Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bunga bangkai raksasa

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc.) adalah tumbuhan dari famili talas-talasan (Araceae) endemik dari daerah hutan tropis dan eksokarst, khususnya di wilayah Sumatra, Indonesia. Bunga ini dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas dapat menghasilkan bunga setinggi 5 m. Kibut atau Karabut disebut juga sebagai bunga bangkai, yang disebabkan oleh bunganya yang dapat mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk. Hal ini berfungsi untuk mengundang kumbang dan lalat untuk menyerbuki bunganya.

Wikipedia article
Diperbarui 12 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bunga bangkai raksasa
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Kibut / Bunga Bangkai Raksasa
Status konservasi

Terancam  (IUCN 3.1)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monokotil
Ordo: Alismatales
Famili: Araceae
Genus: Amorphophallus
Spesies:
A. titanum
Nama binomial
Amorphophallus titanum
(Becc.) Becc. ex Arcang

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc.) adalah tumbuhan dari famili talas-talasan (Araceae) endemik dari daerah hutan tropis dan eksokarst, khususnya di wilayah Sumatra, Indonesia.[2] Bunga ini dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatra) dapat menghasilkan bunga setinggi 5 m.[3] Kibut atau Karabut (dari bahasa Minang) disebut juga sebagai bunga bangkai, yang disebabkan oleh bunganya yang dapat mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk. Hal ini berfungsi untuk mengundang kumbang dan lalat untuk menyerbuki bunganya.

Kibut sering dipertukarkan dengan padma raksasa atau Rafflesia arnoldii. Mungkin karena kedua jenis tumbuhan ini sama-sama memiliki bunga yang berukuran raksasa, dan keduanya sama-sama mengeluarkan bau yang tak enak. Jenis-jenis Amorphophallus juga dapat dijumpai pada hutan hujan tropis di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Taman Nasional Kayan Mentarang di Lalut Birai, Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Tumbuhan ini hanya ada di Indonesia. Amorphophallus titanum juga terdapat di tiga Kebun Raya yang berada di Indonesia, tumbuhan tersebut terakhir kali mekar pada tahun 2020 di Kebun Raya Bogor,[4] tahun 2024 di Kebun Raya Cibodas[5] dan Kebun Raya Purwodadi.[6]

Pemerian

Amorphophallus titanum mekar sempurna di Kebun Raya Bogor.

Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6 m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini : bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74 meter pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91 meter di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, Stuttgart, juga di Jerman. Namun, Kebun Raya Cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17 meter pada dini hari tanggal 11 Maret 2004.[7] Bunga mekar untuk waktu sekitar seminggu,

Di kawasan SPHT Taman Nasional Kayan Mentarang, jenis kibut ini dapat tumbuh dengan tinggi kisaran 1,5 meter dengan lebar sekitar 50–70 cm. Banyak dijumpai di sekitar pinggir sungai dan daerah dataran lembap. Bunga ini mekar sekitar bulan November dan yang terakhir dijumpai pada tanggal 23 November 2013 (Misoniman/POLHUT TN Kayan Mentarang). Pada fase vegetatif, kibut ini muncul daun dan batang mencapai 2,5 meter dengan diameter sekitar 25 cm.

Pendahuluan

Bunga bangkai dalam bahasa latin disebut Amorphophallus yang berasal dari bahasa Yunani Kuno “Amorphos” yang berarti “cacat, tanpa bentuk” dan “phallos” yang berarti “penis”.[8] Terdapat 170 jenis bunga bangkai di seluruh dunia dan sekitar 25 jenis di antaranya bisa ditemui di Indonesia yaitu delapan jenis di Sumatra, enam di Jawa, tiga di Kalimantan, dan satu di Sulawesi.[9]

Ciri-ciri

  • Warna kelopak merah seperti hati, jingga, dan kehijauan.[8]
  • Warna tongkol keunguan serta kuning.
  • Mengeluarkan bau busuk.
  • Tingginya bisa mencapai 5 meter dan berdiameter 1,5 meter, bagian yang menjulang tinggi ke atas atau yang disebut spadix. Bagian pelindung bunga yang mekar disebut braktea
  • Biji berwarna merah.
  • Masa mekarnya 7 hari.

Habitat

  • Hutan hujan di Sumatra (Kerinci, Lampung).[10]
  • Iklim tropis dan subtropis.
  • Tumbuh di bawah kanopi (undergrowth).
  • Ketinggian 120–365 mdpl.
  • Tanah berkapur.
  • Di hutan sekunder, ladang-ladang penduduk, pinggir sungai atau di tepi hutan.

Siklus hidup

A. titanum memiliki tiga siklus hidup yang jelas, yaitu tahap vegetatif, dorman, dan generatif. Siklus vegetatif terutama untuk pertumbuhan umbi yang dapat mencapai bobot hingga 100 kg. Siklus ini dimulai pada awal musim hujan dengan dihasilkannya satu daun tunggal yang besar, dan berlangsung selama 6–12 bulan, dilanjutkan siklus dorman selama 1–4 tahun sebelum memasuki siklus pembungaan. Siklus pembungaan umumnya tidak teratur [11]

Perkembangbiakan

  • Bunga bangkai (Amorphophallus) mengalami dua fase dalam hidupnya yang berlangsung secara bergantian dan terus menerus, yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif di atas umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun yang mirip dengan daun pepaya. Hingga kemudian batang dan daun menjadi layu menyisakan umbi di dalam tanah. Fase selanjutnya, generatif yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun yang layu tadi.[8]
  • Perkembangbiakan juga dibantu oleh burung rangkong, yang di mana akan memakan biji dari bunga bangkai dan akan dibuang melalui feses, namun makin berkurangnya populasi burung rangkong akibat perdagangan liar maka populasi bunga bangkai juga berkurang.

Keragaman genetik

Keragaman genetik dideteksi dengan PCR menggunakan primer RAPD. Hasil menunjukkan bahwa diperoleh 143 fragmen DNA yang berukuran dari 100 bp hingga 1,1 Kb, di mana 137 (95,80%) di antaranya merupakan pita polimorfik dengan indeks marka yang tinggi. Rata-rata setiap primer menghasilkan 17,8 pita yang dapat dideteksi. Jumlah pita polimorfik tertinggi (23) terdapat pada primer OPU-07, sedangkan jumlah terendah (13) terdapat pada primer OPU-03.[10]

Ancaman

  • Menurut IUCN termasuk dalam red list [12]
  • Populasi bunga bangkai liar sudah makin berkurang karena habitat alaminya banyak mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman. Penyebab lainnya adalah masyarakat yang merasa terancam dengan bau busuk bunga ini, lalu memotong bunga dan daunnya.[13]

Konservasi

  • Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 (Lampiran PP. No. 7/1999)[14]
  • In situ dan ex situ [15]
  • Mata uang Rp500 rupiah pada tahun 1982 [16]
  • Maskot pada kebun raya di Jerman yaitu Botaniche Gärten Bonn (kebun raya di Jerman) [8]

Kultur In-vitro [16]

  • Kultur jaringan bunga bangkai sudah pernah dilakukan pada tahun 1988 oleh Kohlenbach.[16]
  • Pada tahun 2011, Irawati dkk melakukan kultur in-vitro kembali dan berhasil mendapatkan planlet dari eksplan urat daun A.titanium, dengan menggunakan medium Murashige dan Skoog (MS) dan perlakuan penyinaran 1000 lux, 16 jam per hari dengan suhu 28 °C. Pembiakan diamati setelah 6–8 minggu setelah penanaman.

Fakta unik

  • Umbi pada bunga bangkai dapat digunakan sebagai bahan makanan, minuman, dan obat-obatan.[8]
  • Sebutir biji bunga bangkai membutuhkan waktu 20–40 tahun untuk berbunga.
  • Ketika mekar suhu bunga akan mencapai 50–60 oC dan mengeluarkan asap.

Lain-lain

Kibut sekarang telah tersebar di berbagai tempat di penjuru dunia, terutama dimiliki oleh kebun botani atau penangkar-penangkar spesialis. Di Amerika, bunga yang muncul sering kali diberi julukan atau nama tertentu serta selalu menarik perhatian banyak pengunjung.

Lihat pula

  • Padma raksasa

Referensi

  1. ↑ "Amorphophallus titanum". IUCN Red List of Threatened Species. 2018: e.T118042834A118043213. 2018. doi:10.2305/IUCN.UK.2018-2.RLTS.T118042834A118043213.en.
  2. ↑ Pratiwi, Sudhiani; Herwinda, Ersa; Radiansyah, Antung Deddy; Nalang, Vidya Sari; Nooryanto, Bambang; Rahajoe, Joeni Setijo; Ubaidillah, Rosichon; Maryanto, Ibnu; Kurniawan, Rachman; Prasetyo, Teguh Adi; Rahim, Alimatul; Jefferson, Jeremia; Hakim, Fahmi (2016). Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, BAPPENAS. ISBN 978-602-1154-49-6.
  3. ↑ "Situs TN Kerinci Seblat". Diarsipkan dari asli tanggal 2001-04-12. Diakses tanggal 2001-04-12.
  4. ↑ antaranews.com (2020-01-04). "Di Kebun Raya Bogor, Amorphophallus titanum mekar sempurna". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-05.
  5. ↑ "Mekarnya 'Amorphophallus titanum', Merayakan 172 Tahun Kebun Raya Cibodas - Semua Halaman - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-11-05.
  6. ↑ antaranews.com (2024-10-14). "Momen langka, Bunga Bangkai mekar pertama kali di Kebun Raya Purwodadi". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-05.
  7. ↑ Tembolok Google[pranala nonaktif permanen] dari http://www.kompas.com/teknologi/news/0403/11/174405.htm diakses 15 Januari 2008 yang tidak bisa diakses. Salinan berita juga dimuat di sini.
  8. 1 2 3 4 5 alamendah (2010-11-12). "Fakta tentang Bunga Bangkai (Amorphpophallus)". Alamendah's Blog. Diakses tanggal 2025-11-05.
  9. ↑ Hetterscheid, W., and S, Ittenbach. 1996. Everything you always wanted to know abaout Amorphophallus but were afraid to stick your nose into. Aroideana 19.p.7-131.
  10. 1 2 Yuyun,S, P., dan Yuzammi. 2008. Pendugaan Keragaman Genetik Amorphophallus titanum Becc. Berdasarkan Marka Random Amplifed Polymorphic DNA. Jurnal Biodiversitas 9(2): 103-107.
  11. ↑ Bown, D. 1988. Aroids, Plants of The Arun Family. London: Century.
  12. ↑ http://www.iucnredlist.org/search
  13. ↑ https://www.wwf.or.id/program/spesies/bunga_bangkai/
  14. ↑ ksdae.menlhk.go.id/assets/uploads/Lampiran-PP-Nomor-7-Tahun-1999.pdf
  15. ↑ Esti, M. dan Yuzammi. 2016. Konservasi Ek-situ Jenis Amorphophallus SPP di Kebun Raya Liwa Kab. Lampung Barat, Provensi Lampung. Prosiding Seminar Nasional Biologi 85-92.
  16. 1 2 3 Wijaksono, Katarina, U. N., Djaja, S.H., dan Irawati. 2012. Perbanyakan Amorphophallus titanum Becc (Araceae) dengan Teknologi In Vitro. Jurnal Biologi Indonesia 8(2): 343-354
Pengidentifikasi takson
Amorphophallus titanum
  • Wikidata: Q431224
  • Wikispecies: Amorphophallus titanum
  • ARKive: amorphophallus-titanum
  • BOLD: 411393
  • CoL: CXLG
  • EoL: 1100364
  • GBIF: 2871508
  • GRIN: 2953
  • iNaturalist: 62194
  • IPNI: 84456-1
  • IRMNG: 10250805
  • IUCN: 118042834
  • NCBI: 175755
  • NZOR: 4b5704a4-934c-4be2-b205-5645c4cfb73e
  • Observation.org: 279079
  • Open Tree of Life: 305739
  • Plant List: kew-8323
  • POWO: urn:lsid:ipni.org:names:84456-1
  • Tropicos: 50194814
  • WFO: wfo-0000965822
Conophallus titanum
  • Wikidata: Q95945592
  • CoL: XRHB
  • GBIF: 2871510
  • GRIN: 449245
  • IPNI: 86645-1
  • IRMNG: 10250435
  • NZOR: a81c5110-3219-4f85-bd4d-233ba48a92e6
  • POWO: urn:lsid:ipni.org:names:86645-1
  • Tropicos: 50314274
  • WFO: wfo-0000920322
Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Israel

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pemerian
  2. Pendahuluan
  3. Ciri-ciri
  4. Habitat
  5. Siklus hidup
  6. Perkembangbiakan
  7. Keragaman genetik
  8. Ancaman
  9. Konservasi
  10. Kultur In-vitro [16]
  11. Fakta unik
  12. Lain-lain
  13. Lihat pula
  14. Referensi

Artikel Terkait

Padma raksasa

Puspa Langka

Bunga

berbagai tanaman pangan penting hingga pepohonan raksasa. Kata bunga berasal dari bahasa Melayu bunga, dari Proto-Melayik *buŋa, dari Proto-Melayu-Polinesia

Daftar flora identitas di Indonesia

Daftar tumbuhan langka di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026