Andaleh Baruh Bukik merupakan salah satu nagari yang termasuk dalam kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini terletak kurang lebih 10 KM dari Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Nagari ini dapat diakses melalui Jl. Sungayang, jalan raya kabupaten yang menghubungkan kota Batusangkar dengan kecamatan Lintau Buo dan Lintau Buo Utara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Andaleh Baruh Bukik | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Barat | ||||
| Kabupaten | Tanah Datar | ||||
| Kecamatan | Sungayang | ||||
| Kode Kemendagri | 13.04.07.2002 | ||||
| Luas | 25 Km² | ||||
| Jumlah penduduk | - | ||||
| |||||
Andaleh Baruh Bukik merupakan salah satu nagari yang termasuk dalam kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.[1] Nagari ini terletak kurang lebih 10 KM dari Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Nagari ini dapat diakses melalui Jl. Sungayang, jalan raya kabupaten yang menghubungkan kota Batusangkar dengan kecamatan Lintau Buo dan Lintau Buo Utara.
Nagari Andaleh Baruh Bukik terdiri dari 2 jorong[2], yakni:
Nagari Andaleh Baruh Bukik masih memiliki banyak bangunan Rumah Gadang yang rata-rata berumur di atas 100 tahun. Seluruh bangunan rumah adat ini berada dalam kondisi yang cukup terjaga dan masih dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan adat oleh kaum atau para pemiliknya.
Nagari ini memiliki kegiatan budaya unik yaitu Simuntuk atau Ci Muntu, yaitu orang bertopeng dan berpakaian hitam-hitam yang terbuat dari kulit dan daun enau/nira yang banyak terdapat di nagari Andaleh Baruh Bukik. Pemain Simuntuk atau Ci Muntu adalah pemuda atau anak nagari setempat. Mereka muncul di perayaan anak nagari seperti pada masa liburan Idul Fitri atau ketika perayaan 17 Agustusan. Para pemain Simuntuk akan berkeliaran di jalan-jalan, melakukan atraksi membuat perayaan semakin meriah sambil menakut-nakuti anak-anak. Beberapa Simuntuk akan membawa tangguk, sejenis keranjang terbuat dari jaring kecil untuk menampuang uang pemberian masyarakat.[3][4]
Selain Si Muntu, nagari Andaleh Baruh Bukik memiliki tradisi budaya lain seperti Panjat Pinang dan Tari Piring khas nagari setempat.
Nagari Andaleh Baruh Bukik juga terkenal dengan perkebunan pohon enau (Arenga pinnata).[5] Masyarakat nagari mengolah tanaman enau dengan mengambil air nira menjadi produk-produk unggulan seperti nira talua, yaitu minuman air nira panas yang dicampur dengan telur mentah (biasanya telur bebek).[6] Air nira juga diolah menjadi gula enau.[7][8] Tidak hanya itu, buah pohon enau juga diolah menjadi kolang-kaling yang jamak dijadikan sebagai topping atau tambahan pada makanan/minuman seperti kolak atau es teler.[9][10] Pengolahan buah enau ini telah dilakukan dalam skala UMKM oleh masyarakat setempat dan selalu sibuk ketika mendekati bulan puasa atau menjelang Idul Fitri karena kebutuhan masyarakat luas akan kolang-kaling untuk pelengkap kudapan berbuka puasa.[9][11]