Bahasa Likia adalah bahasa yang pernah dituturkan oleh bangsa Likia yang pernah hidup di Anatolia selama Zaman Besi. Sebagian besar prasasti yang ditemukan dibuat pada abad kelima dan keempat sebelum Masehi. Dua ragam bahasa dikenal sebagai bagian dari Likia: Likia umum atau Likia A, dan Likia B atau Milya. Likia punah sekitar awal abad pertama SM, digantikan oleh bahasa Yunani Koine selama Helenisasi oleh Aleksander. Likia memiliki aksaranya sendiri, yang diturunkan dari Alfabet Yunani, tetapi beberapa hurufnya yang diserap dari Karia dan dimodifikasi sesuai pengucapan bahasa Luwia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bahasa Likia
𐊗𐊕𐊐𐊎𐊆𐊍𐊆code: xlc is deprecated Trm̃mili | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Obelisk Xanthos dengan tulisan dalam alfabet dan bahasa Likia | |||||
| Dituturkan di | Likia, Likaonia | ||||
| Wilayah | Anatolia barat daya | ||||
| Etnis | Bangsa Likia | ||||
| Era | 500 hingga 200 SM[1] | ||||
| |||||
| Alfabet Likia | |||||
| Kode bahasa | |||||
| ISO 639-3 | xlc | ||||
LINGUIST List | xlc | ||||
| Glottolog | lyci1241[2] | ||||
| IETF | xlc | ||||
| |||||
Bahasa Likia (𐊗𐊕𐊐𐊎𐊆𐊍𐊆code: xlc is deprecated Trm̃mili)[5] adalah bahasa yang pernah dituturkan oleh bangsa Likia yang pernah hidup di Anatolia (tepatnya di daerah Likia) selama Zaman Besi. Sebagian besar prasasti yang ditemukan dibuat pada abad kelima dan keempat sebelum Masehi. Dua ragam bahasa dikenal sebagai bagian dari Likia: Likia umum atau Likia A, dan Likia B atau Milya. Likia punah sekitar awal abad pertama SM, digantikan oleh bahasa Yunani Koine selama Helenisasi oleh Aleksander. Likia memiliki aksaranya sendiri, yang diturunkan dari Alfabet Yunani, tetapi beberapa hurufnya yang diserap dari Karia dan dimodifikasi sesuai pengucapan bahasa Luwia.
Likia merupakan daerah antara Antalya dan Fethiye di Turki selatan, terutama tanjung pegunungan antara Teluk Fethiye dan Teluk Antalya. Lukka, sebagaimana disebutkan dalam sumber-sumber Mesir Kuno, yang menyebutkan mereka di antara Bangsa Laut, mungkin juga mendiami wilayah yang disebut Likaonia, yang terletak di sepanjang tanjung sebelah timur, juga pegunungan, antara kota Antalya modern dan Mersin.
Sejak akhir abad ke-18 para pelancong Eropa Barat mulai mengunjungi Asia Kecil untuk memperdalam pengenalan mereka dengan dunia Homeros dan Perjanjian Baru. Di barat daya Asia Kecil (Likia), mereka menemukan prasasti dalam aksara yang tidak diketahui. Empat prasasti pertama yang ditemukan, dirilis pada tahun 1820, dan dalam beberapa bulan, orientalis Prancis bernama Antoine-Jean Saint-Martin menggunakan dwibahasa yang menunjukkan nama-nama orang dalam bahasa Yunani dan Likia sebagai kunci untuk mentransliterasi alfabet Likia dan menentukan arti dari beberapa kata.[6] Selama abad berikutnya jumlah teks meningkat, terutama dari tahun 1880-an ketika ekspedisi Austria secara sistematis menyisir wilayah tersebut. Namun, upaya untuk menerjemahkan teks apa pun kecuali teks yang paling sederhana harus tetap bersifat spekulatif, meskipun analisis kombinasi tersebut mengoreksi beberapa perkiraan aspek tata bahasa Likia. Satu-satunya naskah penting dengan padanan bahasa Yunani, yaitu Prasasti Xanthos, hampir tidak membantu karena prasasti Likia ditemukan dalam kondisi rusak parah, dan lebih buruk lagi, padanan Yunaninya tidak mendekati interpretasinya.[7]
Hanya setelah penguraian bahasa Het, oleh Bedřich Hrozný pada tahun 1917, sebuah bahasa diketahui yang terkait erat dengan Likia dan dapat membantu interpretasi etimologis dari kosakata Likia. Perkembangan penguraian bahasa Likia yang drastis ditandai dengan ditemukannya prasasti tribahasa Letoon dalam bahasa Likia, Yunani, dan Aram.[8] Meskipun masih banyak yang belum jelas, kamus Likia telah disusun oleh Craig Melchert[9] dan Günter Neumann.[10]
Pada umumnya kosakata pada bahasa Likia mirip dengan Milya, terdapat perbedaannya yang mencolok, seperti imbuhan, tata bahasa, dan bunyi. Milya sepertinya merupakan bahasa yang lebih kuno,[11] karena mempertahankan beberapa karakteristik bahasa Proto-Anatolia, sedangkan Likia menunjukkan tahap yang lebih inovatif. Kemungkinan ada hubungannya dengan prasasti-prasasti Milya: sementara prasasti-prasasti dalam bahasa Likia menjelaskan hal yang lebih umum (militer, pembangunan makam, dan lain-lain), kedua prasasti Milya juga merujuk pada ritual keagamaan, di mana bahasa suci yang lebih kuno mungkin dianggap tepat.
Berikut adalah beberapa perbedaan antara bahasa Likia Umum (Likia) dan Milya (Likia B), dengan contoh (beberapa contoh menunjukkan arti ganda):[12][13]
| Penjelasan | Milya (Likia B) | Likia |
|---|---|---|
| Intervokal *-/s/- dalam Likia berubah menjadi -h- | masa, 'dewa' | maha, 'dewa' |
| enese/i-, 'maternal, ibu-' | enehe/i-, 'maternal, ibu-' | |
| esete, 'damai' | ahata, 'damai' | |
| tbisu, 'dua kali' | kbihu, 'dua kali' | |
| Proto-Anatolia */kw/ menjadi /k/ dalam Milya, /t/ dalam Likia | ki, 'siapa, apa' | ti, 'siapa, apa' |
| kibe, 'atau' | tibe, 'atau' | |
| kere, 'wilayah' (atau 'tentara') | tere, τere, 'wilayah' (atau 'tentara') | |
| Proto-Anatolia */du/ menjadi */tb/ dalam Milya, /kb/ dalam Likia | tbisu, 'dua kali' | kbihu, 'dua kali' |
| jamak nominativus dan akusativus in -(i)z dalam Milya | masaiz (jamak nominativus), masãz (?) (jamak akusativus), 'dewa' | mãhãi (jamak nominativus), mãhas (akusativus), 'dewa' |
| tuweiz (jamak nominativus), tuwiz (akusativus), 'persembahan nazar' | tideimi (jamak nominativus), tideimis (akusativus), 'putra, anak-anak' | |
| Etnonim pada -ewñn- dalam Milya, -eñn- dalam Likia | Xbidewñn(i)-, 'Kaunia, dari Kaunos' | Xbideñn(i)-, 'Kaunia, dari Kaunos' |
| (terkadang:) intervokal */u/ menjadi -b- dalam Milya, -w- dalam Likia | xñtaba-, 'jabatan raja' | xñtawa-, 'jabatan raja' |
| (terkadang:) a/e ablaut: /a/ dalam Likia, /e/ dalam Milya | mere, 'law' | mara , 'hukum' |
| esete, 'damai' | ahata, 'damai' | |
| (terkadang:) imbuhan awal */s/- becomes h- dalam Likia, hilang di Milya | uwedr(i)-, 'semua' | huwedr(i)-, 'semua' |
| Kata penghubung se/sebe, 'dan' | sebe, 'dan' | se, 'dan' |
| Milya, tidak seperti Likia, sepertinya ada fitur kata dasar u- | urtu (tunggal akusativus), urtuz/urtuwãz (jamak akusativus), 'hebat (?)' | — |
Likia diketahui dari sumber-sumber ini, beberapa di antaranya cukup luas:[15][16]
Bahan prasasti dibuat pada 500-330 SM.[19]