Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Arca Bodhisatwa Awalokiteswara

Arca Bodhisattwa Awalokiteswara merupakan patung yang merepresentasikan Avalokitesvara, seorang Bodhisattwa penting dalam Buddhisme Mahayana. Avalokitesvara merupakan salah satu bodhisattva paling dikenal dalam Buddhisme. Namanya berkaitan dengan istilah isvara, yang dalam tradisi Hindu merujuk pada sosok ilahi seperti Wisnu atau Siwa, sehingga menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya.

Wikipedia article
Diperbarui 23 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Arca Bodhisattwa Awalokiteswara (The Bodhisattva Avalokiteshvara) merupakan patung yang merepresentasikan Avalokitesvara, seorang Bodhisattwa penting dalam Buddhisme Mahayana. Avalokitesvara merupakan salah satu bodhisattva paling dikenal dalam Buddhisme. Namanya berkaitan dengan istilah isvara, yang dalam tradisi Hindu merujuk pada sosok ilahi seperti Wisnu atau Siwa, sehingga menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya[1].

Pengertian

Arca Bodhisattwa Awalokitesvara (The Bodhisattva Avalokiteshvara) yang kini disimpan di Museum Sriwijaya Palembang merupakan salah satu artefak penting yang menggambarkan seni rupa Buddhisme Mahayana. Sosok Bodhisattwa ini adalah representasi utama dari nilai welas asih (karuṇā). Menurut kepercayaan Mahayana, Avalokitesvara dianggap sebagai makhluk suci yang bertanggung jawab untuk memberikan belas kasihan dan bantuan kepada semua makhluk dalam upaya membantu mereka mencapai pencerahan spiritual. Arca ini dipahat dari batu andesit dan menampilkan sosok Avalokitesvara sebagai perwujudan welas asih[2].

Karakteristik

Arca Awalokiteswara memiliki ukuran yang cukup besar, dengan tinggi mencapai 90 cm, lebar 35,5 cm, dan ketebalan 15,5 cm. Figur Bodhisattwa ini ditampilkan dalam sikap berdiri tegak lurus dengan proporsi tubuh yang ramping. Pakaiannya berupa jubah tipis yang menjuntai panjang hingga mendekati mata kaki, merefleksikan gaya busana yang lazim dalam seni Buddha periode tersebut[3]. Rambut arca digambarkan mengurai hingga bahu, mengenakan kain panjang serta kulit harimau yang tampak pada bagian pinggul. Di bagian belakang tubuh arca terdapat satu baris inskripsi beraksara Jawa Kuno “…daŋ ācāryya syuta…”. Walaupun alas (asana) tempat arca ini berdiri sudah tidak ditemukan, jejak-jejak kehadirannya di masa lalu masih terlihat melalui sisa-sisa dan bekas pada permukaan dasar arca.

Kondisi Fisik

Secara keseluruhan, arca ini ditemukan dalam kondisi yang tidak lagi utuh, bagian kepala dan kedua lengannya telah patah, meskipun berdasarkan bukti ikonografis, arca tersebut pada bentuk aslinya seharusnya memiliki empat buah lengan. Pada permukaan tubuh arca tampak sejumlah kerusakan yang menggambarkan panjangnya perjalanan artefak ini dari masa ke masa. Goresan-goresan beragam bentuk, yang tampaknya dihasilkan oleh benda tajam maupun gesekan keras, menjadi indikasi adanya proses pelapukan alami atau mungkin akibat campur tangan manusia, baik disengaja maupun tidak [4]

Walaupun bagian-bagian arca mengalami banyak kerusakan, beberapa unsur ikonografis penting masih dapat dikenali. Upawita (tali suci yang melingkar di tubuh) serta ikat pinggang masih tampak jelas dan memberikan gambaran mengenai atribut-atribut religius yang semula melekat pada figur Bodhisattwa ini. Sisa ornamen tersebut tidak hanya membantu merekonstruksi bentuk awal arca, tetapi juga menjadi petunjuk penting untuk memahami gaya seni, simbolisme, dan tradisi pemujaan Buddhis pada masa arca ini dibuat.

Referensi

  1. ↑ "Wayback Machine" (PDF). repository.unja.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-22.
  2. ↑ Taim, Eka Asih Putrina (2022). "PERSEBARAN ARCA BUDDHA ABAD KE-7-9 MASEHI: HUBUNGANNYA DENGAN PERKEMBANGAN KAWASAN AWAL KERAJAAN SRIWIJAYA". Naditira Widya (dalam bahasa Inggris). 16 (2): 95–106. ISSN 2548-4125.
  3. ↑ Purwanti, Retno (2021-10-30). "DESTRUKSI ARCA-ARCA MASA SRIWIJAYA: PETAKA SOSIAL PADA MASA KESULTANAN PALEMBANG: The Destruction of Sriwijaya Periode Sculptures: The Social Disaster in The Sultanate of Palembang Era". Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat: 213–221. doi:10.24164/prosiding.v4i1.20. ISSN 2775-3344.
  4. ↑ Badaruddin, Kemas. "Tinjauan Manajemen Pendidikan dalam Penyebaran Islam Berbasis Pluralitas pada Sejarah Destruksi Arca Awalokiteswara Situs Gedingsuro Palembang". Jurnal Pendidikan Tambusai.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Karakteristik
  3. Kondisi Fisik
  4. Referensi

Artikel Terkait

Sriwijaya

Kerajaan 671-1025 di Asia Tenggara

Temuan Sambas

bangsawan penganut agama Buddha. Arca Awalokiteswara bertatahkan batu mirah delima pada stela (sandaran arca) Arca perak Buddha berdiri di bawah payung

Perbandingan Buddhisme dengan Kekristenan

Kwan Im. Kwan Im adalah nama Tionghoa untuk seorang bodhisatwa di India dan Tibet, yaitu Awalokiteswara, yang secara perlahan mengalami proses feminisasi

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026