Arvilla Delitriana adalah seorang insinyur perempuan Indonesia yang merancang jembatan lengkung lintas rel terpadu LRT Jabodebek. Selama 20 tahun berkarier sebagai insinyur, banyak jembatan yang telah ikut dibangunnya. Dina pertama kali terlibat dalam desain jembatan yaitu Tukad Bangkung di Nusa Penida, Bali pada tahun 2001. Kemampuannya dalam mendesain jembatan didapatkan dari Prof. Jodi Firmansyah, yaitu seorang pakar jalan dan jembatan dari Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Arvilla Delitriana | |
|---|---|
| Lahir | 23 April 1970 Tebing Tinggi |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Almamater | SMAN 3 Bandung S-1 Institut Teknologi Bandung (Teknik Sipil) S-2 Institut Teknologi Bandung (Geoteknik) |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | Insinyur |
| Institusi |
|
Arvilla Delitriana (lahir, 23 April 1970) adalah seorang insinyur perempuan Indonesia yang merancang jembatan lengkung lintas rel terpadu LRT Jabodebek.[1][2][3] Selama 20 tahun berkarier sebagai insinyur, banyak jembatan yang telah ikut dibangunnya.[4] Dina pertama kali terlibat dalam desain jembatan yaitu Tukad Bangkung di Nusa Penida, Bali pada tahun 2001. Kemampuannya dalam mendesain jembatan didapatkan dari Prof. Jodi Firmansyah, yaitu seorang pakar jalan dan jembatan dari Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB).[5]
Arvilla menamatkan Sekolah Menegah Atas (SMA) di SMAN 3 Bandung di jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.[6] Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan sarjananya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil jurusan Teknik Sipil pada tahun 1989. Dia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil jurusan Geoteknik.[7]
Setelah lulus S2 pada 2003 Dina banyak membuat jembatan yang melintasi sungai. Kini dia bekerja di PT Cipta Graha Abadi. Belakangan Dina kerap merancang jembatan di kota yang melintasi jalan tol dan jembatan lengkung LRT.[8] Beberapa jembatan yang dirancang olehnya, yaitu Jembatan Kali Kuto di Semarang, Jembatan Layang Busway ruas Adam Malik, Jembatan Kereta Api Cirebon, Jembatan Perawang, dan Jembatan Pendamaran 1 dan 2 di Riau.[9]
Arvilla bersama timnya terlibat dalam perancangan Jembatan lengkung LRT Jabodebek yang memiliki panjang 148 meter dengan radius lengkung 115 meter. Daam perancangan jembantan lengkung ini, Arvilla menggunakan metode balanced cantilever yang memanfaatkan efek cantilever yang seimbang sehingga struktur dapat berdiri dan mendukung beban berat sendiri tanpa penyangga sementara (falsework). Metode ini banyak digunakan oleh negara maju yang menggunakan material baja untuk membangun jembatan karena baja relatif lebih mudah dan cepat.[10] Arvilla memperoleh pujian dari Presiden Joko Widodo atas perancangan LRT ini ada tahun 2019.[11]
Rancangan jembatan lengkung LRT Jabodebek Arvilla meraih dua rekor MURI (Museum Rekor Indonesia). Rekor pertama sebagai jembatan kereta box beton lengkung dengan bentang terpanjang. Rekor kedua sebagai jembatan dengan pembebanan axial static loading test terbesar.[12] Rancangan jembatan lengkung LRT Arvilla juga didaftarkan paten Hak Intelektual Properti.[13][14] Selain itu, Jembatan lengkung rancangannya itu kini memecahkan dua rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor pertama sebagai jembatan kereta box beton lengkung dengtan bentang terpanjang. Rekor kedua adalah jembatan dengan pembebanan axial static loading test terbesar. Proyek LRT Jabodetabek ini melayani tiga relasi perlintasan, yaitu Cawang-Cibubur, Cawang-Dukuh Atas, dan Cawang-Bekasi.[15]