Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Askariasis

Askariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Nematoda Ascaris lumbricoides yang menyerang usus manusia. Askariasis adalah penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.

Wikipedia article
Diperbarui 5 Januari 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Askariasis
Ascaris lumbricoides
Cacing dewasa betina.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Nematoda
Kelas:
Secernentea
Ordo:
Ascaridida
Famili:
Ascarididae
Genus:
Ascaris
Spesies:
A. lumbricoides
Nama binomial
Ascaris lumbricoides
Linnaeus, 1758
Artikel takson sembarang

Askariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Nematoda Ascaris lumbricoides yang menyerang usus manusia.[1] Askariasis adalah penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.

Hospes dan distribusi

Hospes atau inang dari Askariasis adalah manusia. Di manusia, larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan mengadakan kopulasi serta akhirnya bertelur.

Penyakit ini sifatnya kosmopolit, terdapat hampir di seluruh dunia. Prevalensi askariasis sekitar 70–80%.

Morfologi

Cacing jantan memiliki panjang sekitar 10–31 cm dan berdiameter 2–4 mm, sedangkan betina memiliki panjang 20–35 cm dan berdiameter 3–6 mm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing betina memiliki tubulus dan duktus sepanjang kurang lebih 12 cm dan kapasitas sampai 27 juta telur.

Cacing dewasa hidup pada usus halus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 50–70 × 40–50 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 × 40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia. Telur cacing A. lumbricoides dilapisi lapisan albumin dan tampak berbenjol-benjol.[2]

Siklus hidup

Siklus hidup Ascaris

Siklus hidup A. lumbricoides dimulai dari keluarnya telur bersama dengan feses, yang kemudian mencemari tanah. Telur ini akan menjadi bentuk infektif dengan lingkungan yang mendukung, seperti kelembapan yang tinggi dan suhu yang hangat.[3] Telur bentuk infektif ini akan menginfeksi manusia jika tanpa sengaja tertelan manusia.

Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran darah, dimulai dari pembuluh darah vena, vena portal, vena cava inferior dan akan masuk ke jantung dan ke pembuluh darah di paru-paru.

Pada paru-paru akan terjadi siklus paru di mana cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring dan memicu batuk. Dengan terjadinya batuk larva akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.

Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.[2]

Patologi klinik

Askariasis
SpesialisasiPenyakit menular, helminthologist Sunting ini di Wikidata

Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa.

Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak napas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.

Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

Cara diagnosis

Telur Ascaris yang berisi embrio

Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut.

Tata Laksana

Tata laksana dari askariasis ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu terapi obat dan tindakan operasi.

Terapi obat yang dapat digunakan antara lain adalah albendazole (400 mg) dan mebendazole (500 mg) dosis tunggal. Bisa juga digunakan levamisole (2,5 mg/kgBB) ataupun pirantel pamoat (10 mg/kgBB), selain itu bisa diberikan nitazoxanide (500 mg per hari selama tiga hari)

Tindakan operasi yang dapat dilakukan adalah laparotomi. Tindakan operasi diberikan pada keadaan di mana pasien tidak merespons pengobatan.[4]

Prognosis

Pada umumnya, askariasis memiliki prognosis yang baik. Kesembuhan askariasis mencapai 70% hingga 99%.

Epidemiologi

Di Indonesia, prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak-anak. Penyakit ini dapat dicegah di indonesia dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang baik. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini.

Referensi

  1. ↑ Parker, Sybil, P (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill Company. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 Cook GC, Zumla AI. Manson’s Tropical Diseases, 22nd Edition. 22nd ed. Saunders Ltd.; 2008
  3. ↑ Kim M-K, Pyo K-H, Hwang Y-S, Park KH, Hwang IG, Chai J-Y, et al. Effect of Temperature on Embryonation of Ascaris suum Eggs in an Environmental Chamber. Korean J Parasitol. 2012 Sep;50(3):239–42.
  4. ↑ Cook GC, Zumla AI. Manson’s Tropical Diseases, 22nd Edition. 22nd ed. Saunders Ltd.; 2008.
  • Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  • Padmasutra, Leshmana, dr. 2007. Catatan Kuliah:Ascaris lumbricoides. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.
  • l
  • b
  • s
Filum yang masih hidup dalam kerajaan Animalia
Domain
Arkea
Bakteria
Eukaryota
(Kerajaan
Tumbuhan
Hacrobia
Heterokontophyta
Alveolata
Rhizaria
Excavata
Amoebozoa
Hewan
Fungi)
A
n
i
m
a
l
i
a
  • Porifera (spons)
Diploblast
(Eumetazoa)
  • Ctenophora (ubur-ubur sisir)
ParaHoxozoa
  • Placozoa (Trichoplax)
Planulozoa
  • Cnidaria (ubur-ubur dan kerabatnya)
Bilateria
(Triploblast)
  • (lihat di bawah↓)
Bilateria
Xenacoelomorpha
  • Xenoturbellida (Xenoturbella)
  • Acoelomorpha
    • Acoela
    • Nemertodermatida
N
e
p
h
r
o
z
o
a
Deuterostomia
  • Chordata
    • Cephalochordata
    • Tunicata
    • Craniata / Vertebrata
Ambulacraria
  • Echinodermata (bintang laut dan kerabatnya)
  • Hemichordata
    • cacing acorn
    • Pterobranchia
P
r
o
t
o
s
t
o
m
i
a
Ecdysozoa
Scalidophora
  • Kinorhyncha (naga lumpur)
  • Priapulida (cacing penis)
N+L+P
Nematoida
  • Nematoda (cacing gilig)
  • Nematomorpha (cacing rambut kuda)
L+P
  • Loricifera
Panarthropoda
  • Onychophora (cacing beludru)
Tactopoda
  • Arthropoda (artropoda)
  • Tardigrada (beruang air)
S
p
i
r
a
l
i
a
Gnathifera¹
  • Chaetognatha (cacing panah)
  • Gnathostomulida (jaw worms)
  • Micrognathozoa (Limnognathia)
  • Syndermata
    • Rotifera
    • Acanthocephala
Platytrochozoa
R+M
Mesozoa
  • Orthonectida
  • Dicyemida atau Rhombozoa
Rouphozoa¹
  • Platyhelminthes (cacing pipih)
  • Gastrotricha (hairyback)
Lophotrochozoa
  • Cycliophora (Symbion)
  • Mollusca (moluska)
A+N
  • Annelida (cacing beruas)
  • Nemertea (cacing probosis)
Lophophorata
Bryozoa
  • Entoprocta atau Kamptozoa
  • Ectoprocta (hewan lumut)
Brachiozoa
  • Brachiopoda (kerang lentera)
  • Phoronida (cacing tapal kuda)
----
Kelompok utama
dalam filum
  • Porifera
    • Calcarea
    • Hexactinellida
    • Demospongiae
    • Homoscleromorpha
  • Cnidaria
    • Anthozoa mencakup koral
    • Medusozoa mencakup ubur-ubur
    • Myxozoa
  • Vertebrata
    • Ikan tak berahang
    • Ikan bertulang rawan
    • Ikan bertulang sejati
    • Amfibia
    • Reptilia/Burung
    • Mamalia
  • Echinodermata
    • Lili laut
    • Asterozoa mencakup bintang laut
    • Echinozoa
  • Nematoda
    • Chromadorea
    • Enoplea
    • Secernentea
  • Artropoda
    • Chelicerata/Araknida
    • Myriapoda
    • Krustasea
    • Hexapoda/Serangga
  • Platyhelminthes
    • Turbellaria
    • Trematoda
    • Monogenea
    • Cestoda
  • Bryozoa
    • Phylactolaemata
    • Stenolaemata
    • Gymnolaemata
  • Annelida
    • Polychaeta
    • Clitellata
    • Echiura
  • Moluska
    • Gastropoda
    • Sefalopoda
    • Bivalvia
    • Polyplacophora
    • Scaphopoda
Filum dengan ≥5000 spesies yang masih hidup dicetak tebal
Lihat pula
Diploblast
Monoblastozoa (nomen dubium)
  • ¹Platyzoa

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Hospes dan distribusi
  2. Morfologi
  3. Siklus hidup
  4. Patologi klinik
  5. Cara diagnosis
  6. Tata Laksana
  7. Prognosis
  8. Epidemiologi
  9. Referensi

Artikel Terkait

Levamisol

senyawa kimia

Sanitasi

upaya mencegah penyakit dengan menyingkirkan faktor lingkungan

Parasit

Organisme yang hidup pada atau di dalam tubuh organisme lain dan bersifat merugikan.

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026