Arca Bodhisattwa Awalokiteswara merupakan patung yang merepresentasikan Avalokitesvara, seorang Bodhisattwa penting dalam Buddhisme Mahayana. Avalokitesvara merupakan salah satu bodhisattva paling dikenal dalam Buddhisme. Namanya berkaitan dengan istilah isvara, yang dalam tradisi Hindu merujuk pada sosok ilahi seperti Wisnu atau Siwa, sehingga menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Arca Bodhisattwa Awalokiteswara (The Bodhisattva Avalokiteshvara) merupakan patung yang merepresentasikan Avalokitesvara, seorang Bodhisattwa penting dalam Buddhisme Mahayana. Avalokitesvara merupakan salah satu bodhisattva paling dikenal dalam Buddhisme. Namanya berkaitan dengan istilah isvara, yang dalam tradisi Hindu merujuk pada sosok ilahi seperti Wisnu atau Siwa, sehingga menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya[1].
Arca Bodhisattwa Awalokitesvara (The Bodhisattva Avalokiteshvara) yang kini disimpan di Museum Sriwijaya Palembang merupakan salah satu artefak penting yang menggambarkan seni rupa Buddhisme Mahayana. Sosok Bodhisattwa ini adalah representasi utama dari nilai welas asih (karuṇā). Menurut kepercayaan Mahayana, Avalokitesvara dianggap sebagai makhluk suci yang bertanggung jawab untuk memberikan belas kasihan dan bantuan kepada semua makhluk dalam upaya membantu mereka mencapai pencerahan spiritual. Arca ini dipahat dari batu andesit dan menampilkan sosok Avalokitesvara sebagai perwujudan welas asih[2].
Arca Awalokiteswara memiliki ukuran yang cukup besar, dengan tinggi mencapai 90 cm, lebar 35,5 cm, dan ketebalan 15,5 cm. Figur Bodhisattwa ini ditampilkan dalam sikap berdiri tegak lurus dengan proporsi tubuh yang ramping. Pakaiannya berupa jubah tipis yang menjuntai panjang hingga mendekati mata kaki, merefleksikan gaya busana yang lazim dalam seni Buddha periode tersebut[3]. Rambut arca digambarkan mengurai hingga bahu, mengenakan kain panjang serta kulit harimau yang tampak pada bagian pinggul. Di bagian belakang tubuh arca terdapat satu baris inskripsi beraksara Jawa Kuno “…daŋ ācāryya syuta…”. Walaupun alas (asana) tempat arca ini berdiri sudah tidak ditemukan, jejak-jejak kehadirannya di masa lalu masih terlihat melalui sisa-sisa dan bekas pada permukaan dasar arca.
Secara keseluruhan, arca ini ditemukan dalam kondisi yang tidak lagi utuh, bagian kepala dan kedua lengannya telah patah, meskipun berdasarkan bukti ikonografis, arca tersebut pada bentuk aslinya seharusnya memiliki empat buah lengan. Pada permukaan tubuh arca tampak sejumlah kerusakan yang menggambarkan panjangnya perjalanan artefak ini dari masa ke masa. Goresan-goresan beragam bentuk, yang tampaknya dihasilkan oleh benda tajam maupun gesekan keras, menjadi indikasi adanya proses pelapukan alami atau mungkin akibat campur tangan manusia, baik disengaja maupun tidak [4]
Walaupun bagian-bagian arca mengalami banyak kerusakan, beberapa unsur ikonografis penting masih dapat dikenali. Upawita (tali suci yang melingkar di tubuh) serta ikat pinggang masih tampak jelas dan memberikan gambaran mengenai atribut-atribut religius yang semula melekat pada figur Bodhisattwa ini. Sisa ornamen tersebut tidak hanya membantu merekonstruksi bentuk awal arca, tetapi juga menjadi petunjuk penting untuk memahami gaya seni, simbolisme, dan tradisi pemujaan Buddhis pada masa arca ini dibuat.