Bajaj Bajuri adalah serial televisi Indonesia produksi GMM Films yang ditayangkan perdana 7 Mei 2002 di Trans TV. Serial ini disutradarai oleh Aris Nugraha dan dibintangi oleh Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka dan Nani Wijaya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bajaj Bajuri | |
|---|---|
| Genre | Situasi komedi |
| Dibuat oleh | GMM Films |
| Ditulis oleh |
|
| Sutradara |
|
| Pemeran | |
| Negara asal | Indonesia |
| Bahasa asli | Bahasa Indonesia |
| Jml musim | 7 |
| Jml episode | 679 |
| Produksi | |
| Produser eksekutif | Emma Gunawan |
| Produser | Aris Nugraha |
| Sinematografi | Ardi Yusuf |
| Editor | Salvano |
| Durasi | 60 menit |
| Rumah produksi | GMM Films |
| Distributor | Trans Media |
| Rilis asli | |
| Rilis | 7 Mei 2002 (2002-05-07) – 11 Mei 2007 (2007-5-11) |
| Acara terkait | |
Bajaj Bajuri adalah serial televisi Indonesia produksi GMM Films yang ditayangkan perdana 7 Mei 2002 di Trans TV. Serial ini disutradarai oleh Aris Nugraha dan dibintangi oleh Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka dan Nani Wijaya.
Pada musim pertama serial ini dimulai pada tahun 2002. Dalam perkembangannya pada Mei 2005, Bajaj Bajuri dipecah menjadi versi Bajaj Baru Bajuri dan Bajaj Bajuri edisi Salon Oneng. Setahun kemudian, tepatnya pada bulan Desember 2006, kedua serial kembali dipersatukan menjadi Bajaj Bajuri Narik Lagi sebelum akhirnya berhenti ditayangkan pada tahun 2007. Diperkirakan ada lebih dari 250 episode yang sudah diproduksi, baik itu versi 20 hingga 40 menit.
Pernah ditayangkan ulang di SCTV pada 2010.
Dan juga pernah ditayangkan ulang di antv pada tahun 2008.[1]
Bajaj Bajuri menceritakan tentang kisah sebuah keluarga sederhana campuran Betawi dan Sunda, yaitu keluarga Bajuri dan Oneng, yang berpenghasilan pas-pasan karena sang suami hanyalah seorang sopir bajaj sedangkan sang istri membuka salon kecil-kecilan. Mereka tinggal serumah dengan Eti, ibunda Oneng, yang biasa dipanggil Emak. Kehidupan mereka yang sederhana beserta lingkungan sekitarnya ditampilkan untuk menggambarkan situasi kondisi masyarakat daerah pinggiran di Jakarta. Bajuri dan keluarganya digambarkan tinggal di Jakarta Selatan, di sebuah kampung fiktif bernama Ngagakgak,[2] meskipun dalam episodenya juga menampilkan tempat-tempat asli seperti Jatinegara, Jakarta Timur, Kebun Binatang Ragunan, Cilandak Mall (kini Transmart Cilandak) hingga Taman Impian Jaya Ancol.
Bajuri selalu bermusuhan dengan mertuanya karena penghasilannya sebagai sopir bajaj yang pas-pasan. Oneng digambarkan sebagai seorang yang lambat pemikiranya. Emak Eti yang mata duitan dan sedikit egois. Kelucuan demi kelucuan terjadi akibat keluguan Oneng dan egoisme Emak.
Tak ketinggalan, dikisahkan pula kehidupan para tetangga mereka. Di antaranya, Ucup dan Said dua orang pengangguran yang selalu merepotkan keluarga Bajuri, Mpok Leha pemilik warung makan yang sering rugi karena dihutangi, serta Pak RT yang tidak bisa tegas dan terkadang licik. Ada juga Mpok Minah, seorang janda yang penakut dan Mpok Hindun, seorang ibu yang genit dan hiperseks, keduanya sering tertekan oleh perilaku Emak. Namun, di antara semua warga kampung, Mpok Hindun-lah yang paling berani melawan Emak, walaupun sering kalah.
Sitkom ini diproduksi oleh rumah produksi kecil bernama Padi Films, yang kemudian berganti nama menjadi GMM Films. Disebutkan bahwa awalnya rumah produksi tersebut sudah menyusun idenya sejak 2000, walaupun sempat terkatung-katung sebelum akhirnya diterima Trans TV yang baru beberapa saat berdiri.[3] Meskipun penyusunannya dibuat oleh orang Indonesia, ada orang asing yang terlibat, yaitu Raymond Lee (dari Inggris) sebagai produser[4] (hal ini-lah yang membuat mengapa beberapa episode Bajaj Bajuri mampu menampilkan karakter "bule"). Mulanya Bajaj Bajuri ditayangkan hanya sekali seminggu, yang seiring naik pamornya, meningkat menjadi beberapa kali, bahkan pernah setiap hari perminggu baik itu produksi baru maupun ulangan.[5]
Dalam produksinya, Bajaj Bajuri terkesan sederhana, dengan dalam beberapa episode menampilkan pengeditan gambar dan suara yang kurang bagus. Beberapa aktor yang ditampilkan juga bukan nama-nama beken. Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat sitkom ini dianggap sebelah mata, yang terbukti dengan kesuksesannya. Banyak yang menilai, Bajaj Bajuri berhasil menampilkan "hawa segar" pada dunia komedi di Indonesia.[6] Menurut sineas top Garin Nugroho, Bajaj Bajuri sukses dengan upayanya "menempatkan kelokalan" dalam memburu rating. Hal ini tidak lepas dari karakterisasi pemainnya yang dibuat sangat ketat; menurut salah satu sutradara dan konseptornya, Aris Nugraha, pemain Bajaj Bajuri diwajibkan mengikuti skenario dan meminimalkan improvisasi.[5]
Pada umumnya setiap episode sitkom ini bertema sendiri-sendiri dan tidak bersambung, walaupun sempat dibuat dengan teknik stripping. Meskipun demikian, selalu ada upaya menjelaskan peristiwa tertentu dalam perjalanan Bajaj Bajuri. Misalnya ketidakhadiran Bajuri dalam beberapa episode pada tahun 2005 disebutkan karena ia sakit parah, tetapi diobati oleh "bule" bernama Mr. Black yang diiringi kepergian Bajuri untuk menjadi supir pribadinya sebagai balas budi.[7]
Dalam perkembangannya pemain Bajaj Bajuri berubah dari waktu ke waktu. Misalnya adalah kehadiran tokoh utamanya, Ahmad Bajuri (Mat Solar), yang beberapa kali menghilang akibat konflik mengenai honor dengan rumah produksinya.[8] Konflik ini baru dapat diatasi dengan dipecahnya Bajaj Bajuri menjadi Bajaj Baru Bajuri dan Bajaj Bajuri edisi Salon Oneng, di mana Mat Solar mendapatkan peran utama di sitkom pertama dan pemain tamu di sitkom kedua.[9] Pemecahan ini ditandai dengan dua episode spesial yang ditayangkan pada 21—22 Mei 2005 dan mulai ditayangkannya episode tersendiri kedua versi Bajaj Bajuri pada 28-29 Mei 2005.[10] Karakter lainnya, Emak Eti (Nani Widjaja), juga pernah absen pada tahun 2004 demi merawat putrinya, Sukma Ayu.[11] Hal tersebut belum ditambah menghilangnya maupun masuknya sejumlah karakter baru, seperti pemeran Mpok Leha. Perubahan juga nampak pada kostum beberapa tokoh dan tata letak Kampung Ngagakgak.
Setelah berpisah menjadi Bajaj Baru Bajuri dan Bajaj Bajuri edisi Salon Oneng, kinerja keduanya agak berbeda, di mana Bajaj Baru Bajuri hanya bertahan sebanyak 26 episode karena kurang diminati pemirsa dan dihentikan mulai 26 Januari 2006.[12] Sedangkan rating Salon Oneng cukup baik, meskipun akhirnya juga harus dimodifikasi dengan kembalinya Bajuri di beberapa episode. Pada Desember 2006, Bajaj Bajuri versi lama "lahir kembali" dengan nama baru, yaitu Bajaj Bajuri Narik Lagi[13] yang merupakan versi terakhir sitkom ini.
Popularitas Bajaj Bajuri sempat melahirkan serial sejenis, seperti Si Bajaj (MD Entertainment, Trans TV), Bajaj Gaul (GMM Films, Global TV) dan Kejar Kusnadi (Indika Entertainment, RCTI, jenis kendaraan dalam sitkom ini adalah kancil).[4] Pada tahun 2014, Bajaj Bajuri diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Bajaj Bajuri the Movie, yang disutradarai Fajar Nugros dan diproduksi oleh Starvision. Adapun ide memfilmkan sitkom ini sudah ada sejak 2007, dengan saat itu direncanakan akan diperankan oleh aktor-aktor aslinya, tetapi akhirnya batal terlaksana.[14] Dan tahun 2016 juga melahirkan serial televisi sejenis yaitu Bajaj Bang Gocir di MNCTV pada 2016.
Bajuri edisi ini berdurasi sekitar 20 menit yang merupakan format awal sinetron Bajaj Bajuri.
Bajuri edisi ini berdurasi sekitar 40 menit yang merupakan kelanjutan format Bajaj Bajuri awal.
Bajaj Bajuri edisi ini keluar pada saat bulan Ramadan dan Lebaran dengan tema yang berhubungan dengan puasa dan Ramadan
Pada bulan Mei 2005, diceritakan terjadi permasalahan antara Emak dan Nyak Ipah, ibunda Bajuri. Hal ini mengakibatkan Bajuri diusir dari rumah Emak dan pulang ke rumah ibunya. Maka, dimulailah sebuah kisah bertajuk Bajaj Baru Bajuri dengan tambahan beberapa tokoh baru di kampung halaman Bajuri. Sayangnya, sinetron baru ini kurang diminati penonton, sehingga harus tamat pada bulan Februari 2006.
Setelah Bajuri terusir dari rumah, kisah Oneng dan Emak tetap berlanjut dengan judul Salon Oneng. Berbeda dengan sinetron Bajuri, sinetron Oneng memiliki rating yang lebih baik.
Akhirnya pada bulan Desember 2006, Bajuri dan Oneng kembali bersatu. Sekuel baru ini berjudul Bajaj Bajuri Narik Lagi. Sayangnya, sinetron baru ini kurang diminati penonton, sehingga harus tamat pada bulan April 2007.