Broken Angels adalah novel fiksi ilmiah karya Richard K. Morgan yang melanjutkan perjalanan Takeshi Kovacs setelah peristiwa dalam Altered Carbon. Novel ini memadukan elemen militer, politik, dan spekulasi ilmiah dalam sebuah dunia futuristik yang diliputi konflik, sebagaimana dicatat oleh The Guardian, yang menilai karya ini sebagai kombinasi antara aksi dan spekulasi filosofis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

![]() | |
| Pengarang | Richard K. Morgan |
|---|---|
| Negara | Britania Raya |
| Bahasa | Inggris |
| Seri | Takeshi Kovacs |
| Genre | Fiksi ilmiah |
Tanggal terbit | 2003 |
| Jenis media | Cetak |
| Didahului oleh | 'Altered Carbon |
| Diikuti oleh | 'Woken Furies |
Broken Angels adalah novel fiksi ilmiah karya Richard K. Morgan yang melanjutkan perjalanan Takeshi Kovacs setelah peristiwa dalam Altered Carbon. Novel ini memadukan elemen militer, politik, dan spekulasi ilmiah dalam sebuah dunia futuristik yang diliputi konflik, sebagaimana dicatat oleh The Guardian, yang menilai karya ini sebagai kombinasi antara aksi dan spekulasi filosofis.[1]
Cerita mengikuti Takeshi Kovacs yang terlibat dalam operasi militer pada sebuah planet yang hancur oleh peperangan. Ia kemudian direkrut untuk sebuah proyek yang berfokus pada penemuan artefak peninggalan peradaban alien, sebuah temuan yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan politik dan militer. Konflik yang dihadapi mencakup benturan kepentingan antara militer, korporasi, dan individu yang berlomba menguasai teknologi tersebut. Publishers Weekly menyoroti bahwa novel ini memperluas dunia Kovacs melalui rangkaian konflik berskala besar yang membentuk arah cerita.[2]
Novel ini menyoroti implikasi moral dan eksistensial dari peperangan, terutama bagaimana kekerasan, teknologi, dan manipulasi politik memengaruhi identitas individu. Penekanan terhadap pengaruh korporasi dalam memonetisasi konflik menjadi salah satu kritik utama, sementara keberadaan artefak alien menambah lapisan spekulatif tentang peradaban lain serta etika pemanfaatan teknologi yang tidak dipahami sepenuhnya. Kirkus Reviews menekankan atmosfer dunia yang gelap serta intensitas kekerasan yang membingkai dilema moral tokoh utamanya.[3]
Tanggapan kritis terhadap novel ini cenderung positif meskipun sejumlah aspek teknis menjadi sorotan. The Guardian mengapresiasi pengendalian naratif Morgan dalam menggambarkan dunia futuristik yang kompleks.[1] Publishers Weekly memuji perluasan skala konflik, tetapi mencatat bahwa detail teknis yang padat dapat menjadi tantangan bagi sebagian pembaca.[2] Sementara itu, Kirkus Reviews menilai novel ini sebagai karya yang brutal namun kaya ide, terutama melalui pembangunan suasana dunia yang suram dan futuristik.[3]