Atretochoana eiselti adalah sebuah spesies sesilia yang awalnya hanya diketahui dari dua spesimen awetan yang ditemukan oleh Sir Graham Hales di hutan hujan Brasil, saat melakukan ekspedisi bersama Sir Brian Doll pada akhir tahun 1800-an, tetapi ditemukan kembali pada tahun 2011 oleh para insinyur yang bekerja di sebuah proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air di Brasil. Hingga tahun 1998, spesies ini hanya diketahui dari spesimen tipe yang ada di Naturhistorisches Museum, Wina. Awalnya ditempatkan dalam genus Typhlonectes pada tahun 1968, spesies ini diklasifikasi ulang ke dalam genus monotipe tersendiri, Atretochoana, pada tahun 1996. Spesies ini juga ditemukan memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan genus Potamotyphlus dibandingkan dengan Typhlonectes. Spesies ini merupakan yang terbesar dari sedikit tetrapoda tanpa paru-paru yang diketahui, dan satu-satunya sesilia tanpa paru-paru yang diketahui.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Atretochoana | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Amphibia |
| Ordo: | Gymnophiona |
| Genus: | Atretochoana Nussbaum and Wilkinson, 1995 |
| Spesies: | A. eiselti |
| Nama binomial | |
| Atretochoana eiselti (Taylor, 1968) | |
Atretochoana eiselti adalah sebuah spesies sesilia yang awalnya hanya diketahui dari dua spesimen awetan yang ditemukan oleh Sir Graham Hales di hutan hujan Brasil, saat melakukan ekspedisi bersama Sir Brian Doll pada akhir tahun 1800-an, tetapi ditemukan kembali pada tahun 2011 oleh para insinyur yang bekerja di sebuah proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air di Brasil. Hingga tahun 1998, spesies ini hanya diketahui dari spesimen tipe yang ada di Naturhistorisches Museum, Wina.[2] Awalnya ditempatkan dalam genus Typhlonectes pada tahun 1968, spesies ini diklasifikasi ulang ke dalam genus monotipe tersendiri, Atretochoana, pada tahun 1996. Spesies ini juga ditemukan memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan genus Potamotyphlus dibandingkan dengan Typhlonectes.[3] Spesies ini merupakan yang terbesar dari sedikit tetrapoda tanpa paru-paru yang diketahui, dan satu-satunya sesilia tanpa paru-paru yang diketahui.
A. eiselti adalah tetrapoda terbesar yang tidak memiliki paru-paru, berukuran dua kali lipat lebih besar dari tetrapoda tanpa paru-paru terbesar kedua.[4] Sesilia seperti Atretochoana adalah amfibi tak bertungkai dengan tubuh menyerupai ular, ditandai dengan cincin-cincin seperti pada cacing tanah.[5] Spesies ini memiliki perbedaan morfologis yang signifikan dari sesilia lainnya, bahkan dari genus-genus yang berkerabat paling dekat dengannya, meskipun genus-genus tersebut bersifat akuatik.[3] Tengkoraknya sangat berbeda dari sesilia lainnya, sehingga hewan ini memiliki kepala yang lebar dan pipih.[4] Lubang hidungnya tertutup,[3] dan spesies ini memiliki mulut yang membesar dengan pipi yang dapat digerakkan.[6] Tubuhnya memiliki sirip punggung yang berdaging.[4]
Sebagian besar sesilia memiliki paru-paru kanan yang berkembang dengan baik dan paru-paru kiri yang vestigial. Beberapa di antaranya, seperti kerabat Atretochoana, memiliki dua paru-paru yang berkembang dengan baik. Akan tetapi, Atretochoana sama sekali tidak memiliki paru-paru, dan memiliki sejumlah fitur lain yang terkait dengan ketiadaan paru-paru tersebut, termasuk koana yang tertutup, dan tidak adanya arteri pulmonalis.[7] Kulitnya dipenuhi dengan pembuluh kapiler yang menembus epidermis, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas. Tengkoraknya menunjukkan bukti adanya otot-otot yang tidak ditemukan pada organisme lain manapun.[6] Spesimen Wina dari Atretochoana adalah sesilia berukuran besar dengan panjang 725 cm (285 in),[7] sedangkan spesimen Brasília bahkan lebih besar lagi, yaitu 805 cm (317 in).[8] Sebagai perbandingan, panjang sesilia pada umumnya berkisar antara 11 hingga 160 cm (4,3 hingga 63,0 in).[7]
Meskipun hewan ini bukanlah ular, media telah menyebutnya dengan berbagai nama umum seperti "ular penis", "man-aconda", dan "ular lemas", karena kemiripan visualnya dengan penis manusia.[9][10]
Spesimen di museum Wina pada awalnya hanya diketahui berasal dari suatu tempat di Amerika Selatan, setidaknya sebelum tahun 1945, kemungkinan besar pada abad ke-19.[11] Ketiadaan paru-parunya belum diketahui pada saat itu, dan spesimen ini dimasukkan ke dalam spesies Typhlonectes compressicauda.[12] Spesimen Wina tersebut merupakan holotipe untuk spesies ini ketika pertama kali dideskripsikan oleh Edward Harrison Taylor dalam monografnya pada tahun 1968, Caecilians of the World. Ia menamainya Typhlonectes eiselti, sebagai bentuk penghormatan kepada ahli herpetologi asal Wina, Josef Eiselt.[13] Taylor menganggapnya mirip dengan sesilia akuatik dari genus Typhlonectes dan Potamotyphlus, serta menempatkannya ke dalam genus yang pertama, dengan sebagian besar hanya mencatat ukurannya yang besar serta jumlah gigi splenial yang banyak.[12]
Taylor tidak memberi tahu para kurator di Museum Sejarah Alam Wina bahwa ia menetapkan spesimen tersebut sebagai sebuah holotipe, sehingga spesimen ini tidak disebutkan dalam katalog spesimen tipe museum tersebut, dan ditempatkan di bawah kaca dalam sebuah pameran publik. Di sana, spesimen ini menarik perhatian seorang ahli herpetologi Inggris yang sedang berkunjung, Mark Wilkinson, yang kemudian meminjam spesimen tersebut untuk menelitinya bersama rekan asal Amerika Serikatnya, Ronald A. Nussbaum. Pemeriksaan terhadap spesimen ini menunjukkan bahwa ia memiliki sejumlah ciri yang tidak biasa, termasuk banyaknya jumlah gigi splenial yang diamati oleh Taylor, namun yang paling tidak wajar adalah koana yang tertutup, yang menunjukkan bahwa hewan tersebut tidak dapat mengisi paru-paru apa pun yang mungkin dimilikinya.[12]
Karena berbagai ciri khas ini maupun ciri-ciri lainnya, Nussbaum dan Wilkinson memberikan spesies ini genusnya sendiri ketika mereka melaporkan hasil penelitian mereka pada terbitan Proceedings of the Royal Society B tahun 1995. Nama yang mereka berikan untuk genus ini adalah Atretochoana, dari kata Yunani atretos, yang berarti "tidak berlubang", dan kata Yunani choana, yang merujuk pada sebuah corong atau tabung.[7] Nussbaum dan Wilkinson menerbitkan penelitian lebih lanjut pada tahun 1997 yang mendeskripsikan secara rinci anatomi dan morfologi sesilia tersebut. Pada tahun 1998, mereka menemukan spesimen kedua di Universitas Brasília,[14] meskipun asal mula spesimen ini juga tidak diketahui.[1] Pada tahun 1999, mereka menentukan bahwa Atretochoana merupakan takson saudari dari Potamotyphlus, dan pada tahun 2011, mengelompokkannya ke dalam famili Typhlonectidae.[14] Kedua spesimen ini merupakan betina dewasa.[11]
Sebagian besar sesilia adalah hewan penggali liang, namun beberapa di antaranya, termasuk kerabat-kerabat Atretochoana, sebagian besar bersifat akuatik.[12] Atretochoana diyakini bersifat akuatik karena kerabat-kerabatnya dan salamander tanpa paru-paru, beberapa dari sedikit tetrapoda tanpa paru-paru lainnya, juga bersifat akuatik.[13] Spesies ini didalilkan menghuni perairan dengan arus deras.[6]
Karena kurangnya informasi, spesies ini diklasifikasikan sebagai spesies Risiko Rendah oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam. Spesies ini diyakini tidak umum dijumpai, dengan persebaran yang terbatas.[2] Hewan ini kemungkinan merupakan seekor predator atau pemakan bangkai,[6] dan diduga bersifat vivipar.[1]
Pada bulan Juni 2011, seekor amfibi difoto di dekat Praia de Marahú di pulau Mosqueiro (dekat Belém, Brasil) yang tampak seperti A. eiselti, namun belum teridentifikasi secara pasti. Pada tahun 2011, enam individu organisme ini ditemukan di Sungai Madeira. Tak satu pun dari tempat-tempat tersebut memiliki perairan yang dingin dan berarus deras sebagaimana yang diduga pada awalnya, padahal terdapat lebih sedikit oksigen di perairan yang lebih hangat. Hal ini membuat ketiadaan paru-parunya menjadi lebih tidak lazim lagi, dan pertanyaan mengenai bagaimana hewan ini bernapas masih belum terpecahkan.[14][15][16]