Brigade Izzuddin al-Qassam dinamai Izzuddin al-Qassam, adalah sayap militer organisasi Palestina, Hamas. Dipimpin oleh Mohammed Sinwar hingga kematiannya pada 13 Mei 2025, IQB adalah kelompok terbesar dan terlengkap yang beroperasi di Gaza saat ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Brigade Izzuddin al-Qassam atau Brigade Al-Qassam كتائب الشهيد عز الدين القسامcode: ar is deprecated | |
|---|---|
Bendera Brigade Izzuddin al-Qassam | |
| Pemimpin | (diduga) Izzudin Al-Haddad[1] Mohammed Sinwar Yahya Sinwar Mohammed Deif |
| Waktu operasi | 1991–sekarang |
| Markas | Jalur Gaza |
| Wilayah operasi | Jalur Gaza, Tepi Barat, Israel, Suriah, Lebanon |
| Ideologi | Penentuan nasib sendiri Palestina Islamisme Sunni,[2] Fundamentalisme Islam,[3] Nasionalisme Palestina Anti-Zionisme |
| Status | Aktif |
| Jumlah anggota | Sekitar 70.000 pejuang aktif[4] |
| Bagian dari | |
| Sekutu |
|
| Lawan | |
| Pertempuran dan perang | Konflik Israel–Palestina |
Brigade Izzuddin al-Qassam (bahasa Arab: كتائب الشهيد عز الدين القسامcode: ar is deprecated , har. 'Brigade syahid Izzuddin al-Qassam'; juga dieja Izzedine atau Ezzedeen Al-Qassam Brigades; sering disingkat Brigade Al-Qassam,[7][8] IQB[9] atau EQB) dinamai Izzuddin al-Qassam, adalah sayap militer organisasi Palestina, Hamas.[9][10][11] Dipimpin oleh Mohammed Sinwar hingga kematiannya pada 13 Mei 2025, IQB adalah kelompok terbesar dan terlengkap yang beroperasi di Gaza saat ini.[9]
Didirikan pada pertengahan tahun 1991,[7] organisasi ini pada saat itu berkepentingan untuk menghalangi perundingan Perjanjian Oslo.[12][13] Dari tahun 1994 hingga 2000, Brigade Al-Qassam mengaku bertanggung jawab melakukan sejumlah serangan terhadap warga Israel.[9]
Hingga pertengahan tahun 2025, Brigade al-Qassam tetap menjadi sayap militer utama Hamas dan kekuatan bersenjata paling signifikan di Jalur Gaza. Meskipun mengalami kehilangan sejumlah pemimpin senior akibat operasi militer Israel,[14][15] brigade ini terus mempertahankan struktur komandonya dan melanjutkan aktivitas militernya.
Setelah kematian Yahya Sinwar pada 16 Oktober 2024, yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin politik Hamas dan komandan militer di Gaza, kepemimpinan brigade dialihkan kepada adiknya, Mohammed Sinwar.[15][16] Mohammed Sinwar memimpin Brigade al-Qassam dan Hamas di Gaza hingga kematiannya dalam serangan udara Israel pada 13 Mei 2025.[17][18]
Brigade al-Qassam diperkirakan memiliki antara 15.000 hingga 40.000 anggota, dengan lebih dari 30.000 rekrutan baru sejak awal konflik pada Oktober 2023.[19][20][21] Meskipun mengalami kerugian signifikan akibat operasi militer Israel, brigade ini tetap mempertahankan kemampuan untuk melancarkan serangan dan mempertahankan wilayah di Jalur Gaza.[22][23]
Brigade Al-Qassam secara resmi dibentuk pada 1991 oleh para pemimpin Hamas untuk memperkuat perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Israel.[24][7] Awalnya, Brigade ini beroperasi dalam bentuk sel-sel kecil dan tersembunyi, kemudian melancarkan serangkaian serangan sporadis terhadap sasaran militer dan pemukiman Israel di wilayah pendudukan, sejak peristiwa Pembantaian Gua Makhpela tahun 1994 dan terbunuhnya Yahya Ayyash, seorang pemimpin militer dan insinyur elektronik yang dikenal sebagai “The Engineer”.[25]
Pada masa awal, tujuan utama brigade adalah melakukan perlawanan dengan metode gerilya dan bom bunuh diri. Strategi ini sangat dipengaruhi oleh situasi politik pasca-Intifada Pertama (1987–1993) dan reaksi terhadap Perjanjian Oslo yang dianggap mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.[26][27]
Selama Intifada Kedua, Brigade Al-Qassam menjadi aktor sentral dalam aksi perlawanan terhadap Israel. Mereka melancarkan serangan berskala besar, termasuk serangan bom bunuh diri, penyergapan militer, dan serangan roket dari Gaza dan Tepi Barat.[28]
Di masa ini, brigade mengalami transformasi dari kelompok perlawanan bersenjata sederhana menjadi struktur militer semi-terorganisasi. Mereka memperluas kemampuan taktis dan logistik, termasuk produksi rudal Qassam buatan lokal. Popularitas Hamas meningkat pesat di kalangan rakyat Palestina karena dianggap sebagai kekuatan utama yang menghadapi Israel, berbanding terbalik dengan Fatah yang terlibat dalam proses diplomasi.
Perang Gaza 2014, yang berlangsung dari Juli hingga Agustus 2014, menjadi salah satu konflik paling mematikan antara Israel dan Hamas. Brigade Al-Qassam memainkan peran penting dalam peperangan ini, dengan menerapkan taktik yang lebih canggih dibandingkan konflik sebelumnya.
Selama konflik 50 hari ini, Brigade Al-Qassam meluncurkan ribuan roket ke wilayah Israel, dan memperkenalkan penggunaan terowongan lintas perbatasan untuk menyerang posisi militer Israel. Salah satu aspek paling menonjol adalah operasi penyusupan ke wilayah Israel menggunakan terowongan bawah tanah, yang berhasil menimbulkan korban jiwa di pihak militer Israel dan menunjukkan tingkat perencanaan yang tinggi.
Meskipun Israel mengklaim menghancurkan banyak infrastruktur Hamas, termasuk terowongan, kekuatan Al-Qassam tetap bertahan. Konflik ini mengakibatkan lebih dari 2.000 warga Palestina tewas, mayoritas warga sipil, dan memperlihatkan ketahanan militer Hamas di bawah blokade yang ketat.
Pada 7 Oktober 2023, Brigade Al-Qassam memimpin serangan besar-besaran ke wilayah Israel, yang disebut sebagai Operasi Badai Al-Aqsa. Serangan ini mengejutkan banyak pihak, karena ribuan pejuang Al-Qassam menembus pagar perbatasan, menyerbu pemukiman dan pangkalan militer di Israel selatan, serta meluncurkan lebih dari 5.000 roket dalam waktu singkat.
Serangan ini mengakibatkan ratusan korban jiwa di pihak Israel dan disebut sebagai salah satu peristiwa militer paling signifikan sejak Perang Yom Kippur 1973. Brigade Al-Qassam juga menangkap sejumlah tentara dan warga sipil Israel sebagai sandera, yang kemudian menjadi isu sentral dalam negosiasi dan propaganda perang.
Sebagai respons, Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Gaza, dengan serangan udara dan darat yang menyebabkan kehancuran luas dan korban sipil besar. Meski dihantam keras, Brigade Al-Qassam tetap melakukan perlawanan dengan taktik asimetris, termasuk perang kota dan penggunaan drone serta roket jarak menengah.
Di Jalur Gaza, Brigade Al-Qassam berfungsi bukan hanya sebagai kekuatan militer, tetapi juga sebagai bagian integral dari struktur kekuasaan Hamas. Brigade ini memiliki peran dalam menjaga keamanan internal, pelatihan militer, dan pengembangan teknologi senjata.
Brigade ini juga memiliki pengaruh besar dalam strategi pertahanan Gaza, termasuk pembangunan jaringan terowongan bawah tanah, produksi senjata lokal, dan sistem komunikasi sendiri. Sering kali, Al-Qassam bertindak secara semi-otonom, tetapi tetap berkoordinasi dengan kepemimpinan politik Hamas dalam pengambilan keputusan strategis.
Selain fungsi militer, Brigade Al-Qassam juga berperan dalam simbolisme perjuangan rakyat Palestina, terutama di kalangan generasi muda. Keberadaannya menjadi pusat narasi perlawanan terhadap pendudukan, meski juga menuai kritik dari komunitas internasional karena taktiknya yang melibatkan serangan terhadap sasaran sipil.