Cao Shen atau Cao Can, nama kehormatan Jingbo, adalah seorang kanselir dinasti Han Barat. Ia ikut serta dalam Persaiangan Chu-Han di mana ia memihak Liu Bang dan berkontribusi besar dalam pendirian dinasti Han.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Cao Shen / Cao Can | |
|---|---|
| 曹參 | |
![]() Ilustrasi Cao Shen dalam Sancai Tuhui | |
| Kanselir Negara (相國) | |
| Masa jabatan 193 SM (193 SM) – 190 SM (190 SM) | |
| Penguasa monarki | Kaisar Hui dari Han |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Tidak diketahui Kabupaten Pei, Jiangsu |
| Meninggal | 190 SM |
| Pekerjaan | Pejabat |
| Nama kehormatan | Jingbo (敬伯) |
| Peerage | Marquis of Pingyang (平陽侯) |
| Agama | Agama tradisional Tionghoa |
Cao Shen atau Cao Can (wafat 190 SM), nama kehormatan Jingbo (Hanzi: 敬伯), adalah seorang kanselir dinasti Han Barat. Ia ikut serta dalam Persaiangan Chu-Han di mana ia memihak Liu Bang (Kaisar Gaozu dari Han) dan berkontribusi besar dalam pendirian dinasti Han.
Cao Shen berasal dari Kabupaten Pei di Jiangsu masa kini dan ia awalnya bekerja sebagai sipir penjara. Ia merupakan teman dekat Liu Bang. Suatu ketika, Liu Bang ditugaskan untuk mengawal beberapa narapidana ke Gunung Li untuk dijadikan buruh, tetapi beberapa tahanan melarikan diri dan Liu terpaksa menjadi buronan. Ia mencari perlindungan bersama para pengikutnya di Gunung Mangdang (di Yongcheng, Henan saat ini) dan menjalin kontak rahasia dengan Cao Shen dan Xiao He.
Pada 209 SM, setelah bergejolaknya Pemberontakan Dazexiang, Magistrat Kabupaten Pei juga berpikir untuk juga memberontak melawan Dinasti Qin, maka ia mendengarkan Cao Shen dan Xiao He untuk mengontak Liu Bang untuk membantunya. Namun, saat Liu Bang sampai di Pei, magistrat tersebut berubah pikiran dan melarangnya masuk kota. Karena khawatir Xiao He dan Cao Shen akan membuka gerbang kota untuk Liu Bang, ia memerintah agar keduanya dihukum mati. Namun, keduanya berhasil kabur ke Liu Bang dan rakyat memberontak dan membunuh magistrat tersebut serta membuka gerbang mempersilakan Liu Bang masuk. Liu kemudian membangun pasukan pemberontaknya dan Cao Shen diangkat sebagai salah satu penasihatnya.
Setelah kejatuhan Dinasti Qin, Liu Bang diberi gelar Raja Han dari Xiang Yu dan dipindahkan ke Hanzhong. Liu Bang kemudian menanugerahi gelar Marquis Jiancheng (建成侯) kepada Cao Shen dan mengangkatnya sebagai seorang jenderal.
Cao Shen mengikuti Liu Bang dalam menguasai Tiga Qin. Awalnya ia merebut Kabupaten Bian, Kabupaten Gudao, Kabupaten Yong, dan Kabupaten Tai. Ia menyerang pasukan Zhang Ping di selatan Haozhi, mengalahkan mereka, mengepung Haozhi, dan merebut Rangxiang. Ia menyerang pasukan Tiga Qin di timur Rangxiang dan Gaoli, dan mengalahkan mereka. Ia kembali mengepung Zhang Ping, dan Zhang Ping melarikan diri dari Haozhi. Kemudian ia menyerang pasukan Zhao Ben dan Neishi Bao, dan mengalahkan mereka. Ia merebut Xianyang di timur dan mengganti namanya menjadi Xincheng. Ia adalah wakil jenderal yang bertugas menjaga Jingling selama dua puluh hari. Tiga Qin mengirim Zhang Ping dan yang lainnya untuk menyerangnya. Ia menyerang dan mengalahkan mereka. Ia diberi wilayah kekuasaan di Ningqin. Ia memimpin pasukannya sebagai jenderal untuk mengepung Zhang Han di Feiqiu.
Cao Shen meminta bantuan para cendekiawan Konfusianisme dalam memerintah Qi, tetapi tidak terkesan dengan ide-ide mereka. Setelah berdiskusi dengan seorang cendekiawan bernama Gai Gong, Cao Shen dipengaruhi oleh aliran pemikiran Huang-Lao (黃老), yang menggunakan campuran persuasi dan paksaan.[1] Cao Shen mengikuti saran Gai Gong untuk menerapkan kebijakan guna memulihkan stabilitas sosial dan sering berkonsultasi dengan Gai Gong tentang cara mengatur Qi.
Pada 193 SM, Xiao He meninggal dunia dan digantikan oleh Cao Shen. Sebelum meninggal, Xiao He merekomendasikan Cao Shen kepada Kaisar Hui dari Han, menyatakannya sebagai orang yang pantas menggantikannya. Cao Shen juga memberitahukan pengikutnya bahwa ia akan menjadi kanselir agung secara nasional. Saat ia meninggalkan Qi, Xiao He berpesan kepada kanselir agung Qi yang menggantikannya, "Tempat eksekusi dan penjara adalah tempat yang paling penting. Jangan mengganggu sistem di sini." Penerusnya bertanya, "Apakah hanya itu saja yang dimaksud dengan pemerintahan?". Cao kemudian membalas, "Sama sekali tidak. Inklusivitas filosofi Huang-Lao tercermin dalam pelaksanaan hukum pidana yang efektif. Jika Anda mengganggu interogasi dan eksekusi kejahatan hari ini, ke mana semua penjahat akan pergi? Inilah yang ingin saya sampaikan pertama kali."[2]
Cao Shen menghabiskan waktunya berminum arak dan menjamu makan, sementara memperstabilkan sistem pemerintah yang dicanangkan Xiao He tanpa membuat perubahan apapun.[3] Kaisar Hui dari Han merasa bahwa tindakan Cao Shen dalam memerintah sangat aneh dan mengutus anaknya, Cao Zhu untuk memberi nasihat dari kaisar. Namun, Cao Shen mencambuk Cao Ku 200 kali sambil memarahinya, "Urusan dunia bukanlah urusanmu!". Tidak ada pilihan, Kaisar Hui mendatangi Cao Shen mempertanyakan aksinya secara pribadi. Cao Shen menjelaskan kepada kaisar, "Dibandingkan Kaisar Gaozu, siapa yang lebih cerdas?". Kaisar Hui membalas, "Saya tidak berani membandingkan diri dengan pendahulu saya". Cao Shen kemudian bertanya, "Dibandingkan Xiao He, siapa yang lebih berbudi luhur?", Kaisar Hui menjawab Xiao He. Cao Shen kemudian menyatakan "Yang Mulia sepertinya benar. Lebih lagi, Kaisar Gaozu dan Xiao He menstabilkan dunia, dan memberlakukan hukum yang jelas dan dilaksanakan secara baik. Selama Yang Mulia bekerja tanpa henti, dan kami, pelayanmu, tetap tabah di jabatan kami, mematuhi aturan mereka tanpa mencelanya, bukankah hal ini adalah hal yang patut dilakukan?". Saat itu, rakyat menyerukan, "Xiao He menciptakan hukum yang seragam dan konsisten; Cao Shen menggantikannya dan menegakkannya tanpa kegagalan. Dengan pemerintahan mereka yang damai dan teratur, rakyat pasti hidup sejahtera". Kisah ini kemudian menjadi asal-usul peribahasa Tionghoa Xiao Gui Cao Sui (萧规曹随; harfiah "Cao mengikuti peraturan Xiao") yang mengartikan sebagai keberlanjutan pekerjaan dari sang pendahulu, atau tetap berada di peraturan lama.
Menurut Kitab Han, Xiao He dan Cao Shen yang awalnya berkawan pada masa Dinasti Qin bermusuhan pada saat Xiao He menjadi kanselir agung. Namun, Cao Shen masih menghargai Xiao He dan saat menjadi kanselir, ia tidak banyak mengubah sistem Xiao He. Namun, tidak sesuai dengan peribahasa itu, Cao Shen mengangkat orang-orang berpengalaman dan bijaksana dalam pemerintahannya. Jika salah satu aparat pemerintahannya bersifat angkuh, Cao Shen langsung memecatnya. Selama masa pemerintahannya, ia memaafkan masalah kecil yang dilakukan oleh pegawai sipilnya dan memberi kesempatan untuk mengoreksi kesalahan itu.[2]
Cao Shen menjabat selama tiga tahun sebagai kanselir agung. Ia meninggal pada 190 SM.
Sejarawan Sima Qian memberi komentar di Catatan Sejarawan Agung bahwa di antara seluruh pengikut Liu Bang, kontribusi Cao Shen di medan perang hanya dibelakang Han Xin. Dalam pemerintahan, Sima Qian juga berkomentar bahwa masa jabatan Cao Shen sebagai kanselir agung bekerja dengan baik dalam mempertahankan sistem pemerintahan yang dirumuskan oleh Xiao He dan membawa keamanan dan stabilitas yang dibutuhkan rakyat.
Putra Cao Shen, Cao Zhu (曹窋; meninggal 161 SM) mewarisi gelar "Marquis Pingyang" dari ayahnya setelah ia meninggal. Cao Zhu kemudian digantikan oleh putranya, Cao Qi (曹奇; meninggal 153 SM). Cao Qi membantu Kaisar Jing dari Han dalam menumpaskan Pemberontakan Tujuh Negara. Kemudian putranya, Cao Xiang (曹襄; meninggal 115 SM) menikahi Putri Wei (putri dari Kaisar Wu dari Han dan Maharani Wei Zifu) dan mengabdi sebagai seorang jenderal dalam kampanye melawan suku Xiongnu. Putranya, Cao Zong (曹宗; meninggal 91 SM) terlibat dalam pemberontakan gagal yang bertujuan untuk melengserkan Kaisar Wu. Sebagai hukuman, gelar Cao Shen yang diwariskan ke keturunannya dicabut dan keluarganya kehilangan Marquisat tersebut.
Raja perang dan kanselir agung Dinasti Han Cao Cao mengeklaim bahwa ia adalah keturunan Cao Shen, tetapi riset genetika terhadap Cao Cao dan Cao Shen menghasilkan bahwa Cao Cao bukanlah keturunannya.[4]