Lokomotif Bima Kunting merupakan nama yang diberikan kepada tiga buah lokomotif milik Perusahaan Jawatan Kereta Api, yang merupakan produk buatan Indonesia di Balai Yasa Yogyakarta. Lokomotif ini dibuat pada rentang dekade 1960-an. Nama lokomotif ini diberikan oleh Hamengkubuwana IX saat menjabat sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bima Kunting | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Bima Kunting III dipajang di Museum Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta. | |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
Lokomotif Bima Kunting merupakan nama yang diberikan kepada tiga buah lokomotif milik Perusahaan Jawatan Kereta Api, yang merupakan produk buatan Indonesia di Balai Yasa Yogyakarta (dulu Balai Karya). Lokomotif ini dibuat pada rentang dekade 1960-an. Nama lokomotif ini diberikan oleh Hamengkubuwana IX saat menjabat sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.[1]
Kata Bima Kunting sendiri berarti Bima kecil, yaitu Setyaki, merujuk pada tokoh Mahabharata yang kekar, kukuh, kuat, dan pemberani seperti layaknya Bima. Meskipun kecil, lokomotif ini dapat melakukan pergerakan langsir secara lincah dan dapat melaju hingga 45 km/h (28 mph).[2]

Lokomotif Bima Kunting pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963 oleh Djoko Baroto, seorang rekayasawan dan Kepala Balai Karya Yogyakarta saat itu.[1] Lokomotif dengan nomor registrasi B100 ini mulai dioperasikan dan diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwana IX.[1] Lokomotif ini memiliki gandar 1A dengan mesin Willys Jeep, panjang 3.800 mm, dan hanya beroperasi di jalur dengan lebar sepur 600 mm (1 ft 11+5⁄8 in).[3][4]
Selanjutnya, Bima Kunting II (B200) dan Bima Kunting III (B201) mulai beroperasi pada tahun 1965 di bawah kepemimpinan Kepala Balai Yasa, Ir. Mardjono. Kedua lokomotif ini dirancang untuk jalur dengan lebar sepur 1.067 mm (3 ft 6 in). Secara teknis, keduanya menggunakan bekas rangka dari C15[5] dengan motor traksi GE 761 yang telah disetel ulang.[2] Keduanya memiliki gandar B, meskipun panjangnya sedikit berbeda; B200 sepanjang 6.500 mm (21 ft 4 in) dan B201 sepanjang 6.300 mm (20 ft 8 in). Masing-masing menggunakan mesin Daimler-Benz M204B, tetapi dengan generator yang berbeda, yaitu Hobart untuk B200 dan Hanza untuk B201. Keduanya memiliki daya 90 kilowatt (120 hp) (120 hp) dan kecepatan maksimum 45 km/h (28 mph).[6] Lokomotif-lokomotif ini hanya digunakan sebagai pelangsir di dalam Balai Yasa.
Bima Kunting I berhenti beroperasi pada rentang 1972-1973 akibat penutupan jalur rel dengan lebar sepur 600 mm (1 ft 11+5⁄8 in). Kini menjadi lokomotif andalan kereta mini di Taman Lalu-lintas Ade Irma Suryani Nasution Kota Bandung.[4]
Lok Bima Kunting II dan III akhirnya berhenti beroperasi mulai tahun 1985. Sebelumnya, Bima Kunting III dipamerkan dalam ajang Pameran Produksi Indonesia Jakarta 1985 sebagai salah satu produk kebanggaan Indonesia. Selanjutnya, akibat kesulitan suku cadang, Bima Kunting akhirnya diafkirkan dan disimpan begitu saja di Balai Yasa Yogyakarta, hingga tahun 2014. Perannya digantikan oleh lokomotif pelangsir lainnya seperti D301.[5]
Sejak saat itu, Bima Kunting menjadi terlupakan. Banyak penggemar kereta api bertandang ke Balai Yasa melihat sisa-sisa kegagahan lokomotif ini yang saat itu telah menjadi onggokan di Balai Yasa. Tutup depan kipas radiatornya pun terbuka, dan roda-rodanya pun satu persatu copot dari rangka bajanya.[5]
Wacana untuk melakukan preservasi lokomotif Bima Kunting III telah dilakukan sejak 2007, oleh Dinas Kebudayaan DIY. Permintaan tersebut diproposalkan setelah Dinas Kebudayaan menemukan lokomotif tersebut dalam keadaan sudah ditanahkan di kebun Balai Yasa Yogyakarta. Pada masa itu, unit Heritage belum terbentuk, dan pada 2012, beberapa waktu setelah Unit Heritage terbentuk, Dinas Kebudayaan kemudian memproposalkan lagi untuk mempreservasi Bima Kunting III.[5]
Diawali dari rehab total sejak akhir Oktober 2014 hingga Desember 2014, Bima Kunting III sudah berhasil direhab dengan sempurna. Diawali dengan mencari komponennya yang tercecer, merakitnya kembali, hingga pengecatan warna krem-hijau ala PJKA, dari sebelumnya dicat biru[5] (skema warna lokomotif sejak awal beroperasi).
Pada tanggal 29 Januari 2015, Bima Kunting III kemudian diangkut ke tempat barunya, Museum Benteng Vredeburg dengan truk. Prosesi dilakukan sejak sore hari. Pukul 22.30 barulah dilakukan pemberangkatan dengan dibuka selamatan. Pemberangkatan tersebut dikawal oleh Patroli Satlantas Polresta Yogyakarta dan belasan penggemar kereta api. Truk tersebut melewati rute Jalan Munggur–Jalan Oerip Soemohardjo–Jalan Jenderal Sudirman–Jalan Margo Utomo–Jalan Malioboro–Jalan Margo Mulyo, dan berakhir di Museum Benteng Vredeburg. Lokomotif ini akhirnya menjadi pajangan statis di depan benteng tersebut.[7]