. Tergantung dari gaya permainan, triplet sah dapat dikeluarkan dari tangan dan ditunjukkan pada pemain lain di tengah permainan, atau disembunyikan hingga detik terakhir.
  • Pemain yang kartunya bersisa 2 di tangan mengumumkan "ceki!" untuk memberi tahu pemain lain bahwa ia hanya perlu menunggu 1 kartu lagi untuk melengkapi triplet terakhirnya.
  • Pemain yang pertama berhasil menghabiskan kartunya dinyatakan sebagai pemenang dan permainan selesai. Dalam beberapa variasi permainan, poin seluruh pemain dihitung terlebih dahulu. Terdapat kemungkinan pemain yang kartunya pertama habis tidak langsung menang karena triplet susunannya memiliki poin nilai rendah.

Berbagai daerah umum memiliki sedikit modifikasi pada salah satu atau beberapa aspek dari aturan dasar di atas, misal syarat triplet sah, atau metode perhitungan poin. Ini menghasilkan variasi permainan seperti balik satu,[35] balik lima belas,[36] chot,[37] gonggong,[38] dan tantanan.[39]

Permainan lain

Sejumlah permainan yang tercatat dimainkan menggunakan kartu ceki meliputi:

  • Colek Tiga, permainan Malaysia yang dimainkan oleh 2 hingga 3 orang.[40]
  • Pak Tui, permainan Malaysia/Singapura yang menyerupai soliter.[41]
  • Pèi, permainan Jawa untuk 3 orang yang bertujuan untuk mengumpulkan kombinasi kartu tertentu.[42]
  • Thothot, permainan Jawa untuk 3 orang yang bertujuan mengumpulkan pasangan kartu identik. [43]

Kesenian

Sebagai suatu produk budaya masyarakat, permainan ini juga terekam dalam bentuk kesenian lainnya. Salah satunya dalam bentuk lagu populer "Main Tjeki" karya Benny Walujo (1971), yang dinyanyikan oleh biduan terkenal Lilis Suryani dalam irama gambang kromong.[44] Batik bermotif ceki juga pernah dibuat misal di Pekalongan.[45]

Galeri

  • Sebuah dek ceki yang digunakan di Jawa sekitar 1897 (disusun acak), dalam dokumentasi Mayer (1897:plaat XVI)
    Sebuah dek ceki yang digunakan di Jawa sekitar 1897 (disusun acak), dalam dokumentasi Mayer (1897:plaat XVI)
  • Sebuah dek ceki yang digunakan di Jawa sekitar 1914, dalam dokumentasi Tauern (1914:46)
    Sebuah dek ceki yang digunakan di Jawa sekitar 1914, dalam dokumentasi Tauern (1914:46)
  • Sebuah dek kartu Tiongkok bergambar uang dan tokoh Batas Air dari Tianjin, sebagai perbandingan dengan ceki
    Sebuah dek kartu Tiongkok bergambar uang dan tokoh Batas Air dari Tianjin, sebagai perbandingan dengan ceki
  • Sesi permainan di Jawa, sekitar tahun 1925
    Sesi permainan di Jawa, sekitar tahun 1925
  • Sesi permainan di Paramaribo, Suriname, 1955
    Sesi permainan di Paramaribo, Suriname, 1955

Catatan

  1. ↑ Ejaan lama, dibaca i-yo /ijo/, bukan /idʒo/.
  2. ↑ Banyak permainan ceki yang memerlukan minimal dua dek, atau 120 kartu.
  3. ↑ Secara figuratif 萬/万 juga dapat berarti "sangat banyak" atau "tidak terhingga" dalam bahasa-bahasa Tionghoa.
  4. ↑ Karakter yang didepiksikan meliputi: 燕青 Yàn Qīng [en] (1), 武松 Wǔ Sōng [en] (2), 吳用 Wú Yòng [en] (3), 花榮 Huā Róng [en] (4), 李逵 Lǐ Kuí [en] (5), 雷橫 Léi Héng [en] (6), 秦明 Qín Míng [en] (7), 朱仝 Zhū Tóng [en] (8), dan 宋江 Sòng Jiāng [en] (9).[32]

Referensi

Kutipan

  1. ↑ Jones 2008, hlm. 48.
  2. 1 2 Amaro 1993.
  3. ↑ Mayer 1897, hlm. plaat XVI.
  4. ↑ Robson & Wibisono 2002, hlm. 365.
  5. ↑ Matthes 1859.
  6. ↑ Matthes 1874.
  7. ↑ Wilkinson 1901.
  8. ↑ Robson & Wibisono 2002, hlm. 679.
  9. ↑ "Ceki". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-12-12. Diakses tanggal 2023-12-12.
  10. ↑ "Ceki". Kamus Bahasa Melayu Malaysia Daring. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-12-13. Diakses tanggal 2023-12-13.
  11. ↑ Duff-Cooper 1987, hlm. 72.
  12. ↑ Dalton 1997, hlm. 174.
  13. ↑ Hamilton 1924, hlm. 53.
  14. 1 2 Mayer 1897, hlm. 499.
  15. 1 2 Hoefte 1998, hlm. 170.
  16. ↑ Raap 2013, hlm. 142.
  17. 1 2 Reimena 2021.
  18. ↑ Musa 2015, hlm. 58.
  19. ↑ Chia 1980.
  20. ↑ Samad 1986, hlm. 16, 17.
  21. ↑ Alkatiry & Aviandy 2018, hlm. 281.
  22. ↑ Muhammad 2021, hlm. 170.
  23. ↑ Alkatiry & Aviandy 2018.
  24. ↑ Putri, Ni Made Lastri Karsiani (14 Agustus 2022). "Turnamen Ceki di Denpasar, Hapus Kesan Judi Jadi Ajang Rekreasi". Detik Bali. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-12-13.
  25. ↑ rat (3 September 2023). "Turnamen Ceki, Wahana Gembira dan Pelestarian Budaya Tanpa Judi". Nusa Bali. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-12-13.
  26. 1 2 3 Pollard 2024.
  27. ↑ Tauern 1914, hlm. 45.
  28. 1 2 Alkatiry & Aviandy 2018, hlm. 278.
  29. ↑ Tauern 1914.
  30. ↑ Siem 1941.
  31. ↑ Pwee 2003, hlm. 119.
  32. ↑ Perdana 2024, hlm. 16.
  33. ↑ Gwee 2013, hlm. 124.
  34. ↑ Tauern 1914, hlm. 47-48.
  35. ↑ Pwee 2003, hlm. 122.
  36. ↑ Pwee 2003, hlm. 127.
  37. ↑ Siem 1941, hlm. 127.
  38. ↑ Siem 1941, hlm. 94-97.
  39. ↑ Siem 1941, hlm. 98.
  40. ↑ Pwee 2003, hlm. 125.
  41. ↑ Hock 2006, hlm. 215.
  42. ↑ Siem 1941, hlm. 58-70.
  43. ↑ Siem 1941, hlm. 717-2.
  44. ↑ Internet Archive: Lilis Surjani - Main Ceki; diakses tgl 30 April 2024.
  45. ↑ Elliott, Inger McCabe (2010). Batik: Fabled Cloth of Java. Periplus Editions. hlm. 185, 223.

Daftar pustaka

  • Alkatiry, Zeffry; Aviandy, Mochammad (2018). "Tradition Card Game Ceki: Community Identity Chinese Melay Medan, Minang, and Bali". International Review of Humanities Studies. 3 (2): 274–286. doi:10.7454/irhs.v3i2.69.
  • Amaro, Ana Maria (1993). "'Chaqui and Partui: Two Popular Card Games of the 'Christãos' of Malacca', translated by A. G. Smith". Journal of the International Playing-Card Society. 22 (2): 34-40. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Chia, Felix (1980). The Babas. Singapore: Times Books International. ISBN 9971-65-058-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Dalton, Bill (1997). Bali Handbook. Chico: Moon Publications. ISBN 1-56691-073-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Duff-Cooper, Andrew (1987). "Some Imaginative Functions of Consciousness from a Balinese Form of Life on Lombok". Anthropos. 82 (1): 63–85. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Gwee, William (2013). A Nyonya Mosaic: Memoirs of a Paranakan Childhood. Singapore: Marshall Cavendish. ISBN 978-981-4435-52-9. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Hamilton, A. W. (1924). "Chinese Loan-Words in Malay". Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society. 2 (June): 48–56. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Hock, William Gwee Thian (2006). Baba Malay Dictionary: The First Comprehensive Compendium of Straits Chinese Terms and Expressions. Tuttle Publishing. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Hoefte, Rosemarijn (1998). In Place of Slavery: A Social History of British Indian and Javanese Laborers in Suriname. Gainesville: University Press of Florida. ISBN 0-8130-1625-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Jones, Russell (2008). Loan-words in Indonesian and Malay. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-90-6718-304-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Matthes, Benjamin Frederik (1859). Makassaarsch–Hollandsch woordenboek. Amsterdam: Frederik Muller. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Matthes, Benjamin Frederik (1874). Boegineesch–Hollandsch woordenboek. Amsterdam: C. A. Spin & Zoon. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Mayer, L. Th. (1897). Een blik in het Javaansche volksleven. Vol. 2. Leiden: Brill. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Muhammad, Ali Azhar (2021). "The Transitional Democracy Trap: Democracy, Complexity, and Local Oligarchy in Bali". Dalam Vandenberg, Andrew (ed.). Pages in Security, Democracy, and Society in Bali. Singapore: Palgrave Macmillan. hlm. 155–176. ISBN 978-981-15-5848-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Musa, Mahani (2015). "The Memory of the World Register: The Sultan Abdul Hamid Correspondence and Kedah history". Kajian Malaysia vol. 33: 53–74. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Perdana, Aditya Bayu; Pollard, George (2024). "A Preliminary Visual Comparison of Ceki and Ujang Omi: Two Traditional Indonesian Cards and their Predecessors". Jurnal Rupa. 9 (1): 9-25. doi:10.25124/rupa.v9i1.7301.
  • Pollard, George (21 January 2024). "Ceki Cards". Ways to Play. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Pwee, Keng Ho (2003). "Chiki Cards and Three Chiki Games". Journal of the International Playing-Card Society. 32 (3): 119–128. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Raap, Olivier Johannes (2013). Soeka Doeka Di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG. ISBN 978-979-91-0649-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Reimena, Randi (31 Oktober 2021). "Menyigi Sejarah Koa/Ceki: Dekat dengan Mistik, Bukan "Produk" Orang Minang". Haluan Padang. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Robson, Stuart; Wibisono, Singgih (2002). Javanese English Dictionary. Singapore: Periplus Editions. ISBN 0-7946-0000-X.
  • Samad, Muhammad Thahir (1986). Autobiografi Muhammad Thahir Samad gelar Datuk Rajo Mangkuo dan Ny. Djamari Amin selaku perintis kemerdekaan. Departemen Sosial R.I., Direktorat Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial, Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kamerdekaan, Proyek Pembinaan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Siem 沁, Tjan Tjoe 曾祖 (1941). Javaanse Kaartspelen: bijdrage tot de beschrijving van land en volk; Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen volume 75. Bandung: A. C. Nix & Co.
  • Tauern, O. D. (1914). "Javanische Kartenspiele". Zeitschrift für Ethnologie. 46 (1): 45–48. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Wilkinson, Richard James (1901). A Malay–English Dictionary volume 1: ‘Alif to Za’. Singapore: Kelly & Walsh. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ceki.
  • What is Cherki?. Peranakan Life Malaysia

<a href=\"./Wikipedia:Artikel_bagus\" title=\"Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.\" id=\"mwBCU\"><img alt=\"Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.\" resource=\"./Berkas:Fairytale_bookmark_silver.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a0/Fairytale_bookmark_silver.svg/20px-Fairytale_bookmark_silver.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"100\" data-file-height=\"100\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a0/Fairytale_bookmark_silver.svg/40px-Fairytale_bookmark_silver.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBCY\"/></a></span>\n"}' id="mwBCc"/>

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Nama
  2. Penggunaan populer
  3. Susunan dek
  4. Nilai
  5. Simbol
  6. Permainan
  7. Permainan lain
  8. Kesenian
  9. Galeri
  10. Catatan
  11. Referensi
  12. Kutipan
  13. Daftar pustaka
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Mahyong

permainan strategi dari Tiongkok

Judi daring

jenis judi yang mengandalkan sarana internet

Kejuaraan Perbara 2026

turnamen sepak bola antar negara se-Asia Tenggara edisi ke-16, tahun 2026

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026