Uparicarabasu adalah seorang raja dalam sastra Hindu, yang berasal dari kalangan Dinasti Candra (Candrawangsa). Dia merupakan raja keturunan Kuru di Magadha, yang menaklukkan bangsa Yadawa di Chedi dan menguasai kerajaan tersebut. Konon dia merupakan sahabat Dewa Indra, dan pemuja setia Dewa Wisnu. Legendanya juga tercatat dalam Mahabharata. Dia menurunkan trah Kuru di Kerajaan Chedi. Dalam pustaka Hindu, para keturunan Kuru di Chedi biasanya dikenal sebagai Wangsa Candra-Aila Chedi, agar dapat dibedakan dengan Wangsa Kuru Hastinapura. Pratyagraha, putra sulungnya menggantikan dirinya sebagai Raja Chedi, sedangkan Wrehadrata diberi kuasa atas Kerajaan Magadha, dan mendirikan Dinasti Wrehadrata. Dalam kedua dinasti tersebut, lahirlah dua tokoh antagonis Mahabharata, yaitu Sisupala dan Jarasanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| उपरिचरवसु | |
|---|---|
| Tokoh dalam mitologi Hindu | |
| Nama | Uparicarabasu |
| Ejaan Dewanagari | उपरिचरवसु |
| Ejaan IAST | Uparicaravasu |
| Arti nama | Basu yang berkelana di udara |
| Nama lain | Basuparicara Versi pewayangan: Basukiswara, Basupati |
| Kitab referensi | Purana, Mahabharata |
| Asal | Kerajaan Magadha |
| Kasta | kesatria |
| Klan | Paurawa |
| Wahana | Wilmana |
| Ayah | Kruti |
| Istri | Girika |
| Anak | Pratyagraha, Wrehdrata, Kusamba, Mawela, dan Yadu. Dari Adrika: Matsya (adopsi), Satyawati |
Uparicarabasu (Dewanagari: उपरिचरवसु; ,IAST: Uparicaravasu,; dalam pewayangan disebut Basukiswara atau Basupati) adalah seorang raja dalam sastra Hindu, yang berasal dari kalangan Dinasti Candra (Candrawangsa).[1] Dia merupakan raja keturunan Kuru di Magadha, yang menaklukkan bangsa Yadawa di Chedi dan menguasai kerajaan tersebut. Konon dia merupakan sahabat Dewa Indra, dan pemuja setia Dewa Wisnu.[2] Legendanya juga tercatat dalam Mahabharata. Dia menurunkan trah Kuru di Kerajaan Chedi.[3] Dalam pustaka Hindu, para keturunan Kuru di Chedi biasanya dikenal sebagai Wangsa Candra-Aila Chedi, agar dapat dibedakan dengan Wangsa Kuru Hastinapura. Pratyagraha, putra sulungnya menggantikan dirinya sebagai Raja Chedi, sedangkan Wrehadrata diberi kuasa atas Kerajaan Magadha, dan mendirikan Dinasti Wrehadrata. Dalam kedua dinasti tersebut, lahirlah dua tokoh antagonis Mahabharata, yaitu Sisupala dan Jarasanda.
Pada mulanya dia bernama Basu. Dia memperoleh nama Uparicara setelah Dewa Indra menganugerahkan Wilmana (kereta terbang) karena merasa senang terhadapnya. Kereta tersebut membuatnya mampu berkelana (cara) melampaui (upari) penghuni Bumi.[4][5]
| महाभारतम् आदिपर्व ६४ | Mahabharata, Volume 1 |
|---|---|
दैवोपभोग्यं दिव्यं त्वामाकाशे स्फाटिकं महत्। आकाशगं त्वां मद्दत्तं विमानमुपपत्स्यते॥१३॥ |
Kereta surgawi―yang disukai para dewa dan indah seperti kristal di langit―yang telah kuberikan secara cuma-cuma akan datang kepadamu.(13) |
| —Adiparwa:LXIV |
Kitab Skandapurana dan Bayupurana mengisahkan bahwa Uparicarabasu merupakan seorang raja yang sangat saleh, sampai-sampai dia memiliki kemampuan untuk terbang dengan keretanya. Ketika terjadi perselisihan antara para dewa dan para resi mengenai penafsiran istilah 'Aja' dalam petunjuk Weda perihal persembahan, mereka memutuskan untuk memohon kebijakan dari Uparicarabasu. Para resi menyatakan bahwa persembahan tersebut harus menggunakan biji-bijian, sedangkan para dewa bersikeras bahwa persembahan tersebut harus menggunakan hewan seperti kambing. Akhirnya sang raja mendukung pendapat para dewa. Para resi marah karena sang raja dianggap tidak mendukung ahimsa (anti-kekerasan), sehingga mereka mengutuk sang raja agar dia jatuh ke dunia bawah.[6] Namun dia diselamatkan oleh Garuda dan diantar ke surga atas perintah dari Dewa Wisnu. Kitab Skandapurana menyatakan bahwa sang raja dihukum karena ia pernah melihat seorang putri yang lahir dari pikiran para Pitara bernama Acoda, dan seorang apsara bernama Adrika. Karena mereka menganggap satu sama lain sebagai ayah dan anak, mereka dikutuk oleh Pitara agar terlahir ke bumi.[7]
Menurut wiracarita Mahabharata (Adiparwa bagian 63),[8] pada suatu ketika, Gunung Kolahala yang berada di wilayah kekuasaan sang raja menjadi berahi dan memeluk sungai Suktimati, menyebabkan alirannya tertahan. Setelah sang sungai memohon bantuan, Raja Basu menendang gunung tersebut sampai terbelah, sehingga aliran sungai mampu melewatinya. Namun pertemuan antara sungai dan gunung tersebut telah menghasilkan dua manusia laki-perempuan. Yang laki-laki kemudian menjadi panglima tentara Raja Basu, sedangkan yang perempuan diberi nama Girika dan akhirnya menikah dengan sang raja.[9]
Dikisahkan bahwa Basu adalah raja negeri Chedi yang sangat taat pada darma dan dihormati oleh para dewa. Karena kesalehan dan pengabdiannya, dia dianugerahi kemampuan luar biasa—ia dapat bergerak di angkasa dengan Wilmana (kereta ilahi), sehingga dikenal sebagai raja yang "berjalan di atas langit" (uparicara). Ia juga menjalin hubungan dekat dengan para dewa dan leluhur (pitara), bahkan sering menjalankan perintah mereka.
Pada suatu hari, Permaisuri Girika mengajaknya untuk berhubungan badan karena waktu itu dianggap hari baik untuk memperoleh keturunan. Namun pada saat yang sama, para leluhur raja meminta ia pergi berburu. Uparicarabasu pergi ke hutan karena lebih mengutamakan perintah leluhur, tetapi pikirannya tetap tertuju pada istrinya. Dalam keadaan itu, dia mengalami ejakulasi atau pengeluaran air mani. Agar air maninya tidak terbuang sia-sia, dia menampungnya pada selembar daun dan mengirimkannya kepada Girika dengan perantara seekor burung elang.
Namun dalam perjalanan, burung itu diserang burung lain, sehingga benih tersebut jatuh ke Sungai Yamuna dan ditelan oleh seekor ikan, yang sebenarnya adalah jelmaan bidadari Adrika yang terkena kutukan. Ketika ikan itu ditangkap dan dibelah oleh seorang nelayan, ditemukan dua bayi manusia: seorang laki-laki dan seorang perempuan. Bayi laki-laki dibawa kepada raja dan dijadikan anaknya, sementara bayi perempuan dibesarkan oleh nelayan dan kelak dikenal sebagai Satyawati, tokoh penting yang menjadi nenek moyang Dinasti Kuru.[10][11]
Dalam naskah Mahabharata yang telah disadur ke dalam bahasa Jawa Kuno, tokoh Basu disebut juga dengan nama Basuparicara. Dalam lakon pewayangan Jawa yang mengadaptasi Mahabharata, dia dikenal dengan nama Basukiswara atau Basupati. Menurut kisah pewayangan, ia adalah putra Batara Srinada atau Prabu Basurata (raja negeri Wirata yang pertama) dengan Dewi Bramaniyuta, putri Batara Brahma. Prabu Basupati mempunyai adik kandung bernama Bramananeki yang menikah dengan Bambang Parikenan, putra Batara Bremani (Brahmanaresi) dengan Dewi Srihuna alias Srihunon.
Karena ketekunannya bertapa, Prabu Basupati menjadi sangat sakti, juga tahu segala bahasa binatang. Ia mendapat anugerah Batara Indra berwujud sebuah kereta sakti bernama "Amarajaya" lengkap dengan bendera perangnya yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata. Dengan kereta sakti Amarajaya, Prabu Basupati menaklukkan tujuh negara; semuanya masuk ke dalam wilayah kekuasaan negara Wirata.
Prabu Basupati menikah dengan Dewi Angati atau Dewi Girika, putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama Arya Basunada, Arya Basukesti dan Arya Bamurti.
Prabu Basupati memerintah negara Wirata sampai berusia lanjut. Ia menyerahkan takhta Kerajaan Wirata kepada Arya Basunada, kemudian hidup sebagai brahmana sampai meninggal dalam keadaan bermudra.
तुष्टेन शक्रेण तस्मै आकाशगं विमानं दत्तं तत्र चरणादुपरिचरनामेत्युक्तं
दैवोपभोग्यं दिव्यं त्वामाकाशे स्फाटिकं महत्। आकाशगं त्वां मद्दत्तं विमानमुपपत्स्यते॥ त्वमेकः सर्वमर्त्येषु विमानवरमास्थितः। चरिष्यस्युपरिस्थो हि देवो विग्रहवानिव॥[The celestial chariot, enjoyable to the deities and beautifully crystalline in the sky, that I have graciously bestowed upon you will come to you. You alone, on the splendid chariot, residing above all mortals, will wander above, like the embodiment of the divine.]